Review Film LITTLE WOMEN: Pemikiran-Pemikiran yang Melampaui Zamannya dari Para Perempuan March (Major Spoiler Alert)

Sejak melihat trailer-nya di bioskop beberapa saat lalu dan terutama sejak tahu bahwa film ini dapat banyak kategori Oscar termasuk film terbaik (dan memenangi salah satunya, best costume kalau tidak salah), aku langsung ingin menonton film ini. Apalagi pas kemarin ketika cek di Mtix, lho kok tinggal satu bioskop XXI saja yang menayangkan film ini, maka akupun langsung mengajak temanku untuk nonton sehabis magrib, walaupun hujan dan bioskopnya jauh. And it was the best decision apparently, I am so glad I watched this movie.

Film ini adalah adaptasi dari novel yang dibuat lebih dari 150 tahun yang lalu oleh seorang perempuan penulis bernama Louisa May Alcott yang dirilis pada tahun 1863 untuk volume pertamanya berjudul Little Women dan tahun 1869 untuk volume keduanya dengan judul Good Wives. Yes, jangan heran, judul untuk volume yang kedua ini bukan dari penulisnya tapi dari penerbitnya, hehehe, dan nanti aku akan memberi gambaran kenapa. Pada tahun 1880 kedua volume novel ini diterbitkan kembali dalam satu novel dengan judul Little Women.

Kali ini kita akan fokus ke membahas filmnya yang rilis pada tahun 2019 kemarin ya, karena novel ini pernah difilmkan sebelumnya, beberapa kali bahkan, yaitu pada tahun 2018, 1994, 1949, 1933, 1918, dan 1917. Jadi pengen nonton film adaptasi lainnya, terutama yang tahun 1994 untuk membandingkannya.

Well, film adaptasi tahun 2019 ini disutradarai oleh perempuan sutradara bernama Greta Gerwig, dan aku baru tahu kalau dia adalah pasangan dari Noah Baumbach yang menyutradarai Marriage Story yang rilis pada tahun yang sama dan aku tulis review-nya minggu lalu. Little Women menceritakan kehidupan perempuan-perempuan keluarga March, yaitu Margaret atau Meg March, Josephine atau Jo March, Elizabeth atau Beth March, dan Amy Curtis March yang tinggal bersama ibu mereka yang mereka panggil Marmee dan juga seorang ART bernama Hannah, dan juga bibi mereka Aunt March yang tinggal tidak jauh dari mereka. Ayah mereka tengah mengabdi untuk negaranya, Amerika Serikat, yang waktu itu tengah mengalami perang saudara (Civil War). Para perempuan March ini juga punya tetangga yang baik hati yaitu seorang kakek bernama Mr. Laurence dan cucunya bernama Laurie yang charming, serta seorang guru privat Laurie bernama John Brooke.

Menurutku para perempuan di film ini memiliki pemikiran-pemikiran yang melampaui zamannya, bahkan bisa dibilang ini adalah cikal bakal dari pemikiran feminisme. Mereka hidup di zaman di mana perempuan sungguh tidak punya kuasa sama sekali, mereka tidak boleh bekerja dan tidak memiliki hak suara dalam pemilu. Dan ketika mereka menikah maka kepemilikan mereka atas uang, properti, dan anak akan jatuh ke tangan suaminya. Gila ya, segala privilege yang bisa kita nikmati, para perempuan zaman sekarang, perjuangannya sudah dimulai setidaknya sejak 150 lebih yang lalu.

Nah pemikiran-pemikiran revolusioner muncul dari para perempuan March ini, beradu dan berdinamika dengan pemikiran yang kolot namun umum pada zaman itu. Misalnya Jo yang berpikir bahwa perempuan itu mempunyai pilihan untuk mengejar cita-cita/impiannya dan tidak menikah. Jo sangat ingin menjadi penulis, jadi ceritanya kisah dalam film ini ditulis oleh Jo yang konon kabarnya terinspirasi dari diri sang penulis novel ini sendiri. Tokoh-tokoh yang lain pun terinspirasi dari saudara-saudara perempuan sang penulis.

Demi mengejar mimpinya sebagai penulis, Jo pun hijrah ke New York dan tinggal di sebuah kos-kosan, di mana dia terus menawarkan cerpen-cerpen buatannya ke sebuah penerbit, walaupun tanpa mengakui itu adalah tulisannya, karena pada waktu itu Jo hanya ingin make money untuk menyokong keluarganya namun tanpa membuat keluarganya khawatir kalau tulisannya menyebar ke mana-mana.

Perdebatan seru sering terjadi antara Jo dan editornya. Editor laki-laki tersebut mengatakan bahwa jika Jo membuat cerita dengan tokoh seorang perempuan, maka di akhir cerita tokoh perempuan itu HARUS menikah, atau mati. Jadi pilihan untuk perempuan hanya 2: menikah atau mati. Masyarakat pada masa itu tidak bisa menerima pilihan hidup lain untuk perempuan selain menikah atau mati, hehehe. Sang editor juga menyarankan agar Jo menulis sebuah novel, tidak hanya cerpen-cerpen saja. Di New York Jo juga mengenal seorang laki-laki Jerman, seorang profesor bernama Friedrich Bhaer yang sangat mengagumi bakat dan energi menulis Jo. Namun ketika Fried mengkritik cerpen-cerpen Jo dengan mengatakan dia tidak menyukainya karena tidak ada value yang dimasukkan di dalam tulisan-tulisannya, Jo pun marah besar.

Pada zaman ketika pilihan perempuan yang direstui oleh masyarakat hanyalah menikah atau mati, gadis-gadis keluarga March memiliki seorang bibi yang sudah berusia lanjut yang tidak menikah, yang dipanggilnya Aunt March. Uniknya Aunt March ini selalu meng-encourage keempat gadis keponakannya ini agar menikahi orang kaya supaya bisa menyokong kehidupan keluarganya dan supaya hidup keluarganya tidak miskin terus. Aunt March sendiri adalah seorang yang kaya raya. Ketika Jo memprotes dengan mengatakan bahwa Aunt March sendiri tidak menikah, jawabannya adalah “ya itu karena aku sudah kaya”, hehehe. Mungkin dia malas juga ya kalau menikah nanti semua harta dan propertinya akan jatuh ke tangan suaminya.

Kita beralih ke kakak Jo, Meg March. Meg adalah seorang perempuan klasik, typical seorang kakak, yang membantu ibunya merawat adik-adiknya. Dia bahkan mengajar ketiga adiknya ini. Ketika pada akhirya dia jatuh cinta pada guru privat tetangganya, John Brooke yang miskin, Aunt March sangat kecewa. Jo pun sangat kecewa karena dia berpikir harusnya Meg mengejar impiannya menjadi seorang artis (pemain drama) dan tidak end up klise menjadi istri dan ibu. Tapi Meg mengatakan, bahwa dia mencintai John, dan dia tetap ingin mengejar impian dalam hidupnya, tetapi bersama John. Dia juga mengatakan begini, “just because I have different dream, that doesn’t mean it’s not important”. Akhirnya Jo pun mengerti dan mengatakan bahwa dia hanya takut kehilangan kakaknya. Meg pun meyakinkan bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan adik-adiknya. Meg pun akhirnya dikarunia sepasang anak kembar laki-laki dan perempuan dan hidup pas-pasan (a.k.a. miskin) karena suaminya hanyalah seorang guru. Tapi dia tidak menyesali pilihannya, karena lagi-lagi ini adalah soal perempuan bisa memilih jalan hidup yang diinginkannya, dan Meg memilih menikah dengan laki-laki yang dicintainya dan berjuang bersama dari bawah banget.

Selanjutnya Beth, anak ketiga dari 4 bersaudara ini. Beth sangat pemalu dan tidak banyak berbicara, tetapi dia sangat jago bermain piano, she’s very musical. Namun karena saking pemalunya, dia tidak mau pergi ke sekolah dan memilih di rumah saja membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Tetangga mereka Mr. Laurence meyakinkannya untuk memainkan piano tidak terpakai di rumahnya, Beth mau dengan syarat tidak ada yang bisa mendengarnya. Tetapi Mr. Laurence diam-diam mendengarkan karena Beth mengingatkannya pada anak perempuannya yang sudah meninggal. Akhirnya Mr. Laurence memberikan pianonya untuk Beth yang membuat gadis pemalu ini kegirangan setengah mati sampai menangis. Sayangnya Beth terkena penyakit scarlet fever, tertular dari tetangga mereka yang sangat miskin yang kehidupannya sering dibantu oleh pada perempuan March ini.

Setelah kecewa dengan Meg yang memilih menikahi orang miskin, Jo yang tidak mau menikah, dan Beth yang sedemikian pemalu dan juga sakit, harapan Aunt March tinggal Amy, anak bungsu keluarga March, agar bisa menikah dengan laki-laki kaya. Amy adalah seniman dalam keluarga March, dia jago melukis dan bercita-cita bisa menjadi seorang pelukis hebat di Perancis. Aunt March pun mengajaknya untuk tinggal di Eropa (tadinya dia mau mengajak Jo tapi karena dia kecewa pada Jo akhirnya dia mengajak Amy). Di Eropa Amy kembali bertemu dengan Laurie, cucu dari Mr. Laurence tetangganya, yang dia cintai setengah mati seumur hidupnya namun sekaligus setengah mati mencintai kakaknya Jo, seumur hidupnya. Laurie pernah melamar Jo tetapi ditolak mentah-mentah karena Jo berpikir mereka tidak akan bahagia jika menikah dan bahwa Jo tidak tahu apakah dia ingin menikah, dan dia hanya bisa mencintai Laurie sebagai kakak. Di Eropa, Amy yang karirnya sebagai pelukis tidak terlalu sukses tengah menjalin hubungan dengan seorang yang kaya raya bernama Fred Vaughan. Ketika hubungan mereka beranjak sangat serius, Laurie meminta Amy untuk tidak menikah dengan Fred. Amy marah besar kepada Laurie karena tidak mau hanya dijadikan sebagai cadangan karena Laurie tidak bisa mendapatkan Jo, tetapi akhirnya Amy menolak ketika Fred melamarnya.

Oh ya, ada satu lagi tokoh penting yang belum dibahas, Marmee, ibu dari keempat saudara perempuan ini. Marmee adalah perempuan yang sangat independen dan berhati mulia. Sementara suaminya pergi untuk berperang, Marmee-lah kepala keluarga yang membesarkan dan mendidik keempat anaknya, mengurus rumah, dan menyelesaikan semua urusan dan permasalahan seorang diri, hanya dibantu oleh Hannah ART-nya. Marmee pun masih sempat mempedulikan dan mengurus tetangganya, sebuah keluarga yang sangat miskin dengan selalu mengirimkan makanan dan bantuan-bantuan lainnya. Marmee ini juga sangat memahami anak-anaknya dan membebaskan pilihan anak-anaknya. Dia bahkan mendukung anak-anaknya untuk berani membuat keputusan dan berani melihat dunia yang lebih luas. Seperti ketika dia mendukung Meg untuk pergi ke kota agar bisa mengenal pergaulan lebih luas atau menyuruh Jo untuk kembali ke New York karena dia tahu desa mereka terlalu kecil untuk Jo. Dia adalah ibu yang sangat independent dan luar biasa, dan dia hidup (ditulis karakternya) di zaman segitu, wow banget ya.

Para perempuan March ini akhirnya berkumpul kembali ketika ada satu tragedi yang terjadi dalam keluarga mereka. Beth kembali sakit dan kali ini sudah sangat parah hingga tidak tertolong lagi. Hancur hati para perempuan ini kehilangan satu saudari mereka. Jo pun akhirnya memutuskan untuk menulis novel yang menceritakan kehidupan keluarganya (yang akhirnya menjadi novel Little Women ini) karena itu adalah permintaan terakhir Beth sebelum meninggal dunia. Amy akhirnya menikah dengan Laurie dan Jo ikut berbahagia untuk mereka berdua, walaupun sebelumnya dia sempat berpikir untuk mau menikahi Laurie, hanya karena dia sedang sedih kehilangan Beth dan karena Laurie mencintainya. Tapi Marmee mengingatkannya, apakah dia mencintai Laurie? Jo pun akhirnya sadar bahwa dia hanya sedang kesal, kesal dengan semua yang terjadi. Termasuk kesal karena masyarakat selalu mengatakan bahwa yang dibutuhkan oleh perempuan hanyalah cinta saja. Berikut the exact kata-kata Jo yang aku suka: “Women, they have minds, and they have souls, as well as just hearts. And they’ve got ambition and they’ve got talent, as well as just beauty. I’m so sick of people saying that love is just all a woman is fit for.”

So, bagaimana ending untuk Jo? Karena keseluruhan review ini sudah dipenuhi dengan major spoiler, jadi sekalian saja lah ya, hehehe. Ya Jo akhirnya menikah, dengan laki-laki pilihannya yang dicintainya, dan dia tetap bisa meraih cita-cita dan impiannya, bahkan melebihi yang diinginkannya. Bukunya yang berjudul Little Women akhirnya diterbitkan, dan dia bisa membangun sekolah untuk anak-anak perempuan dari harta warisan yang didapatkannya dari Aunt March (yes Aunt March meninggalkan seluruh hartanya untuk Jo). Pengelolaan sekolah itu dibantu oleh suaminya yang adalah Friedrich Bhaer si laki-laki Jerman, ipar-iparnya, dan seluruh saudara-saudaranya, juga ayah ibunya. Well, happy perfect ending for everybody!

Selain alur yang aku ceritakan dengan penuh spoiler di atas, film ini juga menyajikan gambar-gambar yang sangat indah, dan kostum-kostumnya keren pakai banget, pantas dapat penghargaan best costume. Dan pemain-pemainnya juga keren banget memerankan para March women ini. Saoirse Ronan (Jo) dapat nominasi Oscar untuk best actress, Florence Pugh (Amy) juga dapat nominasi Oscar untuk best supporting actress. Dan Laura Dern (Marmee), eh dia ngga dapat nominasi best supporting actress di film Little Women ding, dia memenangkan penghargaan best supporting actress untuk perannya sebagai Nora Fanshaw di film Marriage Story, hehehe.

Well, setelah review super panjang penuh spoiler ini, in short, tentu saja, this movie is strongly recommended to watch.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *