Pantai Cemoro Sewu Bantul – Bersantai di Bawah 1.000 Pohon Cemara Sambil Memandang Lautan

Aku mengenal Pantai Cemoro Sewu pada awal tahun 2017 karena diajak oleh seorang teman ke sana pada suatu siang sehabis kita makan seafood di Pantai Pandansimo Baru. Ya jangan heran, kita ke pantai sehabis dari pantai yang lain, hihihi. Pada awalnya dulu pantai ini seperti the dream come true banget karena sangat mudah dijangkau (kalau dari rumahku di Bantul ya) dan terutama karena suasananya yang masih sangat sepi dan asri. Kalau pantai-pantai lain sudah dipenuhi tenda-tenda orang jualan, penyewaan mobil APV, dan bahkan panggung dangdutan, pantai ini masih sepi dan mengembalikan hakikat sejati orang ingin ke pantai; menikmati suasana syahdu dengan suara deburan ombak dan bidang pandangan mata yang luas menatap lautan, bukan melihat kerumunan orang bergoyang dangdut, kalau itu mah mending kita ke Gabusan atau XT Square saja, hehehe.

Pantai ini dipenuhi dengan 1.000 pohon cemara, oleh karenanya oleh penduduk lokal ia disebut Pantai Cemoro Sewu. Tidak percaya jumlah pohon cemaranya ada 1.000? Silakan hitung saja sendiri, hehehe, ya ya garing, aku tahu. Sehingga mau jam 12 siang pun kita tetap bisa berbaring-baring dengan sejuk dan damai di bawah pohon cemara tanpa harus berpanas-panas ria. Situasi ini cocok sekali untuk aku yang sangat suka pantai tapi malas berpanas-panas dan berbasah-basah. Beberapa kali aku main ke sana tanpa terkena air laut sama sekali, karena niatnya memang hanya untuk bersantai di bawah pohon cemara sambil memandangi deburan ombak yang berkejar-kejaran, aih.

Di pantai ini hanya ada satu warung kecil yang menjual kopi-kopi sachet, gorengan dadakan, taro, kacang garing, dan indomie rebus/goreng, serta menyewakan tikar seharga 10.000 per tikar. Dan seperti hampir semua tempat wisata di Bantul lainnya—ini yang aku suka—selalu dikelola langsung oleh penduduk setempat, sehingga jangan heran kalau pantai ini dipenuhi hiasan-hiasan bunga-bunga berbentuk lope-lope dengan tulisan-tulisan yang gimana gitu ya, semacam “halalin aku dong” atau “kenangan mantan terindah”, hahaha. Ya udah lah ya kalau mas-mas dan mbak-mbak kampung situ ingin curcol lewat kreativitas mereka menghias pantai.

Pantai ini sangat mudah dicari dan dijangkau, karena terletak di antara Pantai Parangtritis yang sudah sangat terkenal itu dengan Pantai Depok yang juga dikenal karena wisata kulinernya. Lebih tepatnya, dari Parangtritis ke barat ketemu Parangkusumo ke barat sedikit lagi, nah ketemu deh Pantai Cemoro Sewu ini. Seperti pantai-pantai selatan yang berlokasi di Bantul lainnya, pantai ini memiliki hamparan pasir berwarna hitam dan dataran yang landai sehingga enak digunakan untuk bermain air.

Hal-hal yang kuceritakan di atas itu sebenarnya adalah gambaran situasi satu setengah tahun yang lalu. Saat ini pantai tersebut sudah ramai pengunjung dan penjualnya pun sudah semakin banyak. Itu semua karena kamu, kamu, dan kamu selalu langsung sibuk upload-upload foto di Instagram kalau nemu tempat-tempat wisata baru yang bagus atau malah bikin review-nya (eh itu aku sekarang, hihihi), sehingga informasi menyebar lebih cepat dari kecepatan cahaya dan membuat orang berbondong-bondong mengunjungi pantai itu.

Di satu sisi aku senang dan bersyukur sih karena itu berarti memberi rejeki lebih kepada penduduk lokal yang mengelolanya atau yang berjualan di situ atau yang menjagai toilet dan tempat parkir. Tapi di sisi lain, ya kita jadi harus berbagi keindahan dan suasana tenang nan syahdunya dengan puluhan atau bahkan ratusan orang lainnya sambil bergoyang dangdut di hari minggu pagi sembari mengucapkan selamat tinggal pada ketenangan syahdu dan suara deburan ombak. Bahkan dulu aku sudah memamer-mamerkan ketenangan dan kesyahduan tempat ini kepada teman-temanku dengan mengatakan bahwa pantai ini adalah “my secret beach”, eh ketika teman-temanku berhasil aku bujuk untuk kuajak, sesampainya di sana, sedang ada pertemuan klub mobil jeep, yasalam, why, God? Hahaha. Nothing is so called secret anymore once you shared it on the social media, hihihi.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *