Krimy Latte: A Handsome Brown Cat Who Choose Us to Be His Forever Humans

Pada waktu itu, awal puasa tahun ini, kami sudah memiliki 2 kucing dewasa (Dropi dan Lulu) serta 5 anak mereka (Milu, Perca, Dripdrip, Phoenix, dan Kushi). Yes, other little happy family who live together and co-owning the house with us, hehehe. Pada suatu sore, aku ingat sekali, hari ketiga puasa, kebetulan aku mendapatkan jatah menyiapkan takjilan alias buka puasa bersama di kampungku di Desa Pendowoharjo, Sewon, Bantul. Nah menjelang buka puasa ketika kami dibantu para tetangga menyiapkan takjilan, ada seekor anak kucing kecil berwarna coklat muda (coklat ya bukan oranye) berlarian happy jollie di halaman masjid.

Anak kucing itu masih kecil sekali, aku yakin usianya belum genap 1 bulan, dan baru saja bisa berjalan/berlari/melompat. Tapi dia tampak bahagia dan enjoying his self, berlari-larian dan melompat-lompat sendiri. Sebagai catlover who co-owning house with a cat family, tentu kami memperhatikan anak kucing coklat itu. Aah itu pasti anak kucing tetangga dekat masjid batin kami, karena memang di kampungku ada banyak sekali kucing, tapi kok sendirian dan tidak pergi-pergi ya. Anyway acara buka puasa bersama berjalan lancar sambil kami terus memperhatikan that happy little kitten itu.

3 hari berlalu, kami sudah lupa dengan anak kucing itu. Pada minggu sore, we don’t have anything to eat for breaking the fast. Jadi aku mengajak ke suamiku jalan-jalan mencari makanan, minuman, dan snack buat buka. Setelah keliling-keliling dan mendapatkan apa yang kami inginkan, kami segera melaju pulang ke rumah, karena sudah menjelang magrib juga. Nah di perjalanan pulang, masih agak jauh dari rumah kami, sekitar 2 km, di jalan kecil yang diapit persawahan luas, kami melihat anak kucing yang di masjid kemarin sedang berjalan ke arah timut menjauhi jalan itu. Karena masjid hanya berjarak 200 m dari rumah kami, berarti anak kucing itu sudah berjalan sejauh hampir 2 km sendirian, entah mau pergi ke mana. Karena melihat anak kucing itu berjalan di pinggir jalan sendirian, suamiku langsung menghentikan motor kami, tapi sudah sekitar 10 meter melewatinya. Anehnya, si anak kucing itu menyadari kehadiran motor kami dan langsung berbalik arah lari menuju tempat motor kami berhenti, dan dia berhenti berlari tepat di hadapan kami, di bawah motor kami, dan menatap kami.

Bingung apa yang harus dilakukan, akhirnya kami membawanya saja pulang. Cara membawanya bahkan tidak dimasukkan kardus atau kotak atau kresek atau tas atau apapun, aku memegangnya saja pakai kedua tanganku dan kembali membonceng motor, dan dia tidak memberontak sama sekali, bahkan tidak mengeong, dia diam saja dan anteng. Sesampainya di rumah kami langsung memberinya makan, dan saudara-saudara, dia makan banyak sekali, banyaaakk sekali, sampai perutnya langsung terlihat membulat, jelas sekali sudah lama dia tidak makan. Dan begitulah, sejak saat itu dia tidak pernah pergi lagi dari rumah kami, padahal pintu rumah selalu dibuka lebar-lebar. Pada waktu itu, anak-anak kucing kami sudah berusia 3 bulanan, jadi dia seperti seekor adik kecil yang datang entah dari mana.

Kami memberinya nama Krimy Latte, karena warna bulunya persis seperti creamy latte yang sering aku seduh sore-sore sambil memperhatikannya. Segera Krimy akrab dengan kakak-kakak meongnya dan juga bapak ibu angkatnya, Dropi dan Lulu. Kucing-kucing kami yang ada di rumah pun menerima dia dengan senang hati. Krimy kami mandikan dengan sampoo anti kutu agar bersih dan bebas kutu. Karakter Krimy sama persis dengan waktu kami melihatnya pertama kali di masjid, happy jollie, ceria, dan enerjik. Dia selalu bermain sendiri atau mengganggu kakak-kakaknya. Jika saat makan tiba, Krimy lah yang paling antusias dibanding semua kucing yang ada di rumah. Dia terlihat heboh dan sangat mensyukuri makanan yang dihidangkan, dan dia selalu makan banyak, seperti saat pertama datang. Sepertinya selama 1 bulan terlunta-lunta di jalan dia jarang makan. Lucunya lagi, Krimy tidak tahu caranya menyusu pada induk kucing. Ketika anak-anak kucing kami berebutan menyusu pada Lulu induknya, Krimy memperhatikan mereka dengan aneh, atau kalau tidak Krimy ikut-ikutan berdesak-desakan tapi dia tidak ikut berebut puting susu Lulu, sepertinya Krimy hanya ingin ikut desak-desakan dan heboh-hebohnya saja tapi tidak tahu apa itu menyusu pada induk kucing.

Sekarang Krimy sudah menjadi kucing remaja berusia sekitar 6 bulan, tapi badannya bongsor, sudah melebihi kakak-kakaknya yang 2 bulan lebih tua dari dia. Dan dia tetap konsisten dengan karakternya yang happy jollie, ceria, enerjik, dan always being grateful. Krimy menjadi kucing kami yang paling manja dan penuh rasa syukur. Setiap kali dia selalu naik ke pangkuan kami atau mendatangi kami dan berdiri di bawah kaki kami sambil mengeong-ngeong memanggil kami. Dia juga suka tiba-tiba melompat menubruk kami minta gendong dan elus. Setiap kali dipanggil namanya dia akan datang. Krimy adalah kucing kami yang paling penurut. Sepertinya dia tidak henti-hentinya mengucapkan terima kasih kepada kami karena sudah bersedia menjadi manusianya dan berbagi rumah dengannya.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *