KKN DI DESA PENARI: KISAH YANG CUKUP FAMILIAR KITA DENGAR DI SEKITAR KITA

Tadinya aku tidak berniat menonton film KKN di Desa Penari simply dengan alasan aku takut nonton film bergenre horor, wkwkwk. Orang kalau pas lagi di bioskop terus ada iklan film horor saja aku buru-buru menutup mata sampai iklannya selesai. Jadi ketika temanku ngajakin nonton film itu, aku bilang pass deh. Sampai beberapa hari kemudian, aku WA lagi temanku itu dan bilang, “eh aku berubah pikiran, yuk nonton”.

Kalau ditanya alasannya apaan, apaan yak, aku juga ngga tahu sih. Mungkin karena beberapa teman yang sudah nonton bilang tidak terlalu menyeramkan, atau mungkin karena aku tahu lokasi syutingnya di Gunungkidul dan wilayah DIY lainnya, atau karena tergaet marketing of penasaran akibat viralnya film itu. I’m not sure apa tepatnya alasan aku akhirnya pengen nonton, or maybe it was just simply why not aja sih, hehehe.

Tahun 2019 waktu kisahnya viral di Twitter dan menjadi bahan obrolan di mana-mana, aku sempat ikut baca sih, tapi sepotong-sepotong banget, alias ngga komplet, karena waktu itu aku agak terganggu dengan tulisannya yang banyak banget typo-nya dan bahasanya yang banyak menabrak kaedah penulisan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, wkwkwkwk, maklum editor.

My point is tidak terlalu banyak informasi yang aku miliki terkait kisah KKN di Desa Penari ini selain kultweet yang aku baca sepotong-sepotong 2 tahun lebih yang lalu itu. Jadi pas nonton pun I have no expectation selain mencoba menikmati genre baru dalam pengalaman sinematikku.

Setelah nonton? Well, I will say filmnya bagus. Terutama bagi kita yang tinggal dan dibesarkan di desa atau kota kecil kayak aku atau sering live in di desa-desa (kayak aku juga, hehehe) banyak hal sangat relatable deh alias banyak hal (dalam cerita ataupun adegan di film itu) yang kita sudah sering mendengar ceritanya atau kesaksiannya atau rumornya. Cerita-cerita dan kejadiannya sangat dekat lah dengan kehidupan orang Indonesia pada umumnya.

Aku yakin hampir semua orang Indonesia pasti dalam masa pertumbuhannya dan bahkan sampai sekarang sering sekali mendengar hal-hal atau cerita semacam itu. Semacam itu yang aku maksudkan adalah interaksi kita dengan dunia lain (baca: dunia jin). Ya memang itu tidak ideal karena kan seharusnya kita tidak boleh berinteraksi dengan dunia lain itu karena dunianya sudah sendiri-sendiri dan tidak boleh saling mencampuri, tapi kan pada kenyataannya di Indonesia interaksi dengan dunia lain itu banyak sekali terjadi/dilakukan mau kita suka atau tidak suka, terlibat atau tidak terlibat, percaya atau tidak percaya. Ya ngga? Lagian di dunia ini mana ada yang ideal sih, hehehe.

Jadi sebagai orang Indonesia yang sejak kecil dikelilingi dengan kisah-kisah dan cerita-cerita semacam itu, pas mengikuti storyline film KKN di Desa Penari ini ya aku relate-relate aja sih, dan sungguh I can get it. Menurutku film ini mengangkat kisah yang sudah sering beredar dari cerita ke cerita yang ada di masyarakat kita. Kan konon rumornya film ini memang diangkat dari kisah nyata, walaupun itu aku tidak tahu ya kebenarannya.

Menurutku film ini hanya menampilkan cerita saja sih, tidak kemudian berupaya memberikan nilai atau analisis bahwa ini baik atau buruk atau ini benar atau salah seperti yang banyak dikatakan oleh orang-orang yang mengkritik film ini. Aku tidak melihat di film ini ada judgement terhadap kelompok, budaya, atau profesi tertentu sih. Tidak tertampilkan ataupun terindikasikan dalam adegan maupun dialognya. Film ini hanya menampilkan hal-hal yang memang banyak terjadi di sekitar kita without any judgement.

Misalnya saja ketika keenam mahasiswa KKN itu pertama kali datang ke desa terus kemudian mereka diberi pesan jangan begini jangan begitu, jangan berkelakuan begini begitu, disindir cara berpakaiannya (oleh satu orang warga), ya memang begitu kan kalau kita sedang bertamu ke satu wilayah baru apalagi di sebuah desa. Dan biasanya juga kitanya tahu diri. Misalnya aku dan teman-temanku kalau sedang ke komunitas dan menjalankan program kami di situ (di desa-desa di Gunungkidul dan Kulon Progo) ya kita benar-benar menerapkan peribahasa di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Itu bagian dari menghormati adat dan kebiasaan setempat.

Memang kita bebas memakai pakaian seperti apa saja semau kita, tapi kan kita lihat-lihat tempat juga. Aku juga kalau lagi di circle-ku bebas memakai pakaian yang aku inginkan, tapi ketika aku sedang pergi live in di komunitas ya tidak mungkin lah aku berkeliaran dengan tanktop dan celana pendek, atau pakai make up blink-blink, atau pakai aksesoris heboh. Gimana ya, selain itu bertentangan dengan prinsip pengorganisasian, hal itu juga akan merepotkan kita sendiri karena kayak bikin kita not belong there gitu sehingga membuat kita sendiri merasa tidak nyaman. Kan when in Rome do as the Romans.

Termasuk juga attitude ya. Aku juga kalau sedang di komunitas aku tidak merokok atau bercanda/berkomentar kelewatan yang biasanya aku lakukan kalau sedang di circle-ku. Dan juga biasanya aku dan teman-temanku akan mengikuti kebiasaan masyarakat di komunitas, misalnya ya kalau ditawari makan ya makan, kalau dilarang ini itu ya ngikut aja, ya intinya menjaga perilaku sesuai dengan adat istiadat setempat. Kan kebebasan kita juga ada batasannya, batasannya adalah norma setempat.

Terus apakah aku dan teman-temanku kalau sedang ke komunitas di desa-desa juga sering mendengar kisah-kisah mistis? Oh ya jelas, all the time. Cerita-cerita dan kepercayaan-kepercayaan mistis itu kan memang sampai sekarang masih hidup di masyarakat kita. Tidak hanya di desa saja sih, di kota juga, bahkan kadang di kota lebih dahsyat. Kalau kutulis pengalaman atau cerita mistis yang aku dan teman-temanku dapatkan baik di masa kecilku maupun ketika kami live in di komunitas atau di tempat tinggalku sekarang, ya banyak banget lah, bisa jadi berjilid-jilid buku.

My point is dunia lain kan memang ada, dan walaupun idealnya kita semestinya tidak boleh berinteraksi dengan mereka, tapi kan pada kenyataannya di sekitar kita interaksi itu masih banyak terjadi/dilakukan. Jadi kupikir ini bukan soal stereotype desa terpencil pasti mistis, di mana-mana kok, di kota juga banyak yang mistis. Bahkan Marvel (Hollywood) juga sekarang mengangkat cerita mistis. Tuh dr. Strange kan master of mystical art, Bahasa Indonesianya apa coba, ahli mistis kan, wkwkwk. Giliran Marvel aja yang mistis dianggap keren, tapi giliran sekitar kita aja dianggap negatif dan ketinggalan zaman, gimana sih, wkwkwwk.

Jadi hal-hal yang diceritakan di film KKN di Desa Penari ini, seperti orang yang sudah “dibawain” sama keluarganya atau “diikutin” sama salah satu leluhurnya, atau orang yang memang cenderung “disukain” sama mereka, atau orang yang bisa mendapatkan barang berbentuk fisik dari mereka, atau orang yang digoda akan dikabulkan keinginan terbesarnya asalkan mau bersekutu atau membuat perjanjian dengan mereka, atau cerita orang yang terjebak di dunia mereka dan bisa kembali lagi ke dunia kita, atau orang yang masuk ke dunia mereka tapi tidak menyadarinya, atau orang yang sukmanya diambil oleh dunia mereka dan terjebak di sana selamanya. Kita sudah sering mendengar kan cerita-cerita semacam itu. That’s why kubilang storyline dalam film ini cukup relatable.

Selain soal alur dan ceritanya, gambar-gambar di film ini juga sangat relatable bagi aku. Jalan-jalannya, hutannya, kebunnya, pekarangannya, rumahnya, dapurnya, kamarnya, tempat-tempat mistisnya, dan lain-lain. Kalau soal ini mungkin karena film ini syutingnya di Gunungkidul dan di Sleman ya, tempat-tempat yang memang sudah sering aku kunjungi sehingga mataku sudah sangat familiar dengan gambar-gambar yang aku saksikan di film. Bahkan kuburan-kuburan yang nisannya ditutup dengan kain, di beberapa kecamatan di Gunungkidul kan juga begitu. Hanya bedanya kalau di film kainnya hitam kalau di Gunungkidul kainnya putih. Sehingga ya memang cukup familiar di mataku. Apalagi rumah dan dapurnya, benar-benar kayak ketika kami berkunjung ke komunitas.

Selain itu aku juga merasa secara teknis pengambilan gambar di film ini juga bagus. Demikian juga dengan kostum dan make up-nya, karena aktor dan aktrisnya yang katanya adalah bintang-bintang remaja masa kini (yang karena itu aku tidak ada yang kenal, wkwkwkw) benar-benar bisa tampak seperti mahasiswa Jawa Timur biasa saja pada umumnya dengan penampilan dan cara berpakaian yang biasa saja. Bahkan ketika aku melihat para aktor dan aktris itu di Google agak kaget, lho aslinya cakep-cakep ternyata, tapi di film mereka bisa tampak biasa saja. Satu lagi aku juga suka dengan bahasa jawa Jawa Timuran yang digunakan di sepanjang film. Aku selalu suka film-film berbahasa daerah.

Satu hal yang menurutku mungkin kurang wajar adalah kenapa ketika di desa itu keenam mahasiswa KKN itu hanya ditemani dan didampingi oleh Pak Lurah saja. Biasanya kalau kita ke desa yang mendampingi banyak lho, tidak hanya Pak Lurah tapi juga perangkat desa lain dan bahkan warga yang biasanya sangat hangat dan welcome menyambut dan mendampingi kita. Nah hal ini tidak tergambarkan di film, karena hanya Pak Lurah saja ditambah dengan Bu Sundari dan satu orang tetua desa yang digambarkan berinteraksi dengan keenam mahasiswa KKN ini.

Well in short, menurutku film KKN di Desa Penari ini cukup menampilkan realitas yang ada di sekitar kita tanpa banyak memberikan nilai/judgement, sehingga aku berpendapat film ini tidak menyudutkan siapapun. Ceritanya cukup relatable dan familiar. Gambar, akting, kostum dan make up, serta dialog dalam film juga menarik dan pas. Cukup unexpected sih, karena tadinya beberapa orang bilang film ini cuman kayak sinetron-sinetron adzab Indosiar, tapi kataku engga sih, it is way more than that! Rating dari aku 7/10 yes.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | KKN DI DESA PENARI: KISAH YANG CUKUP FAMILIAR KITA DENGAR DI SEKITAR KITA
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *