Merawat Persahabatan – Menjaga Kewarasan

Aku adalah orang yang percaya bahwa cinta itu tidak terjadi dengan sendirinya. Love is not given, love is something we have to work on, even sometimes, love is something we have to fight for. Sehingga apapun relationship yang kita miliki, baik itu hubungan percintaan, pertemanan, persahabatan, jaringan, kalau tidak kita rawat ya akan memudar dan hilang perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, atau mungkin tidak hilang sih tetapi menjadi awkward dan hambar seperti tahu yang direbus doang tanpa dibumbui, hihihi.

Jadi jangan berharap, orang yang sudah lama tidak pernah kontak atau kita perhatikan masih tetap sama persis seperti dulu dalam kenangan kita. Ya bisa saja sih mungkin, tapi jarang sekali. Cara merawatnya idealnya sih dengan bertemu atau melakukan kegiatan bersama-sama, lebih bagus lagi jika dengan berbagi secara mendalam (baik berbagi cerita maupun berbagi visi-misi, hihihi). Tapi minimalnya setidaknya dengan bertemu di dunia nyata, duduk bersama atau jalan bersama.

Walaupun kalau hal itu sulit dilakukan, berbagai macam alat teknologi informasi bisa membantu sih, seperti berbalas video/voice call, berbalas pesan tertulis, maupun berbalas komentar di media sosial. Namun itu adalah cara paling minimalis, cara paling selemah-lemah iman, untuk merawat sebuah hubungan karena cara ini ada banyak kekurangannya dan memiliki potensi salah paham yang tinggi.  Alasannya, ya karena kita tidak berhadapan langsung dengan yang bersangkutan. Kita tidak tahu ekspresinya ketika mengatakan hal itu, nada suaranya, tidak ada kontak mata, dan tidak ada kontak fisik apapun.

Belum lagi kendala, “duh pengen curhat deh beb, tapi males ngetik panjang-panjang” atau slow respon karena yang bersangkutan sedang di jalan atau sedang menggoreng tahu. Atau kemungkinan salah persepsi seperti “ih kok balasnya singkat-singkat gitu sih, kayaknya dia emang ga mau merhatiin aku,” atau “kok emojinya kayak gitu sih, salahku apa,” dan seterusnya. Tapi ya bolehlah itu dilakukan kalau memang hanya itu yang memungkinkan, daripada tidak.

Namun sebagai orang yang memang old fashioned, aku selalu mengusahakan untuk merawat sebuah hubungan atau persahabatan dengan mengajak bertemu, ya bertemu secara fisik, masih ingat kan caranya? Seperti janjian di suatu tempat, duduk bareng, ngopi bareng, ngobrol bareng, atau terkadang nonton bareng. Percayalah dari kontak fisik dan obrolan face to face itu akan banyak sekali inspirasi yang akan kita dapatkan, ide-ide baru, yang juga satu paket dengan kesenangan serta kenyamanan.

Walaupun mungkin obrolannya terkesan tidak penting, tidak jelas, tidak mengarah ke mana-mana, tapi jangan salah the whole conversation-nya sendiri itu sudah asupan untuk jiwa kita, to keep us sane, untuk menjaga kewarasan kita. Dan, tidak pernah ada istilah buang-buang waktu kan untuk menjaga kewarasan kita? Namun hal itu tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya, kalau kita tidak mengusahakannya dan menganggapnya penting. Terlalu sibuk? Nobody is that busy when you are important to them. Percayalah itu bukan hanya sekedar hiburan atau senang-senang semata. Jadi, kapan nih kita ke mana?

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *