THE POWER OF THE DOG (2021): MEMBONGKAR TOXIC MASCULINITY DI TENGAH STEREOTYPE LAKI-LAKI COWBOY

Film karya sutradara Jane Campion yang mendapatkan 12 nominasi Oscar dan juga banyak nominasi untuk award-award lainnya ini berlatar belakang kehidupan Cowboy di Montana Amerika Serikat tahun 1925. Tapi jangan dibayangkan film ini akan semacam film wild-wild west pada umumnya dengan adegan kejar-kejaran kuda, tembak-tembakan, dan perkelahian di bar sampai sheriff setempat datang ya, not at all. Film ini mengangkat tema yang lain, yang menurutku sih jarang banget diangkat untuk film-film cowboy wild-wild west karena di kehidupan para cowboy atau ranchman, khususnya di tahun-tahun segitu, tema ini jarang dibicarakan dan mungkin bahkan belum dikenali, walaupun tentu fenomenanya sudah ada dan banyak.

Yes, film ini membahas tema maskulinitas, atau lebih tepatnya insecure masculinity atau secara lebih luas toxic masculinity. Menarik kan ya. Dan lebih menariknya lagi, hal-hal itu tidak dibahas atau digambarkan secara eksplisit atau full frontal gitu, tapi lebih ke implisit alias tersirat, jadi kita benar-benar harus merasakannya dan merenungkannya. That’s why nonton film ini benar-benar harus fokus deh, kalau disambi-sambi apalagi dibluncat-bluncatin, kayaknya you won’t get the message deh atau bahkan the story.

Jadi kan cowboy itu stereotype-nya adalah laki-laki yang “lakik banget” you know what I mean; maskulin, garang, macho, berbadan besar, berangasan, kotor, badass, tahan banting, risk taker, ngga menye-menye, jagoan, suka berkelahi, suka mabuk-mabukan, dan suka bermain perempuan. Seolah-olah semakin seperti itu, akan semakin dianggap laki-laki dan disegani oleh rekan-rekannya. Well, ngga hanya cowboy saja sih, zaman sekarang juga—sayangnya—masih begitu deh, dengan beberapa variasi di sana-sini, hiks sedih, don’t we learn anything in the last century?

Tersebutlah 2 orang kakak beradik laki-laki, Phil dan George Burbank, pemilik sebuah peternakan sapi luas dan memiliki beberapa pegawai/cowboy yang bekerja kepada keluarga Burbank ini. Digambarkan Phil (Benedict Cumberbatch) berusaha mati-matian untuk memenuhi stereotypes yang aku sebutkan di atas, ya kecuali mungkin soal bermain perempuan yang tidak terlihat dilakukannya di sepanjang film. Tapi yang lain, sangat berusaha dia tunjukkan, bahwa dia maskulin, macho, badass, risk taker, jagoan, dan lain-lain tadi. Dia bahkan tidak mau mengenakan sarung tangan ketika sedang menyembelih sapi, tidak mau terlihat lembut, dan bahkan ketika tangannya luka berdarah pun dia tidak mau diobati, karena kayak yaelah luka gitu doang nanti juga sembuh sendiri. Bahkan lagi yang lebih parah, supaya terlihat bahwa laki-laki itu haram untuk terlihat bersih dan wangi, Phil sampai mengoles-oles tubuhnya dengan lumpur ketika mandi di sungai (ya dia mandi di sungai padahal mereka sudah punya bathtub di rumah) soalnya itu kayak yang lakik banget. Pakaiannya pun jarang ganti, dan mandi di sungai itu pun juga jarang dia lakukan.

Namun Phil ini sangat dekat dengan adiknya (atau kakaknya ya, tidak begitu jelas) George (Jesse Plemons), bahkan mereka tidurnya saja masih bareng dan masih sering ngobrol curhat-curhat gitu. Digambarkan juga Phil ini sangat mengagumi cowboy bernama Bronco Henry yang sudah meninggal. Beberapa kali dikatakan oleh Phil, bahwa Bronco Henry inilah yang mengajari dan membentuk dia hingga dia (dan juga George) bisa menjadi cowboy/ranchman handal seperti sekarang. Bisa dibilang Bronco Henry ini adalah mentor mereka. Phil sangat mengagumi dan menghormatinya, dia bahkan masih menyimpan dengan baik barang-barang peninggalan Bronco Henry dan sering melihat-lihat atau menyentuhnya kembali.

Pada suatu hari, Phil, George, dan anak buah mereka sehabis ada acara di kota, mereka memesan makan malam di sebuah restoran yang dimiliki oleh seorang janda bernama Rose (Kirsten Dunst) yang memiliki seorang anak laki-laki remaja bernama Peter (Kodi Smit-McPhee). Ayah Peter yang seorang dokter meninggal karena gantung diri akibat dari kecanduan alkoholnya yang parah. Berbeda 180 derajat dari Phil Burbank, Peter ini digambarkan sangat tidak seperti stereotype atau asumsi gender yang dilekatkan pada laki-laki secara umum pada zaman itu (dan zaman sekarang juga masih sama). Peter sangat feminin, lembut, detail, telaten, karakterya halus, dan tubuhnya kecil dan kurus, gestur tubuhnya pun terlihat lemah gemulai, plus dia sangat senang membantu ibunya menyiapkan makan malam untuk para tamu dan juga menghidangkannya sebagai waitress. Peter ini calon mahasiswa kedokteran karena dia ingin meneruskan profesi ayahnya. Peter juga memiliki hobi membuat bunga-bunga dari kertas yang sangat bagus dan detail, yang kemudian oleh Rose ibunya diletakkan di vas bunga dan digunakan untuk mempercantik meja-meja restorannya.

Sepanjang acara makan malam, Phil langsung menunjukkan ketidaksukaannya pada Peter yang feminin, halus, dan lemah gemulai itu. Bahkan Phil sempat mem-bully Peter secara verbal dan membakar salah satu bunga kertasnya untuk menyalakan rokoknya. Peter pun sangat sedih dan tidak suka dengan Phil. Rose bahkan sampai menangis mengetahui anaknya diperlakukan demikian. George tersentuh hatinya melihat Rose yang menangis karena melihat anaknya sedih, George pun jatuh cinta pada Rose dan selanjutnya berniat menikahinya.

Phil tidak suka dengan keputusan George untuk menikahi Rose (apalagi dengan adanya anak yang dia panggil penuh ejekan sebagai “little Nancy” itu) walaupun dia tidak bisa berbuat apa-apa dengan keputusan saudaranya itu. Menurut Phil, Rose adalah perempuan murahan yang tidak tulus mencintai George tapi hanya ingin hartanya saja. Bahkan di hari pertama Rose dibawa ke peternakan oleh George, ketika Rose mencoba beramah tamah dengan memanggil Phil “kakak”, Phil langsung memotong, “aku bukan kakakmu, dasar perempuan murahan”. Rose pun merasa sangat terintimidasi, tertekan, dan tidak nyaman dengan kehadiran Phil mengingat mereka harus tinggal di rumah yang sama. Phil pun yang memang terlihat tidak suka dengan Rose seolah terus berupaya untuk mengintimidasi dan membuat tidak nyaman kakak ipar barunya itu. Kabarnya untuk menjiwai perannya tersebut, Benedict dan Kirsten sampai-sampai tidak saling ngomong selama di lokasi syuting dan tetap stay in character, lucu ya.

Peter sebenarnya tidak ikut pindah ke peternakan itu karena kan dia kuliah kedokteran dan tinggal di asrama kampus. Namun pada saat liburan kampus yang cukup lama, Peter pun datang dan menghabiskan liburannya di peternakan keluarga Burbank tersebut. Seperti sudah diduga, Peter yang feminin dan lemah gemulai pun langsung digodain (di-bully) oleh cowboy-cowboy anak buahnya Phil yang macho dan maskulin. Dari mulai disuit-suitin, dikata-katai banci, hingga digoda dengan seolah-olah mau ditabrak kuda (Peter ini tidak bisa naik kuda). Phil pun semakin menunjukkan ketidaksukaannya pada Peter, yang membuat Peter (dan juga Rose) merasa semakin tidak nyaman. Ketika George sedang berada di luar rumah, Rose bahkan meminta Peter untuk makan di kamar saja, supaya tidak usah bertemu dengan Phil.

Hingga pada suatu hari, ketika sedang berjalan-jalan di sisi lain dari peternakan yang luas itu, Peter menemukan sebuah tempat tersembunyi, semacam goa yang ditutupi dengan ranting-ranting kayu. Karena penasaran Peter pun memasuki “goa” itu dan di dalamnya dia menemukan barang-barang rahasia Phil, sebuah majalah yang berisi … tidak usah aku ceritakan ya, biar spoilernya tidak parah-parah amat. Ketika sedang mengamati barang-barang pribadi Phil tersebut, Peter mendengar suara gebyuran air. Ternyata Phil sedang mandi telanjang di sungai tidak jauh dari goa buatan itu. Oh ya girls (and boys), Benedict Cumberbatch beneran nude lho di adegan ini, we can literally see his everything! Well, enjoy, itu adalah bonus dari film ini, jadi jangan kufur nikmat, buka mata baik-baik dan nikmati eh amati, hahaha, apaan sih. Begitu sadar ada kehadiran Peter, Phil pun sangat marah, dan langsung mengejar Peter sambil mengata-ngatainya.

Namun uniknya, setelah kejadian itu, sikap Phil ke Peter berubah 180 derajat. Phil jadi sangat baik pada Peter. Dia bahkan memanggil Peter dan mengakrabkan diri dengan anak muda itu. Phil mengatakan bahwa dia sedang dalam proses membuatkan tali lasso (yang terbuat dari kulit sapi) khusus untuk Peter. Phil juga dengan sabar dan telaten mengajari Peter menaiki dan mengontrol kuda. Phil senang sekali, ketika Peter bisa melihat bentuk yang sama dengan yang dilihat Phil (dan juga Bronco Henry) ketika mereka mengamati jajaran pegunungan di depan mereka. Phil sering mengajak Peter untuk berkuda bersama, menangkap kelinci bersama, dan melakukan aktivitas-aktivitas di peternakan itu bersama. Seperti yang dulu dilakukan oleh Bronco Henry kepadanya. Phil seolah menemukan anak mentor baru, seperti halnya dulu Bronco Henry terhadapnya. Hal itu seakan-akan mengisi ruang kosong dalam jiwa Phil. Dia berjanji akan mengajari Peter semua yang dia bisa, apalagi ketika Phil tahu bahwa Peter lah yang menemukan jenazah ayahnya yang gantung diri dan bahkan dia sendiri lah yang menggunting talinya.

Rose pun merasa semakin terintimidasi dan insecure melihat anak semata wayangnya semakin dekat dengan Phil. Dia sangat tidak menyukai hal itu, tetapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Bahkan ketika dia protes pada George pun, George juga tidak bisa membantunya, karena George tidak melihat ada yang aneh atau salah dengan hal itu. Apalagi Phil-lah yang mengajari Peter berkuda dan melakukan aktivitas-aktivitas peternakan lainnya. Rose semakin tertekan dan terintimidasi, akhirnya sebagai pelariannya, Rose pun mengkonsumsi alkohol dan semakin lama semakin ketergantungan. Padahal sejak suaminya bunuh diri karena ketergantungan alkoholnya, Rose sudah berjanji tidak akan menyentuh barang haram itu.

Bagaimana selanjutnya? Yaaah kalau kuceritain semua jadi spoiler parah dong, ntar mengganggu keasyikan kalian dalam menonton kalau tahu terlalu banyak. Ini saja kayaknya sudah terlalu banyak informasi yang aku berikan, hehehe. Silakan nonton sendiri saja ya, untuk melihat twisted feeling di antara tokoh-tokoh yang aku ceritakan di atas.

Bagaimana kelanjutan hubungan Phil dan Peter? Apakah hanya mentorship? Atau ada motif lain? Bagaimana kelanjutan hubungan Rose dan George? Apakah Rose hanya ingin hartanya George seperti yang dibilang Phil? Bagaimana kelanjutan hubungan Phil dan George? Apakah kakak adik ini tetap bisa sedekat dulu, mengingat George mencintai Rose dan Phil membenci Rose? Bagaimana kelanjutan hubungan Phil dan Rose? Apakah mereka bisa mencairkan kebekuan di antara mereka? Atau justru menjadi semakin parah? Bagaimana kelanjutan hubungan Rose dan Peter? Apakah Peter masih anak yang akan melakukan segalanya demi ibunya? Apakah dia merindukan sosok ayah? Atau adakah hal lain di antara relasi-relasi yang terjalin dan saling bersilang sengkarut di antara tokoh-tokoh ini?

Tonton sendiri saja ya di Netflix. Kataku film ini akan membuat kalian tertegun dan merenung dan berpikir. Film ini akan membuat kalian merasakan banyak hal. Rating dari aku untuk film The Power of The Dog ini adalah 9,5/10.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | THE POWER OF THE DOG (2021): MEMBONGKAR TOXIC MASCULINITY DI TENGAH STEREOTYPE LAKI-LAKI COWBOY
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *