“Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro”: Beragam Interpretasi Kisah Indah Kehidupan Diponegoro Dalam Buku Babad Diponegoro

Kemarin sore aku bersama suamiku sengaja datang ke Jogja Galery di Alun-Alun Utara Kota Yogyakarta. Di sana kami janjian dengan teman kami, sepasang suami istri. Ya kami berempat memang sejak lama sering sekali hang out bersama, walaupun rumahnya yang satu di Jogja Selatan (Bantul) dan satu lagi di Jogja Utara (Sleman). Kami adalah 4 orang manusia sok keren yang menolak menjadi tua dan sering meluangkan waktu untuk mengeksplorasi dan memaknai hidup, baik dengan saling berbagi cerita dan gagasan, maupun bersama menikmati karya seni atau menonton sebuah film. Nah sore kemarin kami berniat untuk mengikuti diskusi bertema “Pendidikan Sejarah Kebangsaan Melalui Seni” dengan narasumber utama Dr. Peter Carey yang merupakan penulis buku Kuasa Ramalan yang aku suka dan pernah aku bikin review-nya secara berseri di mini kolom harian ini. Narasumber yang lain adalah Dr. Sri Margana, M.Phil. dan Ki Roni Sadewo. Acara diskusi publik ini merupakan bagian dari rangkaian acara “Pameran Sastra Rupa – Gambar Babad Diponegoro” yang diselenggarakan di Jogja Gallery tanggal 1 – 24 Februari 2019.

Namun sesampainya di sana, ternyata acara diskusi publik tersebut diundur 2 hari menjadi tanggal 16 Februari. Yaaah kami kecewa dong, karena sudah membayangkan seperti apa diskusinya dan juga mereka-reka, apa yang ingin kami tanyakan pada Peter Carey, hehehe. Tapi ya sudahlah, karena kami sudah berada di sana. Jadi kami langsung masuk saja ke gallery-nya untuk menikmati beberapa karya sastra rupa yang dipamerkan di sana. Kami sama sekali bukan seniman apalagi art-expertise, tapi kami penikmat karya seni, apalagi ini temanya kami suka, yaitu tentang Pangeran Diponegoro.

Nah semua karya sasta rupa yang dipamerkan di sana adalah hasil dari banyak seniman yang berbeda-beda, namun semuanya berangkat dari menginterpretasikan kisah dalam buku Babad Diponegoro yang ditulis oleh Diponegoro sendiri pada masa pengasingannya di Manado. Buku yang ditulis dalam aksara pegon dalam waktu satu tahun saja (1831 – 1832) ini katanya sudah dinobatkan sebagai “Memory of the World” oleh UNESCO. Pameran ini juga termasuk memamerkan naskah Babad Diponegoro itu sendiri yang sudah terlihat kumal dan sedikit dimakan rayap di ujung-ujungnya yang diletakkan di sebuah kotak kaca di tengah-tengah galeri pameran.

Memasuki ruang pameran dua lantai ini kami langsung mengikuti petunjuk arah yang disarankan untuk menikmati karya-karya yang dipamerkan yaitu dari sisi kanan. Ternyata memang 51 karya sastra rupa yang dipamerkan sudah diletakkan atau disusun sesuai dengan alur atau urutan waktu kisahnya. Jadi di awal-awal kita akan bisa melihat gambar bayi Diponegoro digendong oleh kakek buyutnya, Sultan Hamengkubuwono I, dan juga gambar-gambar Diponegoro kecil sedang belajar ditemani oleh nenek buyutnya, Ratu Ageng. Untuk yang terakhir aku sebutkan ini, imajinasiku jadi agak terkoyak gara-gara nenek buyut Pangeran Diponegoro digambarkan lebih mirip tokoh ala-ala superhero di dunia persilatan, jadi berbeda banget dengan apa yang ada di bayanganku selama ini, hahaha. Tapi tidak apa-apa, terserah senimannya dong, kan karya-karya yang ada di situ memang berdasarkan masing-masing senimannya mengintepretasikan bagian-bagian dalam buku Babad Diponegoro.

Lukisan Diponegoro muda dengan wajah Jokowi.

Berikutnya ada beberapa lukisan Diponegoro muda, termasuk ada yang wajahnya diganti dengan wajah Jokowi dengan keterangan bahwa Diponegoro muda dulu sering bepergian dengan menyamar, dengan nama Abdul Rohim. Mungkin dulu memang dia menyamar dengan menggunakan wajah Jokowi ya, nah lho, hehehe. Jadi memang wajah Diponegoro dalam berbagai lukisan itu berbeda-beda dan aku fine-fine saja dengan itu. Kecuali ada satu lukisan yang Diponegoronya tampak sangat ganteng dan putih seperti artis Korea, nah itu hatiku agak menjerit, oh tidaaaakkk, hehehe. Secara keseluruhan menurutku bagus-bagus sih karya sastra rupanya dengan gaya, aliran, dan teknik penciptaannya yang berbeda-beda. Dan dari kacamata awamku yang bukan seniman ini, ada yang melihatnya aku tergetar dan sangat menikmati, ada yang hmm bagus, dan ada yang aku cuman melihatnya sekilas saja karena biasa saja, hehehe.

Beberapa yang aku sangat terkesan adalah ada lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro di Karesidenan di Magelang. Di lukisan itu tampak Diponegoro yang sangat marah karena sudah dijebak. Di belakangnya ada beberapa pengikut setianya dan juga anak-anaknya, serta ada 2 orang anaknya yang masih kecil (12 tahun dan 13 tahun) yang terlihat ketakutan memeluk kaki Diponegoro. Di lukisan itu terlihat Gubernur Jendral De Kock yang menundukkan kepala karena malu dan merasa bersalah telah mengkhianati kepercayaan Diponegoro. Menariknya, De Cock dan beberapa orang Indonesia yang menjadi orang suruhan De Kock di situ digambarkan seluruh tubuhnya berlumuran lumpur berwarna coklat. Ya mungkin untuk menggambarkan bahwa, De Kock, apa yang kamu lakukan itu, JAHAT, dan kotor, sehingga berlumuran lumpur. Tapi aku tidak akan menyertakan foto lukisannya ataupun keterangan lukisannya di sini ya supaya tidak spoiler. Kan tidak cuman review film saja yang tidak boleh spoiler, review pameran seni rupa juga tidak boleh spoiler, supaya pada datang dan menyaksikan sendiri.

Lukisan favoritku yang lain adalah bagaimana seorang seniman menggambarkan bagaimana Diponegoro dan istrinya, R.A. Maduretno, menyaksikan peristiwa meletusnya Gunung Merapi (sebelum pecahnya Perang Diponegoro). Diponegoro dan Maduretno digambarkan dalam 2 buah wayang besar. Sementara rakyat yang menjadi korban letusan Merapi digambarkan melalui wayang kecil-kecil yang berhamburan di antara lahar dan api letusan gunung yang dimanifestasikan melalui warna-warna dalam cat timbul yang didominasi warna merah. Aku suka sekali dengan lukisan ini, dan berpikir kalau aku seniman, mungkin aku juga akan menginterpretasikan hal itu dengan cara yang sama, yang langsung ditertawakan oleh ketiga companions-ku ketika setelahnya kami ngopi bareng dan membahas soal pameran tersebut di Kedai Kopi Margomulyo yang berlokasi di sebelah Jogja Gallery, jadi hanya tinggal jalan kaki saja. Mereka bertiga tidak setuju dengan pendapatku dan angan-anganku itu, mereka punya karya seni favorit mereka sendiri-sendiri di pameran itu. Tapi jutsru itu membuat perbincangan menjadi menarik. Perbedaan itu indah dan seru kan. Coba kalau semuanya menyukai satu lukisan yang sama, pasti tidak seru, soalnya end of discussion, hahaha. Lalu kami juga saling bercerita, apa sih sebenarnya yang ada di pikiran kami ketika melihat sebuah lukisan. Dan jawabannya sungguh-sungguh, hahaha, unbelieveable, namun tidak akan aku bahas di sini sekarang, hihihi.

Tapi di antara semuanya, karya sastra rupa paling favoritku di pameran itu adalah sebuah lukisan yang menggambarkan Diponegoro dan pasukannya berlari melewati pegunungan Selarong. Di belakangnya tampak pasukan Belanda mengejar. Pangeran Diponegoro mengenakan jubah putih kebesarannya dengan tak lupa keris di pinggangnya. Sementara itu, pasukannya dan orang-orang kepercayaannya berada di belakangnya. Tampak pula seorang ulama/kyai yang sudah sangat sepuh tengah digendong oleh salah seorang prajurit Diponegoro. Mungkin sang kakek ulama sudah terlalu sepuh sehingga tidak kuat berjalan dan harus digendong. Tangan Pangeran Diponegoro menunjuk ke bawah, ke arah Masjid Selarong yang dibakar oleh pasukan Belanda yang tampak dari kejauhan. Menurutku lukisan itu sungguh indah dan sarat makna serta dalam sekali pesannya. Ditambah lagi tekstur catnya yang sangat indah serta di bagian bawahnya ada tulisan kisahnya dalam Bahasa Jawa halus. Sungguh sebuah perpaduan yang indah dan menggetarkan hati.

Salah satu sastra rupa yang merupakan interpretasi dari buku Babad Diponegoro.

Sudah ah cerita tentang isi pamerannya, ntar lama-lama spoiler lagi, hehehe. Pokoknya kalian harus datang dan melihat sendiri, karena karya-karya yang aku ceritakan di atas tadi baru hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan karya-karya sastra rupa indah yang dipamerkan di sana. Jadi please, do come, and check them out by your self.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *