Ketika Semua Hal Bisa Kita Selesaikan Tanpa Harus Keluar Rumah: Yay or Nay?

Zaman sekarang ini bisa dibilang hampir semua hal bisa kita selesaikan tanpa harus keluar dari rumah. Mau makan tinggal pesan pakai ojek online, mau meeting tinggal skype-an, mau menyerahkan hasil pekerjaan tinggal dikirim melalui wetransfer, mau transfer uang tinggal pakai mobile banking, mau beli sesuatu tinggal buka toko online, mau beli listrik, pulsa, bayar BPJS, dan lain-lain tinggal sekali klik saja, mau dengerin lagu tinggal langganan Spotify, mau olahraga tinggal buka video instruktur di YouTube dan bahkan sudah ada aplikasinya juga, mau booking tiket atau hotel juga ada aplikasinya, mau nanyain kucing kita ada di mana tinggal WhatsApp tetangga, eh yang terakhir itu aku aja sih kali, hehehe.

Praktis sih dan efektif, asal rekening kita ada isinya saja. Kalau rekening kita sering minta maaf karena saldo tidak mencukupi sih ya selesai semua cerita tentang fasilitas-fasilitas itu, hehehe. Tapi aku jadi ingat salah satu episode komik Doraemon petualangan (ketahuan banget hidup di era mana, bacanya masih Doraemon petualangan, hihihi). Jadi di komik itu diceritakan kalau semua pekerjaan manusia sudah bisa dikerjakan oleh robot, termasuk semua aktivitas sehari-hari manusia, semua bisa digantikan oleh robot.

Akhirnya lama kelamaan para manusia menjadi semakin lemah dan semakin lemah saja, karena hampir tidak pernah beraktivitas atau keluar dari rumahnya. Bahkan semakin lama, para manusia ini hampir tidak lagi bisa berjalan dan tidak bisa hidup di luar kapsul canggih mereka yang dilengkapi dengan segala teknologi canggih terkini. Selanjutnya, bangsa robot pun mulai berevolusi dan memiliki perasaan serta pikiran. Mereka pun mulai kesal kenapa selama ini mereka harus bekerja untuk manusia dan mematuhi segala keinginan/perintah manusia. Akhirnya mereka menyusun sebuah rencana untuk meletuskan revolusi dan mengambil alih bumi ini dari tangan manusia dan menguasainya. Sampai kemudian Doraemon, Nobita, Shizuka, Giant, dan Suneo datang dan menggagalkan rencana itu.

Well itu komik aku baca sekitar 25 tahun yang lalu lho, dan tiba-tiba menemukan konteksnya hari ini, eh, engga ding, belum, eh. Bukan berarti aku anti dan tidak mau menikmati semua fasilitas itu lho. Aku menikmati juga kok dan menggunakannya, tapi sedikit dan jarang, hehehe. Memang aku sengaja memilih untuk menikmati semua fasilitas itu seperlunya saja dan tetap lebih sering melakukannya old-fashioned-ways. Bukan, bukan karena rekeningnya tidak pernah ada isinya, ya itu juga sih, hihihi. Tapi lebih karena, entahlah, aku lebih menikmati aktivitas-aktivitas old-fashioned ways itu, lebih seru. Atau karena terbawa gaya hidup di Bantul yang super selo, jadi I’m not such in hurry to do all the things. Setiap pagi dan sore aku masih selalu keluar ke warung makan untuk beli lauk dibungkus atau dimakan di sana bersama suamiku atau teman-temanku. Terus aku juga masih selalu ke ATM untuk transfer atau ngambil uang cash dan belanja dengan uang cash. Do you remember uang cash bentuknya seperti apa? Hahaha.

Terus aku hampir tidak pernah sama sekali belanja online, selalu belanja offline, like ke warung, toko, pasar, atau minimarket. Terus percaya ga sih, aku masih ke stasiun kereta untuk ngantri tiket lho, dan datang ke bioskop lebih awal untuk ngantri di loket. Aku juga masih ke minimarket untuk beli token listrik, dan hal-hal semacam itu. Bahkan bapak-bapak pemilik laundry langgananku sudah berkali-kali memberikan nomor WhatsApp-nya dan menawarkarkan untuk mengantarkan serta mengambil laundry-ku ke rumah, dan selalu kubilang, “tidak usah Pak, biar saya antar dan saya ambil sendiri saja”. See, like I told you, I am an old-fashioned girl, good-old-fashioned-girl, kayak lagunya Queen saja, hehehe.

Kenapa aku melakukan semua itu? Udah dibilang tadi karena aku selo, hahaha. Well, aku hanya ngebayangin, masa untuk beli jeruk nipis saja aku harus pakai ojek online dan tidak ketemu serta ngobrol tentang harga-harga bahan pokok dan gosip-gosip kekinian dengan ibu warung atau para penjual di pasar. Masa aku ga ngerasain lagi keluar rumah naik motor menikmati angin berhembus membelai-belai rambutku, terus ke warung makanan, melihat dengan mata kepala sendiri menu-menu yang ditawarkan, menghirup aromanya, menyapa pemilik warung makan, terus menunggu makananku dibuatkan sambil mainan HP dan memperhatikan orang-orang yang ada di sana serta mendengarkan obrolan mereka. I love watching people, you know.

Masa aku ke stasiun atau ke bioskop cuman 1 menit sebelum kereta berangkat atau film dimulai, aku kan suka merasakan suasana serta atmosfer stasiun dan gedung bioskop, ngantri sambil melamun berasa lagi bikin video klip sambil lagi-lagi watching people. Masa setiap rapat harus skype-an, ntar ga bisa merasakan suasana dan mencium aromanya dong, hah aroma apaan nih, hahaha. Masa setiap mau beli listrik, pulsa, BPJS, transfer, dan lain-lain, hanya dilakukan di rumah atau di kantor saja dengan sekali klik. Ga bosan apa ga pernah keluar rumah atau kantor? Masa jarang berinteraksi sama orang secara langsung dan ga bisa kontak fisik, merasakan auranya, serta mencium aromanya tadi? Emang ga kesepian apa?

I’m just not ready for that, not yet, hehehe. Well maybe it’s just me aja sih yang hidupnya selo dan rekeningnya langsing. Mungkin orang yang rekeningnya gendut dan mobilitasnya sudah ke luar negeri terus akan berbeda dan memanfaatkan semua fasilitas dalam genggaman tangan sekali klik itu. Kalau misalnya kelak aku rekeningnya gendut dan mobilitasku sudah internasional, apakah aku juga akan jadi seperti itu, atau tetap konsisten menjadi an old fashioned girl? I don’t know, mungkin tetap yang kedua, because, you know, it’s just me, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *