TICK TICK BOOM (2021): HARUSKAH KITA TERUS MENGEJAR MIMPI KITA ATAU REALISTIS SAJA?

Well, jadi sejauh ini aku sudah menonton 10 filmnya Andrew Garfield, masih mau lanjut sih. Tapi aku mau mulai menulis review-review-nya. Nah film pertama yang ingin aku review adalah Tick Tick Boom yang release tahun 2021. Bisa dibilang ini the second newest movie of him ya, karena the newest-nya adalah Spider-Man No Way Home yang release hanya berselang sebulan setelah Tick Tick Boom.

Tick Tick Boom tidak sulit aku dapatkan, karena ada di Netflix. Aku berlangganan Netflix joinan sama 4 temanku, jadi berlima, dan masing-masing dari kami membayar biaya langganan sebesar 37.200 per bulannya. Jadi aku akan sekaligus menceritakan di mana dan bagaimana aku mendapatkan film-filmnya Garfield ini ya.

Tick Tick Boom adalah film musikal, dan aku suka film musikal. Masih ingat dulu SMP aku terobsesi banget sama film musikal Evita, yang tidak hanya nonton di bioskop sepulang sekolah, aku juga sampai beli kasetnya dan menghapalkan lagu-lagunya, dan masih sering kuulang-ulang sampai sekarang.

Okay, kita kembali ke Tick Tick Boom. Film ini menceritakan tentang kehidupan Jonathan Larson, seorang composer drama musikal Broadway yang sedang galau-galaunya karena menjelang ulang tahunnya yang ke-30, menurutnya dia masih belum mencapai apapun. Karya-karyanya belum ada yang di-acknowledge orang, tidak ada produser yang tertarik, penolakan demi penolakan demi penolakan, masih miskin dan tinggal di apartemen yang cukup menyedihkan, tidak punya pemasukan tetap atau tabungan, punya pacar seorang penari namun hubungannya di ambang kegagalan, dan ketidakpastian-ketidakpastian hidup lainnya.

Siapa yang memerankan Jonathan Larson? Ya tentu saja the brilliante Mr. Garfield dengan gaya rambutnya di film ini yang engga banget, hahaha, tapi mirip sih sama Jonathan Larson aslinya. Dan yes, yang paling mengejutkan dari perannya sebagai Jonathan Larson adalah, he can sing! He’s definitely can sing! Dan itu bikin semua orang kaget, bahkan sampai banyak musisi-musisi yang bikin video reaction di Youtube terkaget-kaget, why the hell is Andrew Garfield can sing, hahaha.

Ada cerita lucu tentang bagaimana Garfield mendapatkan peran ini. Jadi dia punya langganan tukang pijat di New York yang kebetulan pelanggan lain dari si tukang pijat ini adalah Lin-Manuel Miranda, seorang sutradara, penyanyi, penulis lagu, dan komposer drama musical Broadway. Nah si tukang pijat tahu kalau Lin-Manuel sedang mencari aktor untuk memerankan Jonathan Larson dan kemudian merekomendasikan Garfield, katanya Garfield-lah yang paling cocok untuk peran ini.

Singkat cerita, pas audisi Garfield ditanya oleh Lin-Manuel untuk memastikan, “tapi kamu bisa nyanyi kan?”. Terus Garfield nanya, kapan mulai syutingnya? Katanya 1 tahun lagi. Dan begitu tahu kalau syuting-nya masih 1 tahun lagi, doi buru-buru menjawab, “ya ya ya, bisa nyanyi, bisa”. Karena doi mikir masih setahun lagi mah dia masih bisa belajar nyanyi dulu, hahaha. Dan begitulah, Garfield langsung kursus nyanyi dan kursus piano demi agar jawabannya kepada Lin-Manuel Miranda itu benar dan ngga bohong. And why do I know those things? Hahaha, entahlah!

And he nailed it! Perannya sebagai Jonathan Larson bagus banget. Tidak hanya bisa menyanyikan lagu-lagu Jonathan di sepanjang film musikal itu, Garfield juga berhasil menubuhkan Jonathan dalam dirinya dengan sangat mantap. Tidak heran kan, Garfield mendapatkan penghargaan Golden Globe tahun 2022 ini sebagai aktor terbaik dalam perannya sebagai Jonathan Larson dan juga mendapatkan nominasi Academy Award (Oscar) 2022 untuk kategori dan peran yang sama, semoga menang juga, biar double award, huhuy.

Lagu-lagu untuk pentas drama musikal apalagi drama musikal Broadway kan bukan lagu-lagu yang sederhana atau gampang dinyanyikan ya, tapi lagu-lagu yang sulit, rumit, dan complicated banget, but he is still doing it, nicely! Terutama yang aku suka banget adalah lagu Therapy, yang menceritakan tentang perselisihan Jonathan dengan pacarnya, Susan. Lagu itu susah sekali deh dinyanyikan, dengan lirik yang sangat cepat, belum lagi dibuat agak-agak komikal gitu, kayaknya penyanyi beneran aja bakal susah untuk menyanyikannya, but again, he is doing it very well. Lihat deh, beneran, ada banyak kok videonya di Youtube, cari aja dengan kata kunci Therapy Tick Tick Boom, hehehe.

Menurut Garfield, tantangan yang paling berat adalah ketika dia harus menyanyikan lagu Sunday, karena di lagu itu banyak cameo para pelaku-pelaku legendaris drama musikal Broadway yang ikut mengiringi Garfield bernyanyi. Dan di lirik lagu Sunday itu, Garfield harus menyebut para legenda Broadway itu “para orang bodoh”, karena liriknya mengatakan begini, “sit the fools who should eat at home”. Nah Garfield benar-benar tidak sanggup menyebut para legenda itu “the fools”, he just can’t do it! Ouw, so cute, what a precious human being, hehehe. Sampai akhirnya Garfield harus diajak jalan-jalan dulu sama Lin-Manuel sang sutradara. And why do I know those things, again? Entahlah, hahaha.

Okay, kita sedikit bahas alur filmnya ya, walaupun jangan banyak-banyak juga biar ngga spoiler bagi yang pengen nonton. Jadi seperti yang sudah sedikit aku sebutkan di atas tadi ya, film ini tentang kegelisahan Jonathan Larson menjelang ulang tahunnya yang ke-30 karena dia merasa bahwa orang-orang hebat itu sudah pada mencapai sesuatu sebelum mereka berusia 30 tahun, baik dalam karir maupun dalam kehidupan personal.

Jonathan galau banget dengan hal itu, sehingga merasa hari ulang tahunnya ke-30 itu lebih terasa sebagai doomsday instead of birthday. Jadi Tick Tick Boom ini bisa diartikan suara detikan jam menjelang sebuah bom mau meledak, jadi Jonathan merasa waktunya sudah mau habis. Ya ampun Jonathan, baru juga 30 tahun.

Eh tapi ternyata itu karena Jonathan mungkin sudah mempunyai feeling bahwa hidupnya tidak akan lama lagi. Jonathan Larson meninggal dunia beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-36 dan di malam sebelum hari pertama pentas karyanya yang berjudul Rent di Broadway karena penyumbatan pembuluh darah ke jantung yang tidak terdeteksi sebelumnya.

Nah film Tick Tick Boom yang berlatar belakang kota New York tahun 1990 itu menceritakan jatuh bangunnya Jonathan ketika menciptakan karya drama musikal yang berjudul Superbia yang walaupun bagus tapi susah banget dapat produser dan susah banget untuk bisa masuk Broadway. Hal ini membuat Jonathan merasa berada di persimpangan, apakah tetap akan mengejar mimpinya atau banting setir saja seperti teman masa kecilnya, Michael (seniman juga dan mantan room-mate-nya) yang akhirnya bekerja di perusahaan periklanan dan menjadi kaya dan bisa tinggal di apartemen mewah di East-Side New York. Sementara Jonathan terus menghadapi penolakan demi penolakan dan kondisi keuangan yang semakin menipis dan semakin menipis. Jonathan bekerja sebagai pelayan warung makan di hari Sabtu – Minggu demi di hari Senin – Jumat-nya bisa mengejar mimpinya sebagai seniman drama musikal Broadway.

Karya Superbia tidak pernah benar-benar diproduksi sepenuhnya. Nah Tick Tick Boom adalah karyanya setelah Superbia yang akhirnya berhasil masuk Broadway. Sedangkan Rent yang merupakan karya terakhirnya adalah karya keduanya yang berhasil masuk Broadway. Aduh kebanyakan spoiler ngga sih ini, hehehe. Tapi yang kubilang di atas kan pengetahuan umum tentang kehidupan Jonathan Larson ya, bukan alur film Tick Tick Boom, hihihi.

Well, menurutku Tick Tick Boom cukup enjoyable dan lagu-lagunya pun enak dan asyik, dan akting Andrew Garfield di sini, keren bangeeeett coy, tentu saja, kan calon dapat double award, hehehe. Rating dari aku Tick Tick Boom, untuk filmnya 7.5 dan untuk akting Andrew Garfield di film ini 9.0, asyiiiikkk!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | TICK TICK BOOM (2021): HARUSKAH KITA TERUS MENGEJAR MIMPI KITA ATAU REALISTIS SAJA?
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *