Ternyata Hal Paling Remeh-Temeh dalam Hidup Kita adalah Hal yang Paling Membahagiakan

Kita sangat sering berpikir bahkan terobsesi dengan apa yang sering kita sebut sebagai pencapaian dalam hidup. Nah masalahnya pencapaian itu seringkali diidentikkan dengan melakukan hal-hal besar, seperti kesuksesan dalam pekerjaan, melakukan hal-hal yang rasanya menginspirasi dan bermanfaat bagi banyak orang, menghasilkan karya-karya yang dipublikasikan, atau dikirim bekerja ke luar kota, ke luar pulau, bahkan ke luar negeri, atau mendapatkan apresiasi, pujian, dan tepuk tangan dari orang lain, atau merasa telah berperan dalam mengubah hidup seseorang, atau pencapaian yang berupa kepemilikan benda-benda seperti uang banyak, properti, barang-barang mahal, baju dan aksesoris keren, dan seterusnya.

Ya, hal-hal yang aku sebutkan di atas memang bisa disebut pencapaian dalam hidup kalau memang kita menginginkannya, dan tidak salah juga untuk mengejarnya. Aku juga termasuk yang mengejarnya dan pada akhirnya sering merasakan mendapatkannya, walaupun ya mungkin levelnya belum setinggi orang-orang lain, but I can say here that I have ever experience semua yang kusebutkan di atas, tentu saja dengan konsekuensi-konsekuensinya ya, tidak dengan mudah. Konsekuensi yang aku maksud adalah bekerja keras, lembur-lembur, dan kehilangan banyak waktu luang untuk melakukan hobi dan hal-hal aku senangi. Tapi karena aku melakukannya dengan senang hati, jadi ya happy-happy saja sih. Aku memang orangnya gitu, selalu menikmati apa yang ada di depan mata.

Sekali lagi kukatakan, mengejar pencapaian-pencapaian besar itu sama sekali tidak salah, bahkan seringkali itu memberikan banyak motivasi dalam hidup. Hanya saja, kalau dari pengalamanku nih ya, setelah aku rasa-rasakan, ya hal-hal yang kusebutkan di atas itu penting dan membahagiakan memang, tetapi ketika aku benar-benar mencoba mengingat-ingat apa sih hal-hal yang sebenarnya membuat aku benar-benar paling bahagia. Atau di saat aku sedang sedih dan kehilangan motivasi, hal-hal apa sih yang pertama terlintas di pikiranku yang aku pikir akan membuat aku paling bahagia.

Dan ternyata, bukan itu saudara-saudara! Hal-hal yang membuat aku merasa paling bahagia dan memberikan memori yang membekas selamanya ternyata adalah hal-hal remeh-temeh yang selama ini kulakukan sambil lalu saja dan tidak kuanggap penting. Hal membahagiakan yang paling kuingat dan kusimpan memorinya bukan ketika aku memfasilitasi ratusan pejabat dari seluruh Indonesia, bukan ketika buku-buku anak bikinanku diterbitkan dan dijual di Gramedia, bukan ketika tulisanku dimuat di platform online yang paling kuinginkan dan dibaca oleh puluhan ribu orang, bukan ketika aku ditugaskan bekerja di pedalaman Papua atau di Makassar yang selalu kuimpikan untuk kukunjungi, bukan ketika aku homestay tinggal selama satu tahun di Eropa, atau bukan ketika aku mendapatkan project yang pekerjaannya tidak terlalu susah tetapi honornya sangat besar sekali.

Hal-hal tersebut tentu saja membahagiakan, tetapi ternyata bukan hal yang paling terkenang atau terlintas pertama kali sebagai hal-hal yang paling membahagiakan. Hal-hal yang terkenang sebagai hal yang paling membahagiakan ternyata adalah waktu itu hari Minggu pagi aku mengajak suamiku jalan-jalan pakai motor keliling-keliling Bantul saja tanpa tujuan, terus di jalan kami melihat ada angkringan di pinggir sungai di mana penjualnya sedang menggoreng tahu, tempe, dan pisang goreng. Kemudian kami pesan teh hangat sambil menunggu gorengan disajikan sambil melihat sungai dan pohon-pohon bamboo dari bangku angkringan. Atau seminggu yang lalu aku sedang flu dan meriang tapi bosan tidur terus, lalu aku mengajak suamiku keluar cari sarapan, dan tiba-tiba kami sudah sampai ke pantai aja gitu dan akhirnya having brunch dengan menu seafood segar dan kelapa muda di tepi pantai.

Atau ketika sahabatku mengajak mengambil ganti libur di hari Selasa kemudian kami menghabiskan hari sejak jam 9 pagi jalan-jalan ke kebun binatang dilanjutkan nonton bioskop dilanjutkan jalan-jalan cari gelang-gelang lucu di mall dan diakhiri dengan nge-es-kopi-susu yang enaknya tiada bandingannya sampai jam 10 malam. Atau ketika aku dan beberapa temanku nongkrong sambil kerja di sebuah café murah sambil ngobrol-ngobrol ngalor-ngidul ngga jelas, nggosip-nggosip, tapi juga berbagi keresahan dan juga rencana-rencana masa depan. Atau ketika my sister datang dari Semarang jauh-jauh ke Jogja hanya demi bisa menonton Avengers Endgame versi 4DX bersamaku di hari ulang tahunku (padahal sebelumnya aku sudah nonton 2 kali) dilanjutkan dengan makan siang di café yang dipenuhi dengan action figure tokoh-tokoh Avengers. You know hal-hal seperti itulah.

Hal-hal remeh-temeh yang kita anggap tidak penting dan kita lakukan sambil lalu saja tanpa effort atau hanya ketika kita sedang selo dan punya waktu luang saja ternyata adalah hal-hal paling penting dan paling kita simpan di ingatan kita sebagai hal-hal yang paling membahagiakan. Pertanyaannya adalah seberapa seringkah kita melakukan hal-hal tersebut dibandingkan dengan mengejar pencapaian-pencapaian besar dalam hidup kita tadi?

Aku pernah membaca sebuah kisah nyata yang ditulis oleh seseorang yang bekerja sebagai suster/perawat di sebuah rumah sakit. 30 tahun lebih dia bekerja di rumah sakit itu dan selama 30 tahun lebih itu dia selalu mendampingi pasien-pasiennya yang sedang on their death bed menunggu ajalnya tiba. Kata suster itu, dari semua pasien-pasien yang dia dampingi pada masa-masa terakhir hidupnya itu, semuanya mengatakan bahwa penyesalan terbesar dalam hidup mereka adalah kurang menghabiskan lebih banyak waktu bersama orang-orang yang mereka cintai dan mereka anggap penting dalam hidup mereka.

Uuh wow, sederhana ya, sederhana sekaligus sedih. Slogan bahagia itu sederhana sering kita dengar di mana-mana dan kita pun sering ikut tulis-tulis itu dan jadikan hashtag dalam postingan-postingan kita. Well, masalahnya adalah sejauh mana sih kita memaknainya dan merealisasikannya?

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *