Review Film BIRDS OF PREY: Ketika Perempuan Bersatu, Tidak Seorang Pun Bisa Mengalahkannya (Spoiler Tipis-Tipis)

Semalam akhirnya aku nonton Harley Quinn Birds of Prey setelah beberapa kali tertunda karena susahnya menemukan jadwal nonton sambil double date yang waktunya pas untuk everybody who are included, hehehe. Harley Quinn adalah karakter idola teman nontonku (perempuan) malam itu. Aku sih sebelumnya ngga nonton Suicide Squad dan ngga pernah baca komiknya juga, tapi I know that a badass girl will gonna be my forever favourite character too, hehehe. Apalagi yang main si cantik Margot Robbie, that I know I love her, hehehe.

Sebelum nonton, bayanganku aku akan disuguhi film tentang a supervillain yang melakukannya kejahatan-kejahatan sadis ngawurnya. Dan setelah nonton? Well, not so much! Yang aku lihat adalah film tentang girls power dengan pesan-pesan feminis dan women movement yang cukup eksplisit, bahkan di beberapa adegan terlalu eksplisit dan full frontal, walaupun kalau buat aku sih ngga masalah. Kadang pesan-pesan itu memang harus disampaikan dengan full frontal attack kok, hehehe.

Keseluruhan film disajikan dengan narasi atau cerita dari sudut pandang si fantabulous-colorful-pretty-and-deadly Harley Quinn. Jadi di sepanjang film ini, Harley bercerita tentang dirinya, orang-orang di sekitarnya, dan kejadian-kejadian yang dia alami yang membentuk sebuah cerita petualangan yang seru, nekat, dan konyol, persis seperti karakter si Harley. Dimulai dari Harley menceritakan masa kecilnya yang beberapa kali dibuang oleh bapaknya, hingga dia bisa menyelesaikan pendidikan tinggi bahkan sampai meraih gelar PHD, kemudian dia bekerja sebagai psikiater di Rumah Sakit Jiwa Arkham di Gotham City, jatuh cinta dengan salah satu pasiennya yang paling spektakuler (you know who), membantu si pasien tersebut kabur, menjadikannya pacarnya, membantunya melakukan kejahatan-kejahatan spektakulernya (bahkan Harley mengaku dialah otak di balik kejahatan-kejahatan spektakuler tersebut), hingga diputusin oleh pacarnya itu, patah hati yang sedalam-dalamnya, dan mulai belajar living on her own, baik secara psikologis maupun secara keamanan, karena tidak lagi dalam perlindungan mantan pacarnya yang terkenal seantero Gotham City itu, Mr. Joker. Semua hal yang kusebutkan di atas tidak ada adegannya di film, melainkan diceritakan saja dalam bentuk gambar-gambar kartun sebagai pengantar alias latar belakang kisah yang akan diceritakan dalam film.

Aku juga suka banget bagaimana film ini menggabungkan gambar-gambar real dan fantasi-fantasi yang full colour, itu selera aku banget tuh, hehehe. Selain gambar-gambar kartun tadi, juga narasi-narasi tertulis in a bright colorful fonts untuk menunjukkan siapa saja korban-korban Harley Quinn dan kejahatan/kenakalan apa yang Harley sudah lakukan pada mereka. Juga senjata Harley yang berupa ledakan-ledakan bubble penuh warna-warna indah kayak perayaan. Selanjutnya pertempuran sengit yang dilakukan di amusement park, semacam kayak taman bermain berisi permainan-permainan dan ilusi-ilusi optik itu lho, Heyna sebagai binatang peliharaan yang disimpan di kamar kosan (instead of kucing atau anjing), juga kostum dan penampilan Harley yang tentu saja bright and colorful juga, didominasi warna pink dan biru muda, serta karakter Harley yang selalu penuh keceriaan, easy going, dan selalu tertawa. Matching semua kan ya, bisa dibayangkan kan?

Okay, ulasan selanjutnya mungkin akan berbau spoiler tipis-tipis yes. Jadi setelah mendengar teman-temannya yang ngomongin dia di belakang bahwa Harley tidak akan bisa hidup tanpa pacar, Harley kesal dan ingin membuktikan sebaliknya. Ia pun mulai membuat kerusuhan dan kriminalitas tanpa alasan alias just for fun, termasuk membuat keributan di klub Roman Sionis pemimpin geng yang kaya dan berpengaruh di kota itu. Di klub ini juga Harley bertemu dan langsung klik dengan seorang perempuan penyanyi bernama Dinah Lance alias Black Canary. Harley langsung bercerita tentang patah hatinya, well like all girls do when they get their heart broken, they want to tell other girls about the detail of their feelings. Lance juga sempat menolong Harley ketika dia mabuk berat dan hendak dibawa pergi oleh 2 orang laki-laki. Sionis terpukau dengan kehebatan Lance dan menjadikannya kaki tangannya.

Selain Harley dan Lance, masih ada 3 perempuan lagi yang merupakan tokoh utama dalam Birds of Prey, yaitu Renee Montoya seorang perempuan polisi agak senior yang tidak pernah mendapatkan penghargaan dari atasannya maupun rekan-rekannya di kepolisian, dan bahkan semua prestasinya selalu diklaim sebagai hasil kerja bos laki-lakinya (sounds familiar huh). Kemudian ada seorang pemanah misterius yang menamakan dirinya The Huntress yang secara misterius membunuh beberapa penjahat di kota itu, serta seorang remaja perempuan belasan tahun bernama Cassandra Cain, seorang remaja broken home karena orangtua angkatnya yang miskin selalu menyalahkan keberadaannya, dan kemudian dia menjadi copet yang berkeliaran di jalan dan sering keluar masuk penjara.

Karena adanya suatu peristiwa besar yang melibatkan Sionis dan geng-nya, peristiwa pembunuhan sadis keluarga Bertinelli (konglomerat di kota itu), serta sebuah berlian berukuran seibu jari, kelima perempuan itu dipertemukan dan disatukan dalam sebuah situasi yang mau tidak mau membuat mereka akhirnya menjadi satu tim yang saling mendukung dan saling bekerja sama untuk melawan Sionis dan geng laki-lakinya itu, serta menyelamatkan si remaja pencopet, dan tentu saja berliannya, karena berlian itu menyimpan rahasia yang sangat besar dan menggiurkan. Karena situasi itu pula, akhirnya mereka pun jadi saling tahu masa lalu masing-masing dan kaitannya dengan situasi yang tengah mereka hadapi.

Adegan-adegan selanjutnya menggambarkan soal Girls Power banget deh pokoknya, dengan pertempuran-pertempuran yang lucu dan seru khas Harley Quinn. Tergambar banget pokoknya ketika para perempuan itu bersatu dan saling mendukung dan menguatkan, maka mereka menjadi tidak terkalahkan dan mampu mengatasi segalanya. Jangankan cuman Sionis dan geng premannya itu, seluruh dunia pun akan mampu mereka atasi, hehehe. Cocok banget dengan lagu “This is A Man World” yang dinyanyikan dengan cukup lama oleh Lance dan menjadi backsound yang cukup mencolok di film itu. Juga metafora-metafora yang mendukungnya, misalnya ketika suara si Lance alias Black Canary (women voice) mampu mengalahkan puluhan laki-laki dalam sekali waktu, hehehe.

Di akhir cerita, mereka pun nongkrong di café bareng, saling bercerita, bergosip, dan mengobrol santai tentang hal-hal besar maupun hal-hal remeh temeh. Terdengar seperti apa yang selalu kita dan our girlfriends doing, right? Harley pun mengakui setelah semua peristiwa itu, dia jadi less evil than before, tapi tenang saja, still badass kok, hahaha.

Well, walaupun katanya review film ini jelek, di IMDB saja skornya cuman 6.6/10, kalau kataku sih bagus-bagus aja dan aku (dan juga teman perempuanku) sangat menikmatinya kok. Plus film yang mempromosikan Girls Power dan Women Support Women dalam segala versinya, tentu saja pasti akan kudukung. Soal keberpihakan? Woo lha jelas iya dong!

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *