Sejak Berat Badanku Kurang Dari 50 Hingga Lebih Dari 80 Aku Selalu Merasa Gendut: Jadi Sebenarnya Gendut Itu Ada di Pikiran Kita

Ya, kalau sekarang memang berat badanku di atas 80 dan aku ingin menurunkannya, dengan alasan pertama supaya staminaku lebih bagus dan supaya baju dan celanaku tetap enak dipakai. Alasannya sangat personal dan tentu saja berasal dari diriku sendiri. Karena personally, aku adalah orang yang selalu berpikir bahwa perempuan itu cantik in whatever weight as long as she’s comfortable with that. Dan ketika dia ingin menurunkannya atau ingin menaikkannya itu karena dia memang menginginkannya dan karena itu membuatnya lebih bahagia dan lebih nyaman dengan dirinya, bukan karena tuntutan masyarakat, apalagi permintaan satu atau dua orang, apalagi demi cinta yang bersyarat, duh. Tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Dia boleh membaginya dengan orang lain ketika dia mau. Dia boleh menunjukkan atau menutupinya ketika dia mau. Dia boleh meminta pendapat orang lain tentang tubuhnya ketika dia mau. Tapi jangan biarkan orang lain mendefinisikannya dan memutuskannya untuknya. Jadi ingat sekitar 10 tahun yang lalu ada seorang kawan perempuan dari Argentina yang mengatakan padaku, kurang lebih begini, “tubuh kita adalah milik kita, semua mungkin bisa dirampas dari kita, tanah kita, hak kita, keluarga kita, tapi tubuh kita tetap akan menjadi milik kita”. Aku rasa dia mengatakan itu berdasarkan pengalaman hidupnya.

Aku bisa mengatakan semua hal di atas bukan berarti aku bisa selalu menjalaninya. Karena lepas dari konstruksi sosial tidak semudah ke warnet ngopy lagu dan film favorit, eh. Terutama dalam soal definisi tubuh perempuan yang terkait dengan the slimmest the better. Hal itu sudah melekat kuat di pikiranku bahkan sejak aku masih SD, padahal aku tinggal di kota kecil dan pada waktu aku SD media massa belum se-massif sekarang. Tapi aku ingat banget ketika aku sekitar kelas 4 atau kelas 5 SD dan mungkin berat badanku saat itu hanya sekitar 40an kg saja, tapi pada waktu itu aku sudah selalu berpikir kalau aku gendut dan selalu terobsesi untuk menjadi kurus. Pada waktu itu aku selalu mengkhayal, seandainya aku bertemu jin lampu yang menawarkan 3 permintaan, maka permintaan pertamaku adalah aku ingin kurus. Bayangkan saudara-saudara, anak kelas 4 atau 5 SD dengan berat badan hanya 40an kg keinginan paling utamanya adalah pengen kurus dan bukannya pengen pintar atau sukses atau bahagia, bukankah itu menyedihkan.

Dan begitulah aku tumbuh dengan selalu memiliki citra diri bahwa aku gendut. SD, SMP, dan SMA aku lewati dengan selalu merasa gendut dan terobsesi untuk menjadi kurus. Waktu aku kuliah, berat badanku sekitar 50an kg, dan di saat-saat inilah obsesiku menjadi kurus menjadi semakin intensif saja. Aku melakukan diet ketat, sampai sering tidak makan. Aku juga melakukan sit up 100 kali sehari, dan takut minum manis, sehingga hampir tidak pernah minum manis sama sekali. Memang berat badanku turun tetapi aku tetap tidak pernah merasa kurus. Seingatku tidak pernah ada satu momen pun dalam hidupku yang aku puas dengan berat badanku. Aku selalu merasa gendut dan selalu merasa harus menurunkan berat badan. Begitu juga dengan teman-teman perempuanku pada waktu itu, semua tidak ada yang puas dengan berat badannya, semua pengen kurus.

Segala jenis diet sudah pernah aku coba, baik yang sehat maupun yang tidak sehat. Berat badanku naik turun, pernah turun, pernah stabil, sering naik. Apalagi ketika bosan atau capek sendiri dengan diet, berat badan pasti langsung naik, karena emang dasar DNA di keluarga adalah DNA untuk keluarga jumbo, hehehe. Yang jelas di usia 30an ke atas, berat badanku sudah jauh melampaui ketika zaman kuliah dulu dan sebagai akibat dari banyak diet yang tidak sehat yang pernah aku lakukan, aku jadi menderita penyakit asam lambung (GERD) yang cukup serius apalagi ditambah kebiasaan ngopi yang cukup signifikan. Seingatku sepanjang perjalanan hidupku aku selalu terobsesi untuk jadi kurus dan selalu ingin melakukan diet, walaupun kadang beneran dilakukan dan kadang tidak. Jadi dietnya dan turun berat badannya kadang terjadi kadang tidak, namun obsesi dan selalu merasa gendutnya selalu ada di pikiran, tidak pernah tidak, hahaha.

Jadi ternyata soal gendut dan kurus itu letaknya lebih di kepala kita daripada di timbangan digital di kamar kita. Sejak aku kecil dengan berat badan di bawah 50 kg hingga aku sekarang dengan berat badan di atas 80 kg, aku tetap selalu dan selalu merasa gendut dan terobsesi untuk menurunkan berat badan. Jadi aku rasa itu lebih ke faktor psikologis ya. Aku rasa walaupun mungkin ada laki-laki yang juga mengalaminya, tetapi tidak sebanyak dan seintensif perempuan, karena ya lagi-lagi kembali ke soal konstruksi gender. Masyarakat dan orang lain selalu sudah membuat definisi baku tentang seperti apa seharusnya tubuh perempuan, perilaku perempuan, dan hidup perempuan. Ya laki-laki juga sih dengan definisi yang berbeda, tapi tidak seintensif perempuan. Dan untuk melepaskan diri dari konstruksi gender itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, bahkan ketika kita sudah menyadarinya, sekali lagi, bahkan ketika kita sudah menyadarinya.

Latihannya memang harus dilakukan setiap hari dan tentu saja dukungan dari semua pihak yang sudah memiliki perspektif baru. For my case, sekarang aku tetap ingin menurunkan berat badan, tapi itu karena aku menginginkannya dan karena hal itu akan membuat diriku merasa lebih baik dan lebih sehat, bukan karena orang lain atau karena tuntutan masyarakat. Dan yang jelas, perempuan akan selalu cantik, seberapapun berat badan dia, selama dia selalu penuh cinta dan kebaikan.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *