Review Film Gundala: Marvel Wannabe Ngga Ya?

Bikin review film Gundala ah! Walaupun sebenarnya nontonnya sudah beberapa hari yang lalu, jadi mungkin sudah agak lupa. Apa daya karena masih jadi supir AKDP (antar-kota dalam propinsi), Bantul-Gunungkidul-Bantul-Kulon Progo, jadi baru sempat malam ini deh, itu juga gara-gara tidak bisa tidur akibat dari kopi lampung + susu, padahal minumnya cuman sepertiga gelas doang, ah kelamaan nih intronya, hahaha.

Jadi aku nonton Gundala di hari ke-8 sejak penayangan perdananya. Bukannya sok sibuk, tapi susah aja gitu dapat tiketnya walaupun udah punya M-Tix, menunjukkan betapa tingginya antusiasme para pecinta film di Indonesia terhadap film ini. Bahkan pada hari ke-8 itu pun, penontonnya masih penuh sampai ke deretan bangku yang paling depan. Walaupun aku tetap dapat bangku deretan C dong, kan belinya pakai M-Tix, hihihi promosi lagi.

Sejak awal sih aku sudah datang dengan prasangka bahwa film ini akan sangat Marvel-wannabe atau bahasa apresiatif-nya adalah “terinspirasi oleh Marvel” banget. Mungkin karena lihat dari promosi-promosinya dan branding-brandingnya juga, apalagi rencana besar pembuatan jagat sinematik Bumi Langit yang kayaknya bakal kayak Marvel Cinematic Universe banget. Tapi aku sih selo saja, memang apa salahnya terinspirasi. Bukannya tidak ada sesuatu yang benar-benar original di dunia ini. Segala yang kita pikirkan dan kita lakukan pasti berdasarkan pada banyak pengalaman hidup kita menyaksikan dan mempelajari sesuatu, dan di antara banyak sesuatu itu pasti ada yang dominan mempengaruhi kita.

Setelah menonton bagaimana? Marvel wannabe beneran ngga sih? Hmm, iya dan tidak sih! Beberapa hal memang Marvel banget, tapi lebih ke hal-hal yang teknis-teknis, maksudnya, kayak mulainya film yang pembukaannya cuman berkelebatan karakter-karakter BCU (yang Marvel banget deh) kemudian langsung mulai film tanpa ada judul atau tulisan lainnya, terus permainan font dalam judul-judulnya, terus adanya post credit title scene sebagai pengantar film selanjutnya, beberapa musik latar khas/spesifik untuk karakter tertentu, beberapa tokoh yang mirip perannya (seperti Ridwan Bahri dengan Nick Fury), lho banyak ya, hehehe.

Eits tunggu dulu, hal paling signifikan-nya malah ngga Marvel banget kok, yaitu atmosfernya secara keseluruhan. Film Gundala ini justru malah lebih mirip DC yang dark alias suram gitu, beda sama Marvel yang asyik dan bright (kebalikannya dark, hehehe). Walaupun ada sih menyelipkan beberapa humor yang oke lah, tapi rasanya tetap tidak seperti film Marvel, lebih mirip DC, karena kalau Marvel bahkan film R-Rated-nya kayak Deadpool pun lucu dan ngga dark, hehehe. Terus satu lagi yang beda, kalau Marvel (dan juga DC) itu child-friendly, kalau BCU ini menurutku ngga atau kurang child-friendly deh.

Selanjutnya film Gundala sebagai pioneer alias pembuka jalan untuk keseluruhan jagat sinematik Bumi Langit selanjutnya ini menurutku oke sih, tapi kayak terlalu banyak hal yang ingin disampaikan, mungkin karena dimaksudkan sebagai dasar atau pengantar untuk film-film selanjutnya kali ya. Tapi terlalu banyak berlompatan antara scene satu dengan scene lain, karakter satu dengan karakter lain, latar belakang satu dengan latar belakang lain, kisah satu dengan kisah lain, dan lompat-lompatnya pun kurang smooth juga, jadi pusing deh pala Barbie, apalagi kalau lihatnya sambil capek abis turun gunung dari Gunungkidul, mungkin harus dua kali dah ini nontonnya, hehehe.

Sudah gitu, setelah selama 1 jam 45 menit banyak sekali cerita dan perkenalan yang dijejalkan ke otak penonton (seolah tidak ada waktu lain saja untuk menyampaikannya), tiba-tiba di 15 menit terakhir, ceritanya jadi super terburu-buru, kayaknya karena dikejar durasi, percepatannya sangat kurang ajar sekali. Lho kok tiba-tiba si ini sudah bertarung dengan si itu, lho segampang itu menyelesaikan masalah yang super ruwet tadi, lho itu mati kok ga ada adegan sedih-sedih perpisahannya, lho ada si itu ngapain dia tadi, pakai baju apa (no spoiler ya, jangan ngarep, hehehe), pokoknya terburu-buru banget. Kayak abis dengerin musik langgam Jawa yang slow dan perlahan-lahan sambil ngantuk-ngantuk gitu tiba-tiba channelnya langsung berganti jadi musik rock and roll yang cepat dan nge-beat banget, kan kaget ya saya, hihihi.

Okay, sekarang mari kita ke hal-hal bagus tentang film ini. Hal paling-paling bagusnya tentu saja adalah…Abimana habis mandi pakai handuk doang… eh, *kabuuur, hihihi. Baik, hal bagus selanjutnya adalah… Abimana habis bangun tidur di sofa… eh *diulangin lagi, hihihi. Ngga niat amat sih bikin review-nya, hehehe. Eh justru ini niat banget tau, hehehe. Seriously, Abimana merupakan a good thing di film ini, walaupun berantemnya ngga luwes-luwes amat, tapi justru itu bikin tambah bagus. Kan Gundala baru menyadari kekuatannya dan masih bingung dan still figuring it out jadi ya wajar lah berantemnya masih kaku-kaku gitu. Dia juga terlihat kurus, dan itu cocok banget, kan dia working class yang masa kecilnya dihabiskan di jalan. Sudah gitu Abimana, eh Sancaka ini hidupnya kayak yang dramatis banget, penuh perjuangan, sendirian, kesepian, selalu ditinggalkan, jadi pengen nemenin rasanya, hehehe. Terus orangnya pendiam dan polos-polos gitu, serta selalu penuh kebimbangan, untung ganteng, hihihi.

Tokoh-tokoh lainnya juga keren-keren. Merpati alias Sedah Esti Wulan juga keren, aku suka. Memang dasarnya dari dulu aku suka sama Tara Basro, dan menurutku dia cocok banget deh jadi si Wulan ini. Ario Bayu juga oke, Lukman Sardi juga, Sancaka kecil juga, yang lain-lain pun oke-oke semua. Soal cast-nya aku tidak ada masalah sih sejauh ini, so far so good! Iyalah kan cast-nya semuanya aktor dan aktris ngetop Indonesia saat ini, jadi harus dong keren. Kalau yang jadi Pengkor, ya lumayan sih, mungkin level pshyco-nya bisa ditingkatkan lagi sedikit, supaya lebih menyebalkan dan semakin bikin frustasi.

Ada beberapa adegan yang sangat keren dan memorable di film ini (selain handuk dan sofa tadi, hehehe), yaitu adegan di sebuah jalan sepi di depan palang pintu kereta api. Ada 2 atau 3 kali scene yang dilakukan di situ dan menurutku itu sangat keren. Terus adegan martial arts yang sekaligus seperti gerakan penari yang dilakukan oleh salah satu tokoh antagonis-nya (kebetulan set-nya juga di depan palang pintu kereta api tadi) itu juga sangat keren. Adegan keren lainnya adalah adegan pesta nikahan preman pasar, adegan bapaknya Sancaka ditusuk, adegan Sancaka kecil dilatih Awang bela diri, adegan Sancaka kecil mengejar kereta, adegan Sancaka bikin kostum Gundala, adegan Sancaka kaget ketika petir keluar dari tangannya terus mau mengulanginya lagi ngga bisa. Tuh kan banyak adegan-adegan kerennya. Sementara itu, satu adegan yang sangat buruk dan menganggu banget adalah adegan Sancaka jatuh dari atap. Duh, ngga bisa diulang apa ya. Tapi cuman satu itu saja sih yang aku ingat sangat mengganggu.

Jadi kesimpulannya, film ini—dengan beberapa kekurangannya—bagus dan cukup bisa menjadi dasar/pengantar untuk film-film selanjutnya dalam jagat sinematik ini, dan aku senang Indonesia membuat jagat sinematik seperti ini. Jadi bagi yang berniat mengikuti kisah dalam jagat sinematik Bumi Langit (yang kabarnya akan berlangsung bertahun-tahun), sebaiknya memang menonton film Gundala ini, yes.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *