Seberapa Sering Anda Mengunjungi Kawasan Wisata Paling Populer di Kota Anda?

Saya duga pasti tidak sering atau bahkan jarang atau mungkin jarang sekali, kecuali karena mengantar teman atau saudara yang datang ke kota Anda dan ingin berwisata. Mungkin karena Anda merasa sudah pernah, atau tidak tertarik untuk berhenti karena setiap hari melewatinya, atau berpikir karena letaknya dekat Anda akan bisa mengunjunginya kapan saja, jadi no need to hurry.

Mungkin seperti itulah gambaran hubungan saya dengan kawasan Malioboro Jogja yang merupakan kawasan tujuan wisata paling populer se-DIY. Kecuali dulu di bulan-bulan pertama tinggal di Jogja, saya hampir tidak pernah mengunjunginya lagi selama 10 tahun tinggal di kota ini, padahal dari 10 tahun itu, 8 tahun di antaranya saya tinggal tidak jauh dari Malioboro, hanya sekitar 5 hingga 7 menit perjalanan menggunakan motor, sehingga setiap kali mau pulang ke rumah saya sering melewati Jalan Malioboro (kalau pas tidak lewat Jalan Mataram), tapi untuk berhenti, jalan-jalan, atau sekadar nongkrong-nongkrong di situ, semacam ada perasaan “ngapain sih” atau “besok-besok aja lah” atau “kan ga ada keperluan di sana” dan semacamnya. Dalam 10 tahun itu bisa dihitung pakai jari berapa kali saya mengunjungi kawasan Malioboro, kalau tidak mengantar teman/saudara ya karena ada aksi kampanye turun ke jalan yang lokasinya pasti di kawasan Malioboro. Mengantar teman pun sudah banyak berkurang karena saya lebih sering menyarankan kepada teman saya untuk main ke tempat lain saja atau membiarkan dia ke Malioboro sendiri dulu baru setelah dia puas kami bisa ketemuan di tempat lain.

Hingga beberapa bulan lalu, selepas pulang dari sebuah acara di kawasan Gowongan, sekitar jam 3 sore, saya menyempatkan diri dengan niat untuk berjalan kaki sepanjang kawasan Jalan Malioboro sendirian, hanya bersama tongsis dan smartphone saya, ya seperti layaknya everybody else yang mengunjungi Kota Jogja. Dan saya takjub dengan banyaknya perkembangan yang terjadi, seperti tulisan “Stasiun Yogyakarta” berwarna merah di depan Stasiun Tugu yang setengah mati saya coba untuk selfie di depannya tapi tidak pernah berhasil memasukkan keseluruhan tulisan ke dalam frame foto. Saya juga berselfie di depan plang Jalan Malioboro seperti yang dilakukan oleh para turis pada umumnya. Kemudian saya duduk-duduk di bangku taman melihat orang lalu lalang sambil menikmati sore yang indah di Jalan Malioboro sambil sesekali memfoto dan berselfie.

Saya lanjutkan berjalan kaki menyusuri sepanjang Jalan Malioboro hingga ke Km. 0 sambil melihat-lihat dagangan pedagang kaki lima di sepanjang jalan dan juga membuat video selfie saya berjalan kaki ala-ala vlog para traveller, hahaha. Di sepanjang perjalanan itu saya beberapa kali berhenti untuk duduk di bangku taman pinggir jalan dan kembali mengamati orang-orang sembari menikmati suasana Jogja. Pokoknya berasa model video klip lagu Yogyakarta-nya KLA Project banget lah, hahaha.

Sesampainya di Km. 0 saya berhenti untuk membeli sate lontong dengan pincuk daun pisang dan menikmatinya sambil duduk di bangku taman menantikan matahari tenggelam sambil melihat burung-burung yang kalau menjelang magrib pasti beterbangan di atas Km. 0 untuk kembali ke sarangnya di tiang-tiang listrik di depan Kantor Pos dan Bank BNI. Tidak terasa sudah hampir 3 jam saya bercumbu dengan Malioboro yang indah dan Jogja banget yang selama 10 tahun ini hampir tidak pernah dengan niat saya kunjungi.

Saya sudah berasa seperti turis banget, kecuali tadi sewaktu saya duduk-duduk di bangku taman di depan Malioboro Mall, tiba-tiba ada ibu-ibu yang mendatangi dan duduk di sebelah saya. Segera obrolan hangat pun mengalir ngalor-ngidul, ini yang khas Jogja banget. Baru kenal langsung si ibu bercerita panjang lebar tentang rahasia hidupnya, hihihi. Setelah obrolan hangat selama sekitar 15 menit, si ibu yang ternyata berasal dari Jawa Timur dan sedang menengok anaknya yang kuliah di Jogja itu berkata, “kalau mbaknya asli sini ya, rumahnya dekat dari sini?” Hah, runtuh semua langsung pencitraan saya sebagai turis, saya pun langsung melihat wajah dan penampilan saya di kamera selfie smartphone saya, “huh, emang muka saya lokal banget ya?” hahaha.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *