Saya Cemburu Dengan Bagaimana Para Anggota Queen Bisa Mengelola Persahabatan Se-Long-Lasting Itu

Kemarin saya melihat di berita kalau film Bohemian Rhapsody memenangkan 2 piala Golden Globe, satu untuk film drama terbaik dan satu lagi untuk Rami Malek sebagai aktor terbaik. Yay! Rog serta Bri pun untuk pertama kalinya menghadiri acara-acara penghargaan film, langsung yang paling bergengsi pula, biasanya kali penghargaan musik yang mereka datangi, hehehe. Di usianya yang ke-72 (Bri) dan 70 (Rog) mereka tetap tampil menawan and kick that red carpet ass, hehehe, bersama Jim (Miami) Beach mantan manajer mereka. Sambutan Rami Malek saat menerima penghargaan aktor terbaik pun sangat banget. Setelah mengucapkan terima kasih untuk Bri dan Rog, Rami juga mengucapkan terima kasih kepada Fred yang telah give him such a lifetime joy. Rami bilang, I love you beautiful man and it’s all for and because of you, gorgeous, dan tak lupa menambahkan “mmuaachhh” di akhir kalimatnya, what a sweet speech. I am sure Fred is smiling somewhere over there, hehehe.

Nah yang ingin aku ceritakan kali ini adalah persahabatan di antara keempat personil Queen yang bisa bertahan selama itu, se-long-lasting itu. Tidak mudah lho mengelola persahabatan bisa sampai selama itu, karena people change, things change, situations change, dan mereka tetap bisa bersahabat gitu from the very beginning until the very end. Walaupun mungkin di perjalanannya ada sedikit friksi-friksi di sana-sini, itu sangat wajar dan manusiawi ya. Sayang persahabatan mereka yang indah ini tidak tergambar dalam film Bohemian Rhapsody, ya mungkin karena fokusnya tidak ke situ.

Bri, Rog, Fred, and Deaky.

Di antara mereka berempat, mungkin Rog yang paling dekat dan paling lama berteman dengan Fred. Mereka sudah berteman dekat jauh sebelum Queen terbentuk (yes, tidak seperti yang ada di film, namanya juga film, kan harus dramatis). Pada waktu itu Fred, mahasiswa yang sangat pemalu (mungkin karena imigran dan karena masih tinggal bersama orangtuanya) itu sudah selalu kruntelan dengan Rog ke mana-mana. Mereka bahkan memiliki bisnis kecil bersama, yaitu jualan baju bekas di Kensington Market. Mereka punya booth jualan bersama gitu. Rog sering membagi foto-foto mereka pas lagi jualan itu di Instagram pribadinya. Beberapa di foto itu memang terlihat mereka yang masih sangat unyu itu kruntelan dalam arti sebenarnya, hehehe. Bahkan Mary awalnya mengingat Fred sebagai orang yang selalu kruntelan bersama Rog. Pada waktu itu, Fred yang pemalu sudah suka kepada Mary, tetapi dia tidak berani mengajak Mary berkencan. Akhirnya Bri yang duluan dekat dengan Mary dan mereka sempat jalan bareng. 6 bulan kemudian, setelah Fred berhasil mengumpulkan rasa percaya dirinya, dia bertanya kepada Bri, apakah mereka serius, karena dia ingin mengajak Mary berkencan karena dia sangat menyukai Mary, dan Bri pun mempersilakannya. Gila ya, what a bromance, kalau zaman sekarang, temanmu minta izin bilang kalau dia suka sama pacarmu, wah bisa gencar dunia persilatan, ya ga sih, hehehe.

Fred pun akhirnya keluar dari rumahnya dan ngontrak apartemen bersama Rog. Ada di salah satu foto di Instagram Roger Taylor Official, mereka sedang mencari sharing-kontrakan di koran. Fred pun tinggal bareng Rog dan juga Bri serta Tim (vokalis band Smile) kalau tidak salah, sampai akhirnya Fred pacaran dengan Mary dan tinggal bersama Mary.  Setelah Queen terbentuk pada tahun 1970 dan John Deacon bergabung melalui sebuah audisi pemain bass di tahun 1971, persahabatan mereka pun malah menjadi semakin kental saja, dengan Deaky langsung masuk ke dalam lingkaran kruntelan mereka, hehehe. Saya suka sekali melihat mereka yang selalu tuker-tukeran baju, kayaknya baju-baju mereka itu ya milik bersama saja gitu. Sering banget melihat satu baju yang sama dipakai Fred, eh besoknya dipakai Rog, eh besoknya dipakai Bri, dan besoknya lagi dipakai Deaky, bahkan sampai ke kaos-kaosnya segala, hahaha, how sweet. Ada juga satu sesi foto yang dalam satu sesi pemotretan itu mereka tuker-tukeran baju. Jadi ada beberapa versi foto dengan background yang sama dengan baju mereka yang ditukar-tukar aja gitu, bisa begitu ya, hahaha, how sweet.

Rog, Fred, and Deaky, mereka (plus Bri) selalu kruntelan.

Karena aku suka stalking foto-foto mereka di Instagram, tak jarang juga aku menemukan foto-foto yang menunjukkan keakraban mereka yang alami, tidak dibuat-buat. Misalnya mereka berempat lagi uleng-ulengan, lagi rangkulan, Rog duduk di atas Fred, Fred merangkul Rog dan Deaky, Deaky memeluk tangan Fred, Bri dan Rog duduk dalam satu kursi, dan seterusnya. Aku jadi ngiri deh dengan persahabatan mereka, huhuhu. Bagaimana caranya mengelola persabatan hingga bisa seperti itu, walaupun masing-masing sudah punya keluarga sendiri-sendiri. Deaky yang paling muda di sini juga sangat dekat Fred yang paling tua (ga banyak sih jaraknya hanya 5 tahun, hehehe). Kabarnya Deaky yang aslinya tidak percaya diri dan pemalu, setiap dekat dengan Fred, dia bisa jadi percaya diri dan bisa at the top of his performance. Mungkin karena Fred encouraging him all the time. That’s what friends do, right? Mereka pernah memecat manajer mereka di awal-awal karir mereka karena si manajer tidak mau meminjami uang untuk Deaky yang habis menikah membeli rumah.

Saking akrabnya, keempat cowok itu juga kerjaannya berantem mulu persis seperti anak kecil. Bahkan Rog ngambek dan masuk ke dalam lemari karena ketiga sahabatnya tidak mau memasukkan lagunya, “I’m in Love with My Car”, ke dalam album mereka. Dia baru bersedia keluar dari lemari setelah ketiganya setuju memasukkannya ke album. Kalau tidak seakrab itu, mana mungkin bisa ada adegan konyol semacam itu, hahaha. Dalam satu wawancara, Fred pernah mengatakan kalau mereka memang seperti anak kecil, tidak akan sampai 5 menit bersama pasti sudah langsung saling berantem, hahaha. Bahkan ada beberapa rekaman yang memperdengarkan suara mereka sedang berantem saling berargumentasi, hahaha, lucu banget tauuu. Hanya pertemanan yang sudah tinggi level keakrabannya yang bisa berantem seperti itu dan kemudian kembali kruntelan lagi. Si pewawancara yang bodoh itu malah bertanya kepada Fred, pernah memukul Bri ngga? Belum sih, jawab Fred, but I still have plenty of time right, katanya sambil tertawa ngakak. Padahal kenyataannya, pernah pada suatu sore Bri datang ke studio rekaman mereka. Di sana ada Fred yang sedang habis mengerjakan sesuatu, dan wajahnya tampak sangat sumringah. Melihat Fred tampak sangat bahagia, Bri bertanya, ada apa sih? Lalu Fred memberikan sebuah rekaman kaset kepada Bri, katanya, aku telah mengumpulkan semua rekaman permainan gitar solomu dan mengumpulkannya menjadi satu, supaya semua karya jeniusmu ini bisa abadi. Ternyata hal itu yang dilakukan Fred sepanjang hari itu. Bri sangat terharu dan senang serta merasa sangat-sangat dihargai. Cerita ini bisa didapatkan di Instagram Official-nya Brian May.

Pemotretan untuk cover album Sheer Heart Attack

Ada satu hal lagi yang tidak sesuai dengan kenyataan di film Bohemian Rhapsody. Di film digambarkan Fred yang meminta Rog menemaninya makan malam di rumahnya di Garden Lodge di Kensington dan Rog menolak karena sudah ada anak dan istri. Aslinya, Rog tidak pernah menolak menemani Fred, he’s always be there for him. Dia selalu ada di Garden Lodge, nongkrong, minum bareng Fred sambil main scrabble (menurut Rog, Fred suka mengarang sebuah kata), kruntelan sambil tertawa cekikikan entah nggosipin apa. Begitu juga dengan Bri dan Deaky, mereka selalu ada di sana. Bahkan kata Jim, partner terakhir Fred, mereka itu kayak se-geng anak kecil yang selalu main bareng dan kruntelan serta bercanda ga jelas gitu, hahaha.

Mereka juga tidak peduli dengan pilihan hidup Fred termasuk orientasi seksualnya, they still love him no matter what. Bahkan yang bikin aku salut lagi, ketika akhirnya mereka tahu bahwa Fred mengidap HIV/AIDS pun mereka tetap tidak berubah. Tetap ada untuk Fred dan tetap kruntelan seperti biasa, like nothing happened. Padahal zaman-zaman segitu kan pengetahuan soal penyakit ini belum terlalu banyak dan masih banyak orang yang mengira bisa tertular hanya dengan bersentuhan atau makan bersama (tidak seperti sekarang yang orang sudah tahu betul bagaimana penularan virus mematikan ini). Tapi Rog, Bri, dan Deaky tidak peduli, sikap mereka tetap sama kepada Fred, malah jadi over protective mengingat kondisi Fred yang sangat serius itu. Fred pun tidak ingin teman-temannya itu menjadi sedih, dia tidak pernah menampakkan kondisinya yang semakin parah itu. Dia tetap semangat bekerja, berkarya, dan tetap ceria, padahal dia sudah hampir buta, tubuhnya dipenuhi sarkoma, dan hampir tidak bisa berdiri.

Penampilan Queen di video klip I’m Going Slightly Mad, Fred menggunakan make up untuk menutupi sakitnya.

Mengingat waktunya tidak akan lama lagi, Fred pun ingin meninggalkan karya sebanyak-banyaknya untuk para penggemarnya dan terutama untuk ketiga soulmates-nya itu. Dia mengatakan pada Bri, Rog, dan Deaky, buatkan aku lagu apapun, sebanyak-banyaknya, akan aku nyanyikan dan rekamlah, menyelesaikannya bisa nanti-nanti, aku akan meninggalkan sebanyak mungkin karya untuk kalian semampu yang aku bisa. Akhirnya di masa-masa menjelang akhir hidupnya, Fred menghabiskannya bersama ketiga sahabat sejatinya itu di studio rekaman, menciptakan lagu dan merekam suara vokal Fred. Menurut Jim Beach, manajer mereka, kondisi Fred waktu itu sudah sangat kepayahan, tapi dia tetap melakukannya dengan vodka sebagai dopping agar dia bisa bertahan. Mereka bahkan menciptakan dan merekam lagu tentang “Delilah” kucing kesayangan Fred, serta merekam dan membuat video klip lagu “These Are the Days of Our Lives” yang menceritakan perjalanan hidup mereka berempat yang penuh keceriaan dan kebahagiaan, yang sekaligus menjadi penampilan terakhir Fred di depan kamera di mana di situ dia mengucapkan proper good bye kepada semua penggemarnya, dengan mengatakan, I still love you.

Lagu-lagu yang dikejar untuk diselesaikan perekaman vokalnya oleh Fred sebelum habis waktunya di dunia ini akhirnya diselesaikan oleh ketiga temannya 4 tahun setelah kematiannya, yaitu di tahun 1995, yang menjadi album terakhir Queen (with Fred) yang bertajuk Made in Heaven, karena benar-benar dibuat di surga, huhuhu, sedih ya. Mana foto di cover albumnya juga bikin sedih pula. Patung Fred dan ketiga bandmates-nya tampak dari belakang memandangi patung tersebut, huhuhu.

Cover Album Made in Heaven (rilis tahun 1995) dengan foto Bri, Deaky, dan Rog memandangi patung Fred.

Pada tahun 1991, tahun kepergian Fred, dokter sudah mengatakan kalau Fred tidak akan bertahan sampai Natal, dan Fred pun tahu itu, begitu juga dengan ketiga sahabatnya. Tapi tetap saja ketika hari itu datang, 24 November 1991, Rog sedang dalam perjalanan ke rumah Fred menggunakan mobilnya, dan entah kenapa di sepanjang jalan banyak telepon yang masuk, sehingga dia lama sampainya. Masih di perjalanan, satu telepon masuk lagi dan mengabarkan bahwa Fred telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Rog pun langsung berhenti di pinggir jalan dan menangis sepuas-puasnya di dalam mobil. Bri pun katanya bahkan sempat terpikir untuk bunuh diri. Deaky? Deaky yang kalem dan pendiam ini yang ternyata paling terpukul dan susah mengatasi kesedihannya. Apalagi pasca-kematian Fred, media terutama tabloid, gencar membuat berita negatif tentang Fred dan cerita kematiannya. Hal ini tentu sangat menyakitkan bagi Rog, Bri, dan Deaky. Dalam wawancara pertama Rog dan Bri setelah kepergian Fred, tepatnya seminggu setelahnya, Rog mengatakan bahwa berita-berita di media itu sangat menyakitkan hatinya, dan bahwa mereka akan terus membela Fred karena sekarang Fred sudah tidak bisa membela dirinya sendiri. Bri menambahkan bahwa sebagian besar berita-berita itu bohong, Fred adalah orang yang sangat penyayang dan peduli pada orang lain. Dia hanya seorang performer, seorang entertainer, tambah Rog. Deaky? Deaky bahkan sama sekali tidak ikut di wawancara itu.

Rami menyerahkan piala Golden Globe kepada Fred, hiks :(.

Pada akhirnya Deaky tidak mau terus melanjutkan Queen tanpa Fred karena menurutnya, there will be no point dan tidak seorang pun akan bisa menggantikan Fred. Pada tahun 1997, setelah menggarap single terakhir mereka yang dipersembahkan untuk Fred, “No One But You (Only The Good Die Young)”, Deaky pun memutuskan untuk pensiun secara keseluruhan dari dunia musik beserta seluruh spotlight yang mengikutinya, hingga hari ini. He’s a bit too fragile, demikian kata Rog tentang keputusan Deaky itu. Sementara Rog dan Bri tetap melanjutkan Queen dan melestarikan warisan-warisan Fred hingga hari ini. Salah satunya dengan mengabadikannya melalui film Bohemian Rhapsody yang kemarin baru saja mendapatkan penghargaan Golden Globe sebagai film drama terbaik tahun 2018. Di lagu-lagunya, Fred selalu mengatakan bahwa dia mencari cinta sejati dan juga mencari “Somebody to Love”. Well you did it Fred, you got a lot of somebody who love you, not only one, but a lot of. You are loved Fred, sooo loved!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *