Semua Orang Berpotensi Menjadi Korban Sekaligus Pelaku Kekerasan

Okay, kali ini kita akan membahas tentang bahwa kita semua, aku dan kamu, berpotensi menjadi korban sekaligus pelaku kekerasan. Lho kok bisa? Bisa dong! Karena kekerasan itu terjadi akibat adanya relasi kuasa yang timpang antara korban dengan pelakunya. Nah di dalam kehidupan kita yang kompleks ini, kita akan berada pada banyak sekali relasi-relasi dengan orang-orang lain, yang sayangnya tidak semua relasi yang melibatkan kita di dalamnya itu setara seperti harapan kita, lebih banyak adalah relasi yang timpang kuasanya, dan itu di luar kontrol kita.

Ada banyak hal yang mempengaruhi ketimpangan relasi kuasa, sebut saja status sosial, status ekonomi, tingkat pendidikan, pangkat/jabatan, usia, mayoritas/minoritas, senior/junior, status kesehatan, status disabilitas, orientasi seksual, dan gender. Nah gender ini agak spesial karena selain berdiri sendiri, dia juga mewarnai ketimpangan-ketimpangan relasi kuasa yang aku sebutkan sebelumnya. Relasi-relasi kuasa ini menciptakan apa yang sering kita sebut dengan tangga relasi kuasa. Contohnya begini, katakanlah ada lima anak tangga dalam tangga relasi kuasa. Umumnya di dalam sebuah rumah (kecuali yang memang relasinya sudah bisa setara) biasanya yang menduduki anak tangga kuasa nomor 1 adalah ayah, kedua adalah ibu, ketiga adalah anak sulung, keempat adalah anak bungsu, dan kelima misalnya adalah ART yang bekerja di rumah itu. Itu kalau di rumah tangga.

Dalam kehidupan ini, kita juga masuk dalam relasi kuasa di tempat kerja kita, misalnya yang menduduki anak tangga pertama adalah direktur, kedua adalah manajer, ketiga adalah staf, keempat adalah satpam, kelima adalah cleaning service. Atau di kampung tempat kita tinggal, yang menduduki anak tangga kuasa nomor 1 adalah RT, kedua adalah para sesepuh kampung, ketiga adalah bapak-bapak, keempat adalah ibu-ibu, dan kelima adalah remaja. Begitu juga dengan relasi-relasi kita yang lain di dalam masyarakat. Jadi bisa jadi di satu relasi kuasa kita berada di anak tangga kuasa ketiga, namun di relasi kuasa yang lain kita berada di anak tangga relasi kuasa kelima, dan seterusnya. Nah karena kekerasan terjadi akibat pelaku memiliki kekuasaan yang lebih atas korbannya, maka ketika kita berada pada anak tangga relasi kuasa nomor 3, kita akan berpotensi menjadi korban kekerasan dari orang-orang yang berada pada anak tangga kuasa nomor 1 dan nomor 2, sekaligus kita berpotensi menjadi pelaku kekerasan terhadap orang-orang yang yang berada pada anak tangga kuasa nomor 4 dan nomor 5. Potensi ya bukan keniscayaan.

Ilustrasinya begini, misalnya ada seorang laki-laki, sebut saja Mr. X. Ketika pada suatu hari Mr. X ini mengalami kekerasan dari atasannya di kantor, katakanlah dicaci maki dengan kasar, Mr. X ini kemungkinan besar tidak akan berani membalas caci maki atasannya tersebut, ya kecuali dia siap dipecat dan kehilangan pekerjaannya. Jadi dia hanya menyimpan saja kedongkolannya itu. Ketika pulang ke rumah membawa kedongkolan, dengan mudah dia akan bisa melampiaskannya kepada istrinya hanya karena alasan sepele, dia bisa mencaci maki atau bahkan memukul istrinya. Si istri mau membalas ke suaminya tidak berani karena katanya perempuan harus nurut pada suami, maka dia melampiaskannya dengan melakukan kekerasan pada anak sulungnya. Anak sulungnya tidak berani membalas ibunya, maka dia melampiaskannya kepada adik bungsunya. Si adik mau membalas kakaknya tidak berani, maka dia melampiaskannya kepada ART yang bekerja di rumah itu. Ketika ART itu pulang dia akan melampiaskannya kepada istrinya, istrinya kepada anaknya, anaknya akhirnya kepada kucingnya, begitu seterusnya. Dan karena kehidupan kita ini kompleks dengan banyak relasi yang saling berkelindan, akhirnya pelampiasan-pelampiasan kemarahan menjadi kekerasan itu pun sangat kompleks juga terjadinya. Tetapi selalu terjadi dari orang yang kuasanya lebih tinggi terhadap orang yang kuasanya lebih rendah. Hampir tidak mungkin terjadi sebaliknya, dan kalaupun terjadi sebaliknya, maka namanya adalah perlawanan.

Itulah mengapa aku katakan kita semua berpotensi menjadi korban sekaligus pelaku kekerasan, karena adanya relasi-relasi kuasa yang timpang seperti yang aku ceritakan di atas. Walaupun tentu saja tidak semua kekuasaan itu pasti digunakan untuk hal-hal yang negatif seperti kekerasan. Kekuasaan juga bisa dilakukan untuk hal-hal yang positif seperti membuat perubahan dan melakukan advokasi. Karena kekuasaan itu adalah kekuatan dan privilege, sehingga dia bisa digunakan untuk hal-hal yang negatif seperti melakukan kekerasan dan penindasan atau untuk hal-hal yang positif seperti membantu orang lain atau mendorong perubahan. Jadi ya tinggal dipilih saja.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *