Sepenggal Kisah Kereta Senja

Biarkan Cinta Memilihmu

”Cinta mengajarkan untuk menerima kekurangannya, bukan kelebihannya. Cinta pula yang mengajarkan untuk memaafkan, bukan mendendam.” – Anonim

Dear Fitri,

Aku adalah seorang railfans sejati. Setiap Minggu aku pulang pergi Yogyakarta – Purwokerto naik kereta Senja Utama Yogyakarta. Selama perjalanan, aku kadang menemukan fenomena-fenomena menarik yang ingin kuceritakan padamu. Dan hari ini, aku ingin menceritakan perjumpaanku dengan seorang dokter perempuan, yang kisahnya cukup menyentuh hatiku.

Sebut saja namanya dokter Yuli, usianya sudah 65 tahun lebih, tapi masih energik dan penampilannya kece badai, modis, pas, elegan. Karena sama-sama turun di Purwokerto, jadilah kami ngobrol akrab.

“Anaknya berapa jeng?”

“Tiga Bu.”

“Ini pasti sudah ditunggu ya di rumah sama anak-anak. Kalau saya dua, sudah besar, ini saya baru nengok cucu, anak saya jadi dosen Teknik Arsitektur di Universitas XXX di Yogyakarta. Di rumah yang nunggu saya pulang ya kucing-kucing.”

“Hehehe, sendirian saja Bu?”

“Iya jeng, suami saya sudah meninggal.”

“Oh…”

“Kuliah jeng?”

“Nggih Bu.”

“Calon doktor ya, hehehe, kalau saya dokter.”

“Hehehe, nggih Bu. Ibu praktik di mana?”

“Udah pensiun jeng, saya sudah tua.”

“Lha masak sih Bu, kayaknya masih muda, sehat, energik.”

“Itu sekarang jeng, dulu saya sakit kanker payudara, Alhamdulillah sekarang sudah sembuh.”

“Oooh…”

Aku jadi ingat waktu ibuku menyetel TV acara bengkel hatinya Ustadz Danu, katanya yang sakit kanker payudara itu biasanya karena ada perasaan jengkel yang dipendam kepada suami. Eh, baru membatin begitu, ibu ini bercerita lagi.

“Sembuhnya diobati apa Bu?”

“Obatnya ikhlas, tiap malam saya bangun jam 2, sholat tahajud, terus saya keluar rumah, saya duduk di rerumputan depan rumah. Saya tepukkan telapak tangan supaya embunnya menempel, saya usapkan ke tubuh saya. Saya merasa itu yang membuat saya sembuh. Di samping pengobatan medis, payudara saya sudah diangkat.”

“Oooh…”

“Suami kerja di mana jeng?”

“Di Jakarta Bu.”

“Saya juga dulu begitu, suami saya pengusaha, sering keluar kota. Menginjak pernikahan kesekian (*aku lupa berapa tahun, kayaknya belasan deh) suami saya selingkuh. Tapi akhirnya dia balik lagi ke saya. Dia meninggal karena diabetes.”

“Oooh… Nuwun sewu, kenapa bisa balik lagi Bu?”

(*Aku kepo, jiwa lambeturahku bergejolak. :D)

“Awalnya saya sangat marah, kecewa, merasa direndahkan. Sumpah serapah saya lontarkan. Nada bicara saya sangat tinggi (*mungkin melebihi gaji UMR Jakarta kali ya). Saya ini kurang apa, saya cerdas, saya cantik, bodi saya menarik, kurang apa coba. Lalu saya sakit.”

Yaaa, memang sih, dilihat-lihat ibu ini memang terawat dan cantik, meskipun sudah berumur banyak.

“Tapi prinsipnya, bagi saya cinta itu melepaskan, bukan membelenggu. Saya bisa saja minta cerai, saya akan mendapatkan hak asuh anak, saya akan memenangkan peradilan, tapi buat apa. Meskipun saya memenangkan peradilan, saya toh tidak bisa memenangkan hatinya. Raganya bisa jadi milik saya, tapi hatinya siapa tahu. Akhirnya saya memutuskan untuk melepaskannya.”

Hmmmm (*obrolan berat iniii, ibunya menarik napas, aku juga ikutan nih.)

“Dia kembali, cintanya dengan perempuan itu ternyata tidak seindah yang dibayangkan. Ikatan cinta kami lebih kuat, karena kami memulainya bersama mulai dari 0. Kami sama-sama menyaksikan anak-anak tumbuh gigi pertama kali, melangkah pertama kali, mengucap mama pertama kali. Mungkin terdengar bodoh saat saya menerimanya kembali. Luka ini memang tidak sembuh benar. Tapi dia berjanji akan memulai lagi dari 0 seperti dulu, jadi saya beri dia kesempatan sekali lagi. Sampai akhirnya dia meninggal dunia.”

Ibu ini lalu memberi tips bagaimana mesti bersikap jika suami ketahuan selingkuh.

#1 Tetap cool meskipun hati hot

Jangan gegabah melabrak suami dan selingkuhannya. Lebih baik instrospeksi diri. Kita akan terlihat sama murahannya dengan dia kalau bertingkah seperti itu. Apalagi banyak orang menyaksikan. Cukup kita saja yang tahu.

#2 Lakukan operasi senyap

Terus kumpulkan bukti. Kalau ada foto, video, percakapan, bukti transaksi hotel, makan, ataupun hal-hal yang mencurigakan. Simpanlah! Bukti-bukti ini akan berguna untuk membantu dalam pembuktian di pengadilan (*amit-amit yes) atau untuk mengonfirmasi dengan pihak-pihak yang terlibat.

#3 Bicarakan baik-baik

Kalau bukti sudah cukup, konfirmasi, kalau mengelak, keluarkan lagi bukti yang kuat. Sampai akhirnya mencapai kesepakatan harus bagaimana.

#4 Beri kesempatan kedua

Jika memungkinkan untuk memberikan kesempatan kedua, ambillah, orang bisa saja khilaf. Tapi jika tidak, putuskanlah yang terbaik. Kita perempuan berhak memilih untuk menentukan nasib kita sendiri. Mau memberi kesempatan kedua atau mengakhirinya, hanya kita sendiri yang tahu mana yang terbaik untuk kita.

Aku mengangguk pelan. Mencoba memahami, meresapi, mengambil hikmah. Sampai di stasiun Purwokerto pukul 21.00 WIB, kami berpisah. Sejujurnya aku ingin tahu siapa namanya, tapi kuurungkan. Dia dokter, di rumah sakit besar di Purwokerto. Saat dia menceritakan kejadian ini mungkin dia sedang ingin berbagi. Mungkin juga dia cuma ingin didengar, bukan untuk dikorek-korek jati dirinya. Aku tahu dia butuh privasi. Kami berpisah di pintu kereta, meninggalkan senyuman ringan di bibir masing-masing, diiringi lagu “Di Tepi Sungai Serayu” yang mendayu-dayu.

***

Belajar Empati di Kereta

”Ada kalanya ditemani dalam diam lebih baik daripada berbicara sebanyak apapun.” – Anonim

Hai Fitri,

Ini aku. Aku baru saja melaporkan seorang penumpang kereta ke manager on duty. Aku tidak berani negur langsung. Sungkan. Hahaha (*payah banget yah).

Malam hari pukul 24.00 WIB menuju Yogyakarta, menaiki kereta Senja Utama Yogyakarta yang legendaris itu, aku duduk di kereta 5. Hampir semua penumpangnya sedang terlelap menikmati tidurnya, sebagian lagi duduk gelisah memandang ke luar jendela, sebagian lagi menunduk menatap layar HP-nya. Suasana hening, mereka beristirahat, dan tentu ingin fresh keesokan paginya saat sampai di Yogyakarta.

Suasana tiba-tiba berubah agak kacau, saat seseorang dengan heboh menelepon koleganya, menceritakan kisahnya hari itu, dengan menggebu-gebu, dengan volume maksimal. Lima belas menit kemudian, dia menelepon ibunya, menceritakan kisah yang sama, menggalau, dengan intonasi tinggi, melengking, berisik. Penumpang lain agaknya sama seperti aku, sungkan menegur, sehingga mereka cuma melirik dan membetulkan lagi letak duduknya.

Tidak kuat dengan keadaan ini, karena sudah keterlaluan, aku SMS ke manager kereta hari itu, dan setelah ditegur, suasana kembali tenang, meskipun tidurku tak lagi nyenyak, hahaha.

Soal etika menggunakan transportasi umum, seperti kereta, Jepang menjadi negara yang pas untuk dicontoh. Mulai dari mengantre sampai keluar lagi dari kereta, mereka sangat sopan dan tertib. Berdasarkan pengalaman pribadi dan searching di sana-sini, berikut ini rangkuman beberapa etika saat kita naik kereta ya gaessss.

  1. Jangan merokok di dalam kereta, kamar mandi, atau di bordes (atau Anda akan segera diturunkan di stasiun berikutnya). Merokok diperbolehkan di area-area tertentu di stasiun. Coba amati di sebelah mana ya, karena tiap-tiap stasiun berbeda-beda tempatnya, jangan sampai salah!
  2. Antre saat memasuki pintu-pintu kereta, dahulukan yang mau keluar, jangan mendorong atau berdesak-desakan di pintu. Dahulukan juga penumpang lansia, difabel, ibu hamil, orang terluka, sakit, atau anak-anak untuk naik atau turun. Semua pasti kebagian tempat duduk!
  3. Jangan buang sampah sembarangan. Di setiap tempat duduk, disediakan kantong kresek untuk menyimpan sampah Anda. Setiap beberapa menit sekali, petugas kebersihan akan lewat dan mengangkut sampah-sampah itu. Jangan jorok ya gaes.
  4. Tidak berbicara dengan keras-keras baik dengan teman sebangku atau di telepon, atau menyetel musik keras-keras. Sebaiknya gunakan earphone supaya cukup Anda saja yang menikmati lagu sesuai selera Anda.
  5. Tidak membawa benda-benda tajam, beracun, dan berbahaya di kereta.
  6. Jangan tidur di bordes atau di lantai kereta.

,.Kereta Api Indonesia tidak kalah canggih dengan yang di Jepang, Malaysia, atau Singapura. Bersih dan rapi. Semoga para penumpang kereta di Indonesia bisa sama dengan penumpang-penumpang di negara-negara maju ya. Tertib dan beretika!

Tenia Wahyuningrum

Tenia Wahyuningrum

The mother of three, Ph.D Candidate, Lecturer, Researcher

Sangat antusias pada dunia anak, tulis menulis dan IT. Suka bernyanyi, membaca buku, dan nyetatus receh. Tinggal di kaki gunung slamet yang sejuk bersama 3 anak, suami, kucing entah siapa yang sering melahirkan di dalam lemari pakaian, dan para tetangga yang ramah. Jika Anda kebetulan berada di tempat seminar atau workshop dan menemukan dia di sana, sudah dipastikan itu karena seminar atau workshopnya free alias gratis, sebab dia suka sekali yang gratisan. #okesip
Bagikan:

Tenia Wahyuningrum

The mother of three, Ph.D Candidate, Lecturer, Researcher Sangat antusias pada dunia anak, tulis menulis dan IT. Suka bernyanyi, membaca buku, dan nyetatus receh. Tinggal di kaki gunung slamet yang sejuk bersama 3 anak, suami, kucing entah siapa yang sering melahirkan di dalam lemari pakaian, dan para tetangga yang ramah. Jika Anda kebetulan berada di tempat seminar atau workshop dan menemukan dia di sana, sudah dipastikan itu karena seminar atau workshopnya free alias gratis, sebab dia suka sekali yang gratisan. #okesip

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *