Tebing Breksi Sambirejo: Wisata Tebing Batuan Breksi yang Dikelola oleh Warga Setempat

Lokasi wisata alam Tebing Breksi ini memang happening-nya sudah beberapa tahun yang lalu ya di Yogyakarta. Tapi seperti biasa, karena tempat ini lokasinya dekat, kurang dari 45 menit saja naik motor santai dari rumahku, jadi kan pasti mikirnya nanti-nanti saja lah lihatnya, kan bisa kapan saja ke sananya, toh tebingnya nggak akan ke mana-mana ini. Dan tahun-tahun pun berlalu, hehehe. Sampai pagi ini teman kami mengajak kami ke sana. “Untuk nongkrong di Balkondes-nya saja,” demikian katanya, “kopinya lumayan lho”. Wow tawaran es kopi beneran (bukan sachetan) di siang hari yang panas menyengat di Bantul tentu sulit ditolak ya. Apalagi “cuman nongkrong”, jadi kan ngga capek ya, ngga perlu mendaki-daki tebing, hahaha, dasar, ngakunya aja menolak tua, tapi kelakukannya kok sudah kayak orang berumur banget.

Anyway, jam 11.30 kami berangkat dari rumah dan sekitar jam 12 lebih kami sudah sampai di Balkondes Tebing Breksi yang berlokasi di Sambirejo, Prambanan, Sleman. Kami langsung menuju ke Balkondes-nya untuk memesan es kopi susu seperti yang dibayangkan dan juga gorengan sambil menunggu teman kami datang. Sejak memasuki loket masuk dan membeli tiket seharga 5.000 (turis asing 10.000) saja per orang, sudah terlihat sekali sih terpampang nyata di depan mata, Tebing Breksi menjulang tinggi di hadapan kami. Breksi diambil dari nama batuan tebing tersebut, yaitu—menurut Wikipedia—batuan yang terdiri dari fragmen-fragmen mineral rusak atau batuan yang disemen secara bersama-sama oleh matriks berbutir halus yang dapat mirip dengan atau berbeda dari komposisi fragmen. Breksi ini memiliki bentuk menyudut.

Aku langsung teringat, 10 tahun yang lalu aku pernah kelayapan di daerah ini bersama suamiku, dan tebing ini tentu saja sudah ada, tapi memang belum dijadikan lokasi wisata. Ini yang aku suka dari Jogja, warganya banyak yang kreatif menggali potensi yang ada di wilayahnya (dengan bantuan dari pihak luar juga sih). Misalnya saja Hutan Pinus Mangunan, 10 tahun yang lalu aku beberapa kali lewat sana ya itu hutan pinus saja yang sepi dan liar dan sering dipakai anak-anak remaja setempat untuk mojok, sekarang sudah entah berapa tujuan wisata berlokasi di situ. Demikian juga dengan Tebing Breksi ini, dan yang mengelola adalah orang lokal, penduduk setempat, itu yang aku suka.

“Wah ini dulunya apa ya Pak tempat seluas ini,” tanyaku kepada bapak-bapak yang mengelola warung makan di Balkondes, takjub melihat lokasi seluas itu di sekeliling Tebing Breksi yang dijadikan kompleks wisata. Parkiran bisnya aja segede RT-ku, hahaha agak lebay sih ini. “Ya tempat penambangan batu liar gitu,” jawab si bapak. “Terus yang mbangun siapa Pak,” tanyaku lagi. “Telkomsel Mbak, tapi pengelolaannya diserahkan ke warga”, jelas si bapak. Oh mungkin ini salah satu program CSR-nya Telkomsel, boleh juga Telkomsel, batinku. Tapi habis itu aku ngomel karena kartu simpati-ku susah signal di sana. Gimana sih Telkomsel ini, hahaha.

Setelah temanku datang, kami pun mulai mengobrol ngalor-ngidul berlima. Aku, suamiku, temanku, suaminya, dan anaknya yang masih TK. Seperti biasa obrolannya random sekali, dari mulai yang berfaedah seperti ngomongin sel-sel tubuh, pergeseran sosial zaman kita kecil dulu dan sekarang, sampai yang tidak berfaedah seperti bagaimana suamiku bisa mendefinisikan sebuah lokasi dari baunya, hahaha. Tidak lupa kami pun selalu meng-include-kan anak teman kami yang masih TK ke dalam obrolan, misalnya menanyakan bagaimana kabar teman TK-nya yang sering mem-bully-nya atau apa yang tengah dia gambar sambil tiduran di lantai dari tadi. Intinya sebenarnya aktivitas kami sama saja dengan ketika kami nongkrong di warung kopi di dekat rumah di Jogja atau ketika kami saling mengunjungi rumah masing-masing. Hanya saja ini dengan pemandangan yang lebih bagus, angin yang lebih sejuk, dan suasana yang lebih menyenangkan saja, hehehe.

Kalau saja si bocah TK tidak merengek mengajak kami naik ke Tebing Breksi, mungkin kami benar-benar hanya “pindah ngopi” saja dari rumah ke atas bukit, hehehe. Akhirnya dengan malas-malasan aku dan temanku pun mau mengikuti si bocah naik ke tebing yang tingginya mungkin sekitar 2o meter, tapi sudah dibikinkan tangga kok, tenang saja, hehehe. Suami-suami kami? Tentu saja tidak ikut, dan lebih memilih tetap di Balkondes menikmati kopi sambil membicarakan peradaban dunia, hahaha.

Setelah kami berada di atas Tebing Breksi ya sebenarnya tidak ada bedanya dengan berada di sebuah taman saja sih. Kan kalau sudah di atas kita tidak akan terasa kalau kita berada di atas sebuah tebing batuan breksi, hehehe. Ya kecuali pemandangannya yang sangat indah dari atas sih, bisa melihat Kota Jogja di bawah sana dari kejauhan. Lalu apa isi taman di atas Tebing Breksi tersebut? Yes, spot-spot foto, no surprise lah ya. Zaman sekarang dengan kebutuhan eksis di Instagram yang sangat tinggi, semua tempat jadi menyediakan spot foto. Mau pantai, mau gunung, mau hutan, mau tebing, mau bangunan bersejarah, semua ada spot fotonya. Kadang mirip-mirip lagi idenya, ada lope-lope dan bunga-bunga, yang lebih cheesy lagi kalau ada kata-kata noraknya, seperti “halalin aku dong”, haduh. Untung kalau di Tebing Breksi ini ngga ada kata-kata wagunya. Dan spot-spot fotonya lumayan sih, ada yang menarik ada yang biasa saja.

Semua spot foto di sana bisa kita gunakan hanya dengan memasukkan uang seikhlasnya ke dalam kotak yang disediakan di depan masing-masing spot foto. Kalau kita tidak membawa tongsis kita bisa menggunakan tongbro yang ada di sana alias “Bro tolong fotoin dong,” hahaha, garing yak. Tapi memang benar, di depan setiap spot foto ada mas-mas yang menjagai kotak uang seikhlasnya tadi itu sambil siap siaga membantu mengambil foto kita. Mayoritas spot foto menawarkan keindahan alam dari atas tebing, namun ada satu spot foto yang menawarkan kita untuk bisa berfoto bersama Burung Hantu ganteng yang ditaruh di pundak kita, hehehe, lucu juga ya. Selain naik ke atas tebing, para wisatawan juga bisa menyewa jeep sekalian sopirnya untuk berkeliling lokasi dengan jalanan naik turun yang ekstrim. Wisata adrenalin yang tentu saja tidak cocok untuk aku yang penakut ini, hahaha.

Ketika matahari sudah mulai beranjak turun, kami kembali ke Balkondes untuk menemui suami-suami kami. Oh ya menu di Balkondes ini ada penyetan, berbagai sambal, nasi goreng, berbagai gorengan, jus, kopi, teh, dan minuman rempah. Harganya pun tidak mahal apalagi untuk standar tempat makan di lokasi wisata. Makanan sekitar 20.000, snack sekitar 10.000, dan minum sekitar 5.000. Tidak hanya makanan, Balkondes juga menyediaan guest house dan kamar yang bisa disewa. Selain di Balkondes, masih ada banyak warung makan lainnya di kompleks wisata tersebut yang juga bisa dinikmati. Sekitar jam 4 sore kami pun beranjak dari Balkondes Tebing Breksi untuk menuju ke lokasi wisata selanjutnya, yang akan aku ceritakan di tulisanku yang berikutnya ya.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *