THE CROWN SEASON 4: KISAH NEGERI DONGENG YANG GAGAL (MAJOR SPOILER ALERT)

Kalau season 1, 2, 3 lebih fokus menceritakan tentang Queen Elizabeth dan Prince Philip, walaupun tetap ada cerita tentang anggota Kerajaan Inggris yang lain. Nah di season 4 ini fokus mulai sedikit terbagi pada cerita tentang Prince Charles, anak pertama dari Elizabeth dan Philip yang yes we all know, merupakan calon pewaris tahta kerajaan, calon pengganti Queen Elizabeth selanjutnya. Jadi ingat satu pembicaraan Philip dan temannya Mike di season 2 ketika Elizabeth ingin menambah anak lagi ketika Charles dan Anne sudah berumur sekitar 13 dan 10 tahun. Kata Mike, mungkin Elizabeth ingin memiliki anak yang benar-benar bisa dia cintai, bukan calon raja yang akan menggantikannya pada suatu hari nanti, hehehe.

Anyway, back to season 4. Season 4 dibuka dengan pertemuan pertama antara Charles dan Diana ketika Charles masih mengencani kakak Diana, Sarah Spencer, pada waktu itu Diana masih berusia remaja. Jadi diceritakan setelah patah hati karena Camilla menikah dengan Andrew Parker Bowles, Charles akhirnya menjadi seorang playboy yang mengencani banyak perempuan, sampai keluarganya tidak mengetahui mana yang serius dan mana yang tidak. Charles pun masih tetap berhubungan dan intens bertelponan dengan Camilla. Hingga pada suatu hari atas saran dari Camilla, Charles mengundang Diana untuk datang ke tempat liburan keluarga mereka dan tentu saja di situ Diana berkenalan dengan seluruh anggota keluarga Charles termasuk Elizabeth dan Philip.

Philip pun mengajak Diana berburu rusa dan langsung jatuh hati dengan gadis muda pemberani dan cantik itu. Philip (dan juga keluarga yang lain) lalu mendesak Charles agar segera menikahi Diana. And just like that, terjadi dengan sangat cepat. Mereka bertunangan, Diana diminta untuk tinggal di istana demi menghindari serbuan wartawan yang selalu mengejarnya di manapun dia berada, Charles bertugas ke luar negeri minggu-minggu menjelang pernikahan mereka dan tidak pernah menelepon Diana, Diana menemukan fakta bahwa ternyata Charles masih mencintai Camilla namun tidak kuasa membatalkan pernikahannya, mereka menikah, dan kemudian menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak membahagiakan, memiliki 2 anak laki-laki sebagai bagian dari tugas kerajaan, dan melakukan kunjungan-kunjungan kenegaraan serta menghadiri acara-acara penting, lagi-lagi sebagai bagian dari tugas mereka sebagai anggota kerajaan.

Mengenai hal ini, Princess Anne, adik Charles menggambarkannya dengan sangat efektif, tepat, dan right to the point ketika ia ditanya oleh ibunya Queen Elizabeth tentang apa yang terjadi pada Charles dan Elizabeth. Berikut adalah the exact words-nya: “Once upon a time, there was a beautiful young girl who fell madly in love with a handsome prince. Unfortunately, the prince was already in love with someone else, who was herself in love with someone else. And they all lived unhappily ever after.” Dan aku tertawa miris dong pas melihat adegan ini.

Plus the other girl ini walaupun dia mencintai suaminya tapi dia juga tidak mau melepas Charles. Charles sendiri tidak bisa bersikap tegas (tidak bisa bersikap sama sekali malah), self sentris, dan egois. Bahkan ia menyalahkan Diana karena Diana dicintai banyak orang dan itu menyakiti Camilla dan barang siapa menyakiti Camilla maka ia menyakiti dia juga. So many sh*ts ngga sih itu, hahaha. Charles juga tahu Diana tidak bahagia dan tidak mendapatkan respect seperti yang ia harapkan, tapi Charles cuman bilang kurang lebih, ya kalau elu ngga bahagia jangan salahin gw dong, salahin orang-orang yang berada di balik skenario pernikahan kita. Lah bisa gitu ya Bambang, eh Charles. Jadi ingat wawancara asli Princess Diana yang mengatakan, “there are three people in our married and it’s too crowded”. Sedih ya? Alhasil Diana pun juga mencari kenyamanan dengan beberapa laki-laki lain yang sebenarnya tidak membuatnya bahagia juga.

Terkait Charles dan Diana ini, ada banyak sekali scene-scene yang mirip banget atau bahkan sama dengan kisah aslinya di kehidupan nyata, baik peristiwanya, kalimat-kalimat yang diucapkannya, maupun baju yang dikenakannya, sama plek. Misalnya pas mereka berdansa diiringi di Australia diiringi lagu Can’t Take My Eyes Off of You, pas Diana ngasih Charles kejutan dengan berdansa lagu Uptown Girl di sebuah opera, pas mereka diwawancara sebelum menikah dan Charles bilang “whatever love means”, dan masih banyak lagi. Bisa dibandingkan dengan video aslinya yang banyak bertebaran di internet. Well, except, Charles versi The Crown ini is way too hot and too charming comparing to the original prince. Mungkin di bagian itulah serial ini fiksi ya, hahaha. Aku tertawa ngakak ketika salah seorang netizen ada yang komen, “the only fiction in The Crown is how hot Charles is,” hahaha, tul uga.

Kita juga disuguhi scene-scene di mana Diana harus struggle with her mental health isu, seperti adegan-adegan bulimia yang cukup mengganggu, sampai-sampai di awal episode-episode yang ada adegan itunya diberi peringatan disturbing scene dan diberi kontak yang bisa kita hubungi ketika mengalami hal serupa. Sedih deh pokoknya.

Selain soal Diana dan Charles, season 4 juga menceritakan tentang Perdama Menteri perempuan pertama Inggris, Margaret Thatcher alias the Iron Lady yang menurutku penggambarannya mirip banget deh dengan aslinya. Tapi sebelnya di sini adalah komentar para laki-laki itu lho—termasuk Philip dan Denis suami Margaret—ketika negeri mereka dipimpin oleh 2 orang perempuan di puncak kekuasaan tertingginya. Komentar para laki-laki itu sungguh sinis dan seksis, sebel deh aku. Denis bahkan kurang lebih bilang, the last thing this country need is two menopause women in its highest power. Nyebelin banget ngga sih. Padahal kepemimpinan keduanya tidak lebih buruk dari para raja atau para perdana menteri laki-laki sebelum mereka, bahkan di banyak hal lebih baik, ya except Margaret yang sangat neoliberalis dan suka asal main perang aja gitu, maskulin banget ya cara-caranya, tapi kan perdana menteri-perdana menteri laki-laki sebelumnya juga sami mawon.

Ada beberapa adegan benturan antara Margaret yang berasal dari kelas pekerja dan gila kerja dengan Elizabeth yang berasal dari latar belakang ningrat yang bikin aku tertawa ngakak-ngakak karena lucu. Tapi aku suka deh melihat ketika sesi-sesi pemotretan di kabinet Inggris, Margaret menjadi satu-satunya perempuan yang dikelilingi oleh para laki-laki, tapi dia tampak yang paling percaya diri. Atau ketika sesi pemotretan forum-forum internasional temu para pemimpin negara, Elizabeth dan Margaret menjadi satu-satunya (eh dua-duanya) perempuan di antara semua pemimpin negara dunia kala itu, keren deh.

Pada akhirnya hubungan Margaret dan Elizabeth sempat memburuk karena perbedaan pandangan politik dan pilihan strategi, dan membuat Elizabeth untuk pertama kalinya mengekspresikan ketidaksukaannya/ketidaksetujuannya terhadap kebijakan Perdana Menteri yang sebenarnya menurut undang-undang tidak boleh dilakukan. Namun akhirnya ketika Margaret diturunkan dari kekuasaan oleh rekan-rekannya di partainya sendiri, Elizabeth tetap memberikan kepada Margaret penghargaan yang sangat tinggi yang hanya diberikan kepada sangat sedikit orang saja atas jasa-jasanya terhadap negara Inggris. Keren ya, adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan.

Selain masalah-masalah yang serius itu, ada juga satu episode yang lucu. Elizabeth terkejut ketika Margaret Thatcher mengatakan Mark Thatcher adalah anak favoritnya. Orangtua mana yang punya anak favorit coba, tanyanya heran. Ya orangtua yang jujur, jawab Philip. Memangnya siapa anak favorit kita, tanya Elizabeth. Favorit aku atau favorit kamu? Jawab Philip. Hah memangnya beda ya, ya sudah kalau favoritmu siapa? Anne, jawab Philip dengan cepat. Elizabeth kaget betapa cepatnya Philip menyebutkan siapa anak favoritnya tanpa berpikir, hahaha.

Lalu Elizabeth pun secara rahasia bertemu dengan keempat anaknya satu-satu untuk mengajaknya ngobrol secara personal. Di sini akhirnya kita bisa melihat penampakan Prince Andrew dewasa yang jauh lebih ganteng dari aslinya dan juga Prince Edward remaja dan dewasa yang lebih tidak ganteng dibanding aslinya, gimana sih, terbalik-balik deh, hahaha. Dari hasil mengobrol dengan keempat anaknya itulah Elizabeth jadi tahu bawa keempat anaknya semuanya lost alias pada tersesat dalam kehidupannya. Ia sempat merasa bersalah sebagai orangtua tetapi ibundanya mengatakan tidak perlu merasa bersalah karena dia kan sudah menjadi ibu untuk semua rakyat Inggris, dan Philip pun juga mengatakan padanya bahwa ia tetap adalah ibu terbaik di dunia, what a sweet husband yes. Oh ya akhirnya Elizabeth mengakui siapa anak favoritnya, dan ternyata tebakan Philip sangat tepat. Siapakah dia? Tonton sendiri aja ya, ngga mau aku ngasih tahu, hahaha.

Season 4 ditutup dengan baik Charles maupun Diana yang sudah sama-sama tidak tahan dengan kehidupan pernikahannya keukeuh meminta izin kepada Queen Elizabeth untuk berpisah. Charles akhirnya berkesempatan mengobrol dengan ibunya dan Elizabeth tetap tidak memberikan izin kepada Charles untuk berpisah dari istrinya itu, dan mengatakan pada Charles kalau dia masih ingin menjadi raja, then behave like one.

Sementara itu Diana berkesempatan mengobrol dengan Philip. Philip yang tadinya bersikap sangat manis pada menantunya itu langsung berubah 180 derajat ketika Diana menyampaikan keinginannya untuk berpisah dari Charles. Philip bahkan sempat mengatakan jangan sampai Diana berpisah dari Charles karena akibatnya akan sangat buruk bagi Diana. Entah apa maksudnya, tapi serem uga ya mengingat apa yang kemudian benar-benar terjadi pada Diana di kehidupan nyata, huhuhu.

Dan begitulah The Crown season 4 berakhir, dan katanya tahun 2021 mereka akan beristirahat dulu dan baru akan ada season 5 tahun 2022 nanti. Oh nooo, harus nunggu satu tahun lebih, betapa hampanya hidupku kini, hahaha.  

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | THE CROWN SEASON 4: KISAH NEGERI DONGENG YANG GAGAL (MAJOR SPOILER ALERT)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *