“Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”: Semua Emosi Itu Baik untuk Menjadikan Kita Manusia

Sebelumnya, aku tidak punya pengetahuan apapun tentang film ini, sama sekali tidak tahu background-nya, tidak tahu siapa pemain dan sutradaranya, apa cerita di balik film ini, dan lain sebagainya. Tapi pas temanku, my movie-soulmate ngajak nonton film itu, aku langsung mengiyakan, karena sepertinya bagus dan judulnya unik, susah diingat, sampai aku nulis review ini saja aku masih belum ingat judulnya apa dan sampai harus ngecek dulu di internet, hihihi. Plus aku senang menonton film tanpa tahu informasi apapun tentang film itu, boro-boro ngelihat trailernya, jadi unsur kejutannya bisa maksimal banget gitu. Walaupun ya risikonya, either kita terkesima dan senang karena bagus atau kita mengumpat dan trauma karena jelek banget, hehehe, but I’m willing to take the risk, with so much pleasure.

Nah bagaimana dengan film “Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini”? Well I must say, film ini bagus banget, sangat realistis, dan kita sangat mudah relate, sehingga perasaan kita pun mudah terbawa. Plus film ini memberi kita banyak bahan untuk berefleksi dan merenung, plus banyak kaitannya dengan kursus feminisme yang pernah kuikuti. Wow berat ya, ngga juga, justru sebaliknya, film ini sangat mengalir dengan indah dan penuh emosi, sehingga 2 jam lebih tidak terasa, well kecuali buat anak temanku yang ikut nonton bersama kami, yang mungkin bosan karena filmnya ngomong melulu ngga ada princess atau superhero-nya, jadi dia membuat banyak kesibukan di dalam gedung bioskop, seperti memunguti popcorn yang jatuh, hihihi.

Film bertema relationship dalam keluarga ini menunjukkan pada kita bahwa semua emosi (perasaan) itu penting dan baik. Yes, penting untuk membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Jadi pilih-pilih emosi alias hanya mau merasakan perasaan-perasaan tertentu sungguh merupakan sebuah tindakan dehumanisasi, seriously! Jadi—sedikit spoiler yak mohon maaf—ayah dalam film ini karena merasa harus melindungi keluarganya dan selalu merasa takut akan kehilangan keluarganya, dia melarang istri dan anak-anaknya untuk merasakan emosi-emosi lain selain bahagia. Dengan melarang emosi sedih, takut, kecewa ada di rumahnya, dia merasa telah melindungi dan menyelamatkan keluarganya. Yang aslinya, well you have to watch it yourselves yes. Tapi tentunya segala sesuatu yang tidak seimbang itu tidak baik kan ya. Plus “menghilangkan” sebagai ganti dari “mengatasi” dan “mengelola” itu sungguh a bad bad choice, right?!!

Hal kedua dalam film ini adalah peran-peran gender tradisional nan kaku yang ditanamkan secara massif, sistematis, dan terstruktur pada tokoh-tokoh dalam film ini. Ayah harus bertanggung jawab sepenuhnya terhadap kebutuhan lahir maupun batin seluruh keluarganya tanpa ada sharing responsibility (yang ujung-ujungnya jadi ngga ada sharing power juga deh). Terus kakak laki-laki yang harus bertanggung jawab menjaga adik-adiknya seutuhnya, sepenuhnya, selamanya secara kaku dan non-kompromis.

Lalu ibu yang selalu diam dan merasa satu-satu kebahagiaan hidupnya adalah suaminya, bahwa suaminya telah memberinya kebahagiaan yang itu membuat segala emosi lain yang dia rasakan jadi tidak ada apa-apanya dan bisa diabaikan. Keinginan dan kebahagiaannya adalah keinginan dan kebahagiaan suaminya, tanpa ada definisi sendiri, tanpa adanya ruang untuk alternatif maupun kompromi.

Anak-anak perempuan yang sepanjang hidupnya selalu dilindungi, dibantu, dimudahkan urusannya, diselesaikan semua masalahnya, dari mulai tugas sekolah hingga keputusan-keputusan penting dalam hidupnya. Hingga mereka lupa bagaimana caranya berusaha sendiri, bagaimana rasanya gagal, bagaimana rasanya berjuang. Film ini berputar di antara dinamika kelima anggota anggota keluarga ini dengan kekakuan peran-peran gendernya tersebut, saling bergesekan dan berkonflik. Plus tambahan isu tentang typical anak sulung, anak tengah, dan anak bungsu. Dan karena saking protektifnya ayahnya terhadap ketiga anaknya itu, di usia sedewasa itu, semua anaknya masih kruntelan tinggal bersama di rumah orangtuanya, sampai gemes lihatnya, hehehe.

Kemudian ada tokoh tambahan di luar keluarga itu yang berusaha menunjukkan bahwa gagal itu biasa saja, cita-cita dan impian itu sangat bisa dikompromikan, plus kebahagiaan kita itu adalah tanggung jawab kita masing-masing. Tidak ada seorangpun selain diri kita sendiri yang mempunyai tanggung jawab untuk membahagiakan diri kita. Itu benar sekali, tapi satu hal penting yang dia lupakan, yaitu bahwa kebahagiaan itu bisa dibagi, alias kita bisa sharing happiness dengan orang-orang yang kita sayangi untuk kemudian berbahagia bersama-sama. Nah karena dia yakin bahwa kebahagiaan adalah tanggung jawab masing-masing orang tapi dia lupa bahwa kebahagiaan itu bisa dibagi, jadinya perilakunya malah blunder deh dan oh my God bener, rempong deh. Kayak apa sih memangnya, ya tonton aja sendiri yes.

Seperti kubilang di atas tadi, secara keseluruhan alur film ini sangat bagus, ceritanya rasional dan mengalir, dinamikanya asyik, dan emotional roller coaster-nya dapat, gambarnya pun sangat indah. Pemain-pemainnya juga keren-keren walaupun bukan pemain-pemain papan atas tanah air. In short, film ini strongly recommended to watch, dan setelahnya pasti kita akan merenung, berefleksi, dan terbayang-bayang adegan-adegan kerennya. Apakah keluarga ini akhirnya bisa menemukan jalan keluar dari benturan dan dinamika yang mereka alami? Jawabannya tentu saja ada di: tonton sendiri, hehehe! Oh ya, dan ternyata film ini berasal dari novel yang happening di wattpad apalah-apalah dan juga sudah ada webseries-nya, hehehe. Mungkin besok coba aku tonton deh webseries-nya.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *