Sejak Kecil Memang Aku Sudah Obsessive dan Compulsive, So Why Don’t I Put It in a Good Use

Kata orang kita sudah bisa dealing dengan situasi yang kita alami kalau kita sudah bisa menertawakannya dan menjadikannya lelucon, atau lebih keren lagi, bisa memanfaatkannya menjadi sesuatu yang bagus, hehehe. Seingatku, sudah sejak SD dan SMP aku mengalami sindrom obsessive dan compulsive. Aku tidak ingat karena apa dan kapan atau bagaimana awalnya. Ketika SMA, kecenderungan itu menjadi semakin parah dan berlanjut terus ketika sudah kuliah. Nah ketika sudah menjadi mahasiswa itulah aku mulai mencari informasi tentang apa yang sebenarnya aku alami, dan di situlah aku menemukan istilah OCD alias Obsessive Compulsive Disorder. Aku tidak pernah benar-benar memeriksakan diri ke psikolog atau orang yang ahli, tetapi dari ciri-ciri, gejala, dan contoh-contohnya aku menyimpulkan sendiri bahwa aku adalah penderita OCD, well I might be wrong sih.

Perilaku OCD itu tentu tidak berlangsung setiap saat dan setiap waktu, tapi datang dan pergi. Kadang-kadang hilang, kadang-kadang datang. Ada masa-masa di mana itu hilang (tidak sepenuhnya hilang tapi minimal banget), tetapi ada kalanya juga itu sangat parah sehingga aku sampai sulit melakukan hal yang lain dan mulai menjadi depresi, tapi untungnya biasanya itu bisa terkontrol lagi. Ketika kuliah saking inginnya mencari informasi tentang hal itu, aku sampai membaca artikel-artikel tentang OCD dan menonton film-film tentang orang-orang yang OCD, dan yes gejalanya persis seperti yang aku alami. Jenisnya bermacam-macam sih, dan aku mengalami banyak di antaranya, seperti melakukan sesuatu dengan berulang-ulang dengan hitungan yang merupakan kelipatan dari angka tertentu, mengecek sesuatu secara berulang-ulang, mengatakan sesuatu berulang-ulang, hingga terobsesi memikirkan satu hal sepanjang waktu, dan sumpah ketika sesuatu yang aku pikirkan dengan obsesif itu adalah sesuatu yang menakutkan itu menyiksa sekali, sampai rasanya stres dan tidak bisa melakukan hal yang lain serta tidak enak makan, namun hal itu tidak bisa hilang, pokoknya mengerikan sekali, hehehe.

Sejak dulu, kamar kosanku pintunya selalu rusak karena aku mengeceknya apakah sudah dikunci atau belum hingga ratusan kali atau ribuan kali malah, akhirnya jebol deh, hahaha. Waktu tinggal di Jerman aku pernah sampai tidak bisa meninggalkan rumah karena tidak bisa meyakinkan diriku sendiri bahwa kompor sudah aku matikan. Aku juga pernah terobsesi memikirkan sesuatu yang menakutkan dan itu tidak bisa hilang hingga aku sangat stres dan ketakutan. Hehehe itu yang terparah sih, tapi seperti yang aku bilang di atas, kondisinya tidak selalu parah. Lebih seringnya tidak parah atau terkadang hilang. Biasanya ketika aku lelah baik secara fisik maupun psikis, perilaku OCD itu akan datang, walaupun kadang juga datang begitu saja tanpa alasan, hehehe.

Kabar baiknya adalah aku menyadari semua itu dan aku bertahan hingga hari ini, hehehe. Bahkan sekarang aku bisa menertawakan situasi itu bersama temanku dan juga sudah bisa memanfaatkan kondisi itu, hehehe. Bukankah hal itu menunjukkan kalau aku sudah berdamai dengan diriku yes. Salah satu cara untuk memanfaatkan kecenderungan OCD-ku adalah dengan bekerja sebagai editor, walaupun ini seperti 2 sisi mata uang sih. Kadang kalau sudah parah dan sulit dikontrol, aku bisa lama sekali untuk mengedit sebuah tulisan karena aku bisa mengulang-ulangnya puluhan kali dan mengulang-ulang memencet tombol save atau crtl+S sehingga laptopku sampai error Microsoft Office-nya, hehehe. Tapi ketika hal itu bisa dikontrol dan dikelola dengan baik, hasil pekerjaan editingku (dan juga terjemahan serta menulis) akan menjadi pekerjaan yang sangat rapi dan teliti, juga memuaskan, hehehe.

Hal yang lain, kalau kalian memperhatikan, beberapa bulan terakhir ini aku banyak sekali posting di media sosialku tentang Queen, baik tulisan/cerita maupun foto dengan caption. Ya aku rasa itu adalah bagian dari perilaku obsessive dan compulsive-ku juga. Ketika aku menyukai sesuatu aku bisa sangat obsessive dan compulsive, sehingga dalam hal ini, aku mendengarkan semua lagu-lagu Queen terus-menerus, membacai tulisan-tulisan tentangnya, melihat video-videonya, serta menyimpan foto-fotonya sampai memenuhi HP-ku. Lalu aku berpikir, why don’t I put it in a good use. Maka mulailah aku menulis tentang Queen. Semua informasi yang aku dapatkan karena obsessive dan compulsive tadi ditambah informasi yang memang sudah aku miliki sebelumnya, aku olah dan aku tuliskan menjadi sebuah cerita yang kemudian aku posting di kolom mini harianku. Hasilnya aku merasa senang dan perilaku obsessive serta compulsive-ku pun bisa terkelola dengan baik aku rasa. Walaupun mungkin orang heran atau sedikit kesal, kenapa sih ini orang posting tentang Queen terus, tapi ya well, aku tidak perlu menjelaskan ke semua orang kan, kecuali sekarang lewat tulisan ini, hihihi.

Ketika menyiapkan pelatihan atau menjadi fasilitator pelatihan pun aku rasa aku juga memanfaatkan kecenderungan OCD-ku in a good use. Sebelum menyelenggarakan atau menjadi fasilitator pelatihan, aku pasti akan menyiapkan semuanya dengan detail hingga ke hal-hal sekecil-kecilnya. Aku akan menuliskan rundown rencana fasilitasiku minutes by minutes (walaupun pada praktiknya sering berubah menyesuaikan dinamika peserta), menuliskan materinya dengan komplet, dan menyiapkan peralatannya sampai sangat detail. Termasuk mengguntingi metaplan dengan bentuk tertentu dan warna tertentu, menyiapkan gambar-gambar yang dibutuhkan, dan sudah menuliskan dengan rapi di plano serta di metaplan hal-hal yang akan aku gunakan saat proses fasilitasi pelatihan berlangsung. Orang yang pernah bekerja bersamaku menyelenggarakan pelatihan atau menjadi partner facilitator-ku pasti sudah sangat memahami hal ini, hehehe. Yes, that’s my efforts to put my OCD in a good use, walaupun tentu saja tetap ada bagian-bagian yang sangat menyiksa dan melelahkannya. Tapi daripada menyiksa dan melelahkan doang tanpa ada manfaatnya, hayooo, hehehe.

Well this is the first time aku menceritakan pengalaman OCD-ku secara tertulis dan kepada publik lagi, hehehe. I guess after all I get all the courage I need setelah 143 tulisan di kolom mini harian di media sosial pribadiku. See, like I told you before, menulis memberikan banyak manfaat yang sangat positif untuk kesehatan mentalku dan juga memunculkan banyak keberanian, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *