Siapa Bilang Menikah Itu Mudah?

Sebentar lagi adalah ulang tahun pernikahan saya yang kelima. Sebagian orang mengatakan, tahun-tahun pertama pernikahan adalah bulan madu. Namun sebagian orang lain menganggap masa awal pernikahan justru adalah fase tersulit, bahkan lima tahun pertama adalah fase yang kritis. Sebagai orang yang sedang melalui fase ini, saya lebih setuju dengan argumen yang kedua.

Bagi saya, lima tahun pertama ini adalah proses transisi dan adaptasi tiada henti yang membuat saya dan suami harus terus belajar saling memahami satu sama lain. Terlebih, menjadi seorang feminis ternyata membuat situasi semakin rumit. Saya harus terus bernegosiasi dengan standar-standar umum yang ada di masyarakat yang umumnya masih meyakini pembagian peran gender tradisional, baik ketika berhadapan dengan keluarga besar maupun dengan suami sendiri.

Saya kembali mengingat saat-saat lima tahun lalu, ketika saya memutuskan menikah di usia yang relatif muda yaitu 23 tahun. Saat itu, saya optimis bisa menjalankan pernikahan sesuai dengan standar “kefeminisan” saya, dalam arti adanya kesetaraan, pembagian peran yang adil, dan sama-sama bisa mengembangkan diri di ruang publik.

Saya merasa sudah memilih laki-laki yang tepat yang memiliki kesamaan visi dan nilai dengan saya. Kami berdua yakin akan menjadi pasangan ideal dan terhindar dari konflik-konflik yang tidak perlu. Namun ternyata saya salah. Pernikahan ternyata tidak bisa dipandang sesederhana itu. Ada banyak faktor baik di dalam maupun di luar rumah tangga yang bisa membuat pernikahan terancam jika tidak diantisipasi dengan baik.

Sebagai contoh, saya tidak pernah menyangka pengalaman masa lalu bisa berdampak begitu besar terhadap pernikahan saya saat ini. Suami saya berasal dari keluarga Jawa yang sangat tradisional dalam hal pembagian peran gender, seperti laki-laki dilarang memasak dan istri harus melayani suami. Meskipun dalam tataran pemikiran suami saya sangat feminis, namun ternyata pengalaman tersebut berpengaruh terhadap perilakunya sehari-hari.

Tanpa disadari, dia merindukan sosok ibunya pada diri saya sehingga menyimpan harapan-harapan tertentu yang tidak bisa saya penuhi. Tak terhitung berapa kali kami berkonflik karena hal ini. Tapi saya bersyukur, suami saya akhirnya menyadarinya dan kami mulai menata hubungan kami kembali.

Tak hanya suami, saya juga berusaha melepaskan bayang-bayang masa lalu yang terkadang mengganggu keharmonisan hubungan saya dengan suami. Sikap saya menjadi seorang feminis dipengaruhi pengalaman buruk saya di keluarga, di mana ibu saya mengalami KDRT dan ayah saya melakukan poligami. Karena pengalaman tersebut, saya jadi sangat sensitif jika merasa suami saya merendahkan atau tidak menghargai saya.

Misalnya, saya bisa langsung marah ketika suami mementahkan pendapat saya, meskipun hanya urusan remeh-temeh. Butuh waktu cukup lama hingga saya bisa memahami hal ini. Saya beruntung memiliki suami yang pengertian sehingga bisa sabar menghadapi sikap emosional saya yang kadang muncul tiba-tiba.

Lingkungan di luar rumah tangga juga turut mempengaruhi kehidupan kami, meskipun dalam hal ini kami lebih santai menghadapinya. Sebagai pasangan yang sama-sama berasal dari keluarga tradisional, kami “terpaksa” harus mengikuti standar umum yang ada di keluarga besar kami agar tidak menjadi bahan gunjingan.

Misalnya ketika mudik ke kampung halaman, saya bersikap melayani suami saya seperti mengambilkan makanan dan menyiapkan baju. Setibanya di rumah, kami hanya menertawakannya meskipun sebenarnya saya risih karena harus mengikuti tradisi yang tidak saya sukai.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa hal terpenting dalam sebuah hubungan adalah relasi yang setara. Masing-masing harus meyakini bahwa posisi mereka setara sehingga bisa saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Dengan keyakinan tersebut maka masalah apapun akan bisa diselesaikan dengan baik tanpa ada yang merasa tersakiti.

Saya pernah mengatakan pada suami saya,”aku menghormatimu, tapi kamu bukan pemimpinku, kita adalah tim.” Saya bersyukur bisa melalui lima tahun pernikahan ini dengan tetap memegang teguh prinsip kesetaraan antara saya dan suami. Saya yakin ke depan akan lebih banyak tantangan yang kami hadapi, tapi kami percaya bisa melewatinya. Doakan kami ya!

Lutviah

Bagikan:

Bawaan Situs

Lutviah, Seorang ibu dengan satu anak perempuan. Paling senang menghabiskan waktu dengan keluarga sambil kuliner dan jalan-jalan. Tertarik pada isu gender, parenting, lingkungan, dan pluralisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *