THE CROWN SEASON 1: SERIAL MENARIK TENTANG DINAMIKA KEHIDUPAN ANGGOTA KERAJAAN INGGRIS (MAJOR SPOILER ALERT)

The Crown adalah serial yang menceritakan tentang dinamika kehidupan sehari-hari anggota Kerajaan Inggris dengan segala lika-likunya, baik sebagai personal maupun sebagai pemimpin monarki. Dimulai dari sejak menjelang turun tahtanya King George VI karena meninggal dunia dan kemudian digantikan oleh putri sulungnya Queen Elizabeth II sampai ngga tahu ya, kan aku baru sampai Season 1, tapi kalau sneaking-sneaking sih kayaknya sampai zaman-zamannya Prince Charles dan Lady Diana. Sejauh ini seru banget sih menurutku, ya walaupun mungkin ngga semua hal ditampilkan ya, terutama yang buruk-buruknya atau yang inappropriate-inappropriate-nya, tapi ya biarin aja ya, namanya juga film. Kalau mau yang akurat banget, ya pakai mesin waktu aja, nonton langsung, hihihi, itu juga belum tentu bisa mengetahui semua faktanya, kan nobody knows about anybody yak.

King George VI adalah raja yang bijaksana dan dicintai oleh rakyatnya. Yes, dia adalah raja yang diceritakan di film King Speech, yang awalnya tidak punya kemampuan untuk berbicara di depan publik dan akhirnya memutuskan untuk belajar dari ahlinya karena tuntutan pekerjaannya yang tidak bisa digantikan oleh orang lain (yes, pekerjaan sebagai raja, hahaha). King George VI yang nama aslinya adalah Albert (Bertie) seharusnya tidak menjadi raja, karena dia adalah anak kedua dari raja sebelumnya. Dia mempunyai kakak, David, yang seharusnya menjadi raja menggantikan ayah mereka.

Namun kakaknya ini mangkir dari kewajibannya menjadi raja karena lebih memilih pergi dengan perempuan yang dicintainya (yang tidak disetujui oleh kerajaan) dan akhirnya diturunkan dari takhtanya bahkan sebelum pelantikan, dan diminta untuk meninggalkan Inggris. Bertie lah yang kemudian menggantikan memikul tanggung jawab itu.

Bertie alias King George VI yang dicintai rakyatnya itu sayangnya tidak panjang umur. 17 tahun setelah menjabat jadi raja, ia meninggal dunia dikarenakan penyakit kanker paru-paru. Bertie yang merupakan suami dan ayah yang baik dan bahagia ini meninggalkan istri dan kedua putrinya, Elizabeth yang kala itu berusia 26 tahun dan Margareth yang berusia 23 tahun.

Elizabeth yang kala itu sudah memiliki kehidupan pernikahan yang bahagia dengan seorang pangeran tampan dari Yunani, tentara angkatan laut yang charming, Philip, dan dikarunia 2 orang anak, Charles dan Anne, tidak pernah menyangka di usianya yang masih sangat muda, dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk berlama-lama berduka karena kepergian papa tercintanya, karena harus segera menggantikan papanya itu memikul beban yang sangat berat, yaitu sebagai Ratu Kerajaan Inggris dan semua negara-negara yang berada di bawah kekuasaan Inggris Raya pada waktu itu.

Digambarkan di situ ya she has no choice aja, dia sebenarnya tidak siap, tidak ingin, belum well prepared or well equipped, tapi ya just like that, it happened before she knew it, dan ya sudah mau tidak mau dia melakukannya, suka tidak suka. Dan Elizabeth benar-benar tries her best, berusaha sebaik-baiknya, belajar sambil jalan, mencari jawaban, merenung, berpikir, and gather all the supports she can get.

Ada satu scene ketika Elizabeth ngobrol dengan David pamannya, raja sebenarnya yang mangkir dari tanggung jawabnya. Elizabeth bertanya apakah pamannya itu tidak mau minta maaf juga padanya, instead of hanya minta maaf pada papa dan mamanya Elizabeth. Karena impian Elizabeth sebenarnya adalah ingin menjadi orang Inggris biasa saja, ingin menjadi istri dan ibu biasa saja seperti everybody else, tapi karena sejarah pamannya itulah yang kemudian membuat ayahnya menjadi raja dan selanjutnya membuat dia yang harus melanjutkan menjadi ratu, dia harus kehilangan seluruh cita-citanya menjadi orang biasa itu.

Kenyataan itu tentu saja tidak hanya mengubah kehidupan Elizabeth semata, tapi juga orang-orang terdekatnya. Yang paling pertama ikut terdampak tentu saja adalah suaminya tercinta, Prince Philip, the Duke of Edinburgh, yang kemudian tentu saja harus melupakan karir ketentaraan angkatan lautnya yang dia banggakan, pindah dari rumah yang dibangunnya dengan indah dan detail dan nyaman untuk boyongan ke Istana Buckingham, dan—ini yang bikin dia sangat marah—kehilangan namanya, karena nama belakangnya tidak bisa diberikan kepada istri dan anak-anaknya seperti yang umum dilakukan orang-orang di tatanan gender kala itu (sampai sekarang sih).

Di sini kerennya, kebayang kan ya, semua keribetan dan konflik itu tidak akan terjadi, jika situasinya dibalik, laki-lakinya yang menjadi raja, pasti istrinya akan mengikuti-ngikuti saja dan tidak ada masalah sama sekali dengan hal itu. Tapi ketika perempuan yang akan menjadi ratu, pemimpin monarki, ia harus juga ketambahan beban yaitu memikirkan perasaan suami tercintanya dan mencari cara agar suaminya itu tidak harus kehilangan semua “kebanggaan” itu.

Awalnya Elizabeth sudah berusaha keras agar suaminya tetap bisa berkarir, mereka tidak harus pindah ke Istana Buckingham, dan anak-anaknya bisa menggunakan nama belakang Philip, Mountbatten. Tapi tentu saja semuanya mental melawan aturan istana, dan tidak ada yang bisa Elizabeth lakukan, karena bahkan Perdana Menteri waktu itu Winston Churchill pun memperingatkan Elizabeth untuk tidak hanya memikirkan kedamaian kasurnya sendiri. My God. Philip pun akhirnya menerima demi cintanya pada Elizabeth or demi apa ngga tau juga sih, hehehe, walaupun sempat terlontar ucapan, “What kind of marriage is this? You’ve taken away my carier, you’ve taken away my home, you’ve taken away my name”. Huh dasar ya konstruksi gender, selalu bikin ribet memang.

Mungkin juga karena Philip mengingat pesan ayah mertuanya King George sebelum dia meninggal, bahwa dia mengerti kalau Philip juga ingin memiliki peran penting dan bermanfaat untuk negerinya, tapi kata sang ayah mertua, “mendampingi Elizabeth itu adalah peran yang sangat-sangat penting dan bermanfaat besar bagi seluruh rakyat Inggris, dan bahkan tidak bisa digantikan oleh siapapun”, hmm tul uga ya.

Aku rasa Elizabeth juga tidak akan bisa memikul beban dan tanggung jawab yang sangat berat itu, kalau tidak ada laki-laki yang dicintainya di sampingnya, mendukungnya dan mencintainya, menerimanya dan menjadi tempat untuk selalu bisa pulang dan bersandar setelah seharian yang berat, politis, dan penuh intrik. Ini berlaku juga vice versa ya, ketika laki-lakinya yang harus memikul beban berat. Kan laki-laki dan perempuan sama-sama manusia.

Janji Philip untuk selalu setia mendukung dan mencintai Elizabeth ini tidak hanya cukup diucapkannya dalam hati saja atau dikatakan di depan Elizabeth saja, tetapi harus diucapkan keras-keras di depan seluruh dunia melalui siaran langsung televisi dan di depan ribuan rakyat Inggris yang menyaksikan langsung, yaitu di acara pelantikan Elizabeth sebagai Ratu Inggris. Ada satu masalah yang menarik (lagi-lagi terkait gender) di sini, yaitu ketika Philip harus berlutut di depan Elizabeth ketika mengucapkan sumpahnya itu di depan seluruh dunia. Philip tidak mau berlutut, dia maunya berdiri sejajar di samping istrinya itu. Elizabeth pun mengatakan bahwa Philip tidak berlutut di depannya tapi di depan Tuhan walaupun yang tampak secara visual ya dia berlutut di depannya. Elizabeth juga mengatakan bahwa she is both, she is his wife and she is Queen of England. As his wife she doesn’t want her husband to kneeling before her but as Queen of England she commands him to do so.

Philip pun melakukannya, dengan lancar dan terllihat sangat gagah dan penuh percaya diri, di depan semua orang. Dan mereka pun membalikkan situasi itu di lain kesempatan, you know, in their bed, ketika Philip dengan penuh tatapan menggoda meminta Elizabeth to get on her kneel dan Elizabeth langsung tersenyum penuh arti menanggapi ajakan itu, dan tentu saja kemudian meng-cancel janji meeting dengan staf kerajaan, mengundurnya sampai besok paginya, hehehe.

Bulan-bulan dan tahun-tahun selanjutnya diisi dengan Philip yang selalu mendampingi istrinya itu untuk tugas-tugas kerajaan dan kunjungan-kunjungan ke berbagai negara di berbagai belahan dunia. Walaupun sambil complain-complain ya dia tetap lakukan juga sih, hehehe. Put on army/navy costume yang ribet (ya Philip menyebutnya kostum karena kalau uniform kan dipakai untuk berperang, nah kalau untuk dadah-dadah ganteng di kunjungan-kunjungan kenegaraan itu namanya kostum). Keliling dunia, tersenyum, dadah-dadah lagi, salaman-salaman, tersenyum lagi, dadah-dadah lagi. Philip sampai mengatakan bahwa dia sampai dadah-dadah dalam tidurnya, hahaha. Dan Elizabeth sendiri sampai mengalami cidera otot wajah akibat terlalu banyak tersenyum, dan sampai harus disuntik, hahaha, bisa gitu ya. Tapi semua pengorbanan mereka itu ada hasilnya. Sepulang dari kunjungan kenegaraan keliling dunia itu, Inggris jadi populer lagi di mata dunia, karena pasangan muda Elizabeth dan Philip adalah simbol perubahan dan modernisme.

Elizabeth si ratu muda ini juga mengalami hambatan terkait pengetahuan dan literasi. Karena ternyata dia baru sadar, kalau di masa pertumbuhannya dulu dia tidak diajari pelajaran-pelajaran yang umumnya diterima anak-anak sekolah pada umumnya, seperti matematika, sejarah, IPA, IPS, dan lain-lain. Dia hanya menerima pelajaran tentang ketatanegaraan dan undang-undang, karena menurut orang-orang tua pada zaman dia sekolah, hanya itulah pelajaran yang dibutuhkan oleh seorang calon ratu.

Akibatnya ketika menjadi ratu, ia merasa pengetahuan umumnya sangat buruk sehingga dia sangat mudah kalah ketika berdebat dengan politisi-politisi tua laki-laki penuh intrik itu. Pun ketika ia harus mendampingi pemimpin-pemimpin negara lain yang tengah berkunjung, ia merasa susah mencari bahan pembicaraan yang tidak akan membuatnya jadi tampak bodoh.

Merasa menyalahkan mamanya tidak akan ada manfaatnya karena sudah terlanjur, apalagi menyalahkan papanya yang sudah meninggal, Elizabeth memutuskan untuk take this problem in her own hands. Ia pun memanggil seorang professor untuk memberinya kursus privat tentang pengetahuan-pengetahuan umum tersebut. Ia juga rajin membaca buku, koran, dan semua laporan-laporan yang masuk ke dia. Dia berusaha keras untuk mengejar ketertinggalannya dan mengatasi kekurangannya itu. Dia bahkan membaca buku biografi Presiden Amerika Serikat kala itu, Eisenhower, demi untuk bisa menemukan bahan perbincangan yang menarik dengan sang presiden ketika kunjungan ke Inggris, walaupun pada akhirnya kunjungannya dibatalkan.

Sampai akhirnya, sang professor pun menyadarkannya ya bahwa memang pengetahuan-pengetahuan umum itu penting, tapi yang sangat jauh lebih penting adalah Elizabeth memahami prinsipnya, nilainya, hakikatnya, esensinya, dan kemudian sampai pada kebijaksanaan dan kejernihan dalam memandang dan memutuskan segala sesuatunya.

Aduh kok sudah sepanjang ini ya, padahal masih buanyaakk lagi yang masih ingin kuceritakan tentang serial ini. Disambung besok lagi aja kali ya, biar tidak kepanjangan, soalnya masih banyak lagi hal menarik yang bisa dibahas tentang serial ini. Or better kalian menontonnya sendiri aja biar kita bisa mendiskusikannya.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | THE CROWN SEASON 1: SERIAL MENARIK TENTANG DINAMIKA KEHIDUPAN ANGGOTA KERAJAAN INGGRIS (MAJOR SPOILER ALERT)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *