Saya Berani Keluar Dari Zona Nyaman Saya

Sudah setahun ini saya pulang kembali ke kota tempat saya dibesarkan (bukan kota kelahiran ya). Awalnya terlihat akan baik-baik saja, tapi ternyata tidak semudah yang pertama kali dibayangkan.

Waktu itu, di penghujung 2017, tiba-tiba perusahaan tempat saya bernaung harus berhenti beroperasi karena owner perusahaan terjerat masalah. Saya jadi jobless. Banyak yang menawari saya untuk bekerja di perusahaan mereka sih sebenarnya, namun saya mengajukan opsi untuk bisa dikerjakan remote, alias jarak jauh, karena saya tiba-tiba punya inspirasi untuk kembali ke kampung halaman di Malang. Perusahaan-perusahaan tersebut sayangnya belum bisa menerapkan sistem remote working, mereka meminta saya untuk stay di Jakarta. Tapi, dorongan untuk pulang ke Malang sangat kuat. Ya sudahlah, saya lepaskan saja pekerjaan yang tidak bisa dikerjakan dari jarak jauh itu.

Dorongan pulang waktu itu dikuatkan oleh berbagai pertanda. Entah kenapa semuanya terjadi di saat yang bersamaan. Perusahaan yang gulung tikar, kontrakan rumah yang pas habis di bulan Februari 2018, kemudian kondisi orangtua yang sudah tua dan sering sakit, terutama mama saya yang waktu itu tinggal sendiri saja di rumah. Saya kuatkan niat untuk pulang. Toh saya sudah terlalu lama merantau, sudah 18 tahun, sudah saatnya pulang dan membangun kota asal (yes, pemikiran yang idealis yak). Saya memang sedang jenuh kerja kantoran, karena membuat saya kehilangan banyak fase perkembangan anak saya, #babyD. Pengennya sih tetap kerja, tapi dari rumah sehingga bisa memantau perkembangan anak saya.

Saya dan suami akhirnya bersepakat pindah ke Malang pada bulan Februari 2018. Tepat sebelum saya pindah, saya mendapat dua janji pekerjaan yang bisa dikerjakan dari rumah, sebagai editor dan kontributor lepas. Saya pun tambah semangat untuk lekas pindah. Toh sudah ada pekerjaan yang bisa dilakukan walaupun penghasilannya tidak sebesar sewaktu di Jakarta.

Namun kenyataannya tak semudah itu. Pekerjaan yang awalnya dijanjikan buat saya, nyatanya tidak jadi diberikan kepada saya. Terus terang, saya stres, karena saya sudah berharap banyak. Hal ini dikarenakan tabungan kami sudah semakin menipis dan biaya hidup sebenarnya tidak jauh berbeda dengan di Jakarta. Harga popok, susu, beras, listrik, internet, dan tagihan air tetap sama. Sedikit berbeda di harga lauk pauk, yang tadinya di Jakarta per porsi seharga Rp 12.000, di Malang harganya rata-rata Rp 8.000. Akhirnya saya pun mencairkan dana pendidikan yang dipersiapkan untuk anak saya. Saya juga mencairkan dana simpanan BPJS Ketenagakerjaan dan dana Prulink untuk membiayai hidup kami sementara. Posisi suami saya juga pekerja freelance, jadi penghasilannya pun tidak tetap, sedangkan tagihan terus berjalan.

Kami bahkan juga meminjam uang ke bank untuk bisa melanjutkan hidup. Awalnya untuk modal usaha, nyatanya untuk mencari customer di Malang pun susah. Saya tidak punya jaringan yang kuat di kota ini. Saya kuliah dan bekerja di Bandung dan Jakarta. Oleh karena itu jaringan saya lebih banyak di sana. Bisa dibilang keluarga kami habis-habisan dari sisi keuangan.

Saya juga melamar sana-sini, namun mendapatkan pekerjaan yang pas di Malang ternyata tidak semudah yang saya bayangkan. Pun penghargaan orang terhadap pekerjaan dengan spesifikasi saya ternyata sangat rendah. Saya sempat mengalami penghinaan yang memukul harga diri saya. Gini amat yak orang yang punya usaha, kok rendah sekali memandang kemampuan orang lain. Ceritanya ada seorang pengusaha yang menilai kerja sama yang saya ajukan terlalu tinggi dan melontarkan omongan nyelekit, “dengan latar belakang pendidikan kamu, memangnya kamu bisa apa?” sambil membanting file dari saya.

Saya terus berpikir, apakah keputusan pindah ini memang yang terbaik. Saya benar-benar down. Saya bahkan memikirkan untuk kembali bekerja di Jakarta meskipun saya tidak menginginkannya, karena ada anak yang jadi tanggung jawab saya. Saya ingin memberikan penghidupan yang layak buat anak saya. Semua pemikiran itu sampai membuat saya berpikir saya terkena sindrom Marie Antoinette, karena kepala saya mulai banyak ditumbuhi uban.

Di antara semua keputusasaan tersebut, saya mulai aktif mengiklankan diri sendiri sebagai penulis dan penerjemah freelance melalui media sosial. Alhamdulillah, sedikit-sedikit mulai ada pemasukan. Ada beberapa teman di Jakarta yang mempercayakan beberapa tulisan dan terjemahan mereka kepada saya. Saya pun bergabung dengan agensi penulisan untuk memperluas peluang mendapatkan job, serta berinteraksi dengan penulis freelance lainnya. Sebenarnya penghasilan dari bekerja freelance cukup-cukup saja kalau kita masih single, namun berhubung sudah berkeluarga, kok rasanya uang itu mengalir dengan sangat cepat.

Setahun pertama sejak pindah ke Malang membuat saya belajar banyak. Pelajaran paling utamanya adalah sabar. Saya belajar untuk lebih sabar dalam menghadapi anak saya, karena terus terang interaksinya selama saya bekerja kantoran dulu hanya penuh dilakukan saat Sabtu dan Minggu. Saya belajar untuk sabar saat berinteraksi dengan orangtua, maklum saya jarang bertemu mereka. Sekarang paling tidak seminggu sekali saya selalu bertemu dengan mama saya. Saya belajar sabar membangun jaringan lagi. Saya datangi pertemuan komunitas blogger, saya ikut pelatihan bisnis gratis dari Google, saya mengikuti berbagai seminar, saya menjalin silaturahmi dengan kawan-kawan lama. Saya memulai semuanya dari nol lagi.

Terus terang kepercayaan diri saya sempat jatuh ke jurang yang sangat dalam. Sempat teriak-teriak sama Tuhan, what did I do wrong? Saya sudah ngelamar pekerjaan, saya sudah aktif mengiklankan diri ke mana-mana, saya sudah membangun jaringan lagi, saya sudah memberanikan diri membuka biro konsultan komunikasi sendiri. Kenapa oh kenapa rejeki masih seret padahal banyak tagihan yang harus dilunasi. Saya menangis! Tapi di sela-sela tangis itu, saya juga sadar mungkin harus begini jalan yang harus saya lalui. Dulu di masa lalu lebih berat jalannya, namun saya bisa bertahan. Kalau dulu bisa, sekarang pun saya pasti bisa. Saya percaya bahwa, “what doesn’t kill you, makes you stronger”. Mungkin ini cara Tuhan membuat saya untuk lebih kuat.

Setelah setahun kepindahan kami sekeluarga, kondisi perekonomian belum bisa dianggap stabil. Kami masih harus struggle dan berusaha lebih kuat untuk menghidupi anak kami dan melunasi hutang. Alhamdulillah setidaknya di tahun pertama ini, jaringan saya di Kota Malang sudah mulai terbentuk. Saya sudah terkoneksi dengan komunitas bisnis di Malang. Ada teman yang mengajak saya untuk berkolaborasi produksi konveksi. Saya juga terpilih untuk menjadi salah satu fasilitator pelatihan bisnis Google di Malang meski tanpa bayaran (setidaknya bisa menambah jam terbang dan portfolio). Kepercayaan diri saya pun mulai tumbuh dan saya mulai membenahi bisnis konsultasi online saya. Saya membenahi website serta akun media sosial biro konsultasi saya, kemudian saya membuat company profile dan mulai menyebarkannya ke berbagai perusahaan di Malang. Saya bahkan mulai berjualan online di marketplace dan media sosial. Memang benar adanya, saat kita kepepet justru di situlah mental kita diuji, dan di titik kritis itulah biasanya kreativitas kita melonjak dengan hebat.

Keluar dari zona nyaman dan memulai suatu hal yang baru bukanlah hal yang mudah. Jadi pesan saya buat perempuan di mana saja, saat kita memutuskan ingin keluar dari zona nyaman, pastikan kita mempunyai support system yang bisa menguatkan diri, bahkan pada saat-saat terburuk dalam hidup kita. Support system yang saya maksud di sini adalah teman-teman, keluarga, dan komunitas. Saya mungkin tidak akan sekuat sekarang tanpa adanya keluarga yang mendukung saya, ataupun teman-teman yang senantiasa terbuka menerima segala keluh kesah saya (karena kadang-kadang keluarga tidak mengerti pergolakan hati saya). Saya sungguh sangat beruntung memiliki teman-teman yang pengertian.

Harapan saya, di tahun 2019 ini, banyak peluang yang terbuka lebar bagi saya dan keluarga, amin. Pelajaran yang saya terima di tahun pertama kemarin adalah jangan lelah berusaha dan bersabar. Selalu ada harapan, bahkan saat dunia terasa gelap gulita. Kadangkala yang harus diubah adalah mindset alias cara pandang kita dalam melihat suatu permasalahan. Sebab seperti janji Tuhan, sesungguhnya setelah kesulitan itu akan ada kemudahan. Sesungguhnya beserta kesulitan itu ada kemudahan. Buka mata dengan lebar untuk bisa melihat peluang itu di mana saja.

Malang, Februari 2019

Devi R. Ayu

Devi R. Ayu

Ibu beranak satu yang memutuskan tinggal di Kota Lawang, Malang. Kegiatan sehari-harinya selain mengurusi anak dan keluarga adalah menulis, menerjemahkan, promosi bisnis konsultasinya – Cindaga Comms, upload produk di online shop dan media sosial, serta menjadi fasilitator “Women Will” – pelatihan digital skill bagi perempuan dari Google Gapura Digital Malang. Devi memiliki banyak mimpi, di antaranya bisa sekolah lagi melalui program beasiswa, punya bisnis yang maju di kotanya sendiri, dan bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Antusias diajak ngobrol soal apapun, terutama terkait program pemberdayaan perempuan. Kegiatan waktu luang yang paling disukainya adalah nonton film, minum kopi, dan pijat tradisional.

Latest posts by Devi R. Ayu (see all)

Bagikan:

Devi R. Ayu

Ibu beranak satu yang memutuskan tinggal di Kota Lawang, Malang. Kegiatan sehari-harinya selain mengurusi anak dan keluarga adalah menulis, menerjemahkan, promosi bisnis konsultasinya – Cindaga Comms, upload produk di online shop dan media sosial, serta menjadi fasilitator “Women Will” – pelatihan digital skill bagi perempuan dari Google Gapura Digital Malang. Devi memiliki banyak mimpi, di antaranya bisa sekolah lagi melalui program beasiswa, punya bisnis yang maju di kotanya sendiri, dan bisa menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi. Antusias diajak ngobrol soal apapun, terutama terkait program pemberdayaan perempuan. Kegiatan waktu luang yang paling disukainya adalah nonton film, minum kopi, dan pijat tradisional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *