THE CROWN SEASON 3: LANJUTAN KISAH-KISAH MENARIK KELUARGA KERAJAAN INGGRIS (MAJOR SPOILER ALERT)

Season 3 dibuka dengan aku merasa terkejut dan kecewa. Ya, karena pemainnya tiba-tiba ganti. Kita sudah tidak bisa melihat Claire Foy dan Matt Smith lagi memerankan Elizabeth dan Philip karena sudah diganti dengan aktor yang lebih senior, dikarenakan Season 3 ini kronologis waktu yang diceritakan sudah dimulai dari tahun di atas 1963. Tapi justru inilah yang membuatku kesal. Di tahun sekitar 1963 atau katakanlah 1965 kan Elisabeth masih berusia 38-39 tahun dan Philip berusia 43-44 tahun, masa iya yang memerankan mereka sudah langsung diganti nenek dan kakek-kakek gitu, duh ngga pantes banget deh. Aku sebagai perempuan berusia 38 tahun merasa sangat tersingung deh dengan hal itu, karena merasa yakin seyakin-yakinnya bahwa Claire Foy masih lebih pantas memerankan aku daripada nenek-nenek itu, hahaha, jadi pengen nimpukin ngga sih. 38 kan still so young ya.

Harusnya Netflix menunggu 1 season lagi untuk menggantikan pemerannya. Ya walaupun pemeran-pemeran itu terus berlanjut memerankan Elizabeth dan Philip (dan yang lain) sampai mereka berusia 60an di Season 4 sih, tapi tetap, menurutku too early untuk mengganti mereka di Season 3. Dan aku sampai mengalami kesulitan untuk membayangkan bahwa mereka adalah Elizabeth dan Philip (dan yang lain) yang sama yang aku ikuti kehidupannya di Season 1 dan Season 2, huh sebel.

But other than that, serial ini tetap keren, nyandu, dan bikin penasaran sih. Serial inilah yang bertanggung jawab mengubah gaya hidupku menjadi kembali tidur jam 2 malam lagi karena susah berhenti menontonnya (aku biasanya mulai nonton sekitar jam 8an malam). Di Season 3 ini relationship antara Elizabeth dan Philip sudah jauh lebih mature dan stabil. Elizabeth juga sudah semakin terasah dan matang dalam menjadi Ratu Inggris, dan demikian juga dengan Philip yang juga sudah semakin terasah dan matang dalam mendampingi Elizabeth.

Beberapa peristiwa besar yang diceritakan dalam season 3 ini adalah bagaimana keluarga kerajaan merespon kecelakaan tragis longsornya gunung tambang menimpa sebuah sekolah dasar dan membuat ratusan anak-anak mati tertimbun longsor. Selain itu ada juga cerita pergantian Perdana Menteri Inggris dan bagaimana pada akhirnya, Ratu Elizabeth memberikan penghargaan yang tinggi kepada PM Wilson, seorang perdana menteri sosialis yang berasal dari Partai Buruh, padahal di awal banyak yang meragukan hubungan di antara keduanya mengingat latar belakang politik sang perdana menteri. Tetapi sang ratu menegaskan bahwa dia tidak memiliki preferensi politik apapun dan siap bekerja sama dan memberikan perlakukan yang sama terhadap siapapun perdana menteri yang telah memenangkan pemilu. Penghargaan yang diberikan terhadap Wilson ketika ia memutuskan lengser akibat penyakit Alzheimer yang dideritanya adalah Elizabeth dan Philip akan datang untuk makan malam di rumahnya, sebuah penghargaan tinggi yang sebelumnya hanya diterima oleh Perdana Menteri Winston Churcill saja.

Selain itu, diceritakan juga Philip yang merasa terkagum-kagum setengah mati dengan Neil Amstrong dan 2 rekannya yang berhasil untuk pertama kalinya mendarat dan melangkahkan kaki di bulan. Philip yang juga merupakan pilot itu merasa sangat iri kepada Neil Amstrong dan rekan-rekannya karena memiliki kesempatan untuk melakukan aksi besar yang mengubah sejarah peradaban manusia, sementara dia tidak memiliki kesempatan itu. Philip sampai mengundang ketiganya untuk menemuinya secara personal, dan kemudian menjadi kecewa ketika mendapati ketiganya hanyalah orang biasa-biasa saja yang secara kebetulan mendapatkan tugas itu dan hanya mengikuti instruksi saja. Mereka bertiga bahkan tidak antusias ataupun merasa bangga dengan aksi yang mereka lakukan, dan bahkan sempat-sempatnya tidur ketika menunggu saat-saat apollo diterbangkan kembali ke bumi dan malah memperhatikan suara water heater di dalam apollo bukannya terkagum-kagum dan mengeksplor bulan di depannya. Belum lagi mereka yang ternyata sangat mengagumi Philip dan iri dengan kehidupan Philip di istana, padahal Philip merasa hidupnya meaningless melihat prestasi ketiganya.

Hal ini membuat Philip yang tadinya memandang sebelah mata komunitas pendeta-pendeta tua yang secara reguler saling berkumpul untuk saling sharing dan saling berefleksi tentang kehidupan dan kekecewaannya, dan kemudian saling support untuk menemukan makna baru dalam kehidupan, setelah pertemuan dengan Neil Amstrong dan teman-temannya itu, membuat Philip pun menyadari pentingnya berefleksi dan memaknai kembali kehidupan, karena tanpa merefleksikan dan memaknainya, aksi sebesar dan sepenting apapun ya rasanya hanya akan kosong saja dan hanya sebatas menggugurkan kewajiban saja. Philip pun kemudian mendukung dan bahkan terlibat dalam komunitas pendeta tersebut dan berteman dengan pendeta ketuanya sampai sekarang dan mengatakan bahwa komunitas itu dan kegiatan di dalamnya adalah salah satu keberhasilan terbesarnya yang paling dia banggakan.

Season 3 juga menceritakan tentang Charles dan Anne yang sudah beranjak dewasa. Charles yang berkuliah di University of Cambridge jatuh cinta dengan Camilla Shand yang merupakan mantan pacar dari Andrew Parker Bowles. Sementara Anne menjalin hubungan dengan Andrew Parker Bowles walaupun tidak serius. Kedua kakak beradik ini bekerja sama karena kepentingan yang sama agar Camilla dan Parker Bowles tidak bersatu. Namun hubungan Charles dengan Camilla tidak disetujui oleh keluarga Charles dikarenakan track record Camilla yang buruk sebagai orang yang pernah berkencan dengan banyak laki-laki. Ditambah lagi sikap Camilla yang tidak jelas antara sebenarnya dia mencintai Charles atau mencintai Parker Bowles. Bahkan ketika Charles bertanya dan mengonfirmasi padanya pun Camilla menjawab bahwa dia mencintai Parker Bowles walaupun bisa saja nanti tumbuh perasaan cinta pada Charles, ngga jelas banget kan ya.

Akhirnya karena campur tangan Uncle Dikcy pamannya Philip dan juga Ibunda Ratu neneknya Charles, Camilla pun ditanting supaya segera menikah dengan Parker Bowles, dan keduanya pun bersedia dan tampak very much in love. Charles pun patah hati sejadi-jadinya, apalagi dia sangat terpengaruh oleh pesan terakhir Uncle David pamannya—masih ingat kan raja yang meninggalkan tahtanya demi cintanya pada seorang perempuan—yang intinya mengatakan bahwa ketika sudah bertemu dengan orang yang dicintai maka jangan pernah dilepaskan. Uncle David sendiri akhirnya meninggal dan sang ratu sempat menemuinya di saat-saat terakhirnya untuk mengucapkan terima kasih.

Ada juga cerita tentang Charles yang dikirim ke Pulau Wales untuk belajar Bahasa Welsch dan bagaimana orang-orang di sana tidak menyukai kehadirannya, termasuk guru Bahasa Welsch-nya. Namun akhirnya Charles muda bisa mengambil hati sang guru dan sedikit mengambil hati orang-orang Wales juga dengan pidatonya yang tidak hanya mengatakan hal-hal yang sesuai dengan yang diminta istana tapi juga menambahkan isi hatinya sendiri yang berupa rasa empati dan menunjukkan bahwa ia memahami perasaan orang-orang Welsch, yang tentu saja membuat ratu tidak senang dengan sentimen yang ditunjukkan Charles itu.

Cerita yang lain adalah tentang Princess Alice from Greek, ibunda Prince Philip yang akhirnya diboyong oleh Elizabeth ke Istana Buckingham. Philip yang tengah memiliki ide untuk membuat film dokumenter kehidupan keluarga kerajaan, benar-benar tidak mau ibundanya itu terlihat oleh tim pembuat film karena ia khawatir akan merusak citra yang sedang ingin ia tampilkan melalui film dokumenter itu. Ternyata film dokumenter itu gagal total dan berefek sebaliknya, rakyat Inggris malah menjadi sebal dengan keluarga kerajaan yang hidupnya mewah dan penuh dengan foya-foya dengan uang pajak mereka. Dan tanpa diduga-duga, malah wawancara dengan Princess Alice kemudian lah yang menyelamatkan muka keluarga kerajaan, karena kemudian masyarakat Inggris merasa senang dan bangga karena masih ada keluarga kerajaan Inggris yang hidupnya penuh penderitaan dan pengorbanan seperti mereka.

Di season 3 ini juga diceritakan tentang Princess Margareth dan kehancuran kehidupan rumah tangganya dengan Tony Amstrong-Jones sang fotografer. Sebelum menikah dengan Margareth Tony ini kan diceritakan menjalin hubungan dengan banyak orang baik perempuan maupun laki-laki (ia adalah seorang biseksual). Tony mau menikah dengan Margareth salah satunya juga dikarenakan ingin menunjukkan pada semua orang bahwa ia yang sering dipandang sebelah mata (termasuk oleh ibunya sendiri) bisa meningkat derajatnya karena menikahi seorang putri kerajaan. Alasan Margareth mau menikah dengan Tony juga salah satunya adalah karena ia kecewa cinta sejatinya Peter Townsend akan menikah dengan orang lain.

Kehidupan pernikahan yang tidak didasari dengan hal yang semestinya ini pun akhirnya kandas juga. Tony menjalin hubungan dengan perempuan lain yang berusia jauh lebih muda darinya. Margareth yang merasa sangat sakit hati mengetahui hal tersebut akhirnya membalas dendam dengan menjalin hubungan dengan laki-laki lain yang juga usianya jauh lebih muda darinya. Dan tentu saja, seperti yang sudah kita duga, ketika perempuan yang melakukan hal itu (walaupun dia seorang putri kerajaan) maka dialah yang sangat-sangat disalahkan, dianggap perempuan yang tidak benar dan tidak bermoral, sementara sangat sedikit sekali (bahkan tidak ada) yang kemudian memandang ke laki-lakinya yang juga melakukan hal yang salah yang sama bahkan lebih duluan. Selalu begitu ya, ketika laki-laki dan perempuan melakukan hal yang sama buruknya, perempuanlah yang selalu disalahkan sementara laki-lakinya innocent, huh.

Ini yang membuat Margareth menjadi sangat-sangat marah kepada keluarga besarnya yang seolah-olah lebih membela Tony dan justru menyalahkan dirinya. Akhirnya perceraian pun tidak bisa terhindarkan lagi. Perceraian pertama di Kerajaan Inggris setelah perceraian menghebohkan Raja Henry VIII dengan istrinya Catherine of Aragon demi untuk bisa menikahi Anne Boleyn dan membuat hubungan kerajaan dengan gereja putus dan menjadi buruk (bisa dilihat di film The Other Boleyn Girl). Ya memang seringkali hal-hal besar, keputusan-keputusan besar di dunia ini dibuat karena alasan personal yang sangat sepele yang sangat tidak pernah kita duga.

Season 3 The Crown ditutup dengan adegan peringatan 25 tahun Coronation (penobatan) Ratu Elizabeth menjadi ratu kerajaan Inggris. Ratu Elizabeth tampak keren mengenakan seragam militer kerajaan berwarna merah lengkap dengan lencana-lencananya dan menunggganggi seekor kuda. Di belakangnya ada Prince Philip dan Prince Charles mengenakan seragam yang sama hanya saja memakai topi super tinggi khas tentara Kerajaan Inggris itu, juga menunggang kuda, keduanya mengawal istri dan ibu mereka yang berada di depannya. Sungguh keren dan selebratif banget deh adegan itu.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | THE CROWN SEASON 3: LANJUTAN KISAH-KISAH MENARIK KELUARGA KERAJAAN INGGRIS (MAJOR SPOILER ALERT)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *