Mustahil Ada “Suka Sama Suka” Ketika Relasi Kuasanya Masih Timpang

Dari dulu aku paling anyel banget kalau dalam kasus kekerasan seksual, masih selalu saja ada komentar “kan suka sama suka”, atau dalam kejadian KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), pasti saja ada yang nyeletuk, “tanggung sendiri dong akibatnya, kan suka sama suka”, atau dalam kasus hubungan seksual yang tidak dikehendaki lainnya, komentar “kan suka sama suka” selalu dilontarkan kepada si perempuan. Nyebelinnya lagi gini komentarnya, “lho gituannya suka sama suka, giliran menyesal eh lapor kekerasan seksual!” Ya Alloh Ya Tuhanku, berilah hambamu ini kesabaran untuk tidak membanting laptop dan HP karena saking kesalnya (dan karena belum mampu membeli yang baru) mendengar komentar-komentar semacam itu. Lagian kalau ada penyesalan ya berarti bukan suka sama suka dong, gimana sih, dan terlebih lagi istilah “suka sama suka” itu baru bisa dikatakan kalau relasinya sudah setara, kalau relasinya masih timpang, ya berarti yang satu mendominasi dan yang satu terdominasi, dan itu jelas bukan suka sama suka.

Lagian ya, dikiranya kekerasan seksual itu selalu dilakukan dengan paksaan dan ancaman yang full frontal cetho welo-welo nyolok moto. Walaupun ada juga yang seperti itu—disekap atau diancam dengan senjata tajam—tapi yang lebih banyak terjadi, terutama kekerasan seksual yang terjadi dalam relasi intim (rumah tangga atau pacaran), paksaan atau ancamannya itu tidak dilakukan secara terang-terangan, dan tidak dilakukan sekali dua kali saja, tapi dalam jangka waktu lama, atau yang bisa kita sebut intimidasi alias bujuk rayu alias janji gombal. Dan kalau kita melihat relasi-relasi intim dalam masyarakat yang konstruksi gendernya masih timpang, seberapa banyak sih yang relasinya setara, kuasanya benar-benar setara, dan tidak menempatkan laki-laki di atas perempuan?

Aku akan sedikit memberikan gambaran kisah yang sering terjadi. Sebut saja ada seorang gadis yang berpacaran dengan seorang pemuda. 3 bulan pertama, si pemuda memperlakukan si gadis dengan sangat sopan dan manis, sehingga si gadis sangat jatuh cinta padanya. Ya, cinta, itu yang dicari dan didambakan si gadis karena mungkin dia tidak mendapatkannya di rumah atau di lingkungannya. Saat pacaran menginjak 6 bulan, si pemuda mulai menggandeng tangan si gadis dan membelai-belai rambutnya. Katanya, “aku sayang sekali sama kamu jadi ingin selalu memegang tanganmu, lagian cuman pegangan tangan saja, karena aku selalu merindukanmu”. Si gadis mengiyakan sambil tersipu-sipu. Pada anniversary pertama hubungan pacaran mereka, si pemuda awalnya ingin mencium pipi si gadis, “kan kita sudah pacaran selama 1 tahun, kalau cuman ngobrol dan jalan bareng doang, apa bedanya dengan temenan.” Akhirnya si gadis setuju, eh tetapi tidak hanya mencium pipi, si pemuda pun mencium bibirnya sambil memeluknya, tak lupa mengatakan kata-kata cinta yang sangat indah dan memabukkan. Si gadis sebenarnya tidak menyukainya karena hal itu bertentangan dengan nilai-nilai yang dianutnya, tetapi itu semua terjadi begitu saja, dan ia tak kuasa menolaknya. Lagian dia sangat mencintai pacarnya itu.

Setahun kemudian, pada anniversary kedua tahun pacaran mereka, si pemuda yang selama satu tahun belakangan ini sudah terbiasa mencium bibir si gadis, mengajaknya untuk merayakan anniversary kedua tersebut ke pantai, dan si gadis setuju karena mereka sudah biasa jalan-jalan bersama. Di pantai mereka menikmati ombak, mengobrol, dan bercanda. Si gadis sangat berbahagia dan merasa cintanya kepada si pemuda semakin bertambah. Pada sore harinya, si gadis mengajak pulang, tapi si pemuda bilang nanti dulu karena dia masih ingin menikmati suasana. Hingga akhirnya malam pun tiba, si pemuda mengatakan terlalu berbahaya kalau pulang malam-malam, dan mengajak si gadis untuk menginap sambil tentu saja berjanji tidak akan berbuat apa-apa karena katanya dia sangat mencintainya. Si gadis sebenarnya tidak mau tapi dia bingung juga, hari sudah malam, dia tidak berani pulang sendiri dan tidak ada kendaraan umum juga, lagian jalannya sepi, dan motor yang mereka pakai berangkat tadi adalah motor si pemuda dan si pemuda keukeuh mau menginap dan pulang keesokan paginya.

Akhirnya si gadis tidak punya pilihan lain dan mau menginap. Setelah di kamar, si pemuda mengatakan padanya kalau dia sangat mencintai si gadis dan ingin menikahinya selepas lulus sekolah. Si gadis tentu sangat berbunga-bunga dilamar di tempat yang romantis seperti itu oleh kekasih hati yang sangat dicintainya. Lalu si pemuda mengajak si gadis untuk berhubungan seksual. “Tidak,” jawab si gadis dengan tegas karena nilai-nilai dan ajaran orangtuanya mengatakan tidak boleh berhubungan seksual sebelum menikah. Tetapi si pemuda mengatakan, “kan kita sebentar lagi akan menikah, apa bedanya melakukannya sekarang atau beberapa bulan lagi, toh sebentar lagi kamu akan menjadi istriku ini” atau “aku sangat mencintaimu, kamu adalah satu-satunya dalam hidupku, aku ingin kita melebur menjadi satu” sampai kadang yang agak ekstrim “kalau kamu tidak mau sebaiknya aku batalkan saja rencanaku melamarku dan hidupku akan hancur, lebih baik aku mati saja”. Bisa dibayangkan kan kira-kira apa yang akan dilakukan si gadis, apalagi kalau pengetahuannya soal kesehatan reproduksi kurang, dan sebagai remaja dia sedang galau-galaunya mencari identitas dan kasih sayang?

Dan jangan lupakan proses selama 2 tahun yang terjadi hingga menuju ke malam itu? Ya, intimidasi yang dilakukan secara halus, perlahan-lahan, dengan segala bujuk rayu dan janji gombal hingga menuju ke saat terjadinya kekerasan seksual. Jadi pemaksaannya tidak dilakukan dengan kasar dan sebentar, tapi dengan halus dan selama bertahun-tahun. Si gadis yang mendamba cinta dan berpikir dengan dia melakukan itu dia akan mendapatkan cinta sejati, akhirnya berakhir dengan kehamilan tidak diinginkan, ditinggalkan oleh pacarnya, dan disalah-salahkan oleh semua orang. Coba renungkan lagi, apakah kita masih pantas menyebut hal itu sebagai suka sama suka?

Di beberapa kasus yang lain, motivasi mendapatkan cinta sejati itu bisa juga digantikan dengan karena kekaguman yang amat sangat (mengidolakan) sang pelaku yang dianggap sebagai guru, bisa mengayomi, seseorang yang mengetahui soal hidup, bijaksana, bisa untuk belajar dan dicontoh, dan sebagainya, yang kemudian oleh pelaku dimanfaatkan untuk melakukan intimidasi seperti yang aku sebutkan di atas. Sehingga si gadis yang awalnya sangat mengidolakan dan menghormati pelaku dan ingin belajar darinya, akhirnya berakhir dengan kekerasan seksual dan kembali disalahkan dengan cap “suka sama suka”.

Jadi please, sangat berhati-hatilah untuk menggunakan istilah suka sama suka. Karena itu bisa membuat korban menjadi korban lagi dan lagi. Memang dibutuhkan suatu analisis yang sensitif gender dan peka akan ketimpangan relasi kuasa untuk bisa melihat hal itu dengan jernih. Kalau aku sih memandangnya mudah saja, selama relasi kuasanya masih timpang dan tidak setara, aduh jangan deh menyalahkan korban dengan mengatakan bahwa hal itu suka sama suka. Dan di dalam budaya yang konstruksi gendernya masih tidak setara, amat sangat jarang relasi kuasa dalam sebuah hubungan bisa tidak timpang. Well, renungkanlah, tidak setuju tidak apa-apa sih, hanya saja, coba renungkanlah sejenak.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *