Rejeki Sudah Ada yang Mengatur, Kita Bekerja Karena That’s What People Should Do in Their Life

Perlu waktu agak lama untuk aku mengamini hal tersebut, bahwa rejeki itu sudah ada yang mengatur. Dan kenapa kemudian kita harus bekerja, kalau kata temanku sih ya untuk mempersiapkan upacara penyambutan bagi rejeki itu, sementara kalau menurutku kita harus bekerja ya karena that’s what people should do in their life, orang hidup itu ya harus bekerja. Sementara rejeki adalah hal yang misterius that we will never know about.

Ada satu cerita menarik, di kampungku, ada seorang bapak yang pekerjaannya mengambili sampah dari rumah-rumah dan mendapatkan bayaran bulanan dari rumah-rumah yang menginginkan sampahnya diambil olehnya. Biasanya si bapak datang 2 hari sekali atau paling telat 3 hari sekali. Sebulan yang lalu, aku melakukan home major cleaning untuk mengubah penampakan rumahku yang tadinya seperti gudang menjadi menjadi seperti rumah, hihihi, dan dari major cleaning tersebut ada banyak benda-benda yang tidak terpakai yang sebenarnya masih bisa dimanfaatkan, dan ada juga setumpuk kardus tebal sisa pindahan yang bisa dijual ke tukang loak. Aku mengumpulkannya di halaman depan dengan niat untuk memberikannya ke si bapak. Tapi si bapak tidak datang-datang, aku tunggu 3, 4, 5 hingga 7 hari, si bapak tidak datang juga, tumben banget, entah kenapa. Akhirnya pada suatu Senin siang sekitar jam 12.30 ada suara ibu-ibu memanggilku dari luar, dia bertanya, bolehkah dia membeli tumpukan barang dan kardus di halamanku, ternyata si ibu adalah tukang rongsok keliling. Aku sebenarnya beberapa kali melihatnya lewat di komplekku, tapi sangat jarang, belum tentu dua bulan sekali dia mampir ke perumahanku untuk mencari barang rongsok. Tapi hari itu dia datang. “Oh boleh bu, ga usah dibeli, bawa aja bu,” jawabku, termasuk juga menambahi dengan beberapa alat elektronik yang sudah tidak aku pakai lagi. Pikirku, sudahlah buat si ibu saja, karena si bapak sudah aku tunggu seminggu tidak datang. Si ibu mengucapkan terima kasih dan segera mengepak seluruh barang-barang itu tak tersisa dan meninggalkan rumahku sekitar pukul 12.45. Dan, tebak, 15 menit kemudian, pada pukul 13.00, si bapak datang dong ke rumahku. Dia bertanya, lho mana sampahnya Mbak, melihat halaman rumahku yang bersih. “Oh, kemarin sudah saya buang sendiri Pak sekalian waktu keluar,” jawabku berbohong karena entah kenapa merasa tidak enak, padahal sampahku sekalian dibuangkan oleh si ibu tadi sebagai ucapan terima kasihnya padaku. Well, memang ya, rejeki tidak akan tertukar, pasti itu.

Aku semakin bisa memaknai bahwa rejeki dan bekerja adalah dua hal yang berbeda. Bekerja adalah hal yang harus kita lakukan dalam hidup ini, sementara rejeki adalah hal yang kita berharap, berdoa, dan memohon kepada Tuhan agar menganugerahkannya kepada kita.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *