Relasi Kuasa dan Konstruksi Gender Sebagai Akar Penyebab Terjadinya Kekerasan terhadap Perempuan

Kita masih akan membahas seputar permasalahan kekerasan terhadap perempuan. Kali ini kita akan membahas apa sih sebenarnya akar penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Dalam sesi-sesi pelatihan atau diskusi di komunitas, ketika aku bertanya kepada peserta, “kenapa sih terjadi kekerasan terhadap perempuan?” Rata-rata mereka akan menjawab, “karena kesalahpahaman”, “karena kurangnya pendidikan”, “karena kecemburuan”, “karena kemiskinan”, “karena perilaku yang temperamental”, dan hal-hal semacam itu.

Benarkah hal-hal tersebut merupakan penyebab terjadinya kekerasan. Mari kita cek bersama-sama. Kalau kekerasan itu karena kemiskinan, apakah semua orang yang miskin itu melakukan kekerasan dan semua orang yang kaya itu tidak melakukan kekerasan? Tidak ya! Apakah semua orang yang tidak berpendidikan itu melakukan kekerasan dan semua orang yang berpendidikan tinggi itu dijamin tidak melakukan kekerasan? Tidak juga kan! Karena ternyata kekerasan terhadap perempuan terjadi di hampir semua strata sosial ekonomi masyarakat, dari yang miskin sampai yang kaya, dari yang tidak sekolah sampai yang profesor doktor, dari rakyat biasa sampai artis atau pejabat.

Mari kita lanjutkan saudara-saudara, kekerasan terjadi karena kesalahpahaman, kecemburuan, perilaku temperamental? Kita lihat, apakah setiap peristiwa kesalahpahaman, cemburu, atau ketika sikap kita temperamental pasti kita akan melakukan kekerasan? Kalau salah pahamnya dengan mertua kita apa kita melakukan kekerasan pada mereka? Kalau kita cemburu pada tetangga kita yang kaya dan sukses, apa kita melakukan kekerasan padanya? Walaupun sikap kita temperamental, apa kita akan berani mencaci maki Pak RT atau Pak Lurah? Aku rasa tidak ya. Dan apakah semua kesalahpahaman dan kecemburuan itu harus diselesaikan dengan kekerasan? Yakin kalau tidak ada kesalahpahaman dan kecemburuan, tidak melakukan kekerasan? Plus banyak juga orang yang sifatnya halus, lembut, dan santun (tidak temperamental) tapi melakukan kekerasan juga ke istrinya.

Well, jadi hal-hal tersebut di atas tadi bukan merupakan akar penyebab terjadinya kekerasan ya. Tapi boleh lah hal-hal itu dianggap sebagai pemicu. Kalau dalam sesi pelatihan/diskusi di komunitas, kita sering menggunakan gambar pohon kekerasan terhadap perempuan, di mana akar dari pohon tersebut menyimbolkan penyebab, ranting dan batang menyimbolkan pemicu, daun menyimbolkan bentuk-bentuk kekerasan, dan buah menyimbolkan dampak-dampak kekerasan. Nah hal-hal yang kita bahas di atas, kita masukkan ke batang dan ranting ya sebagai pemicu terjadinya kekerasan.

Apa beda penyebab dengan pemicu? Begini, kalau penyebabnya ada, pemicunya bisa bergonta-ganti dan berubah-ubah. Tapi kalau penyebabnya tidak ada, mau datang pemicu-pemicu apapun tetap tidak akan kita selesaikan dengan cara-cara kekerasan. Misalnya aku bangun kesiangan, di jalan aku terkena lampu merah berkali-kali, plus jalanan padat dan sedang ada perbaikan jalan, sehingga aku terlambat datang ke sebuah acara. Maka penyebab aku terlambat adalah karena aku bangun kesiangan, sementara lampu merah, jalanan padat, dan perbaikan jalan adalah pemicunya. Kalau aku tidak bangun telat, mau kena lampu merah, jalanan padat, dan perbaikan jalan juga aku tidak akan terlambat. Dan kalau aku bangun kesiangan, walaupun tidak kena lampu merah, jalanan padat, dan perbaikan jalan, bisa jadi akan ada pemicu-pemicu yang lain yang membuat aku terlambat seperti kebanan atau sedang ada bubaran pabrik. Kira-kira seperti itu ya, semoga analogi ini pas, hehehe.

Jadi apa dong, akar penyebabnya? Yes, kan sudah ada spoiler-nya, wong sudah dijadikan judul, tidak seru amat sih ya, hahaha. Ya, akar penyebab terjadinya kekerasan adalah relasi kuasa yang timpang yang kawin dengan konstruksi gender yang menempatkan laki-laki di atas perempuan. Relasi kuasa yang timpang ini—seperti sudah aku jelaskan di tulisanku beberapa hari sebelumnya—yang menciptakan tangga-tangga relasi kuasa, bisa disebabkan oleh banyak hal, seperti status sosial, tingkat pendidikan, usia, status disabilitas, mayoritas-minoritas, status ekonomi, pangkat/jabatan, dan seterusnya. Nah dalam hal gender, kaitannya dengan relasi antara laki-laki dan perempuan, budaya patriarkhi yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu menempatkan laki-laki berada di atas perempuan, laki-laki nomor satu perempuan nomor dua, laki-laki superior perempuan subordinat, sehingga ketimpangan relasi kuasa karena gender ini bisa berdiri sendiri dan sekaligus bisa mewarnai ketimpangan-ketimpangan relasi kuasa yang lain. Misalnya di keluarga yang sama-sama doktor, suami bisa melakukan KDRT kepada istrinya, atau sama-sama disabilitas netra, perempuan netra bisa mendapatkan kekerasan seksual dari laki-laki netra, sama-sama berprofesi sebagai tukang tambal ban, tukang perempuan bisa mendapatkan kekerasan dari tukang yang laki-laki, dan seterusnya.

Sedangkan konstruksi gender, ya you know lah. Konstruksi gender mengonstruksikan bahwa perempuan harus melayani laki-laki, ketika perempuan sudah menikah dengan laki-laki maka perempuan tersebut menjadi “milik” laki-laki tersebut sepenuhnya, perempuan harus menurut pada suaminya, laki-laki boleh melakukan apa saja pada istrinya. Nah pandangan-pandangan gender tradisional semacam itu ditambah dengan ketimpangan relasi kuasa yang kusebutkan di atas adalah kombinasi yang sempurna penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan. Jadi ya alasannya (alias pemicunya) bisa apa saja, kadang malah tidak ada alasan sama sekali. Kalau cara memandang relasi antara laki-laki dan perempuan sudah diwarnai dengan ketimpangan relasi kuasa dan pandangan gender tradisional seperti yang kusebutkan barusan, ya sudah lah ya, relasi tersebut sangat berpotensi untuk diwarnai cara-cara penuh kekerasan dalam menyelesaikan setiap konflik atau permasalahan yang muncul.

Kepekaan membedakan mana pemicu dan mana akar penyebab ini sangat penting, karena kalau tidak maka energi kita akan kita habiskan untuk menyelesaikan pemicu-pemicunya saja tanpa menyentuh akar penyebabnya. Padahal kita tahu, kalau akar penyebabnya masih ada, pemicunya itu bisa berubah-ubah dan berganti-ganti. Sementara energi dan waktu kita sudah terlanjur kita habiskan untuk mengurusi dan mencoba menyelesaikan pemicunya, kekerasannya akan tetap terus terjadi, karena akar penyebabnya masih ada di situ. Jadi mari kita selesaikan akar penyebabnya, kita ubah cara berpikirnya, kita ubah pandangan dan perspektifnya. Kalau cara berelasinya sudah setara kuasanya dan cara memandang perempuan juga sudah setara dan penuh penghargaan/penghormatan, maka ada pemicu-pemicu apapun yang datang, akan diselesaikan dengan cara-cara yang non-kekerasan.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *