ART IS NOT SUPPOSED TO BE BEAUTIFUL, ART IS SUPPOSED TO MAKE US FEEL SOMETHING

Sehabis nonton film The Batman kemarin, aku jadi semakin menyadari karakter sinematik aku, cieeehh istilahnya, entah benar atau engga istilah itu, hahaha. Jadi karakter sinematik-ku adalah aku benar-benar tidak tahan dengan gambar-gambar yang gelap, apalagi dalam jangka waktu yang panjang. Dark storylines atau dark scenes aku masih bisa lebih tahan dibandingkan dengan dark pictures. Tapi kalau sudah perpaduan antara ketiganya dalam satu film, udah lah dark storylines and dark scenes masih dilengkapi pula dengan dark pictures kayak The Batman kemarin, aku benar-benar tidak tahan. Tidak tahan dalam arti sebenarnya lho, I literally can’t keep my eyes open, even though I struggle really really hard, hehehe.

Seperti sudah aku bahas di tulisanku yang sebelumnya, aku sama sekali tidak mengatakan bahwa The Batman adalah film yang buruk atau membosankan ya. Not at all! Kurasa diksi yang paling tepat menggambarkannya adalah film yang melelahkan dan depressing, hehehe. Karena kalau ditanya pendapatku tentang film itu, aku akan mengatakan filmnya bagus, storyline-nya keren, scene-scenenya banyak yang ikonik dan unforgettable, akting Robert Pattinson juga mantap. It’s just, it’s so tiring and depressing, so that I can’t enjoy it at all. Aku lelah dan tidak tahan, hahaha. Sudah berusaha sangat keras pun untuk tetap stay awake selama nonton, aku tetap sempat ketiduran 3 kali, hahaha. Biasanya kan aku sering sekali nonton film 2 kali atau lebih dan aku enjoy-enjoy aja, bahkan untuk film yang tidak terlalu aku suka pun. Tapi The Batman ini, kan suamiku belum nonton dan pengen nonton, nah aku langsung membayangkan kayaknya aku ngga bakal sanggup deh untuk kembali berada dalam kegelapan itu selama hampir 3 jam lagi, wkwkwkwk.

Yang perlu digarisbawahi di sini, aku tidak enjoy bukan berarti filmnya tidak bagus ya. Aku yakin sebagian orang bahkan akan sangat enjoy that movie. Just not me! It’s just not my thing aja. Mari kita hindari cara berpikir yang dikotomis! Tidak enjoy bukan berarti tidak bagus, mengkritik bukan berarti tidak suka atau tidak mendukung, tidak setuju satu hal bukan berarti tidak menyetujui keseluruhan hal, tidak suka tindakan seseorang bukan berarti tidak suka sama orangnya, penggemar Marvel bukan berarti tidak mengikuti film-film DC, vianisti bukan berarti bukan nella lovers, wkwkwkw, get my point ya.

Kembali ke soal karakter sinematik ini. Setelah aku pikir-pikir dan aku ingat-ingat, kayaknya memang yang paling membuat aku tidak tahan/tidak kuat adalah dark pictures deh. Wanda-Vision juga bisa dibilang storyline-nya sangat dark, tapi gambar-gambar dan scene-scenenya sangat bright, so I really really enjoy that movie dan udah nonton berkali-kali. Deadpool 2, gambar-gambarnya juga sangat gelap, bahkan sampai di film itu Deadpool mengatakan, “eh, eh ini beneran film Marvel ya bukan studio sebelah (DC maksudnya) kok gelap banget,” wkwkwkwk. Nah Deadpool juga I can’t enjoy it dan sempat ketiduran juga, padahal kan storyline-nya banyak lucu-lucunya dan scene-nya walaupun agak-agak brutal (kan R-Rate jadi kayak ada adegan tubuh terpotong, darah muncrat, organ-organ tubuh terburai) tapi tetap dibikin lucu dan komikal gitu, jadi sebenarnya ngga depressing. Cuman ya itu, karena gambarnya lumayan gelap, aku ketiduran juga, walaupun ngga separah The Batman ya yang gelap dan gloomy-nya begitu sempurna, wkwkwkwk, maksudnya udah lah storyline-nya, scene-nya, gambarnya pula gelap semua.

Batman vs Superman juga gambar-gambarnya dark banget dan I completely ngga ingat kalau ditanya ceritanya apaan, soalnya yaps benar sekali, aku tidur mungkin 80 % dari durasi film, di tengah-tengah audio bioskop yang keras membahana mengiringi pertempuran Batman dan Superman itu, salah satu tidur ternyenyak yang pernah aku rasakan, wkwkwkwk.

Ada beberapa film yang suram dan really-really depressing tapi aku bisa mengikutinya dengan khidmat tanpa ketiduran sedikipun. Aku rasa karena film-film itu tidak dibarengi dengan gambar-gambar yang gelap. Walaupun after effect-nya adalah hidupku jadi suram dan depressing, wkwkwkwk. Salah satunya adalah Revolutionary Road yang dibintangi Leonardo DiCaprio dan Kate Winslet. Bodohnya aku nontonnya pas lagi di acara pelatihan di hotel di Jakarta, jadi malamnya gitu di kamar hotel aku nonton di laptop. Alhasil keesokan harinya selama mengikuti pelatihan mood-ku hancur berantakan dan hidup rasanya suram dan depressed, wkwkwk, dan hingga beberapa hari kemudian masih bertahan, aku masih sangat suram dan terus memikirkan film itu, wkwkwk.

Juga Shutter Island, duh ini mah gila banget. Jangan nonton deh mending kataku kalau ngga siap dengan konsekuensinya, wkwkwkwk. Waktu itu aku rasanya sempat kesal sih, lagi banyak kerjaan terus pengen refreshing nonton film. Eh yang ditonton Shutter Island, monmaap, habis nonton bukannya senang dan refreshed, eh malah jadi depresi dan gloomy, hidup jadi terasa suram amat sih, gitu amat sih gilak. Tapi ngga cuman aku doang lho yang merasakan efek seperti itu. Bahkan Leonardo DiCaprio yang membintanginya pun habis selesai shooting film ini sempat depresi selama beberapa bulan. Kata DiCaprio, biasanya doi orangnya nyantai-nyantai aja, asyik-asyik aja setiap memerankan peran apapun, eh khusus Shutter Island ini, doi sampai depresi. Selain dark storyline and scene, kayaknya gambarnya gelap juga tapi not too dark, not as dark as The Batman, wkwkwk. Jadi kayaknya aku tetap ngikutin dengan seksama, dan setelahnya kena mental, wkwkwk, makanya film ini dimasukkan ke dalam kategori phycological thriller. Film lain yang setipe dengan ini menurutku adalah The Joker yang terbaru ya, yang dibintangi oleh Joaquin Phoneix, 11 – 12 lah after effect-nya sama Shutter Island, hehehe.

Aku kayak gini ngga cuman di usia dewasa lho. Masih ingat dulu waktu aku SD, kelas 5 atau kelas 6 gitu, pada suatu malam kan aku ngga bisa tidur. Terus aku nonton TV aja lah. Mamah, papah, dan kakakku sudah tidur semua. Aku asal nonton sembarang saluran TV. Nah kalau ngga salah waktu itu RCTI, pas lagi muter film Born in the Fourth of July-nya Tom Cruise. Ya ampuuunn, film itu ceritanya depressing banget buat aku yang masih SD. Aku ingat aku sampai semingguan kepikiran terus soal film itu, kayak mempertanyakan why oh why oh why, hidupku jadi sedih dan suram, wkwkwkwk. Ngga tau deh, kalau aku nonton lagi sekarang, apa aku masih akan merasakan efek yang sama setelah 30 tahun kemudian, hehehe.

Apakah itu semua karena aku orangnya lebay bahkan sedari kecil? Hahaha, mungkin sih ya. Tapi kalau aku sendiri, aku tidak akan mengatakan diriku lebay sih, tapi lebih ke having some wide, wild, yet beautiful imagination! Cieee, and I’m so proud of that, and enjoy that so much too!

Kalau tadi aku mencontohkan The Batman sebagai film yang dark-nya perfect alias perfectly dark, maka untuk mencontohkan yang completely sebaliknya atau yang perfectly bright movie, menurutku adalah Thor Ragnarok. Thor Ragnarok itu sudah storyline-nya sangat bright, scene-scene-nya dan conversation-nya fun and funny, gambar-gambarnya pun super bright and colourful gitu, tentu saja masih dilengkapi dengan backsound yang asyik dan hopeful. Kalau The Batman kan backsound-nya juga sama, depressing juga, wkwkwk. Kedua film ini menurutku kayak dua sisi mata uang yang berkebalikan, satu ekstrim kanan satu ekstrim kiri, wkwkwkwk. Lagi-lagi bukan berarti aku bilang yang satu jelek yang satu bagus ya, dua-duanya bagus, beda taste dan karakter aja, hehehe. My taste yang mana, you know lah already, hehehe.

Menurutku pribadi sih, sudah bagus DC mempertahankan (dan semakin mempertegas) karakter film-filmnya yang dark and gloomy. Malah bagus begitu, jadi punya ciri khas dan karakter tersendiri yang unik dan berbeda. Kalau DC berubah jadi bright and fun juga, apa bedanya dengan Marvel dong? Lagian kan sudah ada Marvel yang bright and fun, dan kayaknya ngga akan bisa menyaingi Marvel juga sih, bakalan kalah jauh. Makanya lebih baik mempertahankan ciri khas-nya yang unik saja, yaitu dark and gloomy, dengan cara seperti ini malah bisa jadi alternatif yang sama kuatnya dengan Marvel lho, menurutku.

Aku senang-senang saja sih dengan semua pengalaman menonton film yang aku ceritakan di atas, karena menurutku itu semua justru sangat memperkaya pengalaman sinematik-ku and I’m very happy about that. Yang aku ngga happy itu adalah kalau aku nonton film jelek, yang benar-bener jelek, literally bad and ugly movie. Storyline-nya ngga masuk akal, kurang riset, sinematografi-nya hancur lebur, gambar-gambarnya jelek, dan ngga masuk di logika sama sekali. Nah kalau nonton film yang seperti itu baru aku rasanya nyesel banget bahkan sampai trauma dan sebel banget. Rasanya kayak pengen menuntut, kembalikan 2,5 jam waktuku yang berharga tadi, wkwkwkwk. Traumatis banget lah pokoknya keselnya. Terakhir bahkan aku mengalami pengalaman itu 3 minggu yang lalu, di bioskop lagi nontonnya, wkwkwkwk.

Kalau kalian, ada ngga sih film-film yang membuat kalian merasakan certain feelings setelahnya? Semua perasaan valid ya, kan film itu seni. Ingat art is not supposed to be beautiful, art is supposed to make us feel something!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | ART IS NOT SUPPOSED TO BE BEAUTIFUL, ART IS SUPPOSED TO MAKE US FEEL SOMETHING
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

One thought on “ART IS NOT SUPPOSED TO BE BEAUTIFUL, ART IS SUPPOSED TO MAKE US FEEL SOMETHING

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *