Maskulin dan Feminin Adalah Kualitas yang Netral, Semua Orang Bisa Memilikinya

Yes, hari ini adalah hari keempat belas peringatan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Kita akan membahas soal maskulin dan feminin sebagai sebuah kualitas yang netral yang bisa dimiliki oleh setiap orang, laki-laki dan perempuan. Sayangnya, konstruksi gender yang ada melekatkan kualitas maskulin hanya kepada laki-laki dan kualitas feminin hanya kepada perempuan. Sialnya lagi, kualitas maskulin dianggap lebih superior alias lebih bagus dibandingkan kualitas feminin, sehingga di antara para laki-laki pun ada hierarkhi-nya. Laki-laki yang lebih maskulin dianggap lebih keren dibandingkan laki-laki yang kurang maskulin.

Bagaimana dengan di perempuan, anehnya tetap berlaku sama lho, perempuan yang maskulin pun masih dianggap lebih keren dibandingkan laki-laki yang feminin, bahkan perempuan yang feminin kadang juga sering di-bully oleh perempuan yang maskulin. Haduh gimana sih ini? Padahal kedua kualitas tersebut, maskulin dan feminin, itu netral, dalam artian ya semua ada kelebihan dan ada kekurangannya. Yang lebih bagus yang mana, ya yang seimbang lah, seperti semua hal di dunia ini, yang seimbang selalu lebih baik. Atau kalau tidak ya sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada pada saat yang berkaitan. Ketika lebih pas untuk berlaku maskulin ya lebih baik berlaku maskulin, dan ketika lebih tepat untuk bertindak feminin ya bertindaklah feminin, atau gabungan antara keduanya.

Kualitas maskulin contohnya kuat, melindungi, tegas, persisten, non-compromise, logis, menguasai, dan seterusnya. Sementara kualitas feminin misalnya lembut, merangkul, mengayomi, sensitif, intuitif, negosiasi, dialog, memelihara, merawat, dan seterusnya. Semuanya dibutuhkan oleh seorang manusia kan? Dan tentu saja manusia yang keren ya adalah yang memiliki kualitas-kualitas tersebut secara seimbang, baik laki-laki maupun perempuan. Apalagi kalau dia seorang pemimpin. Bisa membayangkan tidak, kalau pemimpin kualitasnya maskulin saja. Ada masalah sedikit, keputusannya akan langsung “perang”, “putus hubungan diplomasi”, “hentikan subsidi”, “tenggelamkan”, eh.

Sebaliknya ketika seorang pemimpin kualitasnya hanya feminin saja, ketika ada masalah, dia akan terus berdialog mendengarkan semua pendapat, berkonsultasi sana-sini, dan keputusan tidak segera dibuat karena sibuk dengan sekian banyak pertimbangan, tahu-tahu sudah dibom saja sama negara lain, eh. Pernah ada penelitian yang dilakukan pada sekian perusahaan dan organisasi tentang lebih sukses mana perusahaan/organisasi tersebut dipimpin oleh seorang yang dominan kualitas maskulinnya atau dominan kualitas femininnya? Dan tebak apa hasilnya? Yes, yang kualitas maskulin dan femininnya seimbang. Ini kita tidak bicara soal laki-laki atau perempuan ya, tapi soal manusia. Karena laki-laki yang dominan femininnya banyak, perempuan yang dominan maskulinnya juga banyak. Yang seimbang, yaaa tidak terlalu banyak, namanya juga good things never come easy, hehehe. Oh ya, gabungan antara maskulin dan feminin ini yang disebut dengan istilah androgin.

Satu hal lagi, kapan kita perlu bertindak maskulin dan kapan kita perlu bertindak feminin juga mesti disesuaikan dengan situasi dan kondisi pada saat yang berkaitan. Misalnya ketika sedang berjalan-jalan di sawah dan bertemu dengan seekor ular besar, apa ya kita akan merangkul ular tersebut, memelihara, atau bahkan berdialog dengannya. Ya bisa saja sih kalau kita punya skill-nya, tapi kalau tidak, ya di situ saatnya kita bersikap maskulin, yaitu tegas dan menunjukkan kekuatan kita misalnya dengan menyerang binatang membahayakan itu. Tapi ketika sedang menghadapi teman yang emosi dan ngomel-ngomel tidak jelas kepada kita, kalau kita juga ngotot, sama-sama menyerang, dan menunjukkan kekuatan kita ya jadinya berantem beneran dan bahkan bisa putuslah hubungan pertemanan kita, hehehe. Nah di situlah saatnya kita menunjukkan kualitas feminin kita, mendengarkan, merangkul, dan mengajaknya berdialog.

Itu tadi di atas kita membahas soal sifat dan perilaku ya. Dalam penampilan fisik pun ada yang namanya penampilan yang maskulin, penampilan yang feminin, dan penampilan yang adrogin. Nah dalam penampilan fisik ini pun berlaku sama dengan yang terkait sifat dan perilaku tadi. Penampilan fisik maskulin diidentikkan dengan laki-laki dan penampilan fisik feminin diidentikkan dengan perempuan, dengan tetap, hierarkhi-nya maskulin ditempatkan di atas feminin. Sehingga ketika ada perempuan berpenampilan maskulin, dianggap biasa saja atau malah keren. Aku misalnya, ketika aku meniru penampilan suamiku dengan memakai celana jeans, kaos, dan kemeja yang tidak dikancingkan, sneakers, serta tidak menggunakan make up sama sekali, orang akan memandangnya biasa saja, atau malah dianggap keren (eh ada ga ya yang menganggapku keren, hihihi). Tapi coba bayangkan kalau suamiku yang meniru penampilanku dengan dalaman tanktop, blazer pendek berwarna cerah, rambut di-blow, dan lipstick nude serta eye shadow, duuuhhh pasti gempar dunia persilatan, heboh dunia nyata dan dunia maya. Padahal ketika dia melakukan itu apakah akan mengurangi kadar kelaki-lakiannya? Tidak sama sekali ya! Begitu juga ketika aku mengenakan pakaian mirip dia seperti yang kusebutkan di atas, apakah aku akan berubah menjadi laki-laki? Soal laki-laki dan perempuan itu kan kaitannya dengan memiliki penis dan vagina lengkap dengan seperangkat organ reproduksi lainnya. Bukan soal sifat, perilaku, dan penampilan. Kalau soal orientasi seksual, ekspresi gender, identitas gender, ekspresi seksual, dan karakteristik seksual ini masalah yang lain lagi ya. Mungkin akan kita bahas kapan-kapan, walaupun aku tidak terlalu ahli sih soal SOGIESC ini.

Bahkan ketika akhir-akhir ini aku mulai sering stalking foto-foto dan video-video dari grup band favoritku, Queen (kalau dulu kan aksesnya ke YouTube dan Instagram terbatas banget, jadi dulu hanya mendengarkan lagunya saja). Aku mulai memperhatikan bahwa penampilan fisik mereka, terutama mereka di tahun 1970an itu androgin banget yak atau malah bisa dibilang feminin. Hampir semua kostum mereka di tahun 1970an itu adalah “baju cewek”. Tapi ketika “baju-baju cewek” itu dipakai oleh keempat laki-laki personil Queen itu, apakah membuat mereka jadi terlihat less man (kurang laki-laki)? Engga ya, justru sebaliknya, mereka malah terlihat sangat-sangat keren and super hot and sexy, hehehe. And look at their big long hair, cocok banget dengan penampilan fisik mereka yang androgin/feminin itu. Belum lagi ditambah dengan cat kuku hitam, dan eye shadow serta eye liner gelap. Lengkaplah sudah kekerenan itu, what a perfect look and cuteness overload! Begitulah pendapat seorang screaming fans, hehehe.

My point is baik dalam sifat, perilaku, maupun penampilan, soal maskulin dan feminin adalah kualitas yang netral. Keduanya ada baiknya dan ada tidak baiknya. Tidak ada yang lebih tinggi dan lebih rendah dari kedua kualitas tersebut. Dan semua manusia, baik laki-laki maupun perempuan, bisa memiliki kedua kualitas itu, dan tidak akan membuat kita jadi less man atau less woman. Yang ada malah, kalau kita tidak mampu menempatkan keduanya dengan pas, akan membuat kita jadi less human, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *