Pesimis terhadap Pernikahan, adalah Saat yang Tepat untuk Menikah

Kapan sebenarnya seseorang dikatakan siap untuk menikah? Bagi saya ada dua jawaban. Pertama, ketika kita sudah merasa enggan untuk menikah. Sedangkan poin kedua adalah ketika kita tidak percaya-percaya amat kepada institusi yang namanya pernikahan.

Mengapa enggan menikah merupakan poin kesatu? Karena menurut saya menikah sangat tidak tepat dilakukan ketika kita sedang ngebet-ngebetnya pengen nikah. Sebab, ngebet itu identik dengan kebelet, dan ketika kebelet seringkali kita tidak sempat memikirkan apapun dan hanya fokus menuntaskan hasrat kebelet itu. Nah, setelah hasrat tertuntaskan, terus mau apa?

Hasrat pengen cepat menikah kadang kala juga dilandasi bayangan indah yang terlalu banyak terkait pernikahan. “Maukah kamu hidup susah bersama saya?” “Ya.” Tapi sayangnya tidak setiap orang ternyata tahan dengan situasi susah beneran.

Saya dapat cerita dari salah satu teman yang sedang magang di rumah sakit. “Tahu nggak Mbak, kalau ada ibu yang ngelahirin padahal masih usia remaja gitu, duh repot. Susah dibilangin,” katanya. Si Ibu yang berusia remaja yang ia temui umumnya lebih susah diatur untuk mengatur napasnya, atau menuruti apa yang dikatakan oleh bidan ketika akan melahirkan, indikasinya karena memang belum siap mental.

Saya sendiri juga membayangkan sakitnya ketika melahirkan dulu. Sakit yang seperti itu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ibarat perut bagian bawah kita ditarik dan coba dilepas begitu saja. Dan bayangan saya untuk tidak akan teriak-teriak ternyata nol besar, hehehe.

Poin kedua yang menunjukkan siapnya menikah adalah kita perlu tidak percaya-percaya amat kepada institusi yang namanya pernikahan. Seringkali pernikahan digambarkan dengan sangat indah. Akibatnya, para calon pengantin berusaha membuat pembenaran atas kekurangan pasangan dan memutuskan untuk menikah.  

“Nggak papa lah, kita bisa bertahan kok, meski tanpa restu si Bapak,” atau, “Nggak papa lah, dia pernah selingkuh. Dia nggak akan mengulangi lagi kok,” dan pernyataan-pernyataan lainnya.   

Meski demikian, pembenaran-pembenaran atau memilih tutup mata terhadap kenyataan pasangan adalah hal yang sangat wajar terjadi di tengah kehidupan sosial yang penuh tekanan. Akibatnya, seseorang kadang lebih memutuskan menikah karena pengen cepet kawin demi menghindari bully-an lingkungan sekitar. Pertanyaan kapan nikah sampai kini masih populer dan dianggap penting. Ada lho, saudara jauh saya yang kalau ketemu selalu menanyakan kenapa salah satu teman saya tak kunjung menikah.

Rasa pesimis terhadap institusi pernikahan itu merupakan bekal yang penting. Sebab, bagi saya pernikahan adalah suatu perjalanan panjang, yang hey, sayangnya kita nggak bisa dengan mudah gonta-ganti teman seperjalanan kita.

Saya masih ingat ketika ditanya sama Bapak saya, tentang masa depan saya dan pacar saya. Karena sudah sekian tahun kami berpacaran, tapi tiada tanda akan menuju ke arah pernikahan.

“Jadi, kalian itu ada rencana menikah atau tetap berteman saja?” tanya Bapak saya, sambil memandang kami berdua.

“Berteman saja,” jawab saya semi berbisik.

Pacar saya dengan gugup waktu itu (sekarang sudah menjadi suami), menjawab, “Nggak kok Pak, kami ada rencana menikah.”

“Nah, kalau ada ya nggak papa. Tetapi kalau mau tetap berteman juga nggak papa,” begitu kata Bapak.

Akhirnya kami menikah. Pertimbangan saya adalah karena Bapak sudah mempercayai saya untuk menikah dan merestui kami menikah. Selain itu, seperti kata kakak saya, “Nggak pernah ada orang yang benar-benar siap untuk menikah.”

Saat awal menikah (sampai sekarang), saya adalah pegawai sosial yang yaaah gajinya segitu-segitu saja. Suami juga pekerja yang tidak tetap. Mampukah kami berdua menghadapi berbagai tekanan sosial dengan status pekerjaan dan penghasilan kami? Mampukah suami saya dan saya sendiri di dunia yang maskulin luar biasa ini akan bertahan? Di mana laki-laki dituntut harus, harus, dan harus mencukupi semuanya?

Rasanya sangat-sangat pesimis. Belum lagi kita melihat, ah, berapa ratus ribu perceraian setiap tahun yang terjadi? Itu pun masih banyak pasangan yang tetap bertahan dalam kekerasan di rumah tangganya. Bagaimana kalau nanti suami saya selingkuh? Mabukan? Atau bahkan klepto seperti pacar saya yang sebelumnya? Atau bagaimana kalau di depan kelihatan relijiyes tapi ternyata di ranjang hobi aktivitas seks yang menyakiti istri? Hiiiiy.

Di balik segala ketidakyakinan akan pernikahan, akhirnya toh saya menikah juga. Kalau ditanya apakah saya telah menikah ketika benar-benar sudah siap? Ah nggak juga. Sama sekali nggak siap. Apalagi kalau menghadapi kenyataan bahwa yaahh, kadang saya atau suami saya menangis ketika kerepotan dengan tingkah si kecil, atau menangis karena sama-sama sakit dan capek. Tetapi kalau membayangkan jika saya menikahnya dulu dalam usia belasan atau duapuluhan awal, wah mungkin saya tidak bisa selow atau tetap waras menghadapi itu semua.

Jadi, bagi Anda yang belum menikah, saya sarankan coba diperbanyak ikut grup curhat ibu-ibu (bisa cari di Facebook), ikut kelas-kelas parenting, atau ikut kursus calon pengantin. Tapi ingat, pilih yang bisa menggambarkan realitas tentang sebuah pernikahan. Semakin Anda ragu dengan pasangan, mungkin itu pertanda bagus. Artinya, kita dapat memberi ruang bagi diri kita dan memikirkan apakah kita memang benar-benar siap untuk menikah dan sudah berusaha mencari bekal untuk perjalanan panjang yang akan kita tempuh bersama calon pasangan.

Niken Anggrek Wulan

Latest posts by Niken Anggrek Wulan (see all)
Bagikan:

Niken Anggrek Wulan

Mempunyai filosofi urip kuwi sakmadya. Merasa hidupnya datar-datar aja. Kesenangannya bermain sama anak-anak, masak, ngobrol sama suami, nonton acara TV, dan melakukan hal-hal nggak penting lainnya.

5 thoughts on “Pesimis terhadap Pernikahan, adalah Saat yang Tepat untuk Menikah

  • Januari 8, 2019 pada 2:22 pm
    Permalink

    Haloo mba niken..saya minta pendapat nih menurut mba niken sendiri pencapaian apa yang harus dilakukan sebelum menikah atau saat masih lajang agar tidak terjadi penyesalan pasca nikah karena masa muda kurang puas

    Balas
  • Januari 9, 2019 pada 3:26 am
    Permalink

    Hai Sukma. Capaian yang penting sebelum menikah sih kalau aku nggak ada ya. Tetapi aku lebih berfokus tentang tujuan menikahku, yakni untuk mencapai tujuan hidup bersama pasangan. Supaya bisa mencapai tujuan dengan kompak, yang bisa kita usahakan adalah coba menemukan partner perjalanan yang punya visi dan misi yang hampir sama. Bisa dilihat dari kecocokan prinsip2 yang kita pegang. Misal, kalau kamu orang yang nggak suka merokok, ya jangan pilih pasangan yang suka merokok, atau berusaha mengubah dia nanti ketika menikah menjadi orang yang nggak merokok. Atau kalau aku, aku punya prinsip nggak akan nerobos lampu merah. Nah, aku akan cari pasangan yang punya prinsip yang sama dengan prinsipku itu. Nggak ada yang 100% cocok dengan semua prinsip kita, tetapi minimal hampir sama atau mendekati.

    Balas
  • Januari 15, 2019 pada 11:09 am
    Permalink

    Sama-sama Haryadi Yansyah 🙂

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *