Memiliki Teman dari Negara Lain – Cara Cepat Mempelajari Bahasa dan Budaya

Aku dan suamiku adalah pecinta bahasa. Menurutnya bahasa bisa membuka banyak sekali tabir misteri dan mengaitkan antara satu hal dengan hal lainnya di dunia ini. Sementara bagiku, bahasa itu indah saja, dan belajar bahasa lain itu seperti healing, proses penyembuhan. Seperti di film Eat, Pray, Love, Liz berapa Bahasa Italia untuk menyembuhkan dirinya. Aku sangat bisa memahami hal itu.

Waktu aku kecil, belum ada akses internet dan buku-buku tanpa batas seperti sekarang, aku belajar bahasa dari melihat kemasan produk-produk internasional yang keterangan tentang produknya ditulis dalam beberapa bahasa. Baru setelah SMA aku bisa sesekali main ke Gramedia Yogyakarta dan membeli buku pelajaran Bahasa Italia, dan akhirnya setelah lulus SMA, aku bisa belajar Bahasa Jerman di universitas. Suamiku lain lagi, selain belajar Bahasa Inggris di universitas, dia biasa belajar bahasa-bahasa asing lainnya melalui video-video di Youtube.

Karena kesamaan hobi tersebut akhirnya kami mengembangkan satu kebiasaan agar bisa selalu belajar bahasa (dan juga budaya) dengan mudah dan murah, yaitu kami selalu mencari teman-teman dari luar negeri (lebih senang lagi kalau bisa dapat non-speaking-English country). Dalam hal ini, tinggal di Yogyakarta merupakan satu keuntungan karena tidak susah mencari foreigner di kota pelajar sekaligus kota wisata ini. Teman foreigner biasanya kami dapatkan karena dikenalkan oleh teman atau bertemu dalam sebuah acara. Namun pernah juga kami secara random bertemu foreigner di jalan terus kami ajak ngobrol begitu saja dan akhirnya kami bertukar nomor HP dan janjian nongkrong.

Berteman dengan foreigner secara tidak langsung akan memaksa kami untuk berbicara dalam Bahasa Inggris dan sedikit dalam bahasa mereka. Selain itu kami juga bisa nanya-nanya soal istilah-istilah dalam bahasa mereka dan juga hal-hal dalam budaya dan kebiasaan mereka yang tentunya lebih banyak perbedaannya dibandingkan jika dengan teman senegara. Juga sense of humor mereka yang kadang agak berbeda. Walaupun tetap selalu ada bahasa universal yang menyatukan semua orang, yaitu keramahtamahan dan kebaikan hati.

Setelah sempat lama terhenti melakukan kebiasaan itu karena kesibukan pekerjaan, beberapa hari yang lalu, kami berkesempatan untuk bertemu dan ngobrol dengan seorang foreigner dari Genoa, Italia. Kebetulan saya membantu teman saya untuk menjadi interpreter bagi si foreigner yang adalah seorang penari/koreografer. Selesai acara, kami mengobrol panjang lebar dengan si Italiano tentang banyak hal. Tentang karakter/kebiasaan orang Italia, tentang bahasa Italia, tentang cara pandang orang Italia, dan—yang berkaitan dengan profesinya—dia menunjukkan bahwa gaya tarian setiap benua itu memiliki ciri khas gerakan yang sangat mudah dikenali. Dengan sekali melihat saja, kita akan langsung tahu apakah ini tarian Eropa, Asia, atau Afrika.

Walaupun dia mengakui bahwa dia sudah “tidak terlalu Italia” karena sejak usia 15 tahun sudah menjadi world traveller, tapi kami menyimpulkan antara orang Italia dan orang Yogyakarta itu mempunyai banyak kesamaan karakter dan kebiasaan. Kami sama-sama suka hidup selo dan suka menikmati hidup dengan nongkrong bersama ngopi, ngrokok, dan makan enak bersama sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang apapun sambil diselingi tawa dan canda.

Katanya orang Italia itu bisa makan siang bersama sambil melakukan hal-hal yang kusebutkan di atas selama hingga 7 jam, dan ketika “prosesi” makan siang itu selesai sudah tiba waktunya makan malam sehingga langsung disambung dengan makan malam bersama dengan “prosesi” yang sama. Hahaha, itu terdengar seperti hal yang sering kami lakukan: nongkrong-ngopi-ngrokok-makan sambil ngobrol saling berbagi cerita dan berdiskusi panjang lebar semalaman sampai diusir oleh yang punya warung karena warungnya mau tutup. What a “dolce farniente”, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *