Review Rute Alternatif Jogja – Gunungkidul

Awalnya dulu aku mulai mengenal rute ini sekitar 10 tahun yang lalu ketika masih senang-senangnya main ke pantai-pantai berpasir putih di Gunungkidul. Waktu itu, aku sering membayangkan dan membatin, coba bisa ke Gunungkidul tanpa harus lewat Jalan Wonosari yang truk dan bis-nya nggilani dan non-stop itu, apalagi kalau weekend, duh macet-macet di belakang truk dan bis di jalan menanjak, ga banget kan ya, mana susah nyalipnya lagi karena jalannya berkelok-kelok. Tidak lama kemudian langsung berlaku teori, “hati-hati dengan impianmu karena ia akan menjadi kenyataan”. Ketika iseng-iseng sepulang dari Pantai Drini dan Pantai Sepanjang mengikuti jalur alternatif (waktu itu jalannya masih jelek dan di beberapa bagian tidak beraspal). Terus mengikuti jalan yang sepi melewati perkampungan dan hutan-hutan, lalu tiba-tiba, woaww sudah sampai Imogiri saja, it was just like a dream come true, hehehe.

Jalur ini memang melalui Imogiri. Bagi kamu yang tinggal di Jogja, tinggal ke arah selatan melewati sepanjang Jalan Imogiri Timur saja (kalau rumahmu di Bantul seperti aku bahkan akan jauh lebih dekat lagi). Mentok Jalan Imogiri Timur, kalau ke timur ke arah makam raja-raja, kita ambil yang ke barat, sekitar 100 meter langsung belok ke selatan lagi ke arah Selo Pamioro. Ikuti jalan dan setelah jembatan besar, saatnya kita akan naik gunung. Mohon maaf soal naik gunung ini tidak bisa dihindari, mau lewat jalan manapun, untuk menuju Gunungkidul kita pasti harus naik gunung, karena belum ada insinyur yang membuatkan terowongan-terowongan membelah gunung seperti di Saudi Arabia sana, hehehe. Tapi walaupun naik gunung, jangan khawatir, sekarang jalannya sudah bagus banget, beraspal bagus dan lebar. Namun senangnya, walaupun jalan ini bagus dan lebar, jalan ini masih sepi, sangat sedikit sekali truk dan bis yang lewat sana, mobil pun masih jarang. Ya di akhir pekan mungkin sudah mulai ramai sih, tapi tetap tidak apa-apanya jika dibandingkan dengan Jalan Wonosari.

Pemandangannya pun, oh my God, indah banget, kita akan melewati hutan-hutan jati yang walaupun kalau musim kemarau mengering dan meranggas tapi tetap indah kok. Ditambah bonusnya kita akan bisa melihat kota Jogja (atau Bantul) dari atas di sepanjang perjalanan kita. Dengan angin yang selalu berhempus sepoi-sepoi, perjalanan jam 12 siang pun tidak akan terasa terlalu terik. Bahkan karena sekarang rute ini sudah mulai populer (tapi tetap sepi ya, ingat) sudah banyak pula dibangun tempat-tempat singgah dan rest area. Ini belum lama sih sekitar satu tahunan terakhir ini. Warung-warung kopi tempat singgah ini tampak menarik dan enak tapi belum ada yang sempat aku coba, akibat selalu sudah kekenyangan dulu dari Gunungkidulnya, hehehe.

Tidak berapa lama dari kita menaiki gunung dan sampai di atas, kita sudah langsung memasuki kecamatan Gunungkidul pertama yang berbatasan dengan Bantul, yaitu Kecamatan Panggang, ada batasnya jelas di jalan yang kita lewati. Di ujung jalan kita akan bertemu pertigaan dan jika kita ke kanan kita akan menuju kecataman Gunungkidul lainnya yang juga berbatasan dengan Bantul (dengan Parangtritis lebih tepatnya) yaitu Kecamatan Purwosari. Nah kalau kita ke kiri, kita akan menuju arah Saptosari, Tanjungsari, hingga Girisubo. Terdengar seperti daerah-daerah yang dipenuhi dengan pantai-pantai indah berpasir putih ya. Yes, kamu benar sekali, ini adalah kecamatan-kecamatan di sepanjang pesisir pantai selatan dengan pantai-pantai yang memiliki keindahan paripurna, sebut saja Pantai Ngrenehan, Pantai Krakal, Pantai Indrayanti, Pantai Wediombo, dan masih banyak lagi. Dan jalannya sekarang, wuih sudah bagus banget, lurus, lebar, beraspal halus, dengan kanan-kirinya bukit-bukit kapur. Dijamin kamu ingin berhenti sebentar untuk selfie-selfie. Aku selalu berpikir, jalan ini ideal banget ya buat latihan motor bagi yang belum bisa naik motor, hehehe.

Bagaimana kalau ingin ke Wonosari, Playen, atau wilayah-wilayah tengah, timur, dan utara Gunungkidul seperti Semin, Semanu, Gedangsari, Nglipar, dan lain-lain. Ya bisa, tinggal belok saja, ada jalannya kok, dan jalannya pun lebar dan beraspal bagus. Jadi lebih jauh dong? Ya memang, tapi kan lebih bahagia karena jalannya sepi dan bagus, hihihi. Yes, rute alternatif ini memang cocok untuk kita yang ingin ke daerah-daerah pantai seperti yang kusebutkan di atas, tapi kalau untuk ke pusat kotanya Gunungkidul (Wonosari) memang agak jauh, tapi bedanya tidak seberapa kok menurutku. Kecuali kalau kita tujuannya mau ke Gedangsari atau Patuk, memang sih agak kurang kerjaan kalau masih maksain mengambil rute ini, hehehe. Namun ketika pekerjaanku mengharuskan sering mendampingi komunitas di Saptosari, wuih rute alternatif ini memang the dream come true banget.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *