SILENCE – SHUSAKU ENDO: Manakah yang Akan Kamu Pilih, Cintamu Pada Tuhan Ataukah Kemanusiaan?

Sebenarnya buku ini sudah nangkring agak lama di rak, tapi entah kenapa baru beberapa minggu yang lalu aku tergerak untuk membacanya, ketika kehabisan bacaan dan sedang merasa miskin untuk beli buku baru. Well, to be honest, awalnya aku nggak berharap terlalu banyak sama buku ini. Alasannya simpel, karena aku nggak suka covernya (haha, shallow banget yaks, tapi aku emang suka kekgitu orangnya, judge a book by its cover, literally). Dan emang sih, first impression, dua–tiga lembar gitu, aku merasa buku ini bakalan biasa-biasa saja, nothing special, “hanya” menceritakan perjalanan beberapa misionaris Portugis yang mengelana ke Jepang untuk mencari guru mereka yang sudah menjadi misionaris duluan. Setelah bertahun-tahun tidak ada berita apapun, sang guru tercinta itu, yang konon adalah seorang pastor tersohor di Portugis, telah mengingkari imannya dan keluar dari gereja.

Dengan setting Jepang di tahun 1600an, novel ini bercerita tentang masa-masa ketika pelayaran samudra sedang gencar-gencarnya. Ketika Portugis dan Spanyol sedang semangat menyebarkan ajaran Kristen ke seluruh penjuru dunia. Sementara saat itu Jepang juga sedang gencar-gencarnya melakukan gerakan anti-Kristus. Pada tahun-tahun itu, ribuan pengikut Kristen Jepang, termasuk juga para misionaris yang tinggal di sana ditangkap, disiksa, dan dibunuh dengan cara-cara yang kejam dan tidak manusiawi.

Persangkaanku novel ini akan banyak bercerita tentang perlawanan heroik para martir dalam membela agamanya, dengan bumbu melankolis dan menyentuh di sana-sini. Tapi ternyata saudara-saudara, setelah nyaris separuh membaca buku ini, dengan segala kerendahan hati aku kemudian mengakui bahwa buku ini adalah salah satu dari sedikit buku yang—ketika selesai membacanya, aku merasa harus menghela napas panjang saking tidak bisanya mendeskripsikan perasaanku: antara terharu karena kisah itu ditulis dengan sangat bagus (dari segi gaya bahasa), karena cerita yang begitu indah terjalin sampai benar-benar mengaduk perasaan (dari plot ceritanya), dan juga karena makna ataupun pesan implisit yang disampaikan oleh cerita itu begitu mengena di hati dan menggelitik naluri kemanusiaanku dengan begitu luar biasa. Kenapa, well, let me tell you why.  

Cerita bermula dari misionaris muda Portugis, Father Rodrigues dan Garrpe, yang berangkat dari Portugis menuju Jepang untuk sebuah misi rahasia: mencari mentor mereka Father Ferreira yang sudah lebih dulu berangkat ke Jepang untuk misi misionaris, dan yang dikabarkan telah meninggalkan gereja. Setelah perjalanan yang cukup panjang dan penuh perjuangan, akhirnya Rodrigues (yang menjadi tokoh sentral dalam novel ini) dan Garrpe berhasil sampai ke tanah Jepang, dengan bantuan seorang Jepang yang mereka temui di Macao bernama Kichijiro. Kichijiro ternyata adalah seorang Katholik Jepang yang menyembunyikan identitas keagamaannya, karena memang pada saat itu Jepang sedang dalam masa Kakure Kirishitan (“Hidden Christians”).

Yeups, Kristen menjadi agama terlarang di Jepang pada masa itu, dan para pemeluk agama Kristen, yang kebetulan kebanyakan adalah para petani miskin, dibantai secara kejam oleh penguasa. Selama bertahun-tahun tidak ada misi misionarisme ke Jepang karena keadaan yang tidak memungkinkan tersebut. Jadi, ketika Rodrigues dan Garrpe berhasil mencapai Jepang dan bertemu dengan para penduduk Kristen Jepang secara sembunyi-sembunyi dengan bantuan Kichijiro, kedua pastor muda itu merasa excited dengan “kesempatan” mereka menjadi pelayan Tuhan di tanah yang haus akan keindahan dan kesejukan iman dan cinta kasih Tuhan. Mereka merasa telah membawa kebaikan dan berkat Tuhan kepada para petani miskin yang hidup menderita di bawah tekanan para tuan tanah, dengan iman dan cinta kasih Tuhan. Karena mau sesulit apapun hidup mereka, selama mereka tetap menjadi manusia yang beriman, maka mereka akan dijanjikan temple of paradise oleh Tuhan.

Pada saat itu, kedua pastor muda tersebut merasa telah live their life dengan mengabdi pada jalan Tuhan dan memberikan jalan yang terang kepada mereka yang tercerahkan. Berada dalam persembunyian mereka di sebuah pondok pencari kayu di atas bukit, kedua misionaris tersebut melakukan pelayanan kepada para pemeluk agama Kristen yang secara rahasia menyembunyikan keimanannya. Dalam persembunyian tersebut, mereka menyaksikan juga bagaimana penguasa yang kejam menyiksa dan membunuh para pengikut Kristen yang menolak untuk meninggalkan keyakinannya. (Bisa dibayangkan kan bagaimana kejamnya orang Jepang dalam hal siksa-menyiksa?). Walaupun sedih dan marah pada penguasa yang serasa begitu sewenang-wenang dan menindas rakyat, merasa tersentuh dengan betapa teguhnya para petani tersebut mempertahankan imannya. Merekalah yang kemudian akan disambut Tuhan di surga-Nya, to the temple of paradise. Begitu yang selalu mereka nyanyikan setiap kali menghadapi siksaan para samurai. 

Tapi ternyata saudara-saudara, kehidupan damai dan “agak seperti pengecut”—menurut pemikiran Father Rodrigues, karena dia membayangkan seorang misionaris haruslah mengalami penderitaan seperti Yesus saat menjalani penyaliban—akhirnya harus berakhir juga. Karena tidak dapat lagi bersembunyi di pondok rahasia tersebut selamanya, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah dan mencari desa-desa Kristen lain di wilayah tersebut.  Bisa ditebak dong, kalau kemudian kedua orang tersebut tertangkap. Father Rodriguez, yang pada saat pengembaraannya ditemani Kichijiro yang dulu menolongnya masuk ke Jepang, akhirnya tertangkap karena “dijual” oleh Kichijiro kepada penguasa dengan imbalan 30 keping perak (well, dalam hal ini dia menyamakan nasibnya dengan Yesus yang dijual oleh Judas, dan dia berusaha keras memaafkan Kichijiro, yang kemudian dia sadari: ternyata tak semudah itu memaafkan musuh).

Akhirnya dia dijebloskan ke penjara, mengalami penyiksaan, kelaparan, dan pemeriksaan yang seakan tiada habisnya, serta dipaksa untuk mengingkari keimanannya. Tapi bisa ditebak deh, dalam kondisi seperti ini, akan sangat mudah menempatkan hati kita untuk tetap berpegang teguh pada apa yang kita percayai sebagai sesuatu yang baik dan mulia. Karena ini semua toh hanya sebuah perjalanan menuju keimanan, penderitaan yang tak seberapa jika dibandingkan dengan Yesus yang harus memanggul salibnya.  

Rodriguez tetap bertahan. Sampai kemudian, dia bertemu dengan Magistrate Inuoe, gubernur wilayah tersebut, yang terkenal dengan metode cross-examination-nya yang tiada ampun, yang bahkan konon dikabarkan membuat Father Ferreira, mentornya, meninggalkan gereja. Tentu saja Rodriguez sudah membayangkan akan mengalami penyiksaan yang luar biasa, dan dia sudah mempersiapkan mentalnya untuk bertahan sampai titik darah penghabisan untuk bertemu dengan Inuoe yang kondang akan kekejamannya di seantero jagad permisionarisan itu. Tapi anehnya, Inuoe yang dia bayangkan itu ternyata adalah seorang tua yang lemah lembut, yang memperlakukannya dengan baik dan santun, yang bahkan sejak pertemuan pertama mereka tidak pernah membahas apapun mengenai pe-murtad-an.

Inuoe, yang dulunya juga adalah pemeluk Katholik, malah mengajaknya berdiskusi tentang apa bedanya Budhism dengan Kristen, toh mereka juga sama-sama mengajarkan hal yang baik. Dia juga menyampaikan bahwa mungkin saja kekristusan itu cocok di tanah kelahiran Rodriguez di Portugis, tapi tidak di Jepang. Jepang melarang ajaran Kristen berkembang di sana bukan karena mereka benci atau tidak suka dengan ajaran tersebut, tapi semata-mata karena hal itu tidak cocok dengan budaya dan akar Jepang. “Bibit yang baik ketika ditanam di tanah yang tidak cocok, tidak akan menghasilkan daun dan buah yang baik,” begitu kata Inuoe kepada Rodriguez. Dan jikalau Jepang sudah memiliki sesuatu yang baik dan sesuai dengan budaya masyarakatnya, kenapa pula mereka harus menerima benih asing dari tanah seberang yang belum tentu cocok untuk ditanam di tanah itu?

Setelah pertemuan dengan Inuoe, anehnya, Rodriguez diperlakukan secara baik selama di penjara. Jatah makannya yang dulu hanya sekali sehari menjadi dua kali sehari, diberi alas tidur, dan bahkan diperbolehkan untuk bertemu dengan pemeluk Katholik lainnya yang juga dipenjara di tempat yang sama dengan sang Pendeta, untuk memberikan pemberkatan dan pengakuan dosa. Dalam masa-masa itu juga, Rodriguez menyaksikan pengikut-pengikutnya yang setia itu disiksa—bahkan dibunuh, karena mereka menolak untuk meninggalkan Yesus yang mereka percayai. Pada saat itulah Rodriguez mulai merasa ragu, kenapa, setelah bertahun-tahun, setelah segala penyiksaan dan kekejaman atas iman mereka, Tuhan yang dia cintai dan dia puja tetap diam saja. Kenapa Dia tidak menolong umat-Nya di saat telah begitu banyak darah yang tumpah demi membela-Nya, kenapa dia tidak menggerakkan hatinya untuk menciptakan keajaiban di tanah ini, bagi pengikut-pengikut setianya yang rela mati.

Dalam hatinya, dia mulai meragukan eksistensi Tuhan. Tapi sekali lagi, kata hatinya mengatakan bahwa dia harus tetap setia kepada-Nya, karena toh jika dia tidak mendapatkan balasan atas imannya di muka bumi, maka kerajaan Tuhan akan menerimanya ketika dia mati sebagai martir yang membela nama Tuhan. Dia mendambakan kejayaan mati sebagai seorang martir dan meraih surga yang telah dijanjikan bagi orang-orang yang beriman.

Singkat cerita, Inuoi meminta Rodriguez untuk gave up his faith, atau dia tidak akan menghentikan penyiksaan dan pembunuhan atas petani-petani tersebut. Cerdasnya Inuoi, dia tahu bahwa seperti apapun dia menyiksa para petani tersebut, mereka tetap akan bertahan selama masih ada pendeta yang menjadi jangkar keimanan mereka, maka dia mengubah strategi dengan “memaksa” sang misionaris untuk menyatakan pengingkarannya. Pada awalnya Rodriguez tetap menolak, bahkan ketika dia menyaksikan temannya Garrpe juga meninggal karena membela para petani tersebut, pun ketika satu persatu para petani tersebut dibunuh di depannya. Karena dia yakin bahwa mereka yang meninggal di jalan Tuhan tersebut adalah orang-orang yang akan mendapatkan tempat yang indah di kerajaan-Nya.

Sampai akhirnya, dalam satu kesempatan, bertemulah Rodriguez dengan mentornya yang menghilang, Father Ferreira. Beliau sendiri yang kemudian meminta Rodriguez untuk murtad, atas nama cinta kasih pada umat manusia. Pada saat itulah Father Ferreira kemudian mengungkapkan, bahwa sebenarnya para petani tersebut sudah mengingkari imannya, tapi mereka tetap disiksa dan dibunuh karena Rodriguez menolak untuk murtad. Jadi sebenarnya, siapa berkorban untuk siapa? Petani-petani tersebut, yang menghadapi siksaan dan ancaman pembunuhan, telah setuju untuk tidak lagi mempercayai Kristen, tapi nasib mereka benar-benar bergantung kepada Rodriguez. Sampai pada titik tersebut, Rodriguez tetap tidak percaya dan menganggap Ferreira sebagai pengecut yang tidak bertanggung jawab dengan kedudukannya sebagai pemimpin umat.

Hingga akhirnya, Rodriguez ditempatkan di sebuah sel kecil, tempat di mana dia bisa menyaksikan (dan mendengarkan) para petani bekas pemeluk Katholik yang digantung terbalik dengan sayatan di balik telinga sehingga mereka akan mati secara perlahan karena kehabisan darah (yang tentu saja lama dan menyakitkan). Nasib para petani tersebut benar-benar tergantung pada kesediaan Rodriguez untuk give up his faith. Jika dia bersedia murtad, maka petani-petani tersebut akan dibebaskan. Pada saat itulah Ferreira berkata bahwa jangan sampai Rodriguez terjebak pada keegoisannya tentang impian hampir semua pelayan Tuhan atas the glory of martyrdom, yang bisa dibilang merupakan pencapaian tertinggi manusia dalam menunjukkan cintanya kepada Tuhan.

Jika kepercayaan tersebut diperoleh dengan mengorbankan hidup orang lain yang sebenarnya tidak mendapatkan apa-apa darinya (toh para petani tersebut sebenarnya juga sudah murtad), apakah benar itu yang diperintahkan oleh Tuhan? Apakah hal tersebut akan memberikan kebaikan bagi umat manusia? Satu kalimat Ferreira kepada Rodriguez yang sungguh menyentuh adalah ketika mantan misionaris tersebut berkata kepada muridnya: “Jika kamu harus memilih antara cintamu kepada Tuhan dan cintamu kepada kemanusiaan—yang selama ini kamu yakini untuk kamu perjuangkan, mana yang akan kamu pilih? Aku yakin—jika Dia ada di sini, maka Diapun akan memilih untuk murtaddan memberikan apa yang paling berarti dalam hidupnya demi bisa menyelamatkan nyawa manusia, karena itulah sebenarnya cinta kasih yang sesungguhnya.”

Jadi begitulah, kenapa novel ini membuat aku menghela napas. Pertama, novel ini menggambarkan dengan begitu realistis mengenai pergulatan manusia. Endo tidak dengan begitu saja menggambarkan sang misionaris sebagai manusia dewa yang tangguh dan selalu baik hati, tetapi dia juga menggambarkan sisi manusia Rodriguez yang begitu sulit memaafkan Kichijiro yang sudah “menjualnya” kepada penguasa. Dia mencoba menerima itu sebagaimana Yesus menerima Judas yang juga telah mengkhianatinya, tapi ternyata hal itu tak semudah ketika mendengarkan kisahnya dan mempelajarinya di seminari, Ferguso! It’s easy to be spoken, but not to be done.

Yang kedua, Silence secara jitu berhasil sedikit “menyentil” caraku mencintai Tuhan dan agama sebagaimana yang selama ini selalu diajarkan padaku. Dalam pendapatku, cinta kepada Tuhan adalah sesuatu yang indah, membela agama dan mempertahankan keyakinan adalah sesuatu yang luar biasa, dan mereka yang tetap teguh pada iman dan keyakinannya meskipun apapun yang terjadi adalah indah. Tapi, jika berada dalam posisi Rodriguez maupun Ferreira, mungkin Ferguso pun juga akan bingung deh. Bagi kebanyakan orang, mudah bagi mereka untuk menanggung siksaan ketika itu ditimpakan kepada mereka sendiri, tetapi ketika hal tersebut ditimpakan kepada keluarga, anak, saudara, teman (atau bahkan umatnya—dalam kasus Rodriguez), atau bahkan mungkin orang-orang yang tidak mereka kenal sama sekali, manusia paling keras hati sekalipun pasti akan berpikir kembali.

Iman dan agama memang membawa kepada kehidupan yang lebih baik bagi umat manusia, tapi sebenarnya apalah arti semua itu jika malah menimbulkan kerusakan dan kebencian, mendatangkan penderitaan bagi golongan tertentu, dan bahkan melukai kemanusiaan itu sendiri? Lalu sebenarnya siapakah yang kita bela? Atau jangan-jangan, sebenarnya kita malah terjebak dalam keegoisan kita sendiri untuk secara posesif meraih cinta Tuhan dan mengabaikan kemanusiaan? Jangan-jangan ini hanya keegoisan kita yang terlalu merindukan surga!   

Nah, menurutmu, apa yang kemudian dipilih oleh Rodriguez?

Sukmo Pinuji

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!
Bagikan:

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *