Mengelola Rasa Marah Sebagai Bagian Dari Mencegah Perilaku Kekerasan

Kita masih akan membahas seputar permasalahan kekerasan terhadap perempuan. Semua orang berpotensi menjadi korban sekaligus menjadi pelaku kekerasan. Tapi tentu saja potensi-potensi itu bisa dicegah, terutama yang potensi menjadi pelaku kekerasan. Karena kalau potensi menjadi korban kekerasan seringkali itu di luar kontrol dan kuasa kita. Lagian, siapa sih di dunia ini yang mau menjadi korban kekerasan. Tidak ada ya aku rasa.

Nah untuk potensi kita menjadi pelaku kekerasan ini, salah satu cara untuk mencegahnya adalah dengan belajar dan membiasakan diri untuk mengelola rasa marah kita. Bagaimana caranya? Aku akan menceritakan satu metode yang sering kita gunakan dalam sesi-sesi diskusi atau pelatihan untuk kelas laki-laki, yaitu sesi mengelola rasa marah. Tentu saja perempuan juga bisa menggunakannya karena kan marah itu adalah sesuatu yang manusiawi, bisa dirasakah oleh baik laki-laki maupun perempuan, hanya saja karena konstruksi budayanya (gender), terkadang laki-laki lebih ekspresif mengungkapkan rasa marahnya dibandingkan perempuan yang dibentuk untuk lebih banyak menekan dan memendam rasa marahnya.

Okay, kembali ke metode yang digunakan untuk materi mengelola rasa marah. Pertama-tama kita akan membagikan kertas kecil (metaplan/post it) kepada peserta dan meminta mereka untuk menuliskan apa yang terlintas di pikiran mereka ketika mendengar kata “marah”. Setelah itu kita akan meminta peserta untuk memasukkan kata yang ditulisnya tersebut ke dalam kategori “perasaan” atau “sikap/perilaku”. Kategori perasaan misalnya jengkel, kesal, sakit hati, dendam, berkecamuk, dan sebagainya. Sementara kategori sikap/perilaku misalnya memukul, memaki, membentak, diam saja, pergi keluar, beres-beres rumah (ada lho), mandi, makan, menangis, dan seterusnya. Jadi ternyata marah itu ada dua hal, marah sebagai perasaan dan marah sebagai sikap/perilaku. Marah sebagai sebuah perasaan adalah sangat wajar dan manusiawi. Ia netral dan setara dengan perasaan-perasaan manusia yang lain seperti senang, sedih, cinta, cemburu, takut, kecewa, dan sebagainya.

Namun marah sebagai sikap/perilaku, ternyata ada 2 pilihan, yaitu yang merugikan orang lain/diri sendiri seperti memukul, memaki, membentak, dan sebagainya, dan yang tidak merugikan orang lain/diri sendiri seperti diam saja, pergi keluar, beres-beres rumah, mandi, makan, menangis, dan sebagainya. And guess what? Kalau marah sebagai perasaan itu manusiawi dan tidak bisa kita kontrol, tapi kalau marah sebagai sikap/perilaku itu bisa kita kontrol lho dan sangat pisa kita pilih, mau mengekspresikannya dengan cara yang tidak merugikan orang lain/diri sendiri atau dengan cara yang merugikan. Semua itu pilihannya ada di kita, dan jangan bilang kalau kita tidak punya kemampuan untuk memilihnya, karena hal ini sangat berkaitan erat dengan relasi kuasa. Buktinya sama-sama marah, kalau sama atasan kita pasti kita tidak berani memukul atau memaki kan, tapi kalau sama anak kita atau adik kita, pasti kita berani memukul atau memaki, iya kan, padahal sama-sama marah.

Proses selanjutnya, kita kembali membagikan kertas kecil kepada para peserta dan meminta mereka menuliskan satu alasan yang biasanya paling membuat mereka marah. Setelah itu, kita minta para peserta untuk mengkategorikan alasan-alasan itu ke dalam alasan yang berasan dari dalam diri kita (internal), dan alasan yang berasal dari luar diri kita (eksternal). Untuk alasan kemarahan yang berasal dari dalam diri kita misalnya lelah, lapar, ngantuk, dan seterusnya.

Sementara alasan yang berasal dari luar diri kita misalnya karena dihina, karena direndahkan, karena disakiti hatinya, karena dikata-katai, dan seterusnya. Setelah itu ajak peserta untuk mengidentifikasikan, mana di antara kedua jenis alasan itu yang lebih bisa kita kontrol. Tentu alasan yang berasal dari dalam diri kita ya, karena kita kan tidak akan bisa mengontrol agar orang lain tidak menghina kita, tidak menyakiti kita, tidak merendahkan kita, dan seterusnya. Sementara kalau kita tahu kita akan mudah marah kalau kita lelah, ya ketika lelah maka kita istrirahat, ketika kita lapar kita mencari pengganjal perut, ketika kita ngantuk kita tidur, begitu ya kira-kira.

Lalu proses terakhir kita akan membagikan gambar semacam anatomi tubuh manusia kepada peserta, dan minta mereka menandai bagian mana dari tubuh mereka yang paling bereaksi ketika mereka marah, misalnya dadanya berdebar-debar, kepalanya pusing, matanya melotot, tangannya mengepal, giginya bergelutuk, lehernya panas, dan seterusnya.

Kesimpulannya, marah sebagai sebuah perasaan itu sangat wajar dan manusiawi dan hal tersebut tidak bisa kita kendalikan. Namun ekspresi marah menjadi sikap/perilaku itu sangat BISA kita kendalikan. Karena kita bisa mengenali penyebab apa sih yang bisa membuat kita menjadi marah, internal maupun eksternal, dan hal itu akan berbeda-beda bagi setiap orang.

Selain itu, ternyata tubuh kita pun juga sudah memberi tahu kita melalui tanda-tanda yang dikirimkannya kepada kita kalau kita sedang akan marah. Jadi begitu penyebab marah itu datang, dan tubuh sudah mengirimkan signal-signalnya, kita bisa langsung mengetahui dan menyadari bahwa kita akan marah. Nah di situlah saatnya kita memilih ekspresi marah yang bagaimana yang akan kita lakukan dalam sikap/perilaku kita, apakah yang merugikan diri sendiri dan orang lain seperti membanting HP atau memukul orang, ataukah yang tidak merugikan diri sendiri dan orang lain seperti mengambil jeda sejenak (time out) atau mengambil air wudhu dan menunaikan sholat, subhanalloh sekali ya.

Selanjutnya peserta akan diajak melakukan diskusi reflektif tentang pengalaman-pengalaman marah mereka dan bagaimana relasi kuasa sangat bermain di dalam ekspresi rasa marah kita. Lalu tentu saja diajak berpraktik untuk mengendalikannya. Jadi menurutku sih, ketika kita sudah mengenali dan menyadari diri kita sendiri, kita akan lebih bisa mengendalikan diri, termasuk mengendalikan rasa marah kita. Tidak percaya? Boleh dicoba deh.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *