Pembagian Peran Gender itu Tidak Bermasalah Sampai Ia Menimbulkan Masalah

Hari keenambelas dari peringatan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan. Yay, ini hari ke-16 aku menulis tentang kekerasan terhadap perempuan secara berturut-turut. 16 hari, 16 tulisan tentang kekerasan terhadap perempuan, non-stop. I can’t believe I did that, yay! And just like this daily mini column yang sekarang sudah hari ke-128 ini, I just did it! Tanpa terlalu banyak merencanakan dan tanpa terlalu banyak berpikir, I just did it! Sometimes all we need is just do it, because it’s all already in our head, we need to just do it, believe me, hehehe.

So di hari terakhir dari peringatan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan ini kita akan membahas soal pembagian peran gender tradisional, you know lah, like laki-laki bermain bola perempuan menari, laki-laki di luar rumah perempuan di dalam rumah, laki-laki membetulkan genteng perempuan memasak, laki-laki mencari uang perempuan mengurus rumah tangga, dan lain-lain, dan seterusnya, you mention deh.

Di setiap pelatihan atau diskusi di komunitas tentang gender, aku selalu bertanya kepada peserta, “apakah pembagian peran gender tersebut bermasalah, tidak bermasalah, atau kadang bermasalah dan kadang tidak bermasalah?” Jawaban peserta bermacam-macam, ada yang mengatakan bermasalah, ada yang mengatakan tidak bermasalah, ada yang mengatakan bisa bermasalah dan bisa tidak bermasalah, dengan alasannya masing-masing. Dan yes, I will say, pembagian peran gender itu bisa bermasalah dan bisa tidak bermasalah. Tidak bermasalah ketika dia merupakan pilihan dan disepakati secara sadar serta tidak merugikan siapapun, misalnya ya tidak ada masalah dengan laki-laki bermain sepakbola dan perempuan menari, atau laki-laki mencari uang dan perempuan mengurus rumah tangga, sepanjang itu merupakan pilihan dan disepakati secara sadar serta tidak merugikan siapapun (dengan catatan soal disepakati secara sadar ini harus jeli melihat soal relasi kuasanya ya).

Ia akan bermasalah jika kemudian laki-laki harus bermain sepakbola dan tidak boleh menari, sementara perempuan harus menari dan tidak boleh bermain sepakbola. Pun ketika laki-laki harus mencari uang dan tidak boleh mengurus rumah tangga dan perempuan harus mengurus rumah tangga dan tidak boleh mencari uang, dan seterusnya. Atau dengan kata lain, ada PEMBAKUAN PERAN GENDER, laki-laki harus begini kalau tidak maka dia less man, perempuan harus begitu jika tidak maka dia less woman. Jadi pembagian peran gender itu akan menimbulkan masalah ketika ia dibakukan atau diharuskan. Itu yang pertama!

Yang kedua, pembagian peran gender itu akan menimbulkan masalah ketika ia menyebabkan KETIDAKADILAN GENDER yang terjadi akibat pembakuan peran gender tadi bertemu dengan ketimpangan relasi kuasa, maka perkawinan antara keduanya melahirkan apa yang kita sebut dengan ketidakadilan gender. Dan karena relasi kuasa yang timpang itu menempatkan laki-laki di atas perempuan, maka ketidakadilan gender-nya pun jauh lebih merugikan perempuan daripada laki-laki. Seperti apa itu ketidakadilan gender? Ada 5 bentuk ketidakadilan gender ya gaess, Ya Alloh aku kayak lagi ngisi pelatihan aja ya, sueerr, rasanya aneh-aneh gimana gitu, ya udah lah ya, hahaha.

Baiklah, bentuk ketidakadilan gender yang pertama adalah stereotyping alias pelabelan. Misalnya ketika perempuan pulang malam langsung dilabeli sebagai perempuan nakal, sementara laki-laki tidak. Padahal baik laki-laki maupun perempuan ketika pulang malam, sama-sama ada dua kemungkinan, dia berbuat hal yang baik seperti belajar atau ngobrol dengan teman atau berbuat hal yang tidak baik seperti you know lah tergantung norma setempat, keduanya peluangnya sama. Tapi kalau yang melakukannya perempuan labelnya negatif, sementara kalau laki-laki biasa saja atau malah positif. Janda juga lebih dilabeli negatif daripada duda. Contoh lain, merokok yang katanya tidak baik untuk kesehatan, kalau yang melakukannya perempuan duh labelnya langsung perempuan nakal, tidak benar, bla bla bla, tapi kalau yang melakukannya laki-laki malah dianggap keren dan hot, atau minimal biasa saja. Contoh lain, nembak duluan, itu kan hal yang positif ya mengungkapkan perasaan. Kalau yang melakukannya laki-laki dianggap keren, berani, jagoan, dan seterusnya. Tapi kalau perempuan yang melakukannya dianggapnya gatal, agresif, tidak tahu malu. Lah bisa begitu ya, bingung saya dengan standar ganda kalian, hahaha!

Kita masuk ke bentuk ketidakadilan gender yang kedua, yaitu subordinasi alias penomorduaan. Contohnya banyak sekali. Seringkali dalam sebuah keluarga, anak laki-laki lebih diutamakan pendidikannya dengan alasan kan nanti akan jadi kepala keluarga (padahal kenyataannya akhirnya sama-sama kan), atau di sebuah kantor laki-laki lebih diutamakan perkembangan karirnya dengan alasan tidak akan ada gangguan cuti melahirkan. Penomorduaan ini juga banyak terjadi terkait pengambilan keputusan. Di kampung-kampung, yang diundang rapat-rapat pengambilan keputusan siapa? Bapak-bapak! Ibu-ibu? Di dapur menyiapkan konsumsi. Padahal pembuatan keputusan yang tidak melibatkan perempuan itu berbahaya lho. Misalnya, ambil contoh rapat pengambilan keputusan di kampung tadi. Karena yang datang rapat bapak-bapak, dibahaslah soal di kampung yang banyak remaja kebut-kebutan di jalan, sehingga diputuskanlah di rapat itu untuk membuat banyak polisi tidur di jalan-jalan kampung. Tapi, tahukah bapak-bapak itu, kalau perempuan sedang menstruasi apalagi sedang hamil muda, naik motor melewati polisi tidur yang tinggi itu rasanya sakit sekali dan bahkan di kasus yang ekstrim bisa sampai keguguran. Apakah bapak-bapak tersebut berniat jahat? Tentu tidak! It’s simply karena mereka tidak tahu saja. Kenapa mereka tidak tahu? Karena mereka tidak mengalaminya, dan karena di rapat itu tidak diundang ibu-ibu untuk memberitahu mereka. Sudah yang pada ngebut laki-laki, yang bikin keputusan membuat polisi tidur laki-laki, yang dirugikan deh perempuan, hadeeuuhh.

Bentuk ketidakadilan gender yang ketiga adalah marginalisasi alias peminggiran. Biasanya terjadi dalam hal ekonomi. Misalnya diskriminasi upah, untuk pekerjaan dengan durasi yang sama dan tingkat kesulitan skill yang sama, perempuan dibayar lebih murah karena adanya asumsi bahwa dia lebih lemah. Laki-laki sering mendapat tambahan tunjangan rokok, tapi perempuan tidak mendapatkan tunjangan minum teh atau tunjangan beli pembalut kek. Ketika terjadi modernisasi dalam hal pertanian atau industri pun, biasanya perempuan adalah yang pertama kali tersingkir karena mesin-mesin baru ini biasanya dikuasai oleh laki-laki yang lebih memiliki akses, sehingga perempuan adalah orang pertama yang akan kehilangan pekerjaan/mata pencahariannya.

Bentuk ketidakadilan gender yang keempat adalah beban ganda atau multibeban. Zaman sekarang ini, sudah banyak perempuan yang memasuki ruang publik (baik karena kebutuhan ekonomi maupun kebutuhan aktualisasi diri). Namun hal tersebut tidak dibarengi dengan laki-lakinya memasuki ruang domestik, sehingga tanggung jawab mengurus rumah tangga dan pengasuhan anak tetap dibebankan hanya kepada perempuan. Akibatnya perempuan mengalami beban ganda atau multibeban, bahkan untuk perempuan yang memilih untuk menjadi ibu rumah tangga. Ingat tentang jam aktivitas perempuan dan laki-laki yang aku bahas di tulisanku beberapa hari yang lalu kan?

Nah, bentuk ketidakadilan gender yang kelima adalah kekerasan terhadap perempuan. Hal ini sudah aku bahas banyak sekali di tulisan-tulisanku sebelumnya selama 16 hari terakhir ini. Tidak perlu diulang lagi ya, takut tulisan ini jadi kepanjangan, hehehe. Bentuk kekerasan terhadap perempuan ini ada lima, yaitu kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, kekerasan ekonomi, dan kekerasan sosial. Dampaknya bisa sangat fatal dan menurut catatan kampanye 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan, 1 dari 3 perempuan di seluruh dunia mengalami kekerasan. 1 dari 3 itu bukan angka main-main lho.

So, pembagian peran gender memang tidak bermasalah, sampai ia menimbulkan masalah. Sayangnya ia jauh lebih sering menimbulkan masalah, karena dibakukan dan karena menimbulkan ketidakadilan gender, yang jauh lebih banyak merugikan perempuan.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *