Perempuan Berdandan Buat Siapa?

Jawaban untuk pertanyaan tersebut mungkin akan berbeda-beda ya, tetapi secara garis besar bisa dikategorikan dalam 2 kolam besar: untuk orang lain dan untuk diri sendiri. Eh ada sih yang ketiga, yang spesifik banget, yaitu untuk pasangannya. Jadi dia berdandan hanya untuk satu orang saja, eaaa, soalnya satu orang itu adalah centre of her life, eaaa lagi, hihihi. Yang menurutku agak repot ya kalau kita harus berdandan untuk pasangan kita. Kan kita tinggal bareng dia, masa harus berdandan terus dari bangun tidur sampai mau tidur lagi, termasuk pas tidur, kan capek ya. Apalagi kalau kita tinggal di Bantul yang sumpah panas bangeeeeett, bedak-an sedikit saja sudah langsung luntur karena keringat, pakai baju kerenan dikit langsung basah kuyup keringat bajunya. Mending ganti daster longgar deh ah terus ngadep kipas angin. Lagian bukannya dengan pasangan itu adalah tempat kita seharusnya bisa merasa paling nyaman senyaman-nyamannya ya, menjadi diri kita yang seasli-aslinya, bahkan kadang menunjukkan diri kita dalam versi yang sehancur-hancurnya, misalnya ngiler, ngorok, kebelet b*ker, dan silakan dilanjutkan sendiri, hahaha. Jadi NO lah ya kalau harus dandan khusus untuk pasangan saja.

Kalau aku sendiri yang ditanya, aku berdandan untuk siapa. Hmm, jawabanku yang sejujur-jujurnya adalah 70 % untuk diriku sendiri dan 30 % untuk orang lain. Nah 30 % yang untuk orang lain itu ya pasanganku, ya keluargaku, ya teman-temanku, ya orang yang bahkan tidak aku kenal sama sekali. Okay, sebelum kita bahas yang 70 %, kita bahas yang 30 % dulu ya, yaitu berdandan untuk orang lain.

Oh iya dong aku berdandan untuk orang lain. Temanku waktu kuliah dulu pernah bilang bahwa adalah sunah Rasul ketika kita bertemu dengan sahabat, kita mengenakan pakaian terbaik kita, karena itu bentuk dari menghargai dan mencintai sahabat kita itu. Jadi aku sering lho ketika mau bertemu dengan teman-temanku atau ada acara keluarga, aku memikirkan betul pakaianku dan menggunakan make up lengkap, walaupun acaranya cuman ngopi-ngopi atau kumpul-kumpul bareng saja. Mungkin aku terpengaruh pesan temanku waktu kuliah dulu itu ya. Walaupun tidak selalu sih, hehehe. Kadang aku masih sering santai saja bertemu dengan teman-temanku tanpa make up sama sekali, dan bahkan kadang nggak pakai nyisir rambut. Soalnya aku tahu mereka mencintaiku apa adanya, hahaha, walaupun kalau baju biasanya tetap aku pikirkan. Berdandan untuk orang lain yang selanjutnya adalah ketika kondangan dan ketika sedang bekerja untuk klien (cieh, klien). Ketika kondangan ya umumnya saja lah ya, masa kondangan pakai kaos dan muka berminyak, kan seperti tidak menghargai pengantin yang tengah berbahagia. Kalau sedang bekerja ya mungkin karena aku adalah pekerja freelance jadi itu adalah bagian dari pencitraan, hahaha, nggak ding. Alasan sebenarnya adalah karena hal itu bisa membuat aku feel good about my self sehingga bisa bekerja dengan lebih optimal.

Feel good about my self, yes, kita sudah langsung masuk ke alasan aku berdandan yang 70 %, yaitu untuk diriku sendiri. Jadi memang mostly aku berdandan untuk diriku sendiri, karena hal itu membuat aku feel good about my self, lebih bersemangat, lebih percaya diri, dan simply lebih berbahagia saja. Pakaian yang cocok, lipstick yang keren, cat kuku yang matching, blush on yang oke punya, kalung-gelang-anting yang asyik, lotion dan wewangian yang beraroma manis, dan lain-lain, itu semua bisa bikin aku bahagia dan meningkatkan mood-ku hingga ke titik maksimal. Iya, akutuh memang orangnya gitu, mudah dibahagiain. Dan kadang untuk membahagiakan diri sendiri aku tidak memerlukan bantuan orang lain. Lha wong cukup dengan pakai lotion beraroma strawberry vanilla saja sudah bahagia, hehehe. Itu mungkin yang kadang jarang dimengerti orang terutama laki-laki (yang memang dibentuk seperti itu oleh konstruksi gender), bahwa bagi banyak perempuan, berdandan itu bisa membuat diri mereka bahagia dan meningkat mood-nya. Jadi bukan buat kalian para laki-laki, jadi monmaap nih ya, monmaaaaappp banget, hehehe.

Nah karena aku berdandan untuk diriku sendiri, maka ketika sedang malas ya aku tidak melakukannya, and it’s also okay, tidak akan mengurangi rasa percaya diri dan kebahagiaanku. Lho tadi di atas bilangnya bisa bikin bahagia dan percaya diri? Ya memang, kalau lagi pengen! Tapi kalau lagi malas, ya tidak merasa perlu untuk melakukannya. Jadi tidak harus dilakukan! Nah lho gimana sih, hayooo kalian-kalian yang suka stereotyping perempuan sebagai complicated pasti senang kan mendengar ambiguitas ini, hehehe. Jadi gini lho, kalau pas kita lagi pengen, berdandan itu bisa memberikan kebahagiaan, meningkatkan percaya diri, dan menaikkan mood. Tapi kalau kita sedang tidak pengen, justru dengan tidak berdandan itu bisa memberikan kebahagiaan, meningkatkan percaya diri, dan menaikkan mood. Karena kita bisa merasa merdeka menjadi diri kita. Bisa berdandan ketika kita sedang ingin, dan juga bisa tidak berdandan ketika kita sedang tidak ingin. Apa sih yang lebih membahagiakan dari hidup merdeka?

Contohnya begini. Pernah aku bersama temanku harus bekerja memfasilitasi ibu-ibu di komunitas di Gunungkidul yang panas banget itu. Karena hari itu aku sedang ingin berdandan, maka pakailah aku baju yang agak ribet, dobel-dobel, lengkap dengan syal-nya (secara model cocok dipakai ke komunitas, tapi secara keribetan tidak cocok karena panas). Lalu temanku yang hanya pakai celana dan kaos longgar saja itu bertanya padaku, “Beb, kamu nggak kepanasan apa pakai baju kayak gitu?” Dan jawabanku, “ya kepanasan lah, tapi kan keren, biar kepanasan yang penting keren, soalnya ini semua sudah matching satu paket”. Dan temanku itu langsung tertawa ngakak tidak berhenti-berhenti.

Tapi sebaliknya, kalau aku sedang tidak ingin berdandan, ya sudah tidak berdandan sama sekali. Misalnya dulu, pada suatu siang jam 11.50, temanku whatsapp mengajak aku nonton film jam 12.30. Lah perjalanan saja sudah 30 menit sendiri dari rumahku ke gedung bioskop, dan aku belum mandi. Jadilah aku mandi super kilat, ganti baju seadanya, dan langsung meluncur ke gedung bioskop tanpa make up sama sekali dan tanpa menyisir rambutku yang gembel itu, hahaha. Tapi ya aku tetap enjoy-enjoy saja tuh di sana dan happy, hehehe.

Jadi kesimpulannya adalah, girls, berdandan atau tidak itu pilihan kita. Yang terpenting kita berbahagia dan nyaman dengan diri kita sendiri, karena tidak ada yang berhak mendefinisikan tubuh kita selain kita sendiri.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *