Small Thing with Big Impact

Sewaktu aku tinggal di Jerman pada tahun 2005, aku beberapa kali berkunjung ke negara-negara sekitar. Selain karena dekat juga karena biayanya yang murah. Salah satunya aku memanfaatkan kesempatan sudah berada di Eropa dengan mengunjungi Italia, salah satu negara yang paling ingin aku kunjungi di seluruh dunia. Pada waktu itu aku sedang diajak oleh host family untuk berlibur di Austria, kampung halaman dia. Aku langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk ke Italia karena jauh lebih dekat dibandingkan kalau harus berangkat dari Hamburg.

Akhirnya aku ke Venezia naik bis umum bersama dengan para wisatawan lainnya. Oh ya, I was 23 back then. Nah salah satu teman seperjalananku adalah seorang ibu-ibu berusia 50 tahunan orang Austria yang juga sedang ingin berlibur ke Venezia. Sejak di bis dia sudah mengajakku ngobrol, dan dia serta orang-orang lain di bis terkagum-kagum karena aku bisa berbicara Bahasa Inggris, padahal Bahasa Inggrisku biasa banget malah bisa dibilang jelek. Karena banyak dari mereka pada waktu itu yang tidak bisa Bahasa Inggris. Mungkin karena aku naik bis umum sehingga mungkin teman-teman seperjalananku adalah dari kelas menengah ke bawah yang tidak merasa perlu belajar Bahasa Inggris. Ada juga teman seperjalanan lain seorang bapak-bapak dari Jerman Utara yang mengatakan, “kamu tahu kenapa aku suka sekali dengan daerah selatan, lihat gunung itu, indah sekali bukan, wow”. Ya, ya, aku maklum dia mengatakan hal itu karena di Jerman Utara yang sangat datar itu, bahkan polisi tidur pun bisa dianggap bukit, hehehe. Dia tidak tahu dia berbicara dengan orang yang sebelumnya tinggal di Bandung di mana the whole city-nya dikelilingi gunung.

Sesampainya di Venezia, si ibu dari Austria itu entah kenapa langsung mentraktirku semangkok besar gelato dengan tutti fruity yang sangat lezat sekali. Setelah itu kami berpisah dan berjalan-jalan masing-masing. Di sore hari kami harus berkumpul lagi di bis di jam yang sudah ditentukan, dan si ibu kembali mengajak aku nongkrong di sebuah café di dekat parkiran bis dan mentraktirku secangkir Italiano cappuccino dan pastry. Bahkan ketika kami sudah naik ke dalam bis—kami pulangnya tidak duduk bersebelahan lagi—si ibu memberiku bungkusan yang berisi minuman kaleng dan makanan ringan. Akhirnya aku tidak bisa menahan lagi rasa penasaranku dan bertanya kenapa dia melakukan itu semua. Apa tampangku kelihatan kasihan banget ya batinku, hehehe. Tapi ternyata si ibu itu menjawab, “aku cuman ingin kamu mempunyai kenangan indah tentang orang Austria”. Deg, jawaban yang sungguh dalam sekaligus indah. Small thing with big impact. And yes Bu, ibu berhasil kok. Sampai sekarang aku masih mempunyai kenangan indah tentang orang Austria.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *