Perempuan Berkelompok: Strategi Pemberdayaan Perempuan yang Selama Ini Dinomorduakan oleh Konstruksi

Sebenarnya berkelompok itu bagus untuk semuanya, mau perempuan, laki-laki, ataupun perempuan bersama dengan laki-laki. Seperti analogi lama yang sudah sering kita dengar, bagaikan sebatang lidi yang mudah patah dan susah untuk digunakan melakukan sesuatu, satu ikat sapu lidi akan sulit untuk dipatahkan dan bisa digunakan untuk menyapu lantai. Tetapi terlebih untuk perempuan, berkelompok akan lebih bermanfaat karena beberapa hal yang akan aku ceritakan di bawah ini berdasarkan testimoni dari ibu-ibu kelompok perempuan di komunitas dalam kelas ibu yang kami selenggarakan minggu lalu.

Pertama, dengan berkelompok, perempuan akan bisa menceritakan tentang dirinya dan permasalahan hidupnya, termasuk tentang ketidakadilan (atau ketidaknyamanan) yang diperoleh dikarenakan dilahirkan dengan jenis kelamin perempuan. Dengan saling bercerita ini kita akan merasa bahwa kita tidak sendiri. “Tadinya saya pikir hanya saya yang mengalami masalah seperti itu, ternyata banyak perempuan yang lain juga,” demikian testimoni salah satu ibu pada pertemuan kelas ibu tersebut. Dengan perasaan senasib dan sepenanggungan ini, empati kita akan semakin bertumbuh dan kita akan jadi lebih memahami teman kita. Apalagi bagi perempuan yang jarang didengarkan pendapat dan curahan perasaan hatinya karena dianggap semua itu sudah menjadi tugasnya (atau nasibnya) sebagai perempuan untuk mengalami semua hal itu. Bisa menceritakan ketidaknyamanannya selama ini tanpa disalahkan dan dihakimi adalah sebuah anugrah bak oase di padang pasir. Lebih memahami teman perempuan kita ini pada tahap selanjutnya akan meningkat menjadi saling mendukung dan menguatkan di antara sesama perempuan.

Kedua, mendengarkan cerita dari teman perempuan yang lain dapat memberikan kita inspirasi atau masukan untuk kita menyelesaikan masalah kita sendiri. Ketika mendengar cerita teman kita bahwa ia mengatasi masalahnya (atau kesedihannya) dengan cara tertentu, hal itu bisa memberikan kita inspirasi, insight, atau masukan yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Tentunya tidak meng-copy-paste mentah-mentah karena situasi dan konteksnya pasti berbeda, tetapi paling tidak akan mendapatkan ide yang selama ini tidak pernah terpikirkan atau sebenarnya sudah terpikirkan tapi kita takut melakukannya, tapi ternyata teman kita sudah melakukannya. Atau bahkan dengan melihat teman perempuan kita tetap bisa tersenyum dan berbahagia di tengah banyaknya himpitan masalah itu pun akan bisa menginspirasi dan menyuntikkan energi positif untuk kita.

Ketiga, dengan konstruksi gender yang secara umum masih menomorduakan perempuan, dengan berkelompok perempuan akan lebih didengarkan pendapatnya dan lebih dianggap daripada ketika sendirian. Bayangkan saja di satu musyawarah desa, ketika satu ibu mengutarakan pendapatnya (apalagi berbicaranya terbata-bata dan pelan karena selama ini tidak dibiasakan untuk berbicara ngotot) pasti akan lebih mungkin diabaikan dan tidak didengarkan dibandingkan dengan pendapat dari seorang bapak (apalagi yang tokoh masyarakat), walaupun sebenarnya pendapat si ibu yang bicaranya terbata-bata itu lebih bagus dari si bapak tokoh masyarakat yang bicaranya keras menggelegar. Namun bayangkan ketika yang mengutarakan pendapat itu adalah sekumpulan ibu-ibu secara bersama-sama, kemungkinan besar pendapat mereka akan lebih dianggap dan didengarkan. Ditambah lagi, dengan mendapatkan dukungan dari rekan-rekannya sesama perempuan, para ibu ini akan lebih percaya diri untuk berbicara, tidak hanya di level desa, tapi juga di level-level yang lebih tinggi.

Demikian pentingnya perempuan berkelompok yang aku simpulkan dari pendapat ibu-ibu dalam diskusi kelas ibu yang kami selenggarakan di sebuah TK Jumat siang minggu lalu yang kemudian kami akhiri dengan dahar kembul (makan bersama-sama secara kolektif beralaskan daun pisang dengan menggunakan tangan) dengan menu favoritku banget yaitu nasi tiwul, ikan asin, oseng tempe, peyek, dan sambal bawang. Yay, mari kita para perempuan terus mengorganisir diri.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *