Pertanyaan yang Menggelitik

Sudah minta restu suami?”

Sita nanti bagaimana?”

Nggak takut jauh dari suami? Nanti suaminya macem-macem lho.

Kasihan suaminya ditinggal.

Yah, itu kira-kira rangkuman pertanyaan-pertanyaan yang muncul saat orang-orang di sekitar tahu saya akan meninggalkan suami untuk kerja di kota lain. Saya jadi penasaran, kalau saya laki-laki, kira-kira pertanyaan-pertanyaan itu akan muncul tidak ya? Atau mungkin, kalau saya laki-laki, pertanyaannya yang muncul akan seputar:

Anak istri diajak? Engga? Ooh, iya anak sudah sama ibunya ya.

Lalu sudah. Case closed!

Lalu apakah para suami akan terkena “kutukan” sosial berupa perasaan bersalah seumur hidup akibat meninggalkan anak istrinya untuk bekerja? Anaknya sih terutama. Hmmm, saya rasa kutukan sosial itu tidak berlaku bagi para suami sehingga meringankan langkah mereka untuk mengaktualisasikan dirinya, menjadi setinggi apapun yang mereka inginkan.

Lalu bagaimana dengan para istri yang dikenai “kutukan” beban ganda bekerja dan mengasuh anak? Saya rasa langkah mereka menjadi berat dan kadang terseok-seok karena menghadapi tuntutan sosial yang sangat kejam. Belum lagi tugas tidak masuk akal yang satu ini: mengurus suami! Saya pernah berkomentar begini: “Yang perlu diurus itu anak, bukan suami. Suami justru harus bahu-membahu bersama istrinya untuk mengurus anak, bukan malah minta diurusin”, lalu orang-orang melihat saya dengan aneh. Lha menurut pendapat saya sih, suami itu sudah besar ya, sudah bisa mengurus diri sendiri. Jadi buat apa diurusi?

Kembali ke pertanyaan awal. Soal restu. Rasanya kok kurang pas. Meminta restu itu bagi saya seperti meminta izin ke orangtua. Itupun biasanya orangtua saya membebaskan saya untuk memilih jalan manapun yang saya inginkan. Jadi lebih ke minta didoakan, bukan meminta izin yang mana jika tidak diberi maka saya tidak jadi melakukan hal tersebut. Yang saya dan suami lakukan adalah berdiskusi, bukan meminta izin/restu dari salah satu dari kami. Prinsipnya: jika itu baik bagi salah satu dari kami, maka mari kita cari jalan keluar untuk yang lain bersama-sama, termasuk soal anak. Kalau ada yang bilang menikah itu menghambat perkembangan diri, BIG NO deh yaaa. Eh, tergantung konsensus dari dua belah pihak juga ding. Tergantung situasi dan kondisi juga. Makanya teliti sebelum “membeli”. Kenali calon pasangan baik-baik sebelum menikah.

Saya sering bepergian sendiri, tanpa membawa anak. Lalu apakah saya tiba-tiba menjadi ibu yang tidak sayang anak? Yha tentu tidak dongs. Logika dari manaaa itu? Geli sendiri kalau ada yang berkomentar: “Tega banget anaknya nggak diajak”, hahaha. Tapi saya akui, bahkan saya juga masih merasa gimanaaa gitu mendengar komentar tersebut. Bikin saya merasa jadi ibu paling jahat sedunia (padahal komentarnya lebih jahat, dan yang komentar juga jahat, hihihi). Tapi ya, iya, saya memang ibu yang tega meninggalkan anak demi kesehatan jiwa saya sendiri untuk rehat sejenak dari rutinitas kesibukan yang seperti tiada habisnya. Iya, saya tega karena saya tahu saya meninggalkan anak di tangan yang tepat—bapaknya sendiri—dan kami punya kesepakatan masing-masing harus punya waktu untuk diri sendiri.

Masih mau bilang kasihan bapaknya? Harus kerja sambil mengasuh anak? 

Bah! Gak kasihan sama ibu-ibu lain yang bahkan kalau suaminya nggak dinas ke luar kota pun masih dibebani 2 tugas: bekerja (baik di rumah maupun di luar rumah) dan mengasuh anak? Atau mengasuh anak dan membereskan rumah? Lagipula, mengasuh anak itu tugas siapa sih? Yang bikin sendiri atau berdua? Silakan direnungi masing-masing yes.

Eeeeniwei,

Pertanyaan-pertanyaan menggelitik itu lucu juga sebenarnya kalau dijawab panjang lebar. Bisa saingan sama wayang semalam suntuk. Tapi bukan salah yang melemparkan pertanyaan juga sih. Yang salah adalah konstruksi sosial yang dibangun selama bertahun-tahun dan praktik-praktik yang mengawetkannya. Mungkin yang bertanya juga termasuk korban dari konstruksi sosial tersebut. Termasuk media yang kerap menggaungkan tagline “supermom” yang cekatan, mampu berkarir tinggi, rumah rapi, masak enak, suami bahagia (karena dapet privilege diurusin), dan anak bahagia (karena ibunya supermom, bukan karena orangtuanya superparent). 

Lalu si supermom itu sendiri? Bahagia nggak ya? Apakah dia bahagia karena mampu menjadi seperti apa yang dituntutkan kepadanya secara sosial? Ataukah pakai istilah klise, “asal kamu bahagia, aku ikut bahagia”?

Eaaaa…

Nurina Wardhani

Bagikan:

Nurina Wardhani

Sampai saat ini masih berkegiatan di Rifka Annisa. Aktif menulis untuk diri sendiri di blog dan bersyukur kalau dibaca orang lain. Suka membaca apapun mulai dari pengumuman, surat undangan, sampai jurnal. Hobi membeli (baca: menumpuk) buku meskipun dibacanya baru satu bulan kemudian. Antusias kalau diajak ngobrol seputar isu perempuan, pendidikan, kerelawanan, pengelolaan SDM di organisasi non-profit, dan social enterpreneur. Mimpi besarnya adalah punya toko buku dan perpustakaan. Tinggal di Bantul bersama suaminya yang nyebelin tapi ngangenin serta anaknya yang hobi bertanya tentang apapun. 

2 tanggapan untuk “Pertanyaan yang Menggelitik

  • Januari 13, 2019 pada 2:12 am
    Permalink

    Ini nulis ini sudah izin ke suami belum? ???????

    Balas
    • Januari 14, 2019 pada 7:09 am
      Permalink

      Halo Vince,

      Justru tulisan ini hasil diskusi di ranjang sebelum tidur bersama suami. Semacam pillow talk gitu deeehh :*

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *