SILENCE (2016): BAGAIMANA CINTA KITA KEPADA TUHAN MEWUJUD DI DALAM CINTA KITA KEPADA SESAMA MANUSIA

Okay, film Andrew Garfield kedua yang akan aku review adalah Silence. Film yang release tahun 2016 ini agak sulit sih aku nyarinya. Setelah aku cek dan ternyata tidak ada di Netflix, Disney+ Hotstar, HBO GO, dan Google Play, akhirnya aku nemu juga film ini di Catchplay+. Jadi di Catchplay+ (sama sepert di Google Play) kita punya pilihan apakah akan berlangganan aplikasi ini bulanan, 3-bulanan, tahunan atau bisa juga kita hanya menyewa saja film yang mau kita tonton. Aku pilih menyewa, istilahnya single rental.

Untuk satu film sewanya 15.000 berlaku selama 48 jam. Lucu ya zaman sekarang, udah kayak beli tiket bioskop saja. Caranya gampang banget kok, registrasi dulu di Catchplay+, bikin akun, dikonfirmasi, pilih mau langganan atau single rental, setelah itu bayar deh. Aku bayarnya pakai Gopay (ada banyak pilihan cara bayar lainnya juga). Setelah berhasil pembayaran lewat Gopay, kita akan diberikan akses selama 48 jam untuk menonton film itu. Setelah 48 jam, aksesnya habis, kita mesti nyewa ulang kalau mau nonton lagi.

Silence adalah film yang disutradarai oleh Martin Scorsese berdasarkan novel terkenal dengan judul yang sama karya Shusako Endo (1966). Temanku pernah baca dan menulis review novel ini (ada di website ini juga). Aku sendiri belum baca novelnya, jadi aku tidak punya modal pengetahuan apapun ketika hendak menonton film ini (which is a good thing karena berarti akan banyak kejutan untukku). Sebelumnya, novel ini juga pernah difilmkan pada tahun 1971, juga dengan judul yang sama.

Film ini berlatar belakang Jepang abad 17 M dan bercerita tentang 2 orang pastor Jesuit Portugis yang bernama Sebastiao Rodrigues dan Francisco Garupe yang memutuskan untuk pergi ke Jepang untuk mencari kabar tentang guru kebanggaan mereka Cristovao Ferreira yang sudah pergi ke Jepang sebelumnya dan tidak kembali lagi. Pada tahun-tahun ini, Portugis dan Spanyol memang sedang gencar-gencarnya mendakwahkan ajaran Kristiani-nya ke seluruh dunia, tidak terkecuali Jepang. Namun pada saat itu, otoritas Jepang menolak mentah-mentah ajaran ini, dan bahkan memburu (serta membunuh dengan kejam) para pastor yang melakukan misi misionarisnya ke sana, kecuali jika mereka mau menyatakan murtad dan mengingkari agamanya.

Tidak hanya memburu dan membunuh para misionaris Eropa saja, otoritas setempat juga memburu dan membunuh warga Jepang yang memeluk agama Kristen (kebanyakan para petani penggarap), kecuali mereka mau murtad dan kembali lagi ke ajaran agama nenek moyang mereka (Buddha). Maka pada tahun-tahun ini, orang-orang Kristen di Jepang menjalankan ajarannya dengan sembunyi-sembunyi yang dikenal dengan istilah kakure kirishitan atau hidden Christian.

Kabar yang beredar mengatakan bahwa Father Ferreira telah murtad dari Kristen dan beralih memeluk agama setempat setelah mengalami penyiksaan. Tapi kedua pastor muda murid paling setia Father Ferreira, yaitu Father Rodrigues dan Father Garupe sama sekali tidak mempercayai kalau guru junjungan mereka akan bisa sampai murtad. Mereka berdua pun bersikeras untuk mencari Father Ferreira ke Jepang, walaupun sudah diperingatkan oleh pimpinan pastor bahwa hal itu akan sangat berbahaya karena rata-rata para pastor yang dikirim ke Jepang tidak pernah kembali lagi. Tapi Rodrigues dan Garupe sudah mantap dengan niat mulia mereka menemukan Ferreira guru mereka.

Father Rodrigues adalah Andrew Garfield dan Father Garupe adalah Adam Driver, huhuy banget ngga sih, dua aktor tampan nan seksi idolaque beradu akting bersama, pasti akan sangat memanjakan mata. Tapi eits tunggu dulu, di scene pertama aku melihat mereka berdua, mataku langsung terbelalak. Mereka kuruussssss bangeeeeet. Beneran ini si ganteng Garfield dan Driver? Ya memang mereka, cuman gilak kurus amat ya mereka.

Ternyata memang demi untuk memainkan perannya di film ini, Garfield dan Driver sengaja menurunkan berat badannya agar supaya lebih bisa menubuhkan kedua pastor yang hidupnya prihatin dan jauh dari kesenangan duniawi ini. Garfield sampai turun berat badan 40 pound (sekitar 18 kg lebih) dan Driver 50 pound (sekitar 23 kg). Bisa dibayangkan kan, mereka berdua kan aslinya saja memang sudah kurus (maksudnya bukan aktor yang berbadan kekar gitu), nah ini ditambah turun sedemikian banyak. Aku jadi ngiri, apa aku harus jadi aktor dulu ya supaya bisa nurunin berat badan 20 kg dalam waktu singkat. Heh fokus, fokus, wkwkwkwk.

Bagaimana cara Garfield dan Driver bisa turun berat badan sebanyak itu? Ya seperti yang dilakukan oleh para pemuka agama yang sebenarnya, mereka melakukan puasa dan selibat dari dari hal-hal keduniawian, termasuk di lokasi syuting. Kata Garfield dia dan Driver sangat ngiler banget ketika di lokasi syuting pada jam makan, semua orang menikmati makanan banyak dan enak-enak yang disediakan di meja, sementara mereka hanya bisa ngelihatin doang, wkwkwk. Tapi apakah mereka beneran ngga cheating? “Ya cheating lah sedikit-sedikit, kami nyuri-nyuri makan sedikit,” kata Garfield dalam sebuah wawancara, wkwkwk ngakak aku.

Tidak hanya itu, Garfield dan Driver pun juga melakukan apa itu namanya yang selama 7 hari kita menyepi dan berdoa saja dalam diam, ngga boleh ngomong, retret ya namanya. Mereka juga belajar langsung dari pastor-pastor Jesuit di New York demi bisa tahu (dan menubuhkan) seperti apa sih kehidupan dan gaya hidup para pastor Jesuit. Jadi jangan dibandingkan dengan sinetron kejar tayang kita yang syuting pagi hari buat ditayangin malam harinya ya, tolong, wkwkwk. Film Silence ini mendapatkan sambutan yang bagus dan juga mendapatkan nominasi Best Sinematography di Academy Award (Oscar) 2017.

Okay, sekarang kita masuk sedikit ke alurnya ya. Rodrigues dan Garupe akhirnya sampai ke Jepang dengan bantuan penunjuk jalan orang Jepang yang bernama Kichijiro. Sesampainya di Jepang, mereka menyaksikan petani-petani miskin yang memeluk agama Kristen hidup dengan sangat menderita. Harus sembunyi-sembunyi menjalankan agamanya jangan sampai ketahuan otoritas setempat kalau mereka Kristen, ditambah dengan kemiskinan yang mendera dan pajak yang mencekik, ditambah lagi mereka tidak punya tokoh agama (pastor) yang bisa membimbing mereka menjalankan ajaran Kristiani, menerima pengakuan dosa mereka, membaptis anak-anak mereka, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka, dan seterusnya.

Maka bisa dibayangkan betapa senangnya mereka ketika bertemu dengan Father Rodrigues dan Father Garupe. Walaupun tentu kedua pastor ini harus selalu bersembunyi jangan sampai ketahuan ketika ada inspeksi dari aparat setempat ke desa-desa itu. Namun lama-kelamaan mulai tercium juga lah keberadaan mereka di desa-desa itu. Rodrigues dan Garupe juga banyak menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana petani-petani miskin itu menolak murtad meskipun karena itu mereka harus menghadapi siksaan berupa dibunuh perlahan-lahan secara menyakitkan. Mereka punya keyakinan bahwa mati dengan cara seperti itu (demi mempertahankan agamanya) maka surga (paradise) yang penuh keindahan lah yang akan menanti mereka.

Setelah melihat banyak sekali orang menderita dan bahkan mati disiksa demi mempertahankan agamanya, jauh dalam lubuk hatinya Rodrigues mulai mempertanyakan, kok Tuhan silence alias diam saja melihat semua itu, apakah orang-orang itu belum cukup menderita untuk-Nya? Atau justru karena Tuhan sudah mempersiapkan ganjaran besar di akhirat nanti sebagai ganti atas penderitaan di dunia yang maha dahsyat itu?

Rodrigues pun akhirnya tertangkap dan ditawan oleh pemerintah Jepang dan bertemu bahkan sempat bertukar pikiran dengan orang paling berkuasa di sana yang terkenal dengan sebutan sang Inquisitor, yaitu gubernur Inoue Masashige. Sang gubernur pun kemudian sadar kalau ancamannya hanya disiksa hingga mati perlahan-lahan secara menyakitkan saja tidak akan cukup untuk untuk bisa memurtadkan pastor sekelas Rodrigues yang tentu saja tanpa keraguan akan siap mengorbankan dirinya sebagaimana Yesus Kristus. Dan ketika para penganut Kristen di Jepang melihat pastor mereka mengorbankan dirinya demi agamanya, hal itu justru akan semakin melipatgandakan iman mereka bukan?

Maka sang gubernur pun mengubah strateginya, strategi yang membuat bahkan pastor sekelas Rodrigues pun akhirnya mengalami kegamangan luar biasa. Rodrigues juga akhirnya sempat bertemu dengan Father Ferreira yang dicarinya itu. Apa yang kemudian terjadi? Lihat sendiri saja filmnya, kan ngga mau spoiler aku, wkwkwk, atau DM aku deh kalau malas nonton filmnya tapi pengen tahu bagaimana kelanjutan ceritanya, hehehe.

Andrew Garfield di sini, kereeenn bangeeeett. Aku ngga tahu sih apa pandanganku ini masih objektif atau sudah dibutakan oleh cinta, eaaaaa, tapi beneran, suerrr, doi keren banget di sini. Bisa banget men-deliver semua perasaan kegelisahan, kegamangan, kekuatan, cinta kasih, kekecewaan, pengabdian, dan kemarahan Pastor Rodrigues. Penampilannya secara fisik juga dapat banget deh, pas banget, sebagai pastor muda Jesuit kurus dengan bulu-bulu di wajah dan rambut gondrong ala Yesus Kristus. Dan, man, he has such a really good hair banget yak, tebal, bagus, lembut dengan warna coklat keabu-abuan. Udah, udah, shush, nanti merembet ke mana-mana, wkwkwkwk.

Bhaique, jadi rating dari aku untuk film Silence ini 8.5 dan akting Andrew Garfield di film ini 9.5, mantaaapp!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | SILENCE (2016): BAGAIMANA CINTA KITA KEPADA TUHAN MEWUJUD DI DALAM CINTA KITA KEPADA SESAMA MANUSIA
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *