Pengalaman Perempuan Melahirkan Cara-Cara Perempuan

Ini adalah cerita pengalaman pendampingan kelompok perempuan di komunitas yang aku dan teman-temanku lakukan. Hanya sebagian kecil saja sih tentunya dari rangkaian pengalaman panjang yang membahagiakan, mengarukan, and has made me not the same person anymore (in a good way I guess).

Pada suatu kamis pagi, aku dan temanku pergi ke salah satu desa di Gunungkidul. Ada pertemuan jaringan komunitas yang bergerak dalam isu kesetaraan gender dan penghapusan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Berboncengan motor dengan temanku, pada jam 11 siang kami sudah tiba di lokasi pertemuan, yaitu di rumah salah satu ibu anggota jaringan yang terletak di tengah desa dengan jalanan naik turun ekstrim khas Gunungkidul. Seperti ciri khas kelompok perempuan ketika berkumpul—ini yang aku suka—selalu dilakukan dengan hangat, santai tapi serius, dan jauh dari hal-hal yang bersifat formal. Sesampainya kami di sana, kami sudah disambut dengan rujak buah-buahan buatan sendiri yang buah-buahannya dipetik dari kebun sendiri. Masih sambil mengupas buah dan menghaluskan bumbu rujak, kami mulai ngobrol tentang bagaimana kabar masing-masing, bagaimana kabar keluarga masing-masing, hingga membicarakan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang terjadi di desa masing-masing.

Seringkali para perempuan ini membawa anak-anak mereka baik dalam rapat-rapat seperti ini, diskusi serial, maupun di pelatihan-pelatihan yang durasinya lumayan panjang. Anak-anak yang masih bayi digendong, sementara yang sudah agak besar bermain sendiri bersama dengan anak-anak yang lain. Hal itu tidak mengurangi keseriusan ibu-ibu itu untuk belajar dan memikirkan organisasi. Walaupun saya senang juga ketika di pertemuan bapak-bapak sudah mulai ada satu-dua yang membawa anak, tetapi mengingat kontruksi gender ratusan tahun bahwa “anak ya sama ibunya”, jadi lebih banyak pemandangan anak-anak kecil adalah di pertemuan ibu-ibu.

Ada satu hal lagi yang sangat saya suka dan tidak pernah absen setiap kali terlibat di kegiatan ibu-ibu di komunitas; makan bersama! Dan untuk Gunungkidul, menu andalan kami yang menurut saya sangat heavenly taste banget adalah nasi tiwul, ikan asin, sambal bawang, dan lalapan mentah. Dan selalu, kami tidak pernah bisa berhenti makan, entah karena makanan itu memang heavenly taste atau karena kami memakannya bersama-sama dengan suasana yang hangat. Biasa kami makan dengan cara kembulan alias satu piring atau satu kertas nasi untuk makan bersama-sama. Ya itu memang cara-cara perempuan ketika berkumpul ya: hangat, informal, membawa anak, dan tak lupa berbagi hal-hal yang bersifat personal. Yang aku maksud dengan informal di sini adalah tidak perlu menggunakan dress code tertentu, tidak perlu selalu ada kursi dan meja, tidak perlu selalu ada laptop, dan kadang kalau lelah kita bisa sambil tidur-tiduran, yang jelas hal-hal yang diagendakan—baik rapat maupun pelatihan/diskusi—tetap berjalan dengan serius.

Seperti kita tahu, kontruksi gender menempatkan asumsi-asumsi tertentu pada laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, konstruksi gender yang kawin dengan ketimpangan relasi kuasa akibat budaya patriarki, melahirkan bentuk-bentuk ketidakadilan gender yang sebagian besar dialami oleh perempuan, sebut saja pelabelan, penomorduaan, peminggiran, beban ganda, dan kekerasan terhadap perempuan. Banyak sekali contohnya dalam kehidupan kita sehari-hari. Konstruksi yang sudah sangat melekat itu diamini baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan, dan bahkan dianggap sudah kodrat atau takdir dari Tuhan.

Banyak yang sudah mulai susah membedakan mana yang kodrat dari Tuhan dan mana yang gender (bentukan manusia atau budaya), dan bahkan seringkali bercampur dan tertukar-tukar. Mungkin karena sudah terlalu lamanya konstruksi itu dilekatkan. Misalnya pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang dianggap sudah “kodrat”-nya perempuan padahal sejak kapan suatu pekerjaan itu itu ada jenis kelaminnya, atau perempuan yang dianggap sudah ditakdirkan untuk lemah lembut dan tidak mahir untuk urusan permesinan dan elektronik. Padahal kita tahu bahwa hal-hal tersebut bukan kodrat ya, tapi karena dipelajari dan dibiasakan. Kalau tidak pernah dibiasakan ya baik laki-laki maupun perempuan tidak akan bisa/sulit melakukannya.

Jadi teringat contoh sederhana terkait hal itu. Dulu sebelum menikah, ke mana-mana aku selalu naik motor sendiri, jadi ya ngebut-ngebut dan naik turun jalanan yang ekstrim sudah biasa. Tetapi karena setelah menikah, suamiku selalu ingin yang membonceng dan itu terjadi bertahun-tahun, akhirnya aku terbiasa dibonceng, dan tidak selihai dan seberani dulu lagi naik motornya, bukan karena aku perempuan kan, tapi karena tidak dibiasakan lagi. Demikian juga dengan suamiku, dia pernah cerita kalau dia merasa malu karena dalam sebuah kerja bakti, dia tidak kuat mencangkul tanah padahal baru beberapa menit dan sampai harus dibantu oleh kakek-kakek usia 70 tahun. Karena dia dan keluarganya bukan petani, jadi tidak pernah dilatih dan diajarkan untuk mencangkul, seperti halnya aku dan keluargaku, sehingga wajar kalau tidak bisa, ditambah dia juga jarang berolahraga karena pekerjaannya menuntut dia untuk duduk di depan komputer terus, again, bukan karena jenis kelaminnya kan.

Sebenarnya segala peran-peran gender itu tidak masalah sepanjang ia tidak menimbulkan masalah. Sayangnya ia seringkali menimbulkan ketidakadilan, karena kawin dengan ketimpangan relasi kuasa akibat budaya patriarki seperti yang kusebutkan di atas. Kalau itu disepakati (dengan catatan tidak ada ketimpangan relasi kuasa) yang okay-okay saja. Hanya saja pertanyaannya, seberapa banyak sih yang bisa seperti itu? Lantas seperti apa sih pembagian peran gender yang asoy untuk semua? Menurutku sih yang jelas yang tidak dibakukan ya (jadi merupakan pilihan), dan juga tentunya yang tidak menimbulkan ketidakadilan.

Beberapa saat sebelumnya, aku mendatangi sebuah diskusi buku berjudul “Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial” yang dinarasumberi oleh penulisnya sendiri, Mbak Katrin Bandel, seorang dosen di salah satu PTS di Yogyakarta. Dalam diskusi itu Mbak Katrin menyebutkan, kurang lebih, kajian gender harus selalu memperhatikan konteks pascakolonial karena jika tidak, maka kita akan cenderung mengidealisasi konsep gender ala Barat yang belum tentu cocok dengan pengalaman dan keinginan perempuan di Indonesia. Kajian gender mainstream yang dikembangkan di Barat membuat semua hal yang pernah berkembang di Indonesia menjadi tampak buruk dan tidak adil gender semua. Padahal kalau kita kembali ke feminisme, feminisme adalah paham yang berangkat dari pengalaman perempuan. Perempuan di Indonesia tentu sudah punya pengalamannya sendiri selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Beberapa hari kemudian aku menulis pesan di Facebook untuk Mbak Katrin untuk menanyakan, bagaimana jika para perempuan di Indonesia sejak lahir sudah dikonstruksikan untuk tidak memiliki keinginan dan pendapat sendiri dan menganggap apa yang diinginkan dan didefinisikan oleh laki-laki itu adalah keinginan dan kebenaran yang dia sendiri mengamini, karena sejak dalam kandungan sudah dikondisikan dan diajarkan seperti itu, bahwa dia tidak punya pengetahuan atau pengalaman untuk alternatif bagi dirinya. 

Beberapa hari kemudian Mbak Katrin membalas pesanku, ia mengatakan bahwa semua dari kita tidak sepenuhnya merdeka dalam menentukan pandangan. Diri kita dikonstruksi oleh berbagai wacana dominan dalam masyarakat kita, termasuk soal gender, dan hal itu berlaku untuk semua orang, baik di Barat maupun di dunia pascakolonial, termasuk aku dan dia. Mbak Katrin melanjutkan (aku tulis persis seperti yang tertulis di pesan Facebook-nya): “Tapi seperti yang kita tahu dari pengalaman diri kita sendiri, kita tidak dikuasai secara total. Ada saja subversi atau negosiasi yang kita lakukan. Nah, yang jadi masalah adalah kalau kita atau sekelompok feminis yang mungkin orang Barat atau orang kota/akademisi, menganggap bahwa hanya diri mereka yang mampu resisten terhadap wacana gender yang dominan, sedangkan perempuan lain—perempuan “dunia ketiga”, perempuan desa, dan sebagainya—sepenuhnya tersubordinasi.”

Aku rasa Mbak Katrin benar, karena selama berproses bersama ibu-ibu di komunitas, sering sekali aku mendengar dan mendapatkan wacana baru terkait gender yang keren sekali. Perspektif, kesadaran, bahkan ide-ide terkait strategi yang sebelumnya aku tidak pernah menyangka, akan keluar dari mereka, berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka, ide-ide yang brilliant.

Berfoto bersama dulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Kembali ke pertemuan di komunitas. Masih sambil menyemil rujak buah, kami berbicara santai tentang berbagai hal. Obrolan sampai pada sebuah kasus yang terjadi di salah satu desa; seorang bayi baru lahir dibuang ibunya ke sungai dari atas sebuah jembatan. Ibu-ibu mengatakan bahwa sebagian besar yang mendengar berita itu pasti akan langsung memberikan celetukan semacam, “wah tega sekali ibunya, perempuan macam apa dia,” atau “jahat sekali ibunya, sudah gila apa,” dan semacamnya. Tetapi ibu-ibu di jaringan komunitas itu berbeda, mereka mengatakan, “wah apa yang dialami oleh perempuan itu ya sampai seputus asa itu, dia pasti menghadapi semua itu sendirian tanpa ada dukungan apalagi bantuan dari siapapun”. Ibu yang lain mengatakan, “kabarnya perempuan itu hamil di luar nikah, ke mana laki-laki yang menghamilinya, sungguh tak bertanggung jawab, kasihan perempuan itu, semua ini pasti sangat mengerikan baginya”. Disambung oleh seorang ibu yang lain yang mengatakan, “kita kan tidak tahu, apa yang dialami oleh perempuan itu, ada cerita apa di baliknya, jadi tidak semestinya kita menghakimi dia”.

Semua itu keluar dari mulut ibu-ibu itu, saya dan teman saya hanya mengangguk-angguk saja. Kemudian saya mengatakan, “dukungan dari satu orang saja bisa sangat berarti, bahkan dukungan dari satu orang saja akan bisa membuat orang tidak jadi bunuh diri atau tidak jadi melakukan hal-hal yang mengerikan”. Salah satu ibu langsung menanggapi dengan mengatakan, “betul sekali Mbak, belum lama ini sahabat baik anak perempuan saya hamil di luar nikah, dia langsung dijauhi oleh semua orang termasuk keluarganya, bahkan dia dikurung tidak boleh keluar dari rumah. Saya berkali-kali bilang ke anak saya, kamu jangan meninggalkan dia, bantu dia, dukung dia, beri dia penguatan, ayo main ke rumahnya, kan kamu sudah biasa main ke rumahnya, tengok dia, jangan jauhi dia”. Jadi saudara-saudara, dia bukan tipe ibu yang, “jangan main sama dia lagi Nak, nanti kamu ketularan”, seolah-olah itu penyakit menular saja.

Kalimat-kalimat penuh kebaikan hati dan kehangatan itu keluar dari mulut ibu-ibu jaringan komunitas itu. Kemudian mereka menyusun rencana untuk bagaimana memperkuat jaringannya, bagaimana bisa lebih saling mendukung lagi, dan bagaimana mereka bisa ada pertemuan rutin, supaya bisa saling menguatkan dan saling mengingatkan, dan untuk berbagi cerita masing-masing. Ya begitulah cara perempuan, perempuan itu saling mendukung, perempuan itu saling menguatkan, perempuan itu saling berbagi. Berada dalam konstruksi yang menjadikannya selalu nomor dua, membuat perempuan mempelajari cara-cara itu untuk bangkit dan berkarya. Cara perempuan itu bersama-sama, cara perempuan itu merangkul, sehingga kemenangan perempuan itu adalah kemenangan kolektif.

Masih di acara itu, sesaat sebelum pesta tiwul sambal bawang dimulai. Ada seorang ibu yang setahu saya, dia baru di jaringan ini, dan belum banyak terlibat dalam kegiatan yang dilakukan. Bahasa kerennya dia newbie lah. Tapi dia mengangkat tangannya dan mengatakan, “kita harus melibatkan laki-laki dalam perjuangan kita, harus ada kelompok laki-laki juga yang bergabung, supaya bisa belajar bersama-sama. Karena percuma saja kalau para perempuan ditingkatkan pengetahuannya tentang kesetaraan gender tapi suami-suaminya tidak, akan sulit bagi dia ketika dia pulang ke rumah dan berhadapan dengan suaminya yang masih memiliki pandangan lama. Jadi mari kita bikin pendampingan untuk kelompok laki-laki. Laki-laki dan perempuan harus berjalan bersama untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan dan anak.”

Uuh wow, aku hanya bisa berdecak kagum dalam hati. Lembaga yang dulu aku pernah tergabung di dalamnya, pernah (dan masih) menjalankan program persis seperti yang diusulkan oleh si ibu itu, dengan alasan kurang lebih persis seperti yang dikemukakan olehnya. Kemudian aku mendengar kalau si ibu itu baru saja bercerai dengan suaminya karena suaminya berselingkuh dengan perempuan lain, dan kemudian ibu itu disalahkan oleh semua orang. “Suami saya yang berselingkuh, kok saya yang disalahkan”, demikian katanya. Pemikiran tentang strategi pelibatan laki-laki dalam penghapusan kekerasan terhadap perempuan itu muncul dari dirinya walaupun dia tidak tahu sudah ada pihak-pihak yang berpikiran serupa dan bahkan sudah menjalankannya. Dia memiliki ide dan kesadaran, dan itu berdasarkan pengalaman hidupnya.

Kembali saya teringat dengan obrolan saya via pesan Facebook dengan Mbak Katrin Bandel, perempuan tidak sepenuhnya tersubordinasi. Kesadaran gender tidak hanya didominasi oleh perempuan Barat atau perempuan kota saja. Pengalaman hidup perempuan akan melahirkan kesadaran dan pemikiran-pemikiran keadilan gender, serta impian-impian akan dunia yang lebih baik untuk dirinya dan perempuan-perempuan lain, untuk suaminya dan suami-suami lain, dan tentu saja untuk anak-anak mereka.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *