Minimalis: Belajar Mencintai Tanpa Melekat

Kemarin, aku mengunjungi studio Papermoon dalam kesempatan langka Papermoon Buka Studio. Di ruangan yang luas tanpa sekat itu, tertata apik berbagai boneka-boneka yang menjadi tokoh dalam berbagai karya Papermoon. Menyusuri studio tersebut seperti mencermati jejak-jejak karya Papermoon yang ternyata banyak sekali terlewatkan karena kehabisan tiket atau memang tidak dipentaskan di Indonesia. Dari belasan karya tersebut, hanya dua di antaranya yang aku beruntung menyaksikannya yaitu Mwathirika dan Senlima. Oleh sebab itu, bertemu lagi dengan tokoh boneka dalam Mwathirika menjadi tujuan utamaku dalam kunjungan studio ini.

Dan, ya, aku menemukannya di sebuah lemari yang terletak di sudut ruangan.  Itu dia, Topu, tokoh boneka anak perempuan yang pernah membuatku menangis di kegelapan bangku penonton. Meski di studio itu Topu hanya duduk senyap tak bergerak, tetap terasa bagiku betapa hangat lakunya dan mengharukan kisahnya di Mwathirika yang kutonton sembilan tahun lalu. Di depan lemari tersebut, aku menyadari bahwa meski waktu telah lama berlalu dengan beragam pertunjukkan lain yang kusaksikan, Mwathirika adalah karya yang aku cintai. Dan, karya lain Papermoon selanjutnya selalu kunantikan.

Sebelum menemukan Topu, untuk pertama kalinya aku melihat instalasi karya lain Papermoon yang sebenarnya sangat ingin kutonton tapi sayangnya kehabisan tiket. Karya itu adalah Secangkir Kopi Playa yang berlatar belakang kehidupan seorang eksil. Secangkir Kopi Playa adalah karya yang cukup rajin kuikuti perkembangannya di media sosial sejak dalam proses produksi, penjualan tiket, ataupun testimony after performance-nya. Meski akhirnya, itu tidak juga membuatku cukup sigap berebut tiket, duh. Melihat di depan mata bagaimana wujud boneka Pak Wid, cangkir kopi, koper-koper, buku, dan surat-surat yang menjadi properti pertunjukkan tersebut, menerbitkan semacam rasa rindu nan tragis membayangkan kisah dalam Secangkir Kopi Playa.

Setelah puas berjalan-jalan di dalam studio, aku mengunjungi penjualan merhandise yang terletak di depan studio dengan semangat menggunakan voucher untuk membeli barang yang ditaksir. Aku menemukan kaos cantik yang sangat ingin kubawa pulang bergambar Pak Wid dari Secangkir Kopi Playa dengan lengan yang digulung rapi hingga pendek sekali. Lalu beberapa kaos lain yang juga bagus meski tidak membuatku senaksir kaos sebelumnya, baik dari aspek gambar yang disablonkan ataupun model kaosnya. Namun, tunggu dulu, semua kaos berlengan pendek sehingga aku ragu: di momen apa aku akan memakainya karena aku sangat tidak suka memakai manset sedangkan terlalu sayang bila kaos secantik itu hanya kupakai tidur. Lalu, aku mencoba melihat merchandise lain, ada totebag dan buku saku. Lalu aku berpikir lagi: akan kugunakan untuk apa?

Aku tidak sanggup lagi bila harus menambahkan totebag karena sudah terlalu banyak bergelantung di tembok kamarku. Beberapa akhirnya bahkan kualihfungsikan agar tetap tersimpan tanpa percuma. Satu kugunakan sebagai tas belanja untuk mengurangi penggunaan tas kresek, satu lainnya untuk tas dokumen, serta satu lagi khusus kugunakan untuk keperluan berenang. Sementara itu, masih ada dua totebag lagi yang kugunakan untuk main-main santai. Oleh sebab itu: bila kutambah satu lagi, mau untuk apa?

Pilihan lainnya adalah buku saku. Namun sama saja, pertanyaan itu muncul: mau untuk apa? Buku saku yang sekarang kugunakan baru terpakai belum sampai seperempatnya. Selain itu, aku masih punya stok satu buku saku gara-gara salah beli. Membeli buku saku lagi seperti keniscayaan hanya akan tertimbun entah berapa tahun lamanya.

Di tengah kegalauan tersebut, tiba-tiba aku mendengar percakapan seorang pengunjung dengan penjaga toko merchandise bahwa bisa menggabungkan maksimal dua voucher untuk membeli satu merchandise. Wah! Maka spontan saja, kutawarkan pada temanku untuk memakai voucher-ku saja biar bisa lebih murah lagi membeli merchandise-nya.

Kenapa? Kamu gak pengin beli? Tanya temanku, heran mungkin ya. Tidak heran juga sih dia bertanya, karena aku pun juga heran dengan omonganku pada awalnya, hahaha.

Hmm aku tidak ingin menimbun. Lalu, kujelaskan berbagai pertimbanganku betapa barang-barang itu akan kehilangan kegunaannya bila ada di tanganku. Untungnya, ia langsung memahami tentang pilihan gaya hidup minimalis yang sedang kucoba jalani karena kebetulan kami pernah membicarakannya beberapa bulan lalu.

Temanku pun memilih membeli kaos yang ternyata adalah kaos bergambar Pak Wid yang kutaksir tadi. Wah! Aku senang sekali bahwa aku mungkin akan melihat lagi kaos itu ketika temanku memakainya. Jadi, spontan saja aku bilang ke temanku bahwa aku akan sangat senang bila kapan-kapan melihatnya memakai kaos itu di kantor. Permintaan terselubungku langsung diiyakan bahwa suatu saat kaos itu akan dipakainya untuk ke kantor. Senang sekali rasanya! Ternyata, terasa menyenangkan mengetahui bahwa sesuatu berada di tangan orang yang benar-benar menggunakannya daripada tertimbun di tangan sendiri dengan nilai guna yang masih abu-abu.

Melalui refleksiku dari pengalaman ini, membuatku berpikir bahwa menjadi minimalis juga berarti melatih diri untuk mencintai tanpa melekatkan. Sebuah pelajaran berharga dari secuil pengalaman yang kurasakan.

Refleksi ini kemudian juga mengingatkanku tentang hal lain yang kulakukan untuk berlatih menjadi minimalis, yaitu memilih mengkonversikan kebiasaan membaca buku secara fisik menjadi digital. Awalnya, aku iseng mencoba membaca buku menggunakan aplikasi play book yang ternyata sangat nyaman untuk membuat highlight pada bagian yang menarik, memberi bookmark pada halaman yang penting, atau membuat catatan pinggir untuk berbagai aha-moment. Kebanyakan aku membaca buku-buku berbahasa Inggris di aplikasi play book, baik fiksi ataupun non-fiksi.

Lalu, iseng-iseng aku menemukan aplikasi Gramedia Digital ketika mencari salah satu buku yang cukup lawas dan kuduga akan sulit didapat di toko buku. Di aplikasi ini, ternyata aku menemukan beragam buku fiksi lain yang juga ingin sekali kubaca dan termasuk dalam buku yang bisa diperoleh melalui sistem langganan. Sistem langganan ini tergolong murah karena hanya dengan membayar sekian puluh ribu untuk satu bulan, aku bisa membaca banyak buku secara gratis. Namun, buku itu hanya bisa diakses selama kita terus memperpanjang langganan tersebut setiap bulannya. Awalnya aku ragu menggunakan sistem langganan ini karena bila langganan tidak diperpanjang, maka secara otomatis buku itu hilang dari rak buku yang bisa kubaca dan aku tidak bisa membacanya lagi. Sementara itu, untuk mengaktifkannya akan perlu memperpanjang langganan lagi.

Sebetulnya bila enggan dengan sistem langganan, aku bisa membeli e-book dengan sistem single edition seharga buku fisik yang akan tersimpan selamanya di aplikasi. Namun, berdasarkan pengalamanku, bukankah banyak buku fisik yang kubeli pun pada akhirnya hanya kubaca satu kali? Jadi, memiliki sebuah buku untuk selamanya pun mayoritas menjadi tidak memiliki nilai guna yang maksimal selain menjadi pemandangan yang menyenangkan melihat rak penuh dengan buku.

Aku pun memutuskan untuk menggunakan sistem langganan dengan konsekuensi tanpa hak kepemilikan tapi bisa membaca buku sebanyak-banyaknya hanya dengan sekian puluh ribu untuk satu bulan berjalan. Lumayan lho, satu bulan lalu aku bisa membaca sembilan buku. Rata-rata buku tersebut kuberi rate 3 atau 4 dari 5 bintang. Oleh sebab itu, aku pun yakin tidak akan membaca ulang di masa depan andai aku memiliki buku tersebut baik secara fisik ataupun digital.

Pada perjalanannya, membaca e-book memberiku ruang untuk melepaskan kemelekatanku pada wujud buku dengan tetap mencintai buku dalam esensinya sebagai sumber inspirasiku. Toh, pada buku-buku yang sangat bermakna untuk hidupku hingga berharga dibaca berulang kali, aku masih punya pilihan untuk memilikinya dalam bentuk fisik, menyimpannya di rak buku, untuk kubuka lagi hingga kertasnya menjadi kumal. Oleh sebab itu, aku tidak membutuhkan ruang yang terlalu besar untuk menyimpan buku-buku yang terus memiliki nilai guna secara maksimal di bawah kepemilikanku. Bagaimana pun, beberapa buku memang sangat bermakna dalam hidupku dan worth to keep.

Bagaimana aku menemukan mimpiku menjadi psikolog adalah bermula dari buku. Cara pandangku terhadap hidup dan berbagai seluk beluknya pun diperkaya oleh buku. Maka, melakukan upaya meminimalisasi dengan memilah dan memilih buku terbaik untuk disimpan dalam bentuk fisik merupakan salah satu hal besar yang sedang kulakukan dalam hidup.

Di titik ini pula aku belajar bahwa menjadi minimalis setara dengan belajar mencintai tanpa melekatkan bukan? Ternyata cara hidup ini membuat hidupku terasa lebih ringan, diperkaya, dan bahagia.

Seperti halnya petuah minimalisme: memiliki sedikit untuk hidup yang lebih utuh.

Novia Dwi R.

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.
Bagikan:

Novia Dwi R.

Perempuan yang terus berusaha mengenali dan memperlebar zona aman dan nyamannya. Bercita-cita menjadi manusia seutuhnya yang tidak terbelenggu oleh identitas dan batas.

2 tanggapan untuk “Minimalis: Belajar Mencintai Tanpa Melekat

  • Agustus 13, 2019 pada 12:16 am
    Permalink

    very inspiring. susah banget soalnya melepaskan rasa memiliki itu, baik terhadap barang maupun makhluk ciptaan Tuhan lainnya.

    Balas
  • Agustus 24, 2019 pada 9:56 am
    Permalink

    Ton of thanks for the appreciation, mbak aprilia! Betul sekali perlu komitmen dan konsistensi. Karena sulit, scr berkelanjutan, sy menulis momen2 upaya melakukannya sbg cara mengapresiasi diri juga biar lbh semangat berupaya 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *