Semangat Feminisme dalam Film Aladdin Versi 2019 (Major Spoiler Alert)

Dalam review film kali ini aku sudah memberi peringatan keras bahwa review ini mengandung major spoiler. Jadi bagi yang belum lihat dan tidak mau diganggu dengan spoiler, please stop read this review, don’t tell me I didn’t warn you. Tapi bagi yang sudah melihat atau belum lihat tapi tidak masalah dengan spoiler, please continue, in your own risk, hehehe.

Jadi kemarin sore, dalam acara girls’ day out, aku menonton film Aladdin bersama teman-teman perempuanku. Tanpa banyak ekspektasi kami masuk studio bioskop sekadar untuk mendapatkan hiburan dan menyaksikan gambar-gambar indah penuh warna dari Arabian Nights and Days saja, karena “emangnya cerita Aladdin mau kayak gimana lagi sih,” batinku.

Tapi ternyata setelah menontonnya selama kurang lebih 2 jam, kami mendapatkan banyak hal way beyond our expectations. Hiburan dan gambar-gambar indah, yes, kami mendapatkannya, a lot! Film itu bertaburan dengan gambar-gambar indah dan penuh warna-warna yang cantik serta penuh perayaan akan segala keindahan yang bisa ditawarkan kepada mata dan hati kita. Apalagi film sebelumnya yang aku tonton adalah John Wick, hihihi, jadi film ini seperti a total opposite gitu dari John Wick yang penuh kekerasan dan adegan brutal.

Dalam film Aladdin mata kita akan dimanjakan oleh warna-warna yang indah dari kain-kain tradisional yang keren, tumpukan permata dan berlian dan bergelimangan, binatang-binatang eksotis, suasana Arabian markets, karpet-karpet dan lampu-lampu yang indah, istana sultan yang megah, baju-baju yang sangat indah, tarian-tarian yang unik, makanan-makanan yang tampak enak, serta confetti, kembang api, dan umbul-umbul yang bertebaran di sepanjang film. Bahkan dalam istilah teman kencanku sore itu, “nonton film ini seperti healing untuk jiwa kita,” hehehe.

Poster film Aladdin.

Belum lagi, walaupun tidak sepenuhnya film musikal. Tapi 30 hingga 40 % film ini disajikan secara musikal, dan you know lah, kalau aku suka banget sama film atau drama/pertunjukan musikal, jadi ya cocok banget lah, sesi healing 2 jam yang kami lakukan ini, hehehe. Apalagi lagu OST film ini yang sangat fenomenal itu, “A Whole New World”, keren banget dinyanyikan di atas magic carpet. Asal jangan diganggu dengan tiba-tiba ingat versi Padhayangan Project-nya, hihihi, ketahuan banget umurnya yak.

Pemain-pemainnya juga keren-keren, terutama Will Smith yang berperan sebagai jin lampu berwarna biru bertubuh super atletis dan hot walaupun agak konyol-konyol gimana gitu, hehehe. Selain konyol dan lucu, jin lampu versi Will Smith ini juga jauh lebih manusiawi, apalagi impian terbesar si jin memang menjadi manusia dan merdeka, hehehe. Si monyet abu, si burung beo jahat, si kucing besar bergaris, dan karpet ajaib juga tampak keren dan nyata. Pemeran Aladdin dan Jasmine-nya juga oke menurutku. In short dari segi teknis dan gambar, tidak ada masalah dengan film ini, semuanya oke dan menghadirkan keindahan yang sangat menghibur.

Tapi yang tadi di awal aku sebutkan bahwa film ini beyond expectation adalah ceritanya yang membawa semangat feminisme, yang berbeda dengan kisah aslinya ya aku rasa. Serta bagaimana film ini mengajak kita untuk menjadi diri kita sendiri. Bahwa jin (atau bantuan eksternal dari manapun) hanya bisa membantu mengubah apa yang tampak dari luar, tapi apa yang ada di dalam, tidak ada yang bisa mengubahnya selain diri kita sendiri.

Banyak ditampilkan juga di film ini, kebijaksanaan dan kebaikan-kebaikan hati yang kemudian mengalahkan hukum atau peraturan itu sendiri. Misalnya jin lampu yang menyiasati segala aturan lampu ajaib karena eventually he considers Aladdin as a friend, Jasmine yang meyakinkan para hakim untuk melanggar aturan kesultanan demi sesuatu yang lebih besar, Jasmine sendiri yang juga melanggar aturan kesultanan demi cinta sejatinya, dan Aladdin yang “menyia-nyiakan” jatah permintaannya demi memerdekakan sahabatnya si jin lampu, monyet dan karpet yang saling melindungi, dan lain-lain. Pokoknya film ini bertaburan dengan kebaikan hati dan ketulusan.

Tapi the best of the best yang dibawa oleh film ini adalah nilai dan semangat feminisme yang tercermin dalam ceritanya. Seperti kita tahu Aladdin adalah seorang laki-laki rakyat jelata miskin yang bertahan hidup dari mencuri di pasar, sementara Jasmine adalah putri sultan yang cantik, kaya, dan memiliki segalanya. Namun yang aku senang dalam film ini adalah Jasmine tetap sangat mandiri dan pemberani. Dia tidak butuh untuk “diselamatkan” oleh laki-laki, termasuk oleh Aladdin.

Jasmine dibesarkan sebagai putri sultan yang berkarakter dan di sepanjang hidupnya dia menyiapkan dirinya untuk menjadi sultan, mengingat dia adalah satu-satunya pewaris tahta. Jasmine membuat dirinya layak menjadi sultan dengan terus belajar, baik membacai semua buku dan kitab, maupun menyelinap keluar istana untuk melihat sendiri dan membacai kehidupan rakyat di kesultanannya. Jasmine yang cerdas, pemberani, sekaligus memiliki perasaan yang sensitif serta rasa cinta yang begitu besar terhadap rakyatnya tahu betul bahwa dialah satu-satunya calon yang paling siap untuk menjadi sultan menggantikan ayahnya.

Oleh karena itu dia menolak mentah-mentah ide untuk mencari suami seorang pangeran yang bisa menggantikan tahta ayahnya, walaupun banyak pangeran dari berbagai negeri berebut untuk meminangnya. Karena kalau perempuan sendiri mampu dan memiliki kapasitas untuk menjadi sultan (pemimpin), ngapain coba mesti mencari suami untuk posisi itu, wong dirinya sendiri lebih pantas. And she knows it very well! Yes brave and clever girl, lagian tidak ada yang lebih mengenal rakyat Agrabah selain Jasmine itu sendiri, bukan pangeran dari luar Agrabah.

Dengan karakter Jasmine yang seperti itu, tidak mengejutkan kalau kemudian dia jatuh cinta kepada Aladdin yang “hanya” seorang rakyat jelata, pencuri pula. Karena yang dicari oleh Jasmine adalah seseorang yang mencintainya dan punya kebaikan hati, bukan seseorang tempat dia menggantungkan dirinya dan hidupnya ataupun yang kemudian akan memimpin dirinya dan rakyatnya. Jasmine tidak memerlukan itu karena dia sudah bisa melakukannya sendiri, yang dia butuhkan adalah laki-laki yang mencintainya dan membuatnya bahagia. That’s all! Dan dia melihat itu dalam diri Aladdin. Walaupun sempat kemudian Aladdin menyamar jadi pangeran karena ada aturan kerajaan bahwa Jasmine harus menikah dengan pangeran dan bla bla bla, tapi sejatinya mereka berdua tetap selalu menjadi diri mereka sendiri dan saling mencintai apa adanya.

Aladdin bersama dengan jin lampu yang akhirnya menjadi sahabatnya.

Aladdin pun tidak merasa terancam, insecure, atau terlukai maskulinitasnya dengan kenyataan bahwa Jasmine adalah a better and more prepared leader than him. Bahkan ketika Jasmine mengatakan padanya bahwa Jasmine-lah yang mestinya menjadi sultan, Aladdin 100 % mendukung dan mengakui bahwa memang Jasmine jauh lebih pantas dan siap menjadi sultan dibanding siapapun termasuk dirinya. Masuk akal lah ya, karena Jasmine sudah mempersiapkan dirinya selama bertahun-tahun dengan segala pengetahuan dan skill yang sudah dipelajarinya itu, sementara Aladdin tidak memiliki pengalaman dan keterampilan yang dibutuhkan sebagai sultan karena selama ini dia tinggal di jalanan dan di pasar bersama Abu monyetnya. Akan sangat konyol dan tidak masuk akal sekali kan, kalau dengan semua latar belakang realitas itu kemudian tetap Aladdin yang menjadi sultan hanya karena dia laki-laki? Please!

Cinta mereka pun tidak terbendung lagi, tidak peduli siapa yang bangsawan siapa yang rakyat jelata, siapa yang sultan siapa yang pendamping. Mereka hanya ingin bersama dengan tetap menjadi dirinya yang terbaik dan mendukung sepenuhnya orang yang dicintainya untuk juga menjadi dirinya yang terbaik. Cute, isn’t it, and free from gender bias! Betapa menyenangkan kan kalau posisi dan pekerjaan seseorang itu ditentukan oleh kemampuan dan keterampilannya, bukan oleh jenis kelaminnya. Bahwa dua orang tetap bisa saling mencintai dengan setara tanpa terjebak dalam kungkungan stereotype-stereotype gender yang membuat mereka saling menyakiti.

Sumpah lho aku sampai bertepuk tangan melihat ending-nya Jasmine menjadi sultan dan mencium Aladdin, seorang rakyat jelata, di tengah jalan, dan dengan kekuasannya sebagai sultan, tentu saja Jasmine akan mengubah peraturan bahwa dia harus menikahi pangeran. Aladdin pun menyambut segala cinta itu tanpa sedikitpun merasa insecure. What a cute movie with a very clear message. I love it!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *