Perempuan di Antara Cerdas atau Cantik: Berhentilah Men-Stereoytpe-Kan Kami!

Beberapa bulan yang lalu aku sempat kesal banget ketika membaca sebuah tulisan yang viral di media sosial, yang ditulis oleh seorang perempuan, yang intinya mengatakan bahwa sekarang ini ketika dia sudah merasa melakukan hal yang bermanfaat dalam karirnya yang sudah settle dia tidak sempat lagi memikirkan penampilan, tidak seperti dulu, ketika dia masih belum apa-apa dan hanya tahu bersenang-senang dia sangat aware dengan penampilannya. Okay, jadi pilihan untuk perempuan adalah either kamu cerdas dan bermanfaat ATAU kamu cantik dan tahunya senang-senang doang. A atau B, hitam atau putih! Dan tulisan itu di-share oleh banyak sekali orang.

Beberapa minggu yang lalu, ketika sedang ngopi bareng teman-teman, seorang teman perempuan yang memilih menekuni profesi sebagai seorang sexy dancer mengeluhkan, betapa banyak sekali orang yang begitu tahu apa profesi dia langsung memandang negatif. Seolah-olah profesinya itu hanya membutuhkan kemolekan tubuh saja dan tidak membutuhkan skill sama sekali, alih-alih kecerdasan. Lagi-lagi, kalau kamu cantik dan sexy berarti kamu tidak mungkin cerdas dan skillfull! Ck ck ck. Belum lagi prejudice bahwa profesinya pasti dekat dengan kurangnya moral. Ya ampun, kalau cuman mau kurang moral mah, profesi apapun juga bisa, bahkan yang profesinya dianggap terpandang sekalipun.

Dan, beberapa hari lalu, lagi-lagi, di berita online aku membaca sebuah klaim bahwa semakin cerdas perempuan maka penampilannya akan semakin sederhana. Dengan kata lain bahwa perempuan yang penampilannya heboh, fashionable dan fully make up, bisa dipastikan dia bego. Oh my God! Again, either kamu cerdas ATAU kamu cantik! Tanpa bisa dua-duanya dan tanpa bisa ada gradasi di antara keduanya. Dan siapa yang bikin definisi-definisi tersebut? Laki-laki tentu saja, yang juga diamini oleh beberapa perempuan, sedih sekali! Tidak hanya dikotomis dan stereotyping, tapi juga judgemental dan asumtif sekali. Lagi-lagi, perempuan tidak bisa menjadi dirinya sendiri, dia harus mengisi ruang-ruang definisi yang sudah disediakan untuknya.

Di situ kekesalanku sudah menumpuk dan memuncak sampai pada ubun-ubun. Rasa-rasanya ingin sekali berkomentar begini: “Heh, ya belum tentu lah. Banyak juga yang cerdas sekaligus cakep, dan ada juga yang cerdas kagak, cakep juga kagak, kayak elu!!!” Hihihi, tapi karena aku ingat bahwa kita harus melakukan perlawanan dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya, jadi kuurungkan untuk mengeluarkan kata-kata tidak santun itu di publik, eh tapi aku katakan sekarang, sama aja dong ya, hahaha, tapi kan ngga langsung di depan muka orangnya, hihihi.

Ada beberapa alasan fundamental yang bikin aku kesal sekesal-kesalnya dengan fenomena ini. Pertama, cerdas dan cantik itu kan relatif ya, tidak ada definisi yang pasti mengenai yang cerdas itu yang seperti apa dan yang cantik itu yang seperti apa. Manusia itu sangat kompleks sekaligus unik, you know.

Misalnya saja aku dan suamiku. Aku sangat ahli dalam hal hitung-hitungan dan juga mengingat hal-hal detail dan mengaitkan hal-hal, sehingga aku bisa sangat teliti dalam menulis dan mengedit, membuat perencanaan-perencanaan, dan mudah sekali mengingat jalan dan membaca map (kecerdasan spasial), sementara suamiku buruk dalam menghitung dan ketelitian, sama sekali tidak bisa mengingat jalan atau membaca map, tapi memiliki photographic memory, sekalinya melihat tempat/pemandangan langsung bisa memindahkannya ke dalam kanvas dan juga bisa menggambar dengan sangat bagus dengan gradasi-gradasi warna-warna dan bayangan-bayangan serta tekstur-tekstur. Kalau aku hanya tahu dua warna biru, biru tua dan biru muda, maka mungkin dia akan bisa menyebutkan dan menunjukkan belasan warna biru yang berbeda.

Jadi siapa yang lebih cerdas di antara kami berdua? Tidak ada! Tidak ada yang lebih cerdas dari yang lainnya. Dua-duanya cerdas dengan keunikannya masing-masing, dan dua-duanya punya manfaatnya sendiri-sendiri. Itu baru membandingkan antara dua orang, belum dengan orang-orang yang lain, yang masing-masing memiliki kecerdasannya sendiri-sendiri. Jadi sungguh jahat sekali orang yang mengatakan seseorang cerdas dan orang yang lainnya tidak cerdas.

Begitu juga dengan cantik/cakep. Tolong ya, cakep itu sumpah relatif. Menurutku Freddie Mercury dengan gigi tonggos-nya dan penampilan eksotiknya (di tahun 1970an) itu cakep banget, aku yakin banyak yang tidak sependapat denganku. Atau banyak yang mengatakan Raisa itu cantik alami, tapi she’s just not my type (secara fisik), seleraku lebih ke Nia Ramadhani yang glamour. Pendek kata, soal cakep itu selera masing-masing ya, jadi tidak bisa dibakukan atau distandarkan, alih-alih kemudian didikotomikan, bahwa seseorang itu cakep dan seseorang lainnya tidak cakep.

Hal lain yang membuatku meradang dari fenomena yang kuceritakan di atas adalah, you know, when it comes to women, situasinya menjadi semakin parah, stereotyping dan judgement yang sangat sadis sudah menantimu, wahai para perempuan. Definisi-definisi yang baku dan dikotomis sudah disediakan dengan seolah-olah tidak ada pilihan lain selain definisi-definisi yang sudah disediakan itu untuk tubuh, perilaku, dan kualitas perempuan. Dan semua perempuan dengan semena-mena harus dimasukkan ke dalam pilihan-pilihan definisi yang sudah disediakan itu. Perempuan cantik berarti bego atau perempuan cerdas berarti jelek. Kurang ajar sekali ya.

Atau seringkali ada stereotype bahwa perempuan yang bekerja di luar rumah itu lebih cerdas dari perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. Atau juga stereotype yang sebaliknya, perempuan yang menjadi ibu rumah tangga itu lebih bermoral daripada yang menjadi perempuan karir. Atau yang mengenakan pakaian style tertentu lebih baik dari yang lain, yang memilih profesi tertentu lebih baik dari yang lain, yang memilih kuliah jurusan tertentu lebih baik dari yang lain, yang berat badannya tertentu lebih baik dari yang lain, dan lain-lain, dan seterusnya, dan sebagainya, arrrgghhhh!

Jadi tolong ya, mulai sekarang, ye, ye, dan ye sekalian! Biarkan kami menjadi diri kami sendiri, mendefinisikan diri kami sendiri. Menjadi cerdas dengan versi kami sendiri dan menjadi cantik dengan versi kami sendiri, dan biarkan kami memilih untuk menekuni bidang/profesi/passion apapun tanpa label cerdas/bego dan juga biarkan kami memilih untuk berpakaian dan berpenampilan seperti apapun. Mau penampilan sederhana tanpa make up atau mau dandan heboh penuh make up dan fashionable itu pilihan, tidak ada kaitannya dengan kecerdasan dan kualitas kami sebagai manusia!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *