RESPON TUBUH DI ALAM BAWAH SADAR

Aku ingin bercerita soal fenomena menyangkut diriku yang kuamati beberapa tahun belakangan ini. Terkait dengan penyakit asam lambung yang aku miliki sejak hampir 10 tahun ke belakang. Nah kalau soal kenapa aku bisa punya penyakit asam lambung, walaupun aku tidak tahu pasti, tapi sepertinya sih karena aku menghabiskan masa mudaku dengan segala macam diet tidak sehat dan tidak tahu aturan, sehingga akibatnya baru kurasakan di usia 30an ke atas. So, I’ll say, girls, don’t do that ya, just don’t!

Tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan, melainkan tentang fenomena kenapa setiap kali aku mau melakukan perjalanan ke luar kota, asam lambungku hampir pasti selalu kambuh dengan dramatis. Stressful bener rasanya. Sampai-sampai, karena hal itu aku selalu benar-benar menjaga makanku dan fisikku (agar tidak terlalu capek dan juga tidur cukup) beberapa hari menjelang hari H keberangkatanku ke luar kota. Menjaga makan maksudnya dengan makan teratur, tidak terlalu banyak, tidak terlalu berbumbu, dan tidak terlalu beragam, dan tentu sana no kopi-kopi at all, sejak 3 hari sebelum berangkat, bahkan kadang teh dan coklat juga tidak, jadi ya benar-benar hanya air putih saja. Namun upaya-upaya pencegahan itu seringkali kok tidak ada hasilnya ya, asam lambungku tetap kambuh secara dramatis sesaat sebelum aku melakukan perjalanan ke luar kota.

Aku jadi bertanya-tanya terus, kenapa bisa begitu ya. Nah baru-baru ini kan aku melakukan perjalanan ke Bandung. Aku gunakan momen itu untuk berusaha lagi mengenali tubuhku terkait hal itu. Asumsi pertamaku adalah, apakah aku mengalami kecemasan atau rasa rakut dengan perjalanan luar kota sehingga asam lambungku naik? Tapi kenapa, toh aku sudah melakukan perjalanan ke luar kota berjuta-juta kali, dan sendirian pula.  Namun femonena itu baru terjadi sekitar 4 tahun terakhir ini, asam lambung naik setiap kali mau perjalanan ke luar kota.

Akhirnya kemarin itu menjelang dan ketika perjalananku ke Bandung aku mencoba mengamati dan menganalisis tubuhku. Pertama aku pikir-pikirkan dan bedah secara rasional, apakah ada yang aku cemaskan atau takutkan dari perjalanan ke Bandung? Tidak ada sama sekali, karena pertama ya aku sudah pernah tinggal di bandung selama 7 tahun, jadi aku kenal sekali kota situ dan bahkan sudah nyaman dengannya. Kedua, tiket kereta api eksekutif sudah aku beli untuk perjalanan pulang-pergi, jadi sudah pasti aku sudah memiliki alat transportasi yang jelas, dan akupun sudah tahu akan tinggal di hotel mana sesampainya di Bandung, dan bahkan hotelku itu hanya berjarak 2 km saja dari stasiun di mana aku tinggal naik gojek/gocar saja menggunakan aplikasi gojek yang juga sudah ada isian gopay-nya. Acaranya pun meskipun pekerjaan tetapi bersama dengan orang-orang yang sudah aku kenal dengan baik dan juga dengan ritme yang santai. Secara logis dan rasional, tidak ada sedikitpun alasan untuk aku merasa cemas atau takut kan?

Dibanding ketika dulu aku mesti Jayapura dengan keputusan mendadak, naik pesawat Lion Air dalam kondisi terbang dalam cuaca buruk selama lebih dari 6 jam, mesti transit dulu di Jakarta tengah-tengah malam pula, mana pas naik pesawat ada insiden rebutan nomor kursi pesawat pula, udah kayak di bis AKDP saja, hahaha. Mana sesampainya di Bandara Sentani tidak jelas harus ke mana, sama siapa, naik apa, semuanya serba belum jelas, tapi aku fine-fine saja.

Atau ketika dulu perjalanan dari Wamena mau ke Sentani yang walaupun sudah pegang tiket pesawat tetapi pas ke bandara ternyata pegang tiket itu tidak ngaruh kita bisa dapat tempat di pesawat, serius, wkwkwk, dulu tahun 2013, mungkin sekarang udah engga sih. Dan karena kita harus sampai ke Sentani hari itu juga karena akan lanjut pulang ke Jogja, jadi daripada tiket pesawat Sentani – Jogja-nya hangus karena kita tidak bisa sampai ke Sentani hari itu, ya sudah aku ikut berdesak-desakan dan berebutan (baca: sikut-sikutan) jatah kursi saja bersama para calon penumpang lain yang kebanyakan laki-laki dan berbadan besar-besar.

Hingga akhirnya ada pilot pesawat kecil (cuman 20 bangku), kalungan handuk (udah kayak supir angkut bener) yang melambai ke aku dan menawari aku naik pesawatnya (karena aku tidak bawa bagasi hanya bawa 1 tas ransel kecil). Sudah pesawatnya kecil banget, terbangnya benar-benar hanya di atas hutan dan sungai besar, ditambah lagi setiap menabrak awan getarannya terasa banget lagi, sampai membuat aku langsung pegangan bangku di depanku (padahal ngga bakal ngaruh pegangan juga, kalau jatuh mah ya jatuh aja kan) hahaha, but again I’m perfectly fine waktu itu.

Atau pas perjalanan ke Dompu, Nusa Tenggara Barat yang juga pakai pesawat kecil dan terasa sangat menukik karena aku duduknya di bangku depan. Atau dulu waktu perjalanan ke Jerman belasan jam, yang merupakan kali pertama aku ke luar negeri, mana aku bisanya turun tidak di kota yang aku tuju, tapi di kota sebelahnya (berjarak 2 jam perjalanan mobil) yang lebih besar dan ada bandara internasionalnya, again, I am just fine.

Kembali ke perjalanan ke Bandung bererapa hari silam. Walaupun sudah dengan segala upaya pencegahan (menjaga makan, menjaga fisik, menjaga jam tidur) dan juga upaya merasionalisasi bahwa tidak ada satupun alasan aku mesti merasa cemas atau takut dengan perjalanan itu, tetap saja beberapa jam sebelum keberangkatan asam lambungku kambuh dengan dramatis sehingga aku harus muntah-muntah berkali-kali dan mesti mengunyah serta menelan berbagai macam obat. Semua gejala asam lambung itu hilang seketika sesaat setelah aku duduk di bangku kereta jam 8 pagi tersebut, padahal aku tersiksa olehnya yang tidak kunjung mereda sejak jam 8 malam sebelumnya.

Tiba-tiba aku berpikir, tapi tentu saja ini hanya analisis personalku ya, tidak ada dasar ilmiah apa-apa. Jangan-jangan tubuhku secara tidak sadar alias di alam bawah sadarku memiliki trauma kecemasan akan perjalanan. Soalnya aku pernah ada beberapa kali pengalaman, asam lambungku kambuh dengan parah ketika dalam perjalanan, and it was really like in hell.

Salah satunya ketika aku hendak ke Bengkulu, kata panitianya tiket Garuda habis untuk berangkatnya (tinggal untuk pulangnya saja) sehingga berangkatnya aku mesti naik Lion yang mana transitnya di Batam coba, padahal kan mau ke Bengkulu. Jadi rutenya Jogja-Batam-Bengkulu, tidak seperti Garuda yang Jogja-Jakarta-Bengkulu. Sialnya lagi transit di Batamnya ini lama sekali, mungkin ada sampai 6 jam atau lebih ya. Nah ketika transit berjam-jam di Bandara Batam itu, asam lambungku kambuh dengan sangat parah. Alhasil aku tersiksa habis mengguling-ngguling selama berjam-jam di ruang tunggu penumpang out of nowhere di Batam dan juga bolak-balik ke kamar mandi untuk muntah-muntah, serta menahan perut yang sakitnya minta ampun. Mana tidak ada yang menolong pula.

Pernah juga waktu aku ke Surabaya, ketika hendak kembali ke Jogja menggunakan kereta api pukul 7 pagi, jam 5 paginya asam lambungku kambuh dan aku muntah-muntah kesakitan tidak selesai-selesai, walaupun entah bagaimana aku magically bisa tetap mandi, packing, dan ke stasiun serta masuk ke dalam kereta api.

Jangan-jangan tubuhku merekam peristiwa-peristiwa asam lambung naik selama perjalanan itu di alam bawah sadarku, walaupun di alam sadar sudah clear, sehingga setiap kali aku mau melakukan perjalanan ke luar kota, tubuhnya sudah cemas dan panik duluan (padahal pikiranku tidak) sehingga membuatku asam lambungku kambuh dengan dramatis. Tapi biasanya kalau sudah di perjalanannya malah tidak apa-apa sih, jadi kambuhnya hanya ketika menjelang perjalanan saja, ya mungkin karena efek dari trauma yang disimpan oleh memori tubuhku itu sehingga mengakibatkan kecemasan yang memicu asam lambung. Hahaha sok tahun banget ya aku.

Mungkin penjelasannya hampir mirip seperti orang yang phobia darah atau jarum suntik. Meskipun secara sadar dan rasional mereka tahu mereka tidak ada masalah atau tidak takut dengan darah atau jarum suntik. Kayak mereka tidak bisa menemukan alasan untuk takut atau cemas, tetapi tetap saja begitu melihat darah atau jarum suntik, mereka langsung cemas, khawatir, lemas, bahkan mau pingsan. Sama kali ya penjelasannya.

Nah aku tidak ada reaksi semacam itu terhadap darah atau jarum suntik atau hal-hal lainnya. Hanya saja perjalanan ke luar kota yang selalu memunculkan kecemasan yang memicu asam lambung. Padahal kan aslinya aku adalah orang yang sangat menyukai dan menikmati perjalanan luar kota. Semoga dengan aku semakin menyadari tubuhku, aku akan akan semakin bisa berkomunikasi dengan tubuhku sehingga kita bisa membuat semacam dealing atau kesepakatan bersama, kesepakatan yang tidak melibatkan asam lambung di dalamnya, hehehe. 

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | RESPON TUBUH DI ALAM BAWAH SADAR
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *