Tidak Ada Keputusan yang Keliru

Hayooo siapa yang pernah mendengar kasus semacam ini. Ada seseorang yang untuk memasak apa hari ini harus selalu menanyakan pada pasangannya. Atau mau memakai baju yang mana ketika mau bepergian juga meminta persetujuan pasangannya dulu. Yang lain lagi, misalnya, mau belanja di mana bertanya dahulu pada pasangannya. Seolah-olah, hal-hal tidak akan bisa dilakukan jika tidak ada persetujuan dari pihak lain. Hal tersebut terjadi atau dilakukan setiap hari dan terhadap apapun yang dijalaninya dalam kehidupan sehari-hari.

Ah, bagi saya semacam itu terdengar gila, tetapi itu riil ada. Bukannya persetujuan pasangan itu tidak baik, sungguh persetujuan pasangan itu sangat baik dalam konteks berbeda dari yang dimaksudkan dalam tulisan ini. Yang dimaksud persetujuan dalam kasus ini adalah selalu bertanya pada pihak lain tentang apa yang harus dilakukan. Jika tidak mendapatkan persetujuan dari pihak lain maka dia tidak bisa melakukan apapun dalam hidupnya, bahkan ketika ini berkaitan dengan keselamatan diri sendiri atau orang lain.

Di dalam interaksi yang dimaksud dalam tulisan ini, ada persoalan tersembunyi yang bisa jadi tidak terasa. Yakni, ketakutan untuk mengambil sebuah keputusan. Nah, coba deh mulai diulik lagi keseharian yang kita jalani. Jangan-jangan ada yang masuk dalam kategori tidak pernah bisa mengambil keputusan. Mengapa seseorang tidak pernah berani mengambil keputusan? Karena berani mengambil keputusan berarti berani mengambil tanggung jawab atas apa yang terjadi manakala keputusan tersebut dijalankan.

Sayangnya, ada cara berpikir yang keliru terhadap sebuah keputusan yang dijalankan, yaitu cara berpikir terhadap keputusan yang selalu dikotomis salah dan benar. Bahwa keputusan yang diambil itu ya kalau tidak benar ya salah. Mari kita mulai sadari bahwa cara berpikir seperti ini adalah cara berpikir sesat dan tidak layak untuk dipertahankan. Di dalam sebuah pengambilan keputusan, yang terpenting adalah alasan kenapa kemudian keputusan tersebut diambil. Pada setiap keputusan yang memiliki alasan yang bisa dipertanggungjawabkan, maka sebenarnya tidak ada keputusan yang salah. Tidak ada keputusan yang keliru.

Yang mungkin terjadi adalah keputusan itu diambil atas pertimbangan yang lengkap atau kurang lengkap. Bahan-bahan pertimbangan ini yang kemudian menunjukkan mengapa keputusan A yang diambil, bukan keputusan B, C, D, dan seterusnya. Pengambilan keputusan ini akan sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, dan situasi pada saat keputusan itu diambil. Yang paling pokok adalah tiga hal tersebut. Situasi yang dimaksud di sini sangat kompleks, bisa situasi perasaan, situasi keuangan, situasi di mana dan bagaimana keputusan itu akan diterapkan, kemampuan dalam melaksanakan keputusan, serta siapa yang akan terkena dampak dari keputusan tersebut. Jika ketiga hal pokok di atas sudah dielaborasi (digelar-digulung), tentu akan membuat keputusan yang diambil semakin mudah untuk dijalankan, karena hal-hal tersebut juga akan melahirkan strategi pelaksanaan keputusan.

Ah, masa iya memasak saja pakai strategi. Eits, jangan dikira orang hanya berstrategi pada hal-hal besar yang menyangkut kehidupan berbangsa dan bernegara saja. Ini juga salah besar lho ya. Strategi memasak dalam konteks yang besar misalnya menentukan menu dan cara penyajian pada hotel-hotel berbintang. Namun dalam keseharian juga sebenarnya seribet itu. Hanya saja karena sudah terbiasa dan dilakukan sehari-hari, maka jadi tidak dirasakan lagi. Semua menganggapnya remeh-temeh. Termasuk orang yang memasak itu sendiri.

Bagaimana dengan pertimbangan pihak lain? Pada bagian elaborasi, di situlah pertimbangan orang lain bisa masuk. Tentu saja dengan pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki oleh si pemberi pertimbangan. Yang perlu diingat adalah setiap pertimbangan terhadap keputusan yang akan diambil, berasal dari pengalaman dan konteks yang berbeda-beda terhadap kasus yang sama. Sehingga, pertimbangan adalah alat bantu untuk mengambil keputusan. Ingat, sekadar alat bantu, bukan keputusan itu sendiri. Anda adalah pengambil keputusan, karena Anda adalah orang yang akan menjalani dan bertanggung jawab atas proses dan hasil dari keputusan yang Anda ambil tersebut.

Selanjutnya, setiap kali sebuah keputusan diambil dan dijalankan, maka setiap kali itu pula pengetahuan dan pengalaman kita di dalam menjalankan keputusan itu akan bertambah. Semakin banyak keputusan yang diambil, maka kita akan semakin kaya dengan pengalaman terhadap proses dan hasil dari sebuah keputusan yang kita ambil, entah itu hasil yang maksimal, kurang maksimal, atau malah tidak maksimal alias hasilnya buruk. Percayalah, jika kita pernah membuat keputusan dengan hasil yang sangat buruk, maka di dalamnya tentu akan sangat kaya dengan pembelajaran.

So, mari kita memulai untuk membuat keputusan. Memulai menjadi pribadi yang kaya dengan pengalaman hidup, untuk ke depannya menjadi orang yang semakin mengenal dirinya, dan bahkan bisa mempengaruhi orang lain. Jika Anda tidak percaya, silakan dibuktikan!

Asih Nuryanti

Bagikan:

Asih Nuryanti

Suka memasak, meskipun masaknya asal-asalan, tapi banyak yang suka. Sangat menikmati film animasi dan buku-buku detektif/petualangan. Pernah bekerja sebagai staf lapangan dan juga manajer di sebuah LSM yang bergerak di isu perempuan. Pernah memulai usaha membuka toko tapi bangkrut. Sekarang bekerja sebagai Komisioner KPU Kabupaten Gunungkidul Periode 2018 – 2023. Ke depannya, ingin memulai mimpi baru, yaitu membangun sebuah usaha lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *