Si Doel the Movie 2: Akhirnya Ada Juga yang Berani Membuat Keputusan Biarpun Tetap Nanggung (Major Spoiler Alert)

Hal pertama yang aku lakukan setelah aku kembali dari mudik selama seminggu, selain bersih-bersih rumah, adalah mengiyakan ajakan teman-temanku untuk bertemu menghabiskan sore bersama. Seperti biasa selain kita isi dengan makan, nggosip, window shopping, juga nonton film bersama. Dan karena pilihan film lainnya adalah film horror dan film komedi alay, maka kami sepakat untuk menonton “Si Doel the Movie 2”. Aku sih tidak keberatan, karena selain memang itu pilihan film yang paling mending saat itu, juga karena aku kan nonton the movie 1-nya hampir setahun yang lalu (aku menulis review-nya juga, bisa dilihat di mini kolom harianku bulan Agustus tahun 2018, hehehe). Oh iya dong, untuk yang the movie 2 ini aku juga akan menulis review-nya lagi, tapi sebelumnya mohon maaf ya, karena review ini akan penuh spoiler, sehingga bagi yang belum menonton dan tidak mau terganggu dengan spoiler, silakan nonton dulu baru baca review ini kemudian, hehehe.

Secara keseluruhan sih menurutku the movie 2 ini lebih bagus dari the movie 1-nya. Tidak se-bikin-kesel the movie 1-nya, semakin masuk akal, dan bahan untuk dinyinyirin-nya pun semakin berkurang dibanding yang the movie 1-nya, hihihi. Atau mungkin karena aku sudah lebih tua 1 tahun ya, sehingga lebih bijaksana dan less cynical, hahaha. Gambar-gambarnya masih indah dan enjoyable banget, rumah dan warung keluarga Si Doel, jalanan kota Jakarta, stasiun Jakarta Kota, rumah Sarah di Belanda, serta beberapa spot-spot indah di Belanda yang aku tidak tahu namanya cukup memanjakan mata kita, soundtrack-nya juga masih okay, dan secara keseluruhan cukup menghadirkan suasana nostalgia bagi kita yang dulu nonton serialnya di RCTI, apalagi pas bagian ending-nya yang ditampilkan foto-foto mereka zaman dulu waktu masih jadi serial televisi. Kayak terasa banget kalau kita ini sangat mengenal keluarga dan kehidupan Si Doel.

Namun karakter Si Doel yang pasrah, selalu diam, bingung, serta tidak bisa bersikap apalagi membuat keputusan tetap sama seperti the movie 1-nya. Good point-nya adalah film ini konsisten lah ya, hehehe. Dan di the movie 2 ini ada penjelasan dari Mak Nyak tentang hal tersebut, bahwa Doel-emang-orangnya-gitu, plin-plan dan tidak bisa menentukan sikap, sejak dulu. Ketika teman nontonku kesal dan berkomentar, “iih dasar, laki-laki memang begitu ya”, aku langsung memotongnya dengan mengatakan, “engga lah, itu mah cuman Si Doel saja!” Aku jadi geli, kan di reviewku untuk the movie 1, aku ngomel tentang betapa pasrah dan idle-nya Doel kayak tanaman, hihihi, eh mungkin Rano Karno (selaku sutradara) baca kali ya, jadinya dijelasin alasannya di the movie 2 ini kenapa Si Doel begitu melalui tokoh Mak Nyak, hehehe.

Tidak hanya Si Doel saja yang pasrah, idle, dan tidak bisa bersikap/membuat keputusan, tapi Zaenab juga, dan Sarah juga. Rasa-rasanya segala keribetan dan kerumitan tidak perlu yang terjadi dalam kehidupan mereka bertiga (dan berefek ke orang-orang di sekitar mereka) selama 15 tahun terakhir ini adalah karena mereka bertiga sama-sama tidak ada yang mau/berani membuat keputusan dan konsisten dengan segala konsekuensi dari keputusan tersebut, hahaha. Ya, ya, membuat keputusan memang berat kok, karena di dalamnya terkandung tanggung jawab yang besar untuk konsisten menghadapi dan menjalani konsekuensinya. Lebih enak memang ngikut saja, pasrah saja, idle saja, biarkan orang lain yang membuat keputusan untuk kita. Kan dia yang membuat keputusan jadi dia yang bertanggung jawab, kita mah ngikut saja, iya-iya aja. Kalau terjadi permasalahan gimana? Ya diam saja, tunggu sampai orang lain datang menyelesaikannya dan membuatkan keputusan untuk kita. Kita tinggal mengikuti saja. Kira-kira seperti itulah karakter tokoh Si Doel yang digambarkan dalam film ini. Mungkin Si Doel mengamini dan mempercayai sebuah meme yang berisi gambar Spiderman memegang kepalanya dengan tulisan, “with great power, comes great responsibility…and headache”. Makanya dia seperti itu, soalnya tanggung jawab itu memusingkan, hahaha. Lho ternyata aku masih cynical, katanya tadi engga lagi, hihihi.

Satu-satunya tokoh yang berkarakter, dewasa, bisa bersikap, dan berani membuat keputusan adalah Si Doel kecil alias anak Doel yang berusia 15 tahun. Dia begitu matang, dewasa, berkarakter, dan ganteng (yang terakhir ini tidak ada hubungannya sih, hihihi). Padahal dia dilahirkan dari seorang ayah yang penuh kebimbangan dan pasrah serta dibesarkan oleh seorang ibu yang penuh kegalauan, suka menggantung, dan meninggalkan ayahnya begitu saja selama 15 tahun hanya karena alasan cemburu si ayah menolong orang yang sedang sekarat, dan si ayah yang sama sekali tidak berusaha mencari selama 15 tahun itu, dan si ibu yang juga tidak berusaha mencari klarifikasi atau meng-clear-kan semuanya, padahal masih tinggal di satu bumi yang sama. Dan hasilnya adalah seorang anak yang dewasa, matang, berani bersikap, dan berkarakter kuat, hahaha. Menunjukkan kalau sifat dan karakter seseorang itu bukan nature (keturunan) dan juga bukan nurture (pola pengasuhan), jadi apa dong, hihihi. Atau karena negatif plus negatif hasilnya positif yak, hihihi (cynical continuing alert, hehehe).

Setelah selama satu jam 20 menit kita gemas karena terus disuguhkan dengan ke-geje-an ketiga tokoh utama dalam film ini, akhirnya pada 10 menit terakhir, ada juga satu orang di antara mereka bertiga yang AKHIRNYA berani membuat sebuah keputusan untuk mengatasi pelik dan silang sengkarutnya permasalahan di antara mereka bertiga selama belasan tahun lebih itu. Serius, aku sampai bilang, “Alhamdulillah akhirnya ada juga yang berani membuat keputusan dan tidak hanya pasrah, menggantung, dan menunggu saja, hahaha”. Dan keputusan yang diambil pun, sesuai pesan keras Mak Nyak, “harus yang paling adil” dan “big no no untuk poligami”. Sekali lagi Alhamdulillah ya. Tapi yang berani membuat keputusan itu jelas BUKAN Si Doel lah, Si Doel mah tetap, maunya pasrah dan ngikut-ngikut saja, tinggal menjalani saja dengan penuh kebingungan keputusan yang dibuatkan oleh orang lain untuknya.

Eh tapiii, kelegaan adanya orang yang berani mengambil keputusan untuk mengatasi masalah laten mereka bertiga tersebut ternyata tidak bertahan lama. Tepatnya hanya bertahan selama 3 menit saja, hahaha, tetot, karena setelah 3 menit berlalu, si pembuat keputusan itu mulai meragukan keputusan yang telah dibuatnya karena tidak siap dengan konsekuensinya, dan mulai bimbang serta galau lagi dengan keputusan yang telah diambilnya. Yeaahh back on the same old same old track lagi, d*mn, dan setelah itu ada tulisan “bersambung di the movie 3” di bawah wajah galau, bingung, dan bimbangnya itu dengan diiringi alunan indah musik “selamat jalan kekasih, kaulah cinta dalam hidupku…”. Nyebelin banget ga sih, bersambung lagi dong, dan kita mesti nunggu setahun lagi agar ada di antara mereka bertiga yang benar-benar berani membuat keputusan dan siap dengan segala tanggung jawab dan konsekuensinya, hahaha.

Hal-hal keren yang aku sukai dari film ini adalah yang pertama pesan keras, jelas, dan tegas Mak Nyak bahwa BIG NO NO to polygamy, yang kedua ketika Atun menyemangati Zaenab untuk “stand for her ground” alias mempertahankan/memperjuangkan apa yang sudah menjadi miliknya, dan yang ketiga adegan penuh kerumitan-perasaan Zaenab sambil memarut kelapa (ekspresi Maudy Koesnaedi okay banget) dan hanya Sarah yang menyadari bahwa tangan Zaenab terluka terkena parutan. Selain itu ya seperti yang kubilang di atas tadi, gambar-gambar yang indah, musik soundtrack yang indah, suasana nostalgia, sama satu lagi kelucuan Mandra yang orisinal. Jadi overall I will say, tonton saja film ini, tapi jangan berharap banyak, hehehe!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *