PERSONAL IS POLITICAL, POLITICAL IS PERSONAL: PANDANGAN TERHADAP KASUS SALAH SATU FOUNDER BAPAK2ID

Meskipun mengaku penggemar garis keras Marvel dan menghabiskan waktu luang saya di media sosial untuk mengikuti akun-akun fandom Marvel yang berisi fans teori, fans art, dan juga memes tentang Marvel Cinematic Universe, bukan berarti saya tidak mengikuti juga akun-akun influencer yang ada di media sosial. Nah salah satu dari akun yang saya ikuti dan lumayan saya simak postingan-postingannya adalah akun bapak2id.

Saya suka akun bapak2id karena isinya berbobot, meskipun ditampilkan dalam gaya penyampaian yang ringan, lucu, dan konyol-konyol asyik, tetapi tetap ada values yang mereka bawa. Values yang mereka bawa di antaranya, seperti tertulis dalam biodata akunnya adalah kurang lebih mengajak bapak-bapak untuk menjadi laki-laki yang disayang istri, anak, orangtua, mertua, teman, tetangga, dan lingkungan sekitar.

Postingan-postingannya membahas hal-hal di seputar kehidupan sehari-hari kita semua dengan gaya yang asyik dan menyenangkan, dari membahas tentang kebiasaan unik bapak-bapak, tips-tips rumah tangga (bagaimana menjadi suami dan ayah yang okay), tips-tips berbisnis, tips-tips praktis sehari-hari (seperti bagaimana mengganti kran air yang bocor, bagaimana mengecat rumah sendiri, hal-hal semacam itu), hingga tips-tips untuk adik-adik usia 20an (bapak-bapak ini berada dalam usia end 30 kalau saya tidak salah).

Hal lain yang saya sukai dari akun yang didirikan oleh 6 orang bapak-bapak ini adalah postingan-postigannya termasuk yang paling tidak bias gender, tidak seksis, dan tidak melanggengkan kekerasan terhadap perempuan (untuk ukuran akun umum ya bukan akun yang memang mengangkat isu gender). Bahkan saya perhatikan kalau ada komentar netizen yang seksis dan mengandung unsur kekerasan terhadap perempuan pun langsung mereka potong dengan tegas walaupun tidak kasar, misalnya dengan mengatakan, “maaf pak, candaan seperti itu tidak diterima di sini”. Jadi saya cukup salut dengan akun ini. Hal positif lainnya di mata saya adalah juga bapak-bapak di akun ini rendah hati, mendukung pembagian peran dalam rumah tangga, penyayang kucing, dan tentu saja isi postingan-postingannya yang membumi dan sangat relate dengan kehidupan sehari-hari bapak-bapak (dan juga ibu-ibu) usia 30an, khususnya yang hidup di daerah perkotaan atau pinggiran kota.

Uniknya keenam founder bapak-bapak ini tidak pernah sekalipun menampakkan identitas aslinya. Mereka selalu menampilkan dirinya dalam bentuk boneka dan menggunakan nama yang unik (yang ke sini-sini baru saya tahu kalau itu nama samaran, ya iyalah ya, masa nama beneran, wajah saja tidak ditampilkan). Nama samaran yang mereka gunakan adalah Pak James jan Markus, Pak Munawir bin Sabin, Pak Marsani Lempar Lembing, Pak Agus Peter Jaelani, Tuan Yayat Plafon, Pak Nuang 2000, masing-masing dengan karakter dan bonekanya yang unik dan khas. Sungguh sebuah akun influencer yang unik dan beda kan?

Hingga kemarin siang saya membaca sebuah berita tentang seorang perempuan yang mengeluhkan tindakan suaminya terhadap dirinya. Jadi si suami ini menceraikannya dan berselang satu bulan kemudian, si suami langsung menikahi baby sitter anak mereka. Sang istri yang sakit hati ini kemudian mengatakan bahwa si suami sudah melakukan perselingkuhan terlebih dahulu dengan baby sitter anak mereka hingga akhirnya berakhir dengan si suami menceraikannya dan menikahi selingkuhannya tersebut. Saking kesal dan sakit hatinya, si istri ini sampai menulis pesan secara terbuka kepada mantan suaminya itu di media sosial dan diakhiri dengan mengatakan, “kukira kau rumah, ternyata toilet umum” memlesetkan judul lagu amigdala yang sekarang tengah hype itu dan bahkan sudah dibuat filmnya, kabarnya bercerita tentang kekerasan dalam pacaran, aku belum sempat menontonnya.

Aku selalu sebel setiap kali membaca berita-berita perselingkuhan semacam itu dan sepakat dengan sang istri bahwa benar memang laki-lakinya toilet umum. Di banyak budaya di Indonesia (dan di seluruh dunia aku rasa) memandang perselingkuhan sebagai sesuatu yang rendah dan tidak bermoral. Bahkan kalau tidak salah ingat, dulu waktu aku sempat tinggal selama 2 minggu di salah satu desa di Papua, dan mengobrol dengan warga setempat, dipercaya sebagai aturan tidak tertulis di desa itu, bahwa ada 3 dosa besar yang dianggap paling rendah dan memalukan serta sulit dimaafkan, yaitu membunuh orang, merampas tanah milik orang lain, serta berselingkuh.

Aku juga pernah mendengar cerita dari temanku yang habis berkunjung ke Toraja, katanya jenazah orang-orang Toraja kan dimakamkan di goa-goa di bukit-bukit atau di atas-atas pohon. Kecuali ada beberapa jenazah yang hanya dibiarkan teronggok saja di tanah tanpa martabat, karena dianggap semasa hidupnya melakukan dosa besar dan memalukan, di antaranya adalah berkhianat dan berselingkuh. Nah terlihat kan, sejak dulu bangsa kita sudah sangat menghargai kesetiaan dan memandang rendah serta tidak bermartabat perbuatan perselingkuhan karena di dalamnya ada unsur pengkhianatan dan pelanggaran janji serta komitmen.

Di masa sekarang sendiri, negara kita sudah memiliki Undang-Undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Dengan adanya undang-undang itu menunjukkan bahwa persoalan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sudah bukan merupakan ranah privat atau persoalan rumah tangga lagi, melainkan sudah menjadi urusan publik karena merupakan sesuatu yang melanggar undang-undang, sehingga sudah masuk dalam tindakan kriminal, sudah masuk dalam persoalan kemanusiaan. Jadi perbuatan KDRT itu bisa dilaporkan.

Dan jangan salah, yang termasuk dalam KDRT itu bukan hanya kekerasan fisik saja lho, tetapi ada juga kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan juga penelantaran rumah tangga. Yang dimaksud dengan kekerasan psikis menurut undang-undang ini adalah “perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau penderitaan psikis berat pada seseorang” (pasal 5 huruf b) dengan ancaman hukuman maksimal yang bisa dikenakan pada pelaku adalah 3 tahun atau denda paling banyak 9 juta rupiah (pasal 45).

Dari definisinya, sudah jelas kan kalau perselingkuhan itu termasuk dalam kekerasan psikis. Bahkan bisa dibilang perselingkuhan adalah bentuk yang paling menyakitkan dan mengakibatkan penderitaan psikis berat pada korbannya. Adapun bentuk-bentuk kekerasan psikis dalam relasi intim lainnya di antaranya adalah membatasi atau melarang, mengancam, mengisolasi, menuduh, mengejek/menghina, mengkritik tiada habis, meninggalkan atau mengabaikan, memaksa, merendahkan, membuat orang merasa tidak mampu, dan masih banyak lagi.

Sudah jelas kan, perselingkuhan itu termasuk dalam kekerasan psikis dan kekerasan psikis itu sudah diatur dalam UU PKDRT. Jadi kekerasan, termasuk kekerasan psikis itu bukan merupakan masalah privat atau aib rumah tangga ya, tetapi sudah merupakan tindakan melanggar hukum dengan delik aduan dari si korban.

Nah apa kaitan dari semua yang saya paparkan di atas dengan akun bapak2id yang saya bahas di awal tadi? Saya juga tidak tahu kalau itu ada kaitannya hingga tadi pagi salah satu teman saya mengirim kabar melalui WAG mengatakan bahwa laki-laki pelaku yang ada di berita yang saya ceritakan sebelumnya itu adalah salah satu founder bapak2id.

Ouch, saya langsung tertegun, wah sangat bertentangan dong dengan nilai-nilai yang selama ini diusung oleh bapak2id, yang sering memberikan tips-tips rumah tangga, termasuk bagaimana hubungan yang sehat dan penuh kasih sayang antara suami dan istri. Apalagi di biodata profilnya saja mengajak bapak-bapak untuk menjadi laki-laki yang disayang istri.

Saya tentu merasa sangat kecewa, tapi saya juga berpikir adil. Kan founder bapak2id tidak hanya si pelaku itu saja, tetapi masih ada 5 bapak-bapak lainnya yang mungkin saja tidak tahu-menahu/tidak terlibat/tidak bisa mencegah tindakan kekerasan rekannya tersebut. Tapi saya berharap mereka akan melakukan sesuatu dan tidak hanya menjadi silent majority saja. Jadi begini, memang betul ada jauh lebih banyak laki-laki yang tidak melakukan kekerasan terhadap perempuan dibanding dengan yang melakukan. Sayangnya laki-laki baik yang jumlahnya banyak ini diam saja ketika tahu ada rekan laki-lakinya yang melakukan kekerasan terhadap perempuan. Jadi semacam, yang penting kan bukan saya, yang penting saya tidak melakukan kekerasan. Tapi tidak melakukan upaya apa-apa terhadap kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki lain yang mereka ketahui. Itu yang dimaksud dengan silent majority.

Nah saya sangat berharap 5 founder bapak2id yang lainnya ini tidak menjadi silent majority. Saya berharap mereka melakukan sesuatu. Apalagi karena mereka influencer dengan follower 850 ribu lebih, dan kontennya selama ini mengusung values yang saya masukkan dalam kategori mendukung relasi sehat dalam rumah tangga. Saya juga berharap mereka tidak menganggap peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh rekannya itu “hanyalah” sebuah urusan personal yang tidak ada hubungannya dengan platform yang mereka bawa, bahwa urusan personal ya urusan personal, urusan profesional ya urusan profesional.

Karena tidak bisa begitu Fergusso, ingat personal is political, political is personal. Tidak bisa masalah personal dipisahkan dari masalah organisasi/institusi/pekerjaan/kehidupan sosial. Apalagi mereka influencer, apalagi mereka selama ini mengkampanyekan nilai-nilai menjadi bapak-bapak yang disayang istri (disayang istri tentunya tidak akan menyakiti dan melakukan kekerasan terhadap istri, bukan). Saya pun kemudian mengamati apa langkah-langkah yang diambil oleh kelima founder bapak2id yang tersisa (selain si pelaku). Apakah akan membuat saya bangga atau sebaliknya, membuat saya kecewa?

Syukur alhamdulillah ternyata yang pertama! Saya senang dan lega sekali. Kelima bapak-bapak founder bapak2id yang tersisa, awalnya meminta masukan kepada para netizen follower-nya apa yang mesti mereka lakukan. Beberapa jam kemudian, mereka langsung membuat pernyataan tertulis bahwa mereka telah memecat si founder pelaku perselingkuhan ini, dan bahwa yang bersangkutan sudah tidak ada hubungan apapun lagi dengan bapak2id, bahkan tidak akan bisa memberi saran apapun, intinya adalah sudah putus hubungan sepenuhnya. Mereka juga meminta maaf atas segala hal yang terjadi dan dilakukan oleh salah satu founder mereka tersebut. Benar-benar seperti yang saya harapkan. Dan satu lagi, mereka bahkan sudah menghapus biodata di profil yang tadi saya sebutkan di atas, “menjadi bapak-bapak yang disayang istri, anak, orangtua, mertua, dan seterusnya” itu. Saya memandang penghapusan biodata itu sebagai bagian dari refleksi dan otokritik mereka terhadap kasus yang terjadi pada salah satu founder-nya.

Well, demikian cerita dan tanggapan saya terhadap kasus yang sedang agak ramai di media sosial ini. Semoga bisa menjadi bahan refleksi kita bersama, bahwa bagaimanapun kita harus selalu zero tolerance terhadap segala bentuk kekerasan terhadap perempuan, dan bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan itu bukan persoalan personal, itu adalah persoalan kemanusiaan!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | PERSONAL IS POLITICAL, POLITICAL IS PERSONAL: PANDANGAN TERHADAP KASUS SALAH SATU FOUNDER BAPAK2ID
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *