THE TRIAL OF THE CHICAGO 7: FILM KEREN, RELATABLE, PENUH TAMPARAN DAN LESSONS LEARNED (MAJOR SPOILER ALERT)

Sudah lama sekali rasanya tidak menulis review film, rasanya kangen menulis review film lagi. Dan tidak ada film yang lebih keren dan lebih pantas untuk ditulis reviewnya setelah cuti sekian lama dari menulis review film, selain film bagus banget, The Trial of The Chicago 7. Menurutku film itu keren banget bukan hanya karena salah satu pemainnya adalah my number one favourite actor Eddie Redmayne, ya walaupun itu juga salah satu faktor penting sih hehehe, tapi aside from that, film ini memang keren banget.

Aku sudah menontonnya 2 kali dan dalam 2 kali nonton itu I enjoy every single detail of it, padahal sekitar 90 % adegannya di dalam ruang sidang lho. Tapi sumpah sama sekali tidak membosankan. Jadi besar kemungkinan aku akan nonton lagi untuk ketiga kalinya dan seterusnya, hehehe.

Film ini menceritakan tentang kejadian nyata yang terjadi di Chicago, Amerika Serikat, pada tahun 1969 ketika 7 + 1 orang aktivis diseret ke meja hijau dengan tuduhan memicu kerusuhan yang mengakibatkan ratusan orang terluka di dalam demonstrasi anti-perang Vietnam yang mereka lakukan di taman kota. Sounds familiar huh?

7 orang itu adalah Tom Hayden dan Rennie Davis, pimpinan Students for a Democratic Society (SDS), jadi kayak organisasi mahasiswa progresif-nya gitu, pantes aku relate banget ya, pernah mengalami sih, hahaha. Zaman aku mahasiswa dulu, hari-hariku selalu dihabiskan bersama orang-orang semacam Tom dan Rennie ini. Huh jadi kebayang deh, kalau dulu salah satu teman aktivisku macam Eddie Redmayne pas portraying Tom Hayden ini bisa klepek-klepek aku setiap hari nginep di sekretariat, hahaha, nah lho kok jadi kemana-mana, maaf.

Tadi baru 2 tokoh ya! Baik kita lanjut ya, tokoh ketiga dan keempat adalah Abbie Hoffman dan Jerry Rubin. Keduanya adalah para pimpinan Youth International Party (Yippies), jadi semacam organisasi anak muda anti-perang yang menjunjung tinggi kebebasan gitu. Mereka suka musik dan seni, berpakaian nyleneh, dan kadang mabok dan teler juga, tapi sangat melek politik, pokoknya anti-kemanapanan gitu deh, dan rata-rata pada kere alias ngga pegang uang ke mana-mana, sounds familiar too heh? I can relate too, masa mudaku dulu aku juga selalu berkumpul dengan orang-orang dari kelompok ini yang selalu terlihat keren dan revolusioner, hehehe. Jadi kangen kawan-kawan itu!

Tokoh kelima adalah David Dellinger, pimpinan National Mobilization Committee to End the War in Vietnam (MOBE), ini organisasi masyarakat sipil yang menjunjung tinggi perdamaian dan anti-perang banget. Mereka juga anti-kekerasan dan selalu menyerukan cara-cara yang damai. Bahkan sebelum berangkat ke Chicago, Dave yang orangnya sangat halus dan tidak tega menyakiti siapapun ini, berkata pada anaknya kalau dia tidak akan terlibat dalam kekerasan apapun, bahkan kalaupun ada orang yang akan memukul dia, dia akan lari dan tidak akan membalasnya.

Tokoh keenam dan ketujuh adalah Lee Weiner dan John Froines, keduanya adalah aktivis pendukung yang ikut ditangkap dan diseret ke pengadilan agar kesannya tidak mencolok banget kok yang ditangkap hanya para pimpinan saja, jadi ditangkaplah juga 2 tambahan dari orang yang “bukan siapa-siapa” ini, nyebelin banget kan.

Terus kenapa aku di atas bilang 7 + 1, karena selain 7 orang itu ada tambahan 1 orang yang terlihat sangat dipaksakan banget untuk diikutkan dalam sidang dengan kasus yang sama dengan ketujuh orang sebelumnya, karena yang bersangkutan hanya 4 jam berada di Chicago dan hampir selalu tidak ada di lokasi dalam peristiwa-peristiwa kerusuhan yang dituduhkan. Dia adalah Bobby Seale pimpinan nasional organisasi Black Panther Party yang merupakan organisasi yang memperjuangkan kebebasan dan kesamaan hak untuk semua orang, terutama komunitas kulit hitam di Amerika.

Ketujuh plus satu aktivis ini dituduh berkonspirasi dan merupakan dalang yang sengaja membuat kerusuhan dalam demontrasi massa yang diikuti oleh puluhan ribu orang untuk menentang perang Vietnam di Chicago pada tahun 1968. Padahal mereka tidak saling kenal sebelumnya dan datang ke Chicago dengan kelompok masing-masing, walaupun ya memang pada akhirnya saling berjejaring dan berkoordinasi karena tujuannya sama dan melakukan demonstrasinya pun di tempat yang sama.

Abby Hoffman yakin sekali bahwa ini adalah pengadilan politik karena mereka ditangkap bukan karena apa yang mereka lakukan (yang dituduhkan) tapi karena siapa mereka dan memang sudah diincar sejak awal. Tapi pengacara mereka Bill Kunstler pada awalnya mengatakan, “there’s no such thing as political trial, yang ada itu ya cuman pengadilan pidana atau pengadilan perdata”. Hingga dia menyaksikan dan mengalami sendiri segala bentuk keanehan, kejanggalan, dan ketidakadilan yang terjadi di ruang sidang yang berlangsung hingga berbulan-bulan lamanya itu, yang dipimpin oleh Hakim Julius Hoffman yang terlihat sekali keberpihakannya.

Dari mulai juri yang terasa sekali sudah dipilih dan bahkan ketika ada 2 juri yang simpatik kepada para tertuduh saja langsung dicopot, statement-statement hakim yang sangat terasa tidak adilnya, hingga ketika Bobby Seale diikat tangan dan kakinya di kursi sidang dan disumpal mulutnya agar tidak bisa menyampaikan protesnya karena sidang berjalan berbulan-bulan tanpa dia didampingi oleh pengacara, karena Bill Kunstler dan juga pengacara satu lagi Leonard Weinglass hanya mendampingi ketujuh terdakwa lainnya. Lebih tidak masuk akal lagi, ketika Fred Hampton, anggota Black Panther lain yang selalu memberi Bobby nasihat hukum, dibunuh pada suatu malam ketika sidang masih berlangsung.

Bill akhirnya bisa melihat dengan jelas bahwa ya itu memang sidang yang sangat politis, dan hal itu memberinya ide yang sangat brilliant untuk mengundang sebagai saksi Ramsey Clark yang merupakan jaksa agung yang menjabat ketika terjadinya kerusuhan namun diganti pada tahun setelahnya setelah ada pergantian presiden ke Richard Nixon. Ramsey Clark jelas-jelas mengatakan bahwa dari penyelidikan yang dilakukan yang sebenarnya memulai kerusuhan adalah polisi Chicago bukan para aktivis itu, tapi Hakim Julius Hoffman tidak menghadirkan para juri dalam kesaksian itu dan menolak untuk menginformasikan hal itu kepada para juri.

Hal itu membuat Bill Kunstler sangat marah dan membanting kitab undang-undang di depan hakim. Dave Dellinger yang orangnya sangat halus dan cinta damai pun tidak tahan melihat keanehan itu dan berteriak-teriak, “kenapa harus ada sidang ini kalau sebenarnya sudah diputuskan jauh-jauh hari sebelumnya bahwa kami bersalah” dan berakhir dengan memukul salah satu penjaga.

Jaksa penuntut umum Richard Schultz pun terlihat bahwa sebenarnya dalam hatinya ia mengalami konflik batin karena sebenarnya ia sepakat dengan para tertuduh, namun ia hanya menjalankan tugasnya sebagai jaksa karena ia ditunjuk langsung oleh jaksa agung yang baru karena dianggap berprestasi. Sidang ini juga dikawal oleh masyakarat dan media. Rakyat Amerika mengikuti setiap proses dari sidang ini. Bahkan banyak orang yang terus berdemonstrasi di luar gedung pengadilan sambil meneriakkan yel-yel “the world is watching”.

Banyak juga kejadian aneh, lucu, maupun penuh sindiran terhadap sidang ini. Dari mulai Abby dan Jerry yang datang ke ruang sidang dengan pakaian hakim dan ketika hakim menyuruhnya membuka pakaian, di dalamnya mereka menggunakan seragam polisi, hakim yang sibuk mengklarifikasi bahwa meskipun nama belakangnya sama dengan Abby mereka bukan keluarga, hingga para tertuduh dan pengacara mereka yang menolak berdiri ketika hakim meninggalkan ruangan sebagai bentuk protes mereka karena hakim dianggap melakukan diskriminasi terhadap kulit hitam (Bobby Seale).

Juga dinamika ketujuh aktivis itu yang walaupun tujuannya sama tapi cara dan strategi mereka berbeda. Walaupun kadang berseberangan tapi sebenarnya mereka saling mengagumi sepak terjang masing-masing. Tom kesal pada Abby karena menurut Tom karena Abby lah, generasi mendatang tidak akan mengingat perjuangan mereka sebagai perjuangan anti-penindasan, anti-kekerasan, memperjuangkan keadilan, pendidikan, dan mengurangi kemiskinan tapi justru hanya akan mengagung-agungkan sekelompok anak muda anti-kemapanan yang mabok dan terlihat patriotik di jalanan.

Sementara Abby kesal dengan Tom karena menurut Abby yang pertama dipikirkan Tom adalah memenangkan Pemilu, sedangkan perjuangan anti-penindasan, anti-kekerasan, memperjuangkan keadilan, pendidikan, dan mengurangi kemiskinan adalah yang kedua. Tom menjawab, “kalau kita tidak memenangkan Pemilu, maka tidak akan ada yang kedua”. Terlihat sekali ya perbedaan strateginya, which is I can relate too, hahaha.

Namun di balik itu ternyata Abby sangat mengagumi Tom dan membaca semua tulisan Tom dan menganggap Tom sebagai patriotik Amerika sejati. Tom pun sangat mengagumi Abby dan pada akhirnya meminta Abby yang duduk di kursi saksi tertuduh instead of himself. Dan kesaksian Abby itu keren banget sumpah, sangat menampar dan bikin jaksa Schultz mati kutu. Apalagi ketika dia mengatakan bahwa dia tidak pernah diadili sebelumnya karena pikirannya, keren banget gaess!

Klimaksnya tentu saja adalah statement akhir para tertuduh yang diwakili oleh Tom Hayden yang membuat semua orang tertegun dan memberikan penghormatannya, bahkan termasuk jaksa Schultz, dan membuat hakim panik, heboh, dan mati-matian membungkamnya, tapi tidak bisa. Karena statement akhir Tom Hayden mengingatkan semua orang alasan kenapa mereka semua sampai ada di situ dan kenapa sampai ada pengadilan itu. Sungguh sebuah klimaks yang sempurna banget.

Para pemainnya pun semua keren banget dan cocok banget, pas banget memerankan semua karakter yang ada di film itu. Bagiku pribadi sih tentu saja terutama Eddie Redmayne yang sungguh what a treat for the heart, the mind, and the eyes.

Film ini harus banget ditonton oleh para aktivis, mantan aktivis, demonstran, mantan demonstran, orang-orang dari organisasi masyarakat sipil, orang-orang gerakan, orang-orang hukum, hakim, jaksa, pengacara, paralegal, konselor hukum, mahasiswa hukum, orang-orang politik, pengamat politik, politisi, praktisi politik, mahasiswa politik, dan lain-lain, termasuk remah-remah rengginang kayak aku juga harus banget, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | THE TRIAL OF THE CHICAGO 7: FILM KEREN, RELATABLE, PENUH TAMPARAN DAN LESSONS LEARNED (MAJOR SPOILER ALERT)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *